
Belakangan ini aku sering ngimpi ngobrol sama Bapak.
Aku jarang sekali ngobrol sama Bapak.
Abis, Bapak kalau diajak ngobrol... jawabannya pendek-pendek... dan suka pedes nyelekit komentarnya.
Tapi sekarang, aku kangen sekali momen dimana aku dan Bapak duduk berdua ... diem nggak ngerti mau ngomong apa.
dan masing-masing sibuk dengan cangkir kopinya.
Dari si Mamah, aku belajar tentang pemaknaan hidup.
Dari si Mamah, aku belajar menghargai detil-detil kecil dalam hidup dan berbahagia karenanya.
Dari Bapak, aku belajar bahwa hidup cuma menyisakan ruang lapang buat orang-orang kuat ... orang-orang yang tahan banting ... bukan pecundang .. .bukan pengecut.
Bapak pernah bilang:
"Agus boleh cengeng, tapi Bapak nggak ngajarin kamu jadi pengecut!"
"Kayak gitu aja kok ngeluh ... ayo kerjain lagi! awas! kalo berhenti ... bapak pukul pake gagang sapu!"
"Kamu itu kuat ... tapi gampang nyerah! mau Bapak lelepin?! ayo ngapung! ntar Bapak ceburin ke yang lebih dalem baru nyaho!"
"Bapak yakin sama Agus ... kamu bisa lari 6 keliling! kalo kamu sampe pingsan gara-gara itu ... Bapak beliin apa yang kamu pengen! Bapak yakin sama kamu... jangan cengeng ... jangan kasih Bapak muka jelek.. lari! sekarang!"
"Ya udah, nangis dulu sana! kalo udah selesai nangisnya.. terusin lagi ya!"
Spartan banget!
Dulu saya benci banget.
Tapi sekarang baru kerasa.
Ini cara Bapak menempa saya untuk lebih bisa menghargai diri sendiri. Bahwa aku sering lupa kalau aku ini lebih kuat dibanding yang aku pikir.
Ini cara Bapak mau bilang, "Agus bisa kalau Agus mau!"
Sekarang, kalau lagi merasa nggak ada daya lagi buat melakukan apapun.
Aku kayak denger suara Bapak.
"Agus bisa kalau Agus mau!"
Dan karena itulah,
Sekarang aku kangen sekali sama Bapak.

Terima kasih,
Untuk setiap keajaiban-keajaiban kecil dalam hidup.
Kamu adalah pemantik api.
Terima kasih,
Setiap saat bersamamu, seperti membuka kotak perhiasan yang ditimpa sinar matahari pagi.
Kamu berhasil memunculkan pendar di setiap detiknya.
Terima kasih,
Telah membawaku memasuki relung-relung paling dalam hingga memunculkan pemaknaan baru tentang apa itu bahagia.
Kamu adalah kereta kencana dalam dongeng.
dan yang terakhir,
Terima kasih sudah memaknai kesempurnaan dalam ketidaksempurnaanku ...
hari ini
nanti
esok
i love you.

Sayang, surat ini kutulis saat embun mulai membeku
jejakmu disini membeku.
dan bayanganmu, membuat sepi jadi mati suri.
Rasa haus ku padamu seperti air tertuang pada gelas retak.
pada satu kali tertuang dan seterusnya tak akan genap.
sampai engkau hadir dan jejakmu cair.

Semalam, diajak karib kantor menikmati pertunjukkan ini.
Dari segi musikalitas Andi Rianto berhasil menangkap jiwa dari setiap lagu-lagu ABBA. Abaikan hal-hal yang sifatnya teknis dalam bermusik. Mungkin ada kurang disana sini. Tapi setidaknya, RASA dari setiap lagu, jelas dikecap indra.
Banyak yang kecewa dengan tata lampu, sound system yang membuat performa pertunjukkan jadi tidak maksimal, jalinan alur pertunjukkan yang tersendat-sendat karena tidak ada tautan di setiap perpindahan lagu yang membuat kami serasa sedang melakukan kopulasi dan pintu kamar keburu digedor hansip sebelum kami mencapai klimaks.
Aku termasuk salah satu yang kecewa.
Karena semestinya, kemegahan komposisi yang dibuat Andi Rianto akan makin bermakna kalau hal-hal yang diatas tidak terjadi.
Dibayanganku, pertunjukkan ini akan menampilkan sentuhan personal dari para penampil dihubungkan dengan lagu-lagu ABBA yang akan mereka bawakan.
Titi DJ bilang gini misalnya sebelum dia menyanyi,"Setiap saya nyanyi Dancing Queen, saya inget jaman saya masih kecil... Ibu saya tiap bersih-bersih rumah selalu memutar lagu ini dan geyol-geyol sendiri sambil ngepel... rumah bersih, hati Ibu saya senang ... saya juga senang karena ndak perlu capek-capek ngepel"
Atau Agnes Monica bilang gini misalnya, "Lagu The Winner Takes It All bikin saya inget pas putus sama pacar saya yang brondong dulu..."
tanpa penaut di tiap jeda lagu ... aku kayak ndenger musik di kafe-kafe gitu lah ...
Tapi segala kekurangan terbayar dengan beberapa penampil yang menyanyi tidak hanya dengan teknik suara yang mumpuni, tapi juga dengan hati.
Penyanyi yang baik menurutku adalah yang mampu menyampaikan rasa di setiap lagu yang dibawa ...
tidak hanya lewat suara ... bahasa tubuh mengambil porsi juga untuk yang satu ini.
Titi DJ nyanyi "Slipping Through My Fingers" .... Agnes Monica nyanyi "The Winner Takes It All" ... sayang, di ujung pertunjukkan Agnes Monica kok buat nyanyi Dancing Queen aja mesti mbawa contekan ...lha piye tho?!
Mas Andi Rianto, menunggu pertunjukkanmu berikutnya ya .... permintaan pribadi, boleh ndak lagu-lagunya Boney M :) heheheheh

Aan, adikku.
Ini Mas Agus.
Coba tebak aku lagi dimana?
Betul, aku sedang ada di sebuah kedai kopi dimana aroma yang selalu berhasil menenangkan benak, bersarang. Kamu kan tahu, dari kecil setiap aku sedang gundah, kamu selalu akan mendapati Mas ngendon di dapur menyeduh kopi dan membaui kepulan yang meruapkan aroma kopi sampai percampuran air panas dan bubuk kopi mendingin kehilangan daya tanpa sedikit pun aku terpikir untuk meminumnya.
Aroma kopi membuat damai
Tapi seperti kau tahu juga, aku selalu memilih bersekutu dengan teh.
Secangkir kopi susu ada di depanku sekarang.
uapnya berarak memasuki lubang hidung.
Dan membawaku membuka kembali gambaranmu di benakku.
Satu hal yang aku sesali sampai sekarang wahai Aan, adikku. Kita tidak pernah punya foto-foto jaman kita masih kecil.
Pergi ke studio foto atau membeli tustel sepertinya tidak pernah terlintas dalam pikiran kita waktu itu. foto dan tustel sepertinya benda mewah buat kita.
Jangan kuatir, kita tidak perlu benda itu untuk membantu mengenang peristiwa-peristiwa penting dalam hidup kita.
Kenangan itu telanjur menggurat dalam benak. Meninggal bekas yang jelas dan teraba sedemikian nyata.
Kamu dan Aku seperti satu keping koin recehan semesta.
Satu dengan dua sisi yang berbeda.
ketika yang satu kehilangan sisi yang lain, maka Ia jadi kehilangan maknanya.
demikian pula kita.
Engkau adalah kepingan jiwa yang melengkapi.
Aku adalah kepingan jiwa yang menggenapimu.
Jaman kita kecil dulu,
Kamu adalah Jendral
Aku adalah staf ahli hehehe.
Aku si peramu.
Kamu agen yang membuat ramuan menjadi nyata.
Masih kuingat, kenakalan-kenakalan jaman kita kecil.
Mencuri pepaya bangkok.
Mengambil pucuk-pucuk muda daun singkong untuk dibawa pulang.
Main layangan sampe gosong kulit.
Aku si cengeng penakut
Kamu si gagah pemberani
Bersamamu aku merasa dilindungi.
Setiap kenakalan yang kamu buat, aku ada.
Sekarang aku mengerti... kenapa setiap kenakalan yang kamu lakukan, dengan sadar kau tidak lupa menyertakan aku, kakakmu ini.
Supaya Mamah akan sedikiiit berkurang ngamuknya kan? :) hahahahaha.
Kita berbagi mimpi yang sama.
Aku masih ingat jelas pembicaraan kita dulu sebelum tidur.
"Mas, pokoknya kita harus bisa lebih baik dari Bapak ya... aku mau jadi Polisi!"
"Iya, aku juga... aku mau jadi Polisi... Akabri!"
"Kalo Mas gagal ... kamu jangan gagal ya! janji!"
Aku sudah mencoba... dan gagal waktu itu ... sedihnya bukan kepalang.
Kamu cuma berkata singkat, "Tenang Mas ... Aan pasti nggak gagal!"
Kamu menghidupkan kembali mimpi masa kecil kita.
Masih kuingat, betapa dadaku meledak bangga saat pertama kali kamu pulang pendidikan. Kepala botak, seragam coklat, sepatu tentara ...
Adikku gagah sekali.
Masih kuingat, aku menangis tak henti saat melihat upacara kelulusanmu.
Kamu adalah kebanggaanku seumur hidup.
Aku saksi hidup perubahanmu menjadi lelaki sejati.
Masih kuingat jelas, saat kamu ijab kabul.
Adikku sudah menemukan jalan hidupnya ... paripurna.
Jangan ragu adikku ... saat engkau menoleh ke belakang. Aku akan selalu setia melihat punggungmu dan memastikan bahwa engkau akan baik-baik saja.
Aral yang melintang biar aku hadapi.
Sama seperti saat kecil kamu gagah berani berantem dengan siapa pun yang mengganggu kakakmu ini.
Satu permintaanku.
Meskipun engkau sudah memiliki dunia kecilmu. Anak yang lucu... Istri yang baik budi.
Berikan sedikit waktu untuk Mamah ya.
Mumpung saat ini, kamu yang paling dekat dengannya sementara aku di rantau.
Ajaklah ia bicara hati ke hati sesering yang kamu bisa.
Semakin tua, semakin gampang ia diserang sepi.
Manjakan Ia sesering yang kamu bisa.
Ajak Ia makan enak beramai-ramai dengan cucu kesayangannya dan istrimu.
Aku akan menelpon Mamah sesering yang aku bisa.
Mengirimkan uang saku walaupun Ia tak meminta.
Memanjakannya sebisaku.
Dulu Ia sudah menjaga kita.
Sekarang giliran kita.
Selamanya, engkau akan menjadi kebanggaanku yang paling berharga.
kepingan jiwa yang melengkapi.
Aku sayang sama Aan.
Perkawinan air panas dan bubuk kopi di cangkirku sudah kehilangan dayanya.
Aku sudahi saja surat ini ya.
Peluk cium dariku, Kakakmu.
Agus Hariyo Purnomo.
-----------------------------------
Disarikan dari pembicaraan hati di pagi hari tanpa kata sambil menikmati satu kerat roti dan kopi.

Kutemukan surat ini di sela tumpukan kertas tak bergunda di gudang.
Tak sampai kalimat pertama selesai, aku sudah tidak kuasa membendung air mata.
..........................................
Surat untuk Agus Hariyo Purnomo.
Anakku, ini Bapak.
Mungkin lembaran surat ini tak akan pernah engkau tahu ... tak akan pernah kau baca. Karena, aku tak cukup kuat untuk memberikannya.
Menulis surat ini seperti memutar ulang kaset video dan menikmati detik-detik gambar lama muncul kembali.
Aku masih ingat, bagaimana lucunya dulu mamahmu ngidam jaman mengandung jabang bayi anak sulungku. Mosok tho cah bagus, Mamahmu itu harus setiap pagi diantar ke pom bensin untuk membaui aroma bensin supaya rasa mualnya hilang.
Atau, Bapak juga masih inget gimana bingungnya nyari tiwul pagi-pagi buta buat Mamah karena engkau yang mengendon di kandungannya berteriak-teriak minta tiwul.
Apa pun, aku rela lakukan saat engkau dimunculkan ke dunia. dari kamu nyaman di perut Mamah sampai suaramu terdengar pertama kali di dunia.
Saat tanganmu menyentuh kulit Bapak pertama kali... aku seperti menjadi lelaki paling beruntung di dunia. Bahkan, rasa ini mengalahkan apa yang Bapak dulu rasakan waktu Bapak menikah dengan Mamahmu.
Kamu, membuatku menjadi lelaki paling beruntung ... paling bahagia di dunia.
Engkau adalah anugerah terindah dan paling berharga untukku.
Agus, Bapak minta maaf kalau selama ini bersikap keras sama Agus.
Untuk menjagamu ... anakku, aku membangun benteng yang kokoh untuk melindungimu. Dunia di luar sana begitu keras, kejam dan setiap saat menginginkanmu untuk tersakiti. Biarkan aku menjadi bentengmu. Tempat dimana engkau terlindungi dan merasa aman sama seperti saat engkau ada di perut Mamah.
Yang aku tidak sadari... dimatamu, aku menjadi seperti tembok yang dingin, kaku tanpa hati.
Engkau kesulitan melihat sisi rapuhku sebagai seorang Bapak .. orang tua ... seorang manusia.
Aku tak seperti Mamah yang mampu mencairkan lara dengan senyum
Aku tak seperti Mamah yang mampu mengisi sudut ruang dengan suara gitar dan nyanyiaan
Mungkin juga, aku tak pernah bisa sabar mengajarimu berenang
Tapi dalam dinginku... aku menyimpan sejuta kebanggaan padamu.
Hatiku bersorak saat engkau menang lomba Porseni dulu jaman SD
Aku tertawa geli dalam hati saat melihatmu memakai kostum nyanyi buatan Mamahmu yang sungguh ajaib itu.. meskipun entah kenapa, yang keluar dari mulutku adalah komentar kalau bajumu itu kayak kostum monyet. Ketahuilah, setelah ucapan itu terlontar aku menyesal sekali wahai Anakku.
Maafkan aku yang tak pernah bisa hangat padamu.
Aku tak pernah belajar menjadi hangat.
Dulu, saat Bapak masih kecil. Bapak harus bersaing dengan 10 saudara kandung, 5 saudara tiri dari Eyang Putri Sumo dan 4 saudara tiri dari Eyang Putri Saren.
Aku tak pernah tahu betapa elusan tangan di kepala itu bisa membuat hati hangat. Aku tak pernah tahu rasanya.
Aku tak pernah tahu betapa ucapan, "kamu pintar deh!" bisa membuat hati tersenyum. Aku tak pernah tahu rasanya.
Yang aku tahu, asal bayaran sekolah ndak telat dan perut kenyang. sudah cukup.
Maafkan karena aku gagal memahami maksud hatimu
Maafkan karena aku gagal memberikan rasa hangat di hatimu.
Maafkan saat engkau memberiku kemeja hasil dari honor pertamamu nyanyi di kawinan, aku melengos tak berucap terima kasih.
Asal engkau tahu anakku ... di kantor, Bapak selalu tak bosan bercerita dengan bangga kalau anakku punya suara paling merdu.
Asal engkau tahu anakku ... temen-temen Bapak, bosan dengar cerita kalau engkau itu sungguh kreatif dan bersemangat dengan mimpi-mimpimu.
Tapi,
Satu hal yang sungguh aku sesali adalah...
Betapa dulu aku demikian egoisnya meninggalkan kalian semua.
Betapa aku tak menimbang hati saat itu.
Betapa aku tak peduli sedihmu.
Saat engkau menerimaku kembali. Semakin menggununglah rasa sesalku.
Engkau telah berbesar hati menerima, bahwa Bapakmu ini sebenarnya lelaki tanpa daya dan pendek akalnya.
Engkau, Aan dan Mamah telah berbesar hati untuk memberikanku kesempatan kedua.
Dan untuk semua yang sudah aku lakukan ... aku meminta maaf
Dan untuk semua yang sudah Engkau berikan .. terima kasih.
Bapak sayang sekali sama Agus, Aan dan Mamah.
Bapakmu,
Sandiyo
------------------------------------
Disarikan dari pembicaraan Bapak dan anak sore hari sambil minum kopi, lima tahun yang lalu

Anakku, saat kau membaca surat ini aku ingin engkau tahu bahwa dirimu sudah berhasil membuat dadaku terasa penuh sesak karena bangga.
Tidak ada yang lebih membuat bahagia melihat kalian menjadi manusia kuat dan mampu membuat keputusan-keputusan penting untuk hidupmu.
Saat kutulis surat ini, aku masih ingat betapa dulu ... setiap pagi... saat tubuhmu wangi bedak dengan muka cemong-cemong bedak sehabis mandi ... memegang erat tanganku seperjalanan aku mengantarmu masuk kelas taman kanak-kanak dulu...
setiap pagi setiap hari selama 15 menit waktu perjalanan.
Aku ingin engkau tahu ... bahwa itu adalah 15 menit paling bahagia dalam hidup.
Ah tentu saja ... aku ralat ... tidak hanya 15 menit setiap pagi setiap hari ...
setiap detiknya sampai kini, kamu membuatku bahagia ....
bahkan pada saat-saat tersedihku.
bahkan pada saat-saat dimana aku seperti induk burung yang kelelahan merentang sayap supaya anak-anaknya tidak kedinginan terpapar air hujan.
bahkan pada saat-saat aku merasa habis daya dan bersiap menyerah kalah pada hidup.
engkau, anakku... tidak pernah gagal membuatku menjadi perempuan paling bahagia.
Saat kutulis surat ini, aku masih ingat betapa badungnya kalian dulu ...
betapa kuatirnya aku menunggu kalian pulang ke rumah karena terlalu lena dengan layangan, lumpur sawah dan belut!
betapa kututupi rasa kuatirku dengan air muka galak dan gagang sapu di pintu rumah menunggu kalian.
Tapi, asal kau tahu wahai anakku .... wangi amis paduan matahari dan keringat di tubuh dan baju kalian ... adalah aroma yang paling membuat rindu .. aroma paling wangi.
asal kau tahu wahai anakku ... air muka ketakutan kalian saat pulang ... badan bau .. baju kotor lumpur ... adalah jaminan bahwa meskipun dulu, hidup kita penuh badai dan diguncang ... tapi kalian mengalami masa kecil yang penuh ...
untuk itu, aku tidak pernah berhenti bersyukur.
Terima kasih, untuk tidak pernah mengeluh dengan masakanku yang terkadang terlalu asin...
terima kasih, untuk selalu menunjukkan air muka senang bahkan ketika kalian tahu uang di dompetku tinggal seribu.
Saat kutulis surat ini, aku masih ingat betapa aku menangis karena adukan rasa terharu, bangga sekaligus sedih menatap punggungmu saat engkau melaju pergi mengarungi kehidupan yang sudah disediakan jalannya oleh Gusti Sing Paring Urip.
Aku akui ... aku merasa ditinggal sendirian oleh kalian pada saat itu.
Aku akui... aku merasa tidak siap membayangkan kalian tidak ingat jalan pulang untuk menemui aku .. perempuan yang lambat laun dibunuh umur.
Saat kutulis surat ini ... rumah terasa sepi tanpa kalian.
Semoga kalian tidak pernah berat hati saat sedemikian sering aku menelpon kalian ...
Mengajakmu bicara apa saja ... bahkan pada hal-hal kecil seperti betapa nyinyirnya tetangga bertanya kenapa engkau ndak kawin-kawin.
Aku mulai bawel sekali ya?
menunggu telpon kalian demikian menyiksa
kalian sedang apa?
kalian baik-baik saja?
kalian ingat aku?
kenapa tak memberi kabar?
kalian lupa padaku?
lima menit mendengar suara kalian di ujung telpon sungguh memberiku kedamaian.
sabar lah padaku ya ... sesabar aku dulu menyuapimu makan saat sakit
sabarlah padaku ya ... sesabar aku dulu mengajarkan i-ni i-bu bu-di ...
sabarlah padaku ya .. sesabar aku dulu mengajarimu naik sepeda roda dua
terima kasih saat ini ... saat aku melakukan kesalahan ... saat aku menunjukkan bahwa aku bukan manusia super ... kalian masih ada disampingku
kalian masih ada menggenggam tanganku dan mengangkatku untuk kuat berdiri
kalian masih menjadi tameng hidupku ... dan menuntunku memperbaiki kesalahan-kesalahan.
sekarang dan nanti .. aku merasa yakin ... bahwa memang, kalian ingat jalan pulang ... jalan untuk menemuiku .. perempuan yang lambat laun dibunuh umur.
aku cinta kalian
aku akan mengirim cinta pada kalian .. setiap detik setiap waktu
karena aku yakin ... cintaku membuat kalian teguh menjalani hidup ...
aku cinta kalian
cinta sekali
baiklah, tanganku sudah pegal menulis sedemikian banyak.
tidur lah anakku...
bayangkan aku mencium keningmu ya ... sama seperti setiap malam dulu aku menidurkan kalian dengan bekal cium sayang di kening.
salam sayang,
Ibumu,
Suharry
..........................................
Disarikan dari pembicaraan dini hari anak dan Ibu .... ditemani udara dingin, nyamuk centil dan aroma Dji Sam Soe.

Aku si anak cengeng pulang.
Kali ini, keinginan untuk mengambil cuti panjang sedemikian menggebu... mengalahkan keinginan menabung jatah cuti konsekuensi dari jadi kacung korporat untuk berlibur dengan yang-tidak-boleh-disebut-namanya ke Bali merayakan hari jadi.
Aku seperti anak burung rindu dengan hangat sarang dan lindungan sayap Ibunya.
Di luar dari itu, firasatku berkata bahwa ada sesuatu hal besar terjadi dan aku perlu ada disana.
Hubungan batin dengan Aan adikku juga si Mamah sedemikian kuat hingga bila salah satu dari kami sedang susah hati, yang lain akan resah.
Benar saja, sesuatu terjadi dengan Mamah.
Tak hendak kuceritakan detilnya.. yang jelas, kami untuk kesekian kali harus merapatkan barisan .. perpegangan tangan dan menghadapi segalanya bersama-sama.
Ada yang bilang, kebahagiaan itu milik sendiri...
tapi buatku, kebahagian pribadi tak apa berkurang demi lingkaran terdekat orang yang mencintai kita sepenuh hati.
itu lebih baik, daripada bahagia tapi sendirian.
mimpi-mimpiku dan proses mengejarnya bisa dengan mudah aku bunuh ,,, dihapus bila perlu supaya lingkaran terdekat orang yang mencintai kita sepenuh hati berkurang lara...
itu lebih baik, daripada bahagia tapi sendirian.
kawan boleh datang dan pergi
sahabat boleh datang dan pergi
kekasih boleh datang dan pergi
tapi keluarga, mereka akan tetap di sisi, bahkan ketika engkau sudah melakukan kesalahan sedemikian fatal dalam hidup.
Syukurlah ... jumlah hari cuti yang kuambil cukup untuk mengurusi apa yang perlu diurus.
dan tetap, semuanya dibuat suka hati ... bagaimana pun caranya.
kami masih tetap tertawa ha ha hi hi
kami masih melakukan hal-hal menyenangkan.. menikmati liburan ... pergi sana sini.
sambil tetap secara serius menambal sana sini apa yang perlu ditambal.
dan sekali lagi, kami berhasil membuktikan bahwa kami kuat ...
kalau begini, aku bisa pulang ke Jakarta dengan hati lega.
Seperti biasa, Gusti Sing Paring Urip bicara dalam berbagai cara.
Disaat bimbang .. meragu dengan kemampuan untuk menghadapi hidup, aku menemukan benda ini:

sudah rusak ... tapi dulu, deringnya nyaring bukan kepalang! juara!
ingat sekali... jam ini adalah salah satu benda yang kubeli dengan honor pertama saya nyanyi di kawinan...
honornya tujuh puluh ribu. Jam ini kubeli empat puluh ribu di Pasar Peterongan Semarang.
Dulu, aku sering sengaja bangun selepas jam dua belas malam terus naik ke loteng sama si Mamah ...
Jam beker ini selalu sukses dengan nyaringnya membangunkan kami.
jarang kami bicara saat itu
hanya merokok
mencuri ketenangan disaat yang lain tidur
sesekali bicara kejadian hari-hari dan menertawakan betapa bodohnya kami bisa ada di dalam situasi yang sedang dibahas
"Mestinya begini lho Mah .. sdjgsaldhadad terus di hsdgada"
"Ih harusnya ya Gus ... lucu banget sih kjadgkjassdk sadgasgdja"
orang bilang kita butuh meditasi untuk mencuri kejernihan dan mengambil aksi yang tepat akibat pemikiran yang tenang.
ritual merokok di loteng dini hari adalah cara kami berkontemplasi atau ... yaaa boleh lah disebut meditasi.
.........................
dan lewat jam yang gimana caranya kok ditemukan kembali ...
Gusti Sing Paring Urip mungkin mau bilang padaku...
"Ayo thole cah ngganteng ... jangan buru-buru ... lakukan seperti jaman kamu sering manjat loteng dan merokok disitu dini hari .... sing tenang, ojo grusa grusu!"
nasehatNYA .... cespleng! mujarab! manjur!
Kemarin,
Temu janji dengan karibku Phillip. Kawan hampir 8 tahun lalu ku kenal. Sekarang, setiap perjumpaan dengan kawanku yang satu ini dihabiskan untuk mengenang jaman saya tinggal di Semarang. tentunya, Phillip jadi salah satu saksi perjalanan hidup mulai dari masalah keluarga, percintaan, karir, gossip (yeap heheh) bahkan sampai kenakalan-orang-gede yang anonoh heheheh.
Bersamanya, saya diajak pergi ke Semawis.
Belum pernah ke Semawis.
Yang ndak tau apa itu Semawis --sama seperti saya--, ndak usah repot. Saya sudah tanya sama mas Google dan saya kupi pes yaaa nukilan infonya:
.....................................................................
"Pasar Semawis, atau dikenal juga sebagai Waroeng Semawis, adalah pasar malam di daerah pecinan Kota Semarang. Pasar ini awalnya merupakan gagasan dari perkumpulan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata).
Pasar Semawis bermula dengan diadakannya Pasar Imlek Semawis di tahun 2004, menyusul diresmikannya Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional di Indonesia.
Buka setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu malam disepanjang jalan Gang Warung, Pecinan - Semarang, Pasar Semawis menyajikan beraneka ragam hidangan yang bisa anda pilih bersama keluarga mulai dari pisang plenet khas Semarang, nasi ayam, es puter, kue serabi, aneka sate, bubur kacang hingga menu - menu steamboat yang menarik untuk dicicipi. Pusat jajanan terpanjang di Semarang ini buka mulai jam 6 sore hingga tengah malam"
.............................................................
Kalau dibaca infonya dari Mas Google itu, mestinya sih kemarin, Semawis ndak buka.
Ngaaaajaaaaib' (tirukan gaya Asmuni Srimulat) ... lha kok kemarin Semawis nggelar dagangan.
Perkenalan saya dengan Semawis ternyata tidak menjadi sekedar rasa suka hati cacing-cacing di perut ini dengan parade kuliner disana. suasananya sedemikian kawan:
Hati tenang kalau perut kenyang. Lapar mata lapar perut terbayar dengan satu piring nasi campur yang uenaknya betul betul!
Ditutup sukses dengan satu gelas Liang Tea dingin. Tamasya dilanjutkan. berkelilinglah saya di sana. Aroma macam-macam kuliner seperti berarak-arak di belakang kami.
Pisang plenet saus susu krim kental
Sate usus babi yang gurih
Martabak manis Gang Warung yang tipis kering legit Bakpao mini isi kacang hijau yang berlompatan dari dandang
koko dan cici berlogat cina semarang
"kowe meh da mana ci'? moi moi ne kok ndak diajak?"
"Yo ndak isa tho koh ... lha wong akune' wae misih da sini .. misih makan gitu o'!"
berlaku seperti pelet yang membuatku mau datang kembali.
Tak jauh dari kami, karaoke gratisan pinggir jalan digelar. Om, tante, opa, oma berkumpul mengusir rasa sepi ditinggal anak cucu merantau dan ndak pulang-pulang. Mungkin juga untuk menawar rasa rindu kampung halaman dengan lagu-lagu mandarin yang sering dialih bahasa jawa dengan irama campur sari.
Sambil lalu, kami yang masih lajang ini melihat mereka meluapkan rasa lewat tarik suara. "Gus, kita nanti kalau tua mungkin kayak gitu ya ... ngumpul biar nggak kesepian!"
"Iya Phil, tua sih boleh phil ... tapi semoga badanku ndak segede buntelan dosa begini kalau aku udah tua ya ... setidaknya lebih kurus... teteup!"
"Gus.... gendut mah gendut aja!"
ya ya ya kawanku ini memang terkenal dengan mulut siletnya .....
Semawis berusaha menawarkan apa saja. bahkan pijat pinggir jalan murah meriah.
Sayang, kenikmatan pijatan pudar gara-gara yang mijet aku bau ketek! baunya sumebyar semriwing setiap dia deket2 mijet badanku.. weleh-weleh ... mumet!
Penutup dari pertemuan saya dengan Semawis dihabiskan di tempat ini
Aku selalu percaya bahwa manusia tidak akan pernah bisa membaca pikiran Gusti Allah.
Kalau manusia sudah bisa membaca rencana Gusti Allah... maka, Tuhan kita sudah tidak LUAR BIASA! begitu bukan?
demikian juga dengan tukang ramal.
yang kupercaya dari mereka adalah ... mereka seperti cermin yang memantulkan balik segala sinyal gelombang rasa yang kita pancarkan diluar dari bahasa dan suara ...
Bapak tua tukang ramal ini seperti cermin jernih yang mampu memantulkan balik imajiku sendiri saat berbicara dengannya.
"Nyooo ... Sinyo tuh boros ndak karu-karuan ... ndak boleh lho Nyooo!"
"Sinyo nih sebenarnya pinter banget lho... tapi pemales! ndak boleh Nyooo ... kalau Nyoo bisa menghilangken sifat pemales, kamu bisa lebih sukses!"
"Kamu tuh orangnya ndak tegaan ya ... ndak isa buka toko Nyoo ... bisa-bisa tokomu habis dikasih-kasih isine sama kamu..."
"Nyooo ... jangan pernah membeli pertemanan dengan uang ... kamu tuh rada minderan ya !? padahal ndak ada alasan buat minder lho .... ati-ati Nyooo ... banyak yang berteman sama kamu cuma pas kamu lagi banyak uang Nyooo!"
"Mamahmu sehat ... tapi kok kayaknya lagi banyak pemikiran .. pemikiran apa aku ndak tau Nyoo"
.................. Aaaaah, Bapak tua yang bertindak seperti cermin yang jernih ....
Semawis ... besok saya berkunjung lagi ya....

Kemarin, Gusti Allah menjawab pertanyaan dan kegundahan saya lewat dua orang karib bernama Kelik dan Cungkring.
Mari aku perkenalkan dengan mereka...
Kelik, seorang juru kamera sebuah rumah produksi rekanan kami. Rantau dari Makasar. Seorang kawan sekaligus partner kerja dengan kualitas pertemanan khas anak rantau... gayanya lempeng dot com .. ndak dibuat-buat.
Cungkring, seorang asisten produksi, satu kantor dengan Kelik. Mahkluk ajaib yang kadang suka telat mikir tapi baik hati.
Karena sebuah project kantor, aku meminta bantuan mereka untuk meminjam satu kamera piranti kami untuk keperluan dokumentasi sebuah forum diskusi untuk menggali "insight" sebuah komunitas.
Sudah lama sekali aku ndak pernah mengoperasikan kamera. Terakhir kali melakukannya adalah 4 tahun yang lalu ketika masih jadi pembantu umum di sebuah rumah produksi.
Kemarin, saat menyambangi kantor mereka untuk mengambil kamera pinjaman itu. Saya tersentuh sekali dengan bagaimana mereka memperlakukan kami (aku dan lani, karib kerjaku).
Aku tipe orang yang selalu memperhatikan air muka.
Biasanya yang ada di hati selalu sukses tercermin di air muka bukan?
Aku orang yang cukup sensitif untuk meraba dan menerka apakah seseorang itu bersikap palsu.
Dan percayalah, ketika aku merasa orang yang dihadapanku ini bersikap palsu .... aku bisa bersikap jauuuuuh lebih palsu dibandingkan mereka ;) .. catat, aku mungkin termasuk aktor yang baik untuk yang satu ini hahahaha.
Ketika kami datang. Mereka berdua -kelik dan cungkring- menyambut kami dengan ramah yang tidak dibuat-buat.
Memberikan kursus singkat bagaimana menggunakan kamera semi-pro yang kami mau pinjam.
Saat taksi pesanan datang, Cungkring membantu membawakan kamera yang kalau dimasukkan dalam tas khusus, naujubileee gedenya dengan ringan tangan.
dasar lelaki doyan drama ... aku tersentuh sekali dengan perlakuan mereka itu hahahaha
T-U-L-U-S ... menjadi kata kuncinya.
Aku sih merasa yakin... ketika mereka berlaku sedemikian ... mereka melakukannya benar-benar karena mereka INGIN melakukannya TANPA berpikir bahwa hal tersebut adalah utang dan berharap bahwa utang yang mereka beri harus dibayar.
dari ketulusan tumbuh rasa hormat.
dari ketulusan tumbuh respek
dari ketulusan muncul keinginan untuk melakukan hal terbaik yang bisa kita beri untuk orang-orang yang sudah menunjukkan hal tersebut.
dari kejadian kemarin, aku bilang sama diri sendiri
Agus, kalau kamu mau melakukan sesuatu hal baik sama orang... lakukan dengan dengan tulus ... dan jangan hitung-hitung.
Masalah hitung menghitung yang ini, bukan urusanmu ... ini kerjaannya Gusti Allah.
Agus, kalau kamu mau melakukan sesuatu yang baik sama orang lain ... lakukan bukan karena kamu takut orang itu ngambek .. atau marah ... atau kamu merasa hutang budi dengan orang tersebut.
berbuat baik nggak kayak kita nyebar piutang buat orang lain dan kita kejar-kejar orang itu untuk mengembalikan kebaikan yang kita anggap utang.
berbuat baik sama orang, jangan diinget-inget ...
jangan memperlakukan berbuat baik sama orang, kayak kita sedang berinvestasi.
lha wong, sekali lagi ... masalah itung-itungan untung rugi dalam hal ini kan bukan urusan kita.
Kegelisahan terjawab kegundahan dihapus ... malah tambah diingatkan ...
sigh .... Gusti Allah kalau njawab pertanyaanku emang bener-bener kuompliiiiit cing!!!! :)

Gara-gara kemarin makan nasi padang beserta uba rampenya... tau kan? sambel ijo dan daun singkong.
aku lama sekali ngliatin daun singkong itu dan senyum sendiri
jadi inget Bapak.
Bapak paling anti sama yang namanya daun singkong.
Masakan apa pun kalau kecampuran daun singkong, dijamin ndak akan disentuh.
Air mukanya kalau dibayangkan sekarang sungguh lucu hehehe ... kayak anak bayi melepeh bubur susunya.
alasannya, "Haduuuuh ... awit cilik panganane godhong telo puhong ... wis tuwo kok yoo iku maneh! ora gelem aku!"
terjemahannya, "dari kecil makan daun singkong teruuus ... udah tua begini masak daun singkong lagi! ndak mau!"
Aneh! tapi ya itu lah Bapakku.
Jadi mikir, kita kadang terlalu melekatkan satu benda dengan yang namanya rasa.
rasa yang dilekatkan macam-macam ...
Bagaimana dengan diriku sendiri? haduh .... daftarnya bisa macam-macam.
--------------------------------------------
Saya dan Masakan si Mamah
Si Mamah itu hobi masak dan jangan ditanya, masakannya enak! dulu jaman kecil, jaman kami hidup prihatin ... satu hal yang jadi hiburan si mamah adalah membuka-buka buku resep masakan setiap sore. Air mukanya sumringah penuh senyum membayangkan Ia sibuk di dapur memasak apa yang ada di buku resep. Kami anak-anaknya suka sekali memperhatikan. Di mata kami, air mukanya membahagiakan.
Dalam hati aku berjanji, "Kalau nanti aku kerja dan punya uang, aku akan memastikan si Mamah punya uang untuk bisa masak apa pun yang Ia pengen Masak! aku akan memastikan di meja makan ada masakan-masakan hasil jiplakannya lewat buku masak yang dulu cuma ia buka-buka dan baca!"
dan sampai sekarang, setiap aku nelp si Mamah... pertanyaan pertamaku adalah:
"Masak apa Mah?"
terlontar otomatis begitu saja.
Kalau jawabannya dia masak yang menurut ukuranku "sederhana" misal:
"Alaaah ngene wae Gus ... njangan (sayur) bayem bening karo tempe bacem!"
aku kok merasa bersalah ya heheheh .... kayak aku kurang ngirimi beliau uang hahahahah.
kalau jawabannya:
"Masak nasi jaha plus tino ransak bulu!"
"Masak ayam bacem sama kare kentang!"
Bahagia sekali rasanya! hahahahahaha
---------------------------------------------------
Saya dan traktir teman
Jaman aku kuliah... aku pernah mengalami yang ..errr kasarnya ya, mbeli teh botol aja mesti mikir berkali-kali! :)
Kalo inget jaman itu aku suka mikir,
"Kok idup gue dulu kayak di film Dono Kasino Indro pas mereka lagi kuliah ya ....!"
komedi banget!
dulu, alam sadarku berkata
"Kalau nanti aku urip mulyo ... bekerja dan menghasilkan uang ....aku ndak mau itungan kalau soal makanan! kalau aku ada uang, aku ndak akan mikir dua kali untuk ngajak temen makan enak! kalau bisa, aku yang traktir-traktir!"
dan kejadian sampai sekarang
aku sulit mengerem kebiasaanku makan enak kalau lagi ada duit.
-----------------------------------------------
Saya dan Tas
Jaman aku kecil dulu, ada seorang kawan yang koleksi tas "Sanrio"-nya uedaaan banyaknya!
Kalau ndak tau "Sanrio" ... itu merk dari jepang yang mengeluarkan karakter kayak "Hello Kitty" ... "Twinkle Twinkle Star" dan banyak lagi lah!
Aku dulu melongo liat dia ganti-ganti tas kayak ganti-ganti baju!
buatku, hidupnya dia bahagia banget! heheheh
Sekarang, aku suka mbeli-mbeli tas walaupun kadang ndak aku pake karena ndak cocok!
Bukan tas yang harganya mahal siih ... tas-tas biasa yang masih kebeli sama duit gaji tiap bulannya tapi ya itu ... ndak pernah bisa dipake!
kalo ngeliat onggokannya di lemari, rasanya sayang sekali!
Tapi begitu aku mau kasih ke orang .... percaya lah, rasanya seperti mau pisah sama pacar
berat banget!
------------------------------------
Saya dan Tustel
Dulu, aku selalu menganggap bahwa tustel itu barang mewaaaaah banget! rasanya jadi manusia yang paling eksis banget deh kalo punya tustel.
Pikiran bahwa tustel itu barang sangat mewah terbawa sampai sekarang
setiap ngeliat tustel digital ... mengabaikan bisa membelinya... aku kok selalu merasa kayak mau beli mobil. muahaaal banget! heheheheh
dan jadilah sampai sekarang aku ndak pernah punya tustel. ada yang mau kasih ? :)
Ihhhh .... daftarnya baru keinget empat ... tapi kok aku kayak orang sakit jiwa ya .....

Sialan!
Begitu selesai nonton film ini,
Otakku seperti kelas penuh dengan kanak-kanak badung yang berteriak riuh rendah saat Ibu Guru ndak masuk.
Katanya hidup itu seperti berpetualang,
belok kiri atau belok kanan?
nyebrang kali atau naek pohon?
nanjak atau ndronjong berlari turun?
kita ndak pernah tahu tantangan macam apa lagi yang bakal disajikan di depan kita.
Petualangan langsung dimulai begitu paru-paru di kotori udara dan kita membuat kotor semesta dengan polusi suara di kali pertama
dengan siapa kita ditemani berpetualang jadi tidak penting lagi
pada ujungnya, tiap orang punya plotnya sendiri-sendiri.
saat berpetualang,
kawan bisa datang dan pergi
musuh bisa datang dan pergi
bahkan yang kita anggap sigaraning ati alias belahan jiwa pun bisa pergi
yang kekal cuma RASA.
Dari suami
dari istri
dari kawan
sebenarnya kita sedang belajar bersama-sama untuk memahami apa artinya "berteman dengan kesendirian"
sudah terlalu lama kita dilenakan dengan ilusi untuk melupakan seorang kawan bernama "kesendirian"
suami mati
istri pergi
kawan permisi mau mandi
dan kita ditinggal dengan plot petualangan yang harus dijalani sampai akhir.
pada ujungnya, kawan bernama "kesendirian" adalah partner sejati.
Carl Fredricksen, sang kakek tua di film ini seperti mengingatkanku untuk terus bermimpi.
Kata Simbah Carl ... mimpi adalah bahan bakar utama kita mengarungi petualangan sampai gigi kita ompong (wait, aku sudah ompong sih sekarang) ... sampai nafas kita satu dua .. sampai jalan pun harus pakai tongkat kaki empat.
Katanya pula, suami .. istri .. sahabat ... kerabat adalah sekedar sisipin karakter peneman pada setiap bab-bab dari plot besar petualangan kita.
bersiaplah untuk kemungkinan ditinggalkan mereka begitu kita berpindah bab
sialan sialan sialan!
maksudnya pengen ha ha ha hi hi hi
malah kejebak nulis sing ndak nggenah macam begini

Aku mau bicara ngalor ngidul dulu ah ...
Baru saja mbaca tulisan dewi lestari di blog-nya ... tentang hubungan antara anak dan orang tua. Dalam hal ini, hubungannya dengan sang Ibu.
Menyentuh sekali...
Bagaimana tulisannya membuatku menyusuri relung-relung paling dasar antara hubungan saya dengan Mamah dan Bapak.
Kata Mbak Dewi Lestari, pada ujungnya... yang paling esensial adalah bagaimana anak dan orang tua berbicara dari hati ke hati tidak dalam konsep anak dan orang tua ... namun sebagai manusia utuh.. dewasa.
Bagaimana satu individu yang matang berkomunikasi dengan individu yang lain yang bersama-sama menjalani hidup .. ditempa dengan pengalaman ... dan belajar banyak dari kehidupan.
Kalau merunut perjalanan kami,
Aku semakin sadar
Begitu kuatnya pengaruh Mamah dan Bapak tentang bagaimana kami memaknai hubungan kasih ... menunjukkan rasa sayang ... juga bagaimana kami memandang dan menjalani hidup.
Demikian juga, aku merasa ... bagaimana kami bereaksi terhadap apa yang terjadi dalam hubungan mereka, memberikan pembelajaran bagi Mamah dan Bapak mengenai pemaknaan cinta kasih ...
--damn, at this point ... a glass of cold beer will be just fine! hehehe--
Tidak ada sekolah dimana kita bisa belajar untuk menjadi orang tua
Landasannya cuma keyakinan bahwa kita harus rela untuk bertemu dengan pengalaman-pengalaman baru dan harus bereaksi terhadap pengalaman itu ...
siap atau tidak siap itu bisa didebat sampai waktu yang terentang.
Aku meyakini seorang perempuan tidak serta merta tumbuh rasa keibuannya...
pas mak mbrojol anak dari rahimnya ... satu hal yang Ia rasa mungkin justru bukan rasa keibuan yang membuncah
jangan-jangan justru rasa kaget...
kaget kok yo iso methu jabang bayi dari badannya
kaget lan was-was .. "Aduuuh piye carane aku le ngrawat iki jabang bayi"
Rasa keibuan tumbuh seiring dengan Ia mengalami pengalaman-pengalaman baru
ngganti popok kalo eek
mulai belajar membedakan tangisan bayi ... tangisan kalo laper beda dengan tangisan kalo dia ngompol ...
Ia bertumbuh seiring dengan sang anak bertumbuh...
mengagumkan ya! ...
hihihihi aneh... aku kok ngomongin tentang ibu-ibu sih ...
Tanpa disadari,
orang tua dan anak ada dalam relasi saling membutuhkan untuk mereka bisa bertumbuh .. untuk mereka bisa mengalami pengalaman-pengalaman baru yang sudah direncanakan oleh Sang Hidup.
yang satu jadi ndak pengin kehilangan yang lain.
lompat sedikit ah,
Jadi inget.. kemarin pas lagi ngopi-ngopi cantik di sebuah mal
Aku ngliat Ibu muda, baby sitter, anak dan tas belanjaan
yang nggendong anak siapa? baby sitter
yang njinjing tas belanjaan siapa? Ibu muda
aku kok jadi sedih.
Perempuan itu baru saja kehilangan satu momen dimana Ia sebenarnya punya kesempatan untuk merasakan perjalanan pengayaan batin.
Dari dulu, aku selalu suka dipeluk dan memeluk si Mamah
Buatku, aroma tubuhnya adalah aroma yang paling enaaaak yang pernah ada di dunia
aroma tubuhnya menentramkan.
Dulu, aku selalu suka bagaimana Bapak menggandeng tanganku setiap kami punya kesempatan piknik ke Kebon Raya, Bogor. erat dan mantap .. rasanya, semua akan baik-baik saja kalau ada Bapak disebelahku.
Dulu.......errrrr....... aku tidak terlalu suka dengan cara spartan Bapak mendidik kami.
Aku ndak akan mencontoh caranya ... tapi toh sekarang aku salut bahwa karena itu, aku diajar untuk tidak terlalu gampang mengasihani diri sendiri.
dan perempuan yang kulihat tadi baru saja menukar rasa-rasa itu dengan tas belanjaan.
aaaah mungkin aku saja sih yang terlalu sensitif.
Ok, balik lagi ke topik awal.. hehehehe
eh, tunggu .. di awal aku ngomong apaan sih?
tunggu bentar aku scroll ke atas dulu hehehehe
lupa bouw...
o iya,
Kurasa, beberapa tahun belakangan ini lah... kami mengalami pengalaman-pengalaman baru nikmatnya melepaskan atribut anak dan orang tua tanpa melepaskan rasa hormat
dan bicara sebagai manusia yang matang
dan kemudian memaklumi dengan ikhlas proses pembelajaran hidup.
Ini juga berkaitan dengan pemaknaan ku mengenai kata MAAF seperti yang pernah kutulis sebelumnya.
Perlahan, tembok dendam terkikis runtuh ...
rasanya damai sekali
dalam hidup, baru kali ini perjalanan spiritualku membawaku ke level "kedamaian" yang baru ...
pertanyaannya untukmu,
apakah kalian juga sudah mengalami hal yang sama?
--mandi lagi ah ... kepalaku kok tiba-tiba panas abis nulis yang sok daleeeem begini heheheh--