
Aku mbaca buku "Perahu Kertas" kali ke dua.
Diantara buku karangan Dewi Lestari, cuma buku ini yang aku suka.
Aku selalu kagum dengan orang-orang yang mampu menggambarkan keindahan dalam cara yang sederhana.
Salahkan otak pemalasku, rasanya sulit sekali mencerna kalimat-kalimat penuh kias di buku-buku yang orang bilang bagus.
Aku kok malah ndak bisa menemukan sisi indahnya... yang ada malah bingung.
Mungkin ini sebabnya aku suka sekali dengan semua buku yang ditulis Umar Kayam, Seno Gumira Ajidarma dan Amy Tan
Entah kenapa, setiap aku membaca buku mereka, aku seperti mendengar dan melihat mereka ada di depanku, membacakan buku yang mereka tulis.
Bahasa tutur yang lugas tapi menyampaikan rasa hati yang sungguh menyentuh ...
Pergulatan hati orang rantau bertabrakan dengan nilai-nilai baru dimana Ia tinggal digambarkan dengan baik oleh Amy Tan ... bacalah "The Joy Luck Club" atau "The Bonesetter Daughter" maka engkau seperti menjadi bagian dalam cerita.
Nilai filosofi hidup ditulis dengan demikian cair serasa membaca buku cerita ringan pengantar tidur tapi meninggalkan efek luar biasa dahsyat setelahnya setiap membaca buku karangan Umar Kayam ...
Atau sentilan-sentilan halus tentang cinta, hidup dan kejujuran yang ditulis oleh Seno Gumira selalu membuatku termangu lama sampai-sampai kopi di cangkirku cemburu karena terlalu lama diabaikan.
Nah mulai ngelantur kemana-mana lagi kan aku ini heheheh
Di "Perahu Kertas" kita berkenalan dengan Kugi, Keenan dan Remi
Masing-masing punya impian
Buat Kugi, Keenan datang dengan cinta dan liku-liku penuh drama, formula utama film-film percintaan dari jaman nenekku masih muda dan baru kenal cinta monyet sampai sekarang.
Cinta yang menawarkan senang bukan kepalang sekaligus sedih bukan kepalang ...
Cinta yang superlatif
Cinta yang membuat kita kompak berteriak, "Oooh so sweet ..." dengan mimik muka orang yang terserang sembelit.
Buat Kugi, Remi datang dengan cinta yang lugu. Ia tidak datang dengan segala teori-teori cinta yang rumit. Karena, ketika cinta yang bicara ... segalanya menjadi sederhana .. mudah dicerna oleh rasa hati dan logika.
Cinta yang dibawa Remi tidak pernah membawa Kugi melambung ke langit paling tinggi ... tapi juga tak pernah membawanya jatuh ke dalam palung.
Cinta yang dibawa Remi ndak akan laku di jual buat jadi skenario opera sabun.
Nggak heboh.
dan Kugi memilih Cinta Keenan... dengan segala perjalanan romantikanya.
Keenan memang berjodoh dengan Kugi nampaknya.
Bagaimana dengan Remi?
Remi dengan sukses lenggang kangkung sendirian membawa rasa hatinya yang terkalahkan.
nasibnya sama seperti si hantu opera buruk rupa di "The Phantom of The Opera" yang menelan cinta tulusnya sendirian karena dianggap tak megah, tak indah dan jauh dari sempurna dibanding cinta yang di bawah Raul untuk jeng Christine Daea ...
Kurang apa Remi dan si hantu opera buruk rupa itu.
Cintanya dibunuh atas nama jodoh.
aku sedih.
Mungkin karena aku tahu apa yang dirasakan oleh Remi dan Hantu Opera.
Kalah karena cinta yang sederhana.
note: buat yang belum tuntas membaca buku "Perahu Kertas" ... aku ndak anggap ini spoiler hehehe ... karena, detil perjalanan ketiga karakter ndak aku ceritakan kan? ... anyway, aku siap dimaki kok oleh orang-orang yang kebetulan kesandung mbaca tulisan ini

Minggu pagi kemarin baru dapet makanan untuk jiwa.
Ndilalah kok ya esensi dari nasehatnya sama percis dengen apa yang pernah dibilang si Mamah jaman aku misih kecil dulu.
Dulu sih ora mudeng .. alias ndak paham sama sekali makna dari omongannya si Mamah .. lha wong anak kecil tho ya ... taunya cuma nangis terus berharap abis itu dunia jadi cerah ceria lagi.
Tapi sekarang aku paham.
Kita bicara tentang kesedihan.
Mamah bilang, kalau Gusti Allah itu komedian ... konsekuensinya ada dua. Satu, dia bisa bikin kita ketawa ngakak abis-abisan karena lucunya ngalahin Gepeng Srimulat ... atau kita ndak ketawa sama sekali karena becandaannya tingkat tinggi dan kita manusia ndak punya kapasitas yang cukup buat mencerna becandaannya itu.
Bukan salah pelawaknya, salahkan penontonnya.
Pada satu pembicaraan lewat telepon lewat tengah malam, si Mamah pernah bilang ...
"Kalau kita sedang dikasih susah... dikasih yang bikin nangis ... mungkin ini cara Gusti Allah ngingetin lagi sama kita kalau kita ini dibikin dengan material yang kuat ngalahin besi anti karat"
Pada satu pembicaraan curhat tingkat tinggi di atas loteng rumah lewat tengah malam sambil ngerokok dan minum bir item, si Mamah pernah bilang ...
"Aduh, kamu sekarang drama banget sih kalo dapet masalah? .... nih ya, orang yang terlalu berkutat sama kesedihannya terlalu lama itu ibarat orang mbaca buku .. terus sampe di bab cerita sedih dia baca ulang terus-terusan dan nggak mau beranjak dari bab itu .... padahal, mana pernah dia tau, kalau bab berikutnya ternyata menyimpan kegembiraan ... menyimpan kejutan manis buat dia. Udah deh, dijalani dengan rasa ikhlas dan lepas aja ... ibarat kamu marah sama orang .. kamu ndak akan pergi kemana-mana kalau kamu ndak bisa memafkan dan melepaskan ... kamu bakal jadi ganjel pintu di situ-situ aja Agus ... Duh, kayak nggak inget perjalanan hidup jaman kamu masih kecil aja sih ...."
Hari minggu kemarin pun aku dengar begini:
"Saat merasa penuh beban... ini lah saat yang tepat untuk bersyukur. Karena dengan bersyukur, sebenarnya kamu berkata bahwa AKU LEBIH BESAR DARIPADA BEBANKU"
Hemm .... kayak orang nggedein badan pas fitness ya? Aku rasa, orang nggak akan dapet hasil yang maksimal kalo barbel yang diangkat tiap hari cuma sekilo ... pada satu saat Ia harus rela dan mau angkat barbel yang berat banget ... merelakan otot2nya berkontraksi maksimal ... merelakan untuk menikmati bagaimana nyerinya otot2 itu malam hari setelah selesai latihan beban ... dan, tanpa disadari, pelan-pelan badannya "jadi" ... kekar .... siap jadi "Be Our Cover" Menshealth bweheheheh
Ok, aku sudah meracau terlalu banyak. sebenarnya ini cuma medium buat mengingatkan diri sendiri supaya lebih legowo di saat sempit.
Buah durian buah selasih
Sekian dan terima kasih.

Untuk kali kesekian, aku disini.
Menghirup perlahan kopi tanpa gula.
Aku suka tempat ini. kedai kopi dengan paduan aroma kopi, lantai kayu coklat hangat dan keteduhan yang ditawarkan tempat ini benar-benar membuatku senang.
Hemmm senang bukan kata yang tepat .... tempat ini membuatku tenang.
Anak muda di depanku ini memainkan pianonya dengan nada-nada sendu.
Umurnya sebaya dengan anakku, kutebak.
Aduh, aku jadi rindu dengan mereka, anak-anakku.
Kurasa, aku sudah berhasil membuat mereka jadi manusia yang tangguh.
Doaku dari dulu memang itu.
Bukan pengen anak yang cerdas.
Tapi anak yang nantinya jadi manusia ulet. manusia tangguh.
Apa pun pencapaian mereka dalam hidup, aku seperti jadi bagiannya.
Aku Ibu mereka.
Kembali, pandanganku tertuju pada pemain piano.
Wahai anakku, apa yang membuatmu sendu?
Wajahmu pilu nak...
Aku mengamati rasa hatimu meski kau tak tahu.
Isi hatimu tergambar dari denting yang kau buat.
Rasa yang tertahan malu...
Rasa senang yang menggebu...
Rasa rindu ...
Rasa marah ...
dan sedih.
Aku mengikuti perjalanan rasa hatimu.
Aku tahu bagaimana kau selalu melihat ujung jalan dan berharap Ia datang.
kau pasti merindunya seperti orang gila.
Aku tahu bagaimana kau senang saat kali pertama Ia tersenyum padamu.
Kau pasti merasa lantai jebol dan sedang berjalan di awan. percayalah anak muda, aku tau seperti apa rasanya.
kemudian, kalian berdua dilanda rindu
digulung badai cinta.
aku saksi, saat kau merajuk Ia terlambat menjemput.
saksi saat kau senang karena ia memberimu kado kejutan ulang tahun dan menyanyi di tengah kedai ini dengan suara baritonnya yang pas-pasan ....
sekarang, jiwamu seperti menghilang. denting yang kau buat, tak bernyawa.
Denting pianomu ... simfoni hidupmu...
dan aku lah salah satu penontonnya meski kau tak tahu.
Anakku pasti suka dengan tempat ini.
Sama seperti Ibunya, Ia suka dengan aroma kopi yang selalu sukses membuat tenang.
Ia juga suka denting piano. Dulu, jaman masih kecil, kalau Ia rewel... putarkan saja kaset Richard Clayderman. langsung anteng.
Wahai anak muda pemain piano. kamu tampan. bahkan saat air mukamu sedang sendu.
Kopiku sudah habis.
"Mbak, minta bill!"
"Baik Bu..."
"Pemain piano itu namanya siapa tho?"
"Ooooh Mas Raka, namanya Bu.... kasihan Bu, Mas Bayu, pacarnya meninggal dunia belum lama ini... sakit!"
"Ooooo......"
Raka .... aku rasa ... sudah waktunya Aji, anakku kuajak ke kedai kopi ini.
(bersambung)

Kedai kopi ini sempurna.
Karena, kedai kopi ini menyediakan cangkang yang nyaman saat aku butuh menyendiri mencuri sedikit sunyi.
Karena, kedai kopi ini menyediakan teh bunga yang mujarabnya tidak kalah dengan satu cangkir kopi kental. Dimana lagi ada kedai kopi yang menyandingkan kenikmatan seimbang setimbang kopi dan teh.
Karena, kedai kopi ini adalah panggung kecil yang menampilkan fragmen-fragmen hidup.
Lelaki temu janji dengan perempuan selingkuhan. Adu mulut kecil kemana dan dimana bersembunyi mencari sarang kecil memadu cinta.
Perempuan yang menyeka mulut anak lelakinya yang terlalu bernafsu menikmati roti coklat dan meninggalkan lelehan coklat dimana-mana di sekitar mulut dan kerah baju.
Lelaki bertemu lelaki dan curi-curi berpegang tangan di bawah meja. Cinta itu akan selalu indah jauh melampaui batasan jenis kelamin.
Lelaki menghibur belahan jiwanya dengan kado kecil dan perempuan yang menjerit kegirangan.
Disinilah aku menyendiri mencuri sunyi.
damai sekali.
dan sekali lagi, kulihat dia.
melihat jemarinya menari perlahan diatas tuts piano, selalu meninggalkan kesan rasa.
Terkadang, iramanya membawaku seperti menari di rinai hujan yang bergerak perlahan.
Terkadang, iramanya membuatku merasa rindu tak berketentuan.
Jangan ditanya aku rindu pada apa atau siapa.
Aku tidak tahu.
Aku cuma merasa rindu.
Sekali lagi, kulihat dia hari ini.
Wajahnya kuyu.
bahunya layu.
tak kulihat jiwa di bola matanya.
kemanakah Ia ... sepertinya jiwanya mengembara.
jemarinya menari pelan.
pelan sekali.
bergerak satu-satu.
denting piano seakan berteriak,
"Kamu tinggalkan aku kelu..."
dan tatapan matanya menyapu ujung jalan yang terlihat dari jendela kedai kopi ini.
Matanya bercerita,
"Aku masih ingat sayang, saat pertama kali aku melihatmu di ujung jalan sana .. berlari-lari menghindari rinai hujan yang rindu ujung celana khaki-mu .... aku sudah jatuh cinta"
"Dan hari berikutnya..."
"Hari berikutnya..."
"Sampai kehadiranmu di ujung jalan sana membuatku kecanduan"
"Hari saat engkau buka pintu kedai ini, adalah hari paling menyenangkan buatku ... meskipun, engkau tak tahu"
"Jemariku seakan berjiwa saat engkau datang. Ia bersenandung girang. Ah, semoga saja rasa itu juga kau bisa raba"
"Aku kecanduan di kali pertama"
Ternyata benar, hidup itu adalah energi yang bertransformasi.
dari pojok ruangan kedai kopi ini, kurasakan hatinya bicara. Lewat denting, lewat mata, lewat air muka.
Sekarang aku semakin awas mengamati bahasa tubuhnya.
Wahai pemain piano, apa lagi yang engkau rasa?
Bahunya makin lunglai. Bahunya bicara,
"Jemariku sekarang sudah berpindah pemilik ... Ia menari di atas tuts piano ini atas kuasamu ..."
"Sekarang, aku kelu .... aku rindu..."
Aku di pojok ruangan juga merasa pilu.
Sekarang, Ia berdiri ... tatapannya menatap ujung jalan.
"Guys, gue balik dulu ya .... sampai ketemu besok...."
Ada kucuri dengar,
"Kasihan ya mas Raka ........ Mas Bayu itu orang baik, kok meninggalnya cepet"
Teh bunga di cangkirku membeku.

Dengarlah suara jantungku diketuk rindu.
Saatnya meninggalkan lara sendirian.
Biarkan Ia ada di pojok ruang.
Ini caraku mengusir luka.
dengan memperkosa lantai dansa.
Menggeliat merobek lara.

Sayang, Aku si anak kampung jalan-jalan ke Bali.
Aku mulai suka dengan terik matahari pinggir pantai.
Aku mulai tidak peduli bagaimana kulitku sewarna madu berubah menjadi warna karamel yang telat diangkat.
Aku pergi ke Nusa Lembongan hari kedua kali ini.
Belum pernah kesana.
Kawan-kawanku satu rombongan pun belum pernah kesana.
"Pokoknya Gus, disana nanti kita bisa tur kecil ke desa liat budi daya rumput laut"
hemmm .. belum pernah.
"Terus kamu bisa naek perahu pisang alias banana boat"
wow, belum pernah.
"Terus kamu bisa snorkeling liat ikan!"
liat ikan pernah, tapi snorkeling belum pernah.
kayaknya menyenangkan.
Pergilah aku kesana naik kapal pesiar paling besar yang pernah aku naiki. Bentuk kapal lautnya kayak ikan pari dengan dua buritan kiri kanan.
angin sepoi-sepoi membelai perut gembul yang SOK dibiarkan terbuka tanpa pakaian.
oooohh... jadi kayak begini ya kalo bule-bule kulit pucat cuma pake celana gombrong tanpa celana dalam jalan-jalan dengan santainya menikmati terpaan udara angin laut.
Aku punya potensi besar untuk masuk angin. well, masuk angin karena terpaan angin laut mungkin rasanya beda dibanding kalo aku kena masuk angin udara Jakarta. oke lah, aku ambil resiko itu dengan suka hati.
kepongahan si anak kampung berlanjut.
anak kampung telanjang dada dengan perut gembul, SOK menantang angin laut dengan berdiri persis di depan geladak kapal yang melaju kencang.
Ooooh ... jadi kayak begini ya rasanya Mas Jack Dawson di film Titanic sambil berteriak "I am the king of the world!!!"
Aku juga pengen berteriak begitu sih, persis kayak di film Titanic. Tapi .......... aneh nggak sih? ... anak kampung berkulit item begini berteriak kayak begitu? yang ada nanti aku diketawain lagi sama bule-bule di sebelahku ini.
Sampailah aku di Nusa Lembongan.
Kembung.
Kegiatan pertama di pulau ini, tur keliling desa.
Yaaaaah ... nggak berkesan! lha wong aku juga dari kampung. Semua yang mereka lalukan, juga aku lakukan kok dulu, sebelum aku merantau.
Mungkin ini baru pemanasan ... the best is yet to come dear! sing sabar yo cah bagus.
Makan siang ala bule.
Bistik sapi setengah matang, ikan marlin panggang, dan salad ala italia.... perutku menyambut dengan suka cita.
Biasa makan di warteg, terus tiba-tiba makan asik masyuk begini ternyata nggak terlalu membikin kaget!
kombinasi perut agak kembung dan limpahan makanan bule berujung apa hayoooo?
perutku tambah buncit.
Apa lagi sekarang?
Waktunya main Banana Boat!
belum pernah...
asyik asyik asyik ...
kayak di film-film gituh .. kesannya heboh banget!
pasti menyenangkan.
Ternyata MENGERIKAN!
kombinasi dari anak kampung duduk di paling depan perahu karet pisang... laju perahu yang KENCENG BANGET ... ombak yang besar!
Tau si anak kampung teriak apa?
"Arrrrggghhhhh I DON'T WANNA DIE!!!!!!"
Iya, si anak kampung bisa berbahasa inggris dengan canggih saat Ia ketakutan hihihi
kemudian tiba-tiba disusul dengan teriakan
"Aguuuusss .. YOUR ASS IS ON MY HAND!!!! DAMN IT!!!"
ohohoho saking ngerinya aku tak sadar beringsut ngglosor pantat ke belakang dan dengan manis menduduki tangan orang di belakangku....
TRAGEDI BERLANJUT!
Perahu pisang DENGAN SENGAJA DIGULINGKAN!
SETAN! SETAN! SETAN!
Kami semua bergulingan jatuh ke lautan.
Tapi, bukan kami saja yang JATUH KE LAUTAN ....
Sangking kencengnya aku berteriak, mulut mangap sempurna ...
GIGI PALSUKU - MELAMBUNG - KE - UDARA - DAN - JATUH - KE - AIR
Panik bukan kepalang!!!!
Tuhan .... JANGAN BIARKAN HAMBA MELANJUTKAN SISA LIBURAN DENGAN GIGI OMPONG DOOOONG!!!
Tanganku serasa berubah jadi 5000 tangan gurita yang panik meraba-raba air di sekelilingku berusaha mencari GIGI PALSU!
"Agus .... ayo buruan naek ke perahu!"
Ehhhhh SETAAAN ... NGEMENG AJE LO !!! SINI KEILANGAN GIGI TAUUUK!
Iya, kawan-kawanku ini ternyata bukan teman sejati ... masa, temannya kesusahan malah dibalas tempik sorak ketawaan.
GIGI KETEMU .....
Pelajaran berikutnya, TUTUP MULUT SEMPURNA!
tak ada ada lagi teriakan keluar dari mulutku.
MENJERIT DI HATI!
Perahu pisang lagi-lagi sengaja digulingkan!
Kami berhamburan jatuh ke air.
Sangking kerasnya .... MULUT KEBUKA (LAGI)!
GIGI PALSU - MELAMBUNG - KE - UDARA - DAN - JATUH - KE - LAUTAN - UNTUK - KALI - KEDUA
Hadooooooohhh!!!!!
Panik (lagi)
"NYEEET! GIGI GUE JATUH LAGI!'
Iya, confirmed .... mereka bukan teman sejati .... teman kesusahan kok dibalas tempik sorak ketawaan.
Gusti Sing Paring Urip ternyata lagi nggarap aku !
Mungkin dia pikir ..."Waaah lumayan ... ada tontonan SRIMULAT GRATIS!"
GIGI KETEMU ...
dan saya berpikir ulang seribu kali untuk melanjutkan kegiatan pesiar dengan SNORKELING! ...
LANJUT NGGAK YAAAAAA?????!

Sayang,
Ini hari pertama aku di Bali menikmati liburan.
Aku sekarang ada di Bacio.
Berlari sana-sini di lantai dansa... meluapkan rasa.
Aku pulang saat anjing-anjing jalanan sudah lelap tidur.
Dalam perjalanan menuju penginapan, aku melihat seorang Ibu dan anaknya yang kuduga sebaya umurnya denganku sedang berbincang di sebuah kedai kopi 24 jam.
dan aku terkenang pembicaraan beberapa waktu lalu dengan si Mamah.
----------------------------------------------
"Kamu cinta dengan pekerjaanmu Gus?"
"Mamah, Aku menyenangi apa yang aku kerjakan untuk mencari makan"
"Bahagia Gus?"
"Bersyukur ... dan kemudian bahagia Mah..."
"Kamu banyak senang ya Gus?"
"Diantara susah senang .... Aku bisa bilang, selama ini hidupku lebih banyak senangnya Mah...."
"Syukurlah ... mungkin, ini waktunya Gusti Allah mengganjar kamu dengan banyak hal yang baik .... kamu udah kasih liat sama DIA kalau kamu anakNYA yang tangguh.... ini adalah bayaranNYA kamu karena nggak mengeluh jaman dulu kecil hidup agak susah"
"Manis sekali kesimpulan Mamah"
"Aku cuma menyatakan hal yang mudah untuk disimpulkan... itu saja"
"Aku sayang sama Mamah"
"Aku juga sayang kamu, anakku"
--------------------------------------------------------------
anjing-anjing jalanan masih terlelap saya aku lewat.

Sayangku, Aku sedang ada di Bali...
mati kutu ndak ada kamu dan aku rindu.
Semua kombinasi kesenangan disana berkurang maknanya saat kau tak ada.
Villa tempatku menginap berseberangan dengan orang jual patung batu khas bali.
Sambil mengingatmu, aku menikmati bagaimana para tukang pahat patung batu beraksi.
lalu aku menemukan kesamaan.
antara Gusti Allah, tukang pahat, batu kali.. dan hidup.
batu kali tak berbentuk indah saat ditemukan.
sampai akhirnya si tukang pahat memukul penatah batu dengan keras... menyakiti sang batu ... memutilasi bagian-bagian tertentu dari batu itu... dengan tekun... dengan cinta ... dengan rasa ... sampai akhirnya batu kali berubah menjadi karya seni.
Mungkin, mekanisme yang sama terjadi dengan hidup kita ya ...
seringkali, kita tidak pernah tahu kenapa hidup begitu keras ... menghantam .. meninggalkan nyeri ... meninggalkan sedih ... penuh tega.
padahal .... mungkin, ini cara Gusti Sang Pembuat Hidup memukulkan besi penatah terhadap jalan hidup kita ...
membuang hal-hal yang tidak perlu
tak memberikan kesempatan pada kita bertanya-tanya.
berkali-kali
hingga seringkali meninggal nyeri
sampai akhirnya ... hidup kita dibuat indah.
seperti batu kali jadi karya seni.

Aku beri tahu ...
Saat setiap pori di tubuhku berteriak rindu,
Aku ingin engkau memasuki setiap relungku
Saat keringatmu seperti rinai hujan dan jemarimu menari di sela-sela
Aku ingin engkau tahu, bahwa engkau sudah menggenapi
Begitu berkali-kali
Sampai mati
Sampai yang kudengar hanya sunyi

Belakangan ini aku sering ngimpi ngobrol sama Bapak.
Aku jarang sekali ngobrol sama Bapak.
Abis, Bapak kalau diajak ngobrol... jawabannya pendek-pendek... dan suka pedes nyelekit komentarnya.
Tapi sekarang, aku kangen sekali momen dimana aku dan Bapak duduk berdua ... diem nggak ngerti mau ngomong apa.
dan masing-masing sibuk dengan cangkir kopinya.
Dari si Mamah, aku belajar tentang pemaknaan hidup.
Dari si Mamah, aku belajar menghargai detil-detil kecil dalam hidup dan berbahagia karenanya.
Dari Bapak, aku belajar bahwa hidup cuma menyisakan ruang lapang buat orang-orang kuat ... orang-orang yang tahan banting ... bukan pecundang .. .bukan pengecut.
Bapak pernah bilang:
"Agus boleh cengeng, tapi Bapak nggak ngajarin kamu jadi pengecut!"
"Kayak gitu aja kok ngeluh ... ayo kerjain lagi! awas! kalo berhenti ... bapak pukul pake gagang sapu!"
"Kamu itu kuat ... tapi gampang nyerah! mau Bapak lelepin?! ayo ngapung! ntar Bapak ceburin ke yang lebih dalem baru nyaho!"
"Bapak yakin sama Agus ... kamu bisa lari 6 keliling! kalo kamu sampe pingsan gara-gara itu ... Bapak beliin apa yang kamu pengen! Bapak yakin sama kamu... jangan cengeng ... jangan kasih Bapak muka jelek.. lari! sekarang!"
"Ya udah, nangis dulu sana! kalo udah selesai nangisnya.. terusin lagi ya!"
Spartan banget!
Dulu saya benci banget.
Tapi sekarang baru kerasa.
Ini cara Bapak menempa saya untuk lebih bisa menghargai diri sendiri. Bahwa aku sering lupa kalau aku ini lebih kuat dibanding yang aku pikir.
Ini cara Bapak mau bilang, "Agus bisa kalau Agus mau!"
Sekarang, kalau lagi merasa nggak ada daya lagi buat melakukan apapun.
Aku kayak denger suara Bapak.
"Agus bisa kalau Agus mau!"
Dan karena itulah,
Sekarang aku kangen sekali sama Bapak.

Terima kasih,
Untuk setiap keajaiban-keajaiban kecil dalam hidup.
Kamu adalah pemantik api.
Terima kasih,
Setiap saat bersamamu, seperti membuka kotak perhiasan yang ditimpa sinar matahari pagi.
Kamu berhasil memunculkan pendar di setiap detiknya.
Terima kasih,
Telah membawaku memasuki relung-relung paling dalam hingga memunculkan pemaknaan baru tentang apa itu bahagia.
Kamu adalah kereta kencana dalam dongeng.
dan yang terakhir,
Terima kasih sudah memaknai kesempurnaan dalam ketidaksempurnaanku ...
hari ini
nanti
esok
i love you.

Sayang, surat ini kutulis saat embun mulai membeku
jejakmu disini membeku.
dan bayanganmu, membuat sepi jadi mati suri.
Rasa haus ku padamu seperti air tertuang pada gelas retak.
pada satu kali tertuang dan seterusnya tak akan genap.
sampai engkau hadir dan jejakmu cair.

Semalam, diajak karib kantor menikmati pertunjukkan ini.
Dari segi musikalitas Andi Rianto berhasil menangkap jiwa dari setiap lagu-lagu ABBA. Abaikan hal-hal yang sifatnya teknis dalam bermusik. Mungkin ada kurang disana sini. Tapi setidaknya, RASA dari setiap lagu, jelas dikecap indra.
Banyak yang kecewa dengan tata lampu, sound system yang membuat performa pertunjukkan jadi tidak maksimal, jalinan alur pertunjukkan yang tersendat-sendat karena tidak ada tautan di setiap perpindahan lagu yang membuat kami serasa sedang melakukan kopulasi dan pintu kamar keburu digedor hansip sebelum kami mencapai klimaks.
Aku termasuk salah satu yang kecewa.
Karena semestinya, kemegahan komposisi yang dibuat Andi Rianto akan makin bermakna kalau hal-hal yang diatas tidak terjadi.
Dibayanganku, pertunjukkan ini akan menampilkan sentuhan personal dari para penampil dihubungkan dengan lagu-lagu ABBA yang akan mereka bawakan.
Titi DJ bilang gini misalnya sebelum dia menyanyi,"Setiap saya nyanyi Dancing Queen, saya inget jaman saya masih kecil... Ibu saya tiap bersih-bersih rumah selalu memutar lagu ini dan geyol-geyol sendiri sambil ngepel... rumah bersih, hati Ibu saya senang ... saya juga senang karena ndak perlu capek-capek ngepel"
Atau Agnes Monica bilang gini misalnya, "Lagu The Winner Takes It All bikin saya inget pas putus sama pacar saya yang brondong dulu..."
tanpa penaut di tiap jeda lagu ... aku kayak ndenger musik di kafe-kafe gitu lah ...
Tapi segala kekurangan terbayar dengan beberapa penampil yang menyanyi tidak hanya dengan teknik suara yang mumpuni, tapi juga dengan hati.
Penyanyi yang baik menurutku adalah yang mampu menyampaikan rasa di setiap lagu yang dibawa ...
tidak hanya lewat suara ... bahasa tubuh mengambil porsi juga untuk yang satu ini.
Titi DJ nyanyi "Slipping Through My Fingers" .... Agnes Monica nyanyi "The Winner Takes It All" ... sayang, di ujung pertunjukkan Agnes Monica kok buat nyanyi Dancing Queen aja mesti mbawa contekan ...lha piye tho?!
Mas Andi Rianto, menunggu pertunjukkanmu berikutnya ya .... permintaan pribadi, boleh ndak lagu-lagunya Boney M :) heheheheh

Aan, adikku.
Ini Mas Agus.
Coba tebak aku lagi dimana?
Betul, aku sedang ada di sebuah kedai kopi dimana aroma yang selalu berhasil menenangkan benak, bersarang. Kamu kan tahu, dari kecil setiap aku sedang gundah, kamu selalu akan mendapati Mas ngendon di dapur menyeduh kopi dan membaui kepulan yang meruapkan aroma kopi sampai percampuran air panas dan bubuk kopi mendingin kehilangan daya tanpa sedikit pun aku terpikir untuk meminumnya.
Aroma kopi membuat damai
Tapi seperti kau tahu juga, aku selalu memilih bersekutu dengan teh.
Secangkir kopi susu ada di depanku sekarang.
uapnya berarak memasuki lubang hidung.
Dan membawaku membuka kembali gambaranmu di benakku.
Satu hal yang aku sesali sampai sekarang wahai Aan, adikku. Kita tidak pernah punya foto-foto jaman kita masih kecil.
Pergi ke studio foto atau membeli tustel sepertinya tidak pernah terlintas dalam pikiran kita waktu itu. foto dan tustel sepertinya benda mewah buat kita.
Jangan kuatir, kita tidak perlu benda itu untuk membantu mengenang peristiwa-peristiwa penting dalam hidup kita.
Kenangan itu telanjur menggurat dalam benak. Meninggal bekas yang jelas dan teraba sedemikian nyata.
Kamu dan Aku seperti satu keping koin recehan semesta.
Satu dengan dua sisi yang berbeda.
ketika yang satu kehilangan sisi yang lain, maka Ia jadi kehilangan maknanya.
demikian pula kita.
Engkau adalah kepingan jiwa yang melengkapi.
Aku adalah kepingan jiwa yang menggenapimu.
Jaman kita kecil dulu,
Kamu adalah Jendral
Aku adalah staf ahli hehehe.
Aku si peramu.
Kamu agen yang membuat ramuan menjadi nyata.
Masih kuingat, kenakalan-kenakalan jaman kita kecil.
Mencuri pepaya bangkok.
Mengambil pucuk-pucuk muda daun singkong untuk dibawa pulang.
Main layangan sampe gosong kulit.
Aku si cengeng penakut
Kamu si gagah pemberani
Bersamamu aku merasa dilindungi.
Setiap kenakalan yang kamu buat, aku ada.
Sekarang aku mengerti... kenapa setiap kenakalan yang kamu lakukan, dengan sadar kau tidak lupa menyertakan aku, kakakmu ini.
Supaya Mamah akan sedikiiit berkurang ngamuknya kan? :) hahahahaha.
Kita berbagi mimpi yang sama.
Aku masih ingat jelas pembicaraan kita dulu sebelum tidur.
"Mas, pokoknya kita harus bisa lebih baik dari Bapak ya... aku mau jadi Polisi!"
"Iya, aku juga... aku mau jadi Polisi... Akabri!"
"Kalo Mas gagal ... kamu jangan gagal ya! janji!"
Aku sudah mencoba... dan gagal waktu itu ... sedihnya bukan kepalang.
Kamu cuma berkata singkat, "Tenang Mas ... Aan pasti nggak gagal!"
Kamu menghidupkan kembali mimpi masa kecil kita.
Masih kuingat, betapa dadaku meledak bangga saat pertama kali kamu pulang pendidikan. Kepala botak, seragam coklat, sepatu tentara ...
Adikku gagah sekali.
Masih kuingat, aku menangis tak henti saat melihat upacara kelulusanmu.
Kamu adalah kebanggaanku seumur hidup.
Aku saksi hidup perubahanmu menjadi lelaki sejati.
Masih kuingat jelas, saat kamu ijab kabul.
Adikku sudah menemukan jalan hidupnya ... paripurna.
Jangan ragu adikku ... saat engkau menoleh ke belakang. Aku akan selalu setia melihat punggungmu dan memastikan bahwa engkau akan baik-baik saja.
Aral yang melintang biar aku hadapi.
Sama seperti saat kecil kamu gagah berani berantem dengan siapa pun yang mengganggu kakakmu ini.
Satu permintaanku.
Meskipun engkau sudah memiliki dunia kecilmu. Anak yang lucu... Istri yang baik budi.
Berikan sedikit waktu untuk Mamah ya.
Mumpung saat ini, kamu yang paling dekat dengannya sementara aku di rantau.
Ajaklah ia bicara hati ke hati sesering yang kamu bisa.
Semakin tua, semakin gampang ia diserang sepi.
Manjakan Ia sesering yang kamu bisa.
Ajak Ia makan enak beramai-ramai dengan cucu kesayangannya dan istrimu.
Aku akan menelpon Mamah sesering yang aku bisa.
Mengirimkan uang saku walaupun Ia tak meminta.
Memanjakannya sebisaku.
Dulu Ia sudah menjaga kita.
Sekarang giliran kita.
Selamanya, engkau akan menjadi kebanggaanku yang paling berharga.
kepingan jiwa yang melengkapi.
Aku sayang sama Aan.
Perkawinan air panas dan bubuk kopi di cangkirku sudah kehilangan dayanya.
Aku sudahi saja surat ini ya.
Peluk cium dariku, Kakakmu.
Agus Hariyo Purnomo.
-----------------------------------
Disarikan dari pembicaraan hati di pagi hari tanpa kata sambil menikmati satu kerat roti dan kopi.

Kutemukan surat ini di sela tumpukan kertas tak bergunda di gudang.
Tak sampai kalimat pertama selesai, aku sudah tidak kuasa membendung air mata.
..........................................
Surat untuk Agus Hariyo Purnomo.
Anakku, ini Bapak.
Mungkin lembaran surat ini tak akan pernah engkau tahu ... tak akan pernah kau baca. Karena, aku tak cukup kuat untuk memberikannya.
Menulis surat ini seperti memutar ulang kaset video dan menikmati detik-detik gambar lama muncul kembali.
Aku masih ingat, bagaimana lucunya dulu mamahmu ngidam jaman mengandung jabang bayi anak sulungku. Mosok tho cah bagus, Mamahmu itu harus setiap pagi diantar ke pom bensin untuk membaui aroma bensin supaya rasa mualnya hilang.
Atau, Bapak juga masih inget gimana bingungnya nyari tiwul pagi-pagi buta buat Mamah karena engkau yang mengendon di kandungannya berteriak-teriak minta tiwul.
Apa pun, aku rela lakukan saat engkau dimunculkan ke dunia. dari kamu nyaman di perut Mamah sampai suaramu terdengar pertama kali di dunia.
Saat tanganmu menyentuh kulit Bapak pertama kali... aku seperti menjadi lelaki paling beruntung di dunia. Bahkan, rasa ini mengalahkan apa yang Bapak dulu rasakan waktu Bapak menikah dengan Mamahmu.
Kamu, membuatku menjadi lelaki paling beruntung ... paling bahagia di dunia.
Engkau adalah anugerah terindah dan paling berharga untukku.
Agus, Bapak minta maaf kalau selama ini bersikap keras sama Agus.
Untuk menjagamu ... anakku, aku membangun benteng yang kokoh untuk melindungimu. Dunia di luar sana begitu keras, kejam dan setiap saat menginginkanmu untuk tersakiti. Biarkan aku menjadi bentengmu. Tempat dimana engkau terlindungi dan merasa aman sama seperti saat engkau ada di perut Mamah.
Yang aku tidak sadari... dimatamu, aku menjadi seperti tembok yang dingin, kaku tanpa hati.
Engkau kesulitan melihat sisi rapuhku sebagai seorang Bapak .. orang tua ... seorang manusia.
Aku tak seperti Mamah yang mampu mencairkan lara dengan senyum
Aku tak seperti Mamah yang mampu mengisi sudut ruang dengan suara gitar dan nyanyiaan
Mungkin juga, aku tak pernah bisa sabar mengajarimu berenang
Tapi dalam dinginku... aku menyimpan sejuta kebanggaan padamu.
Hatiku bersorak saat engkau menang lomba Porseni dulu jaman SD
Aku tertawa geli dalam hati saat melihatmu memakai kostum nyanyi buatan Mamahmu yang sungguh ajaib itu.. meskipun entah kenapa, yang keluar dari mulutku adalah komentar kalau bajumu itu kayak kostum monyet. Ketahuilah, setelah ucapan itu terlontar aku menyesal sekali wahai Anakku.
Maafkan aku yang tak pernah bisa hangat padamu.
Aku tak pernah belajar menjadi hangat.
Dulu, saat Bapak masih kecil. Bapak harus bersaing dengan 10 saudara kandung, 5 saudara tiri dari Eyang Putri Sumo dan 4 saudara tiri dari Eyang Putri Saren.
Aku tak pernah tahu betapa elusan tangan di kepala itu bisa membuat hati hangat. Aku tak pernah tahu rasanya.
Aku tak pernah tahu betapa ucapan, "kamu pintar deh!" bisa membuat hati tersenyum. Aku tak pernah tahu rasanya.
Yang aku tahu, asal bayaran sekolah ndak telat dan perut kenyang. sudah cukup.
Maafkan karena aku gagal memahami maksud hatimu
Maafkan karena aku gagal memberikan rasa hangat di hatimu.
Maafkan saat engkau memberiku kemeja hasil dari honor pertamamu nyanyi di kawinan, aku melengos tak berucap terima kasih.
Asal engkau tahu anakku ... di kantor, Bapak selalu tak bosan bercerita dengan bangga kalau anakku punya suara paling merdu.
Asal engkau tahu anakku ... temen-temen Bapak, bosan dengar cerita kalau engkau itu sungguh kreatif dan bersemangat dengan mimpi-mimpimu.
Tapi,
Satu hal yang sungguh aku sesali adalah...
Betapa dulu aku demikian egoisnya meninggalkan kalian semua.
Betapa aku tak menimbang hati saat itu.
Betapa aku tak peduli sedihmu.
Saat engkau menerimaku kembali. Semakin menggununglah rasa sesalku.
Engkau telah berbesar hati menerima, bahwa Bapakmu ini sebenarnya lelaki tanpa daya dan pendek akalnya.
Engkau, Aan dan Mamah telah berbesar hati untuk memberikanku kesempatan kedua.
Dan untuk semua yang sudah aku lakukan ... aku meminta maaf
Dan untuk semua yang sudah Engkau berikan .. terima kasih.
Bapak sayang sekali sama Agus, Aan dan Mamah.
Bapakmu,
Sandiyo
------------------------------------
Disarikan dari pembicaraan Bapak dan anak sore hari sambil minum kopi, lima tahun yang lalu

Anakku, saat kau membaca surat ini aku ingin engkau tahu bahwa dirimu sudah berhasil membuat dadaku terasa penuh sesak karena bangga.
Tidak ada yang lebih membuat bahagia melihat kalian menjadi manusia kuat dan mampu membuat keputusan-keputusan penting untuk hidupmu.
Saat kutulis surat ini, aku masih ingat betapa dulu ... setiap pagi... saat tubuhmu wangi bedak dengan muka cemong-cemong bedak sehabis mandi ... memegang erat tanganku seperjalanan aku mengantarmu masuk kelas taman kanak-kanak dulu...
setiap pagi setiap hari selama 15 menit waktu perjalanan.
Aku ingin engkau tahu ... bahwa itu adalah 15 menit paling bahagia dalam hidup.
Ah tentu saja ... aku ralat ... tidak hanya 15 menit setiap pagi setiap hari ...
setiap detiknya sampai kini, kamu membuatku bahagia ....
bahkan pada saat-saat tersedihku.
bahkan pada saat-saat dimana aku seperti induk burung yang kelelahan merentang sayap supaya anak-anaknya tidak kedinginan terpapar air hujan.
bahkan pada saat-saat aku merasa habis daya dan bersiap menyerah kalah pada hidup.
engkau, anakku... tidak pernah gagal membuatku menjadi perempuan paling bahagia.
Saat kutulis surat ini, aku masih ingat betapa badungnya kalian dulu ...
betapa kuatirnya aku menunggu kalian pulang ke rumah karena terlalu lena dengan layangan, lumpur sawah dan belut!
betapa kututupi rasa kuatirku dengan air muka galak dan gagang sapu di pintu rumah menunggu kalian.
Tapi, asal kau tahu wahai anakku .... wangi amis paduan matahari dan keringat di tubuh dan baju kalian ... adalah aroma yang paling membuat rindu .. aroma paling wangi.
asal kau tahu wahai anakku ... air muka ketakutan kalian saat pulang ... badan bau .. baju kotor lumpur ... adalah jaminan bahwa meskipun dulu, hidup kita penuh badai dan diguncang ... tapi kalian mengalami masa kecil yang penuh ...
untuk itu, aku tidak pernah berhenti bersyukur.
Terima kasih, untuk tidak pernah mengeluh dengan masakanku yang terkadang terlalu asin...
terima kasih, untuk selalu menunjukkan air muka senang bahkan ketika kalian tahu uang di dompetku tinggal seribu.
Saat kutulis surat ini, aku masih ingat betapa aku menangis karena adukan rasa terharu, bangga sekaligus sedih menatap punggungmu saat engkau melaju pergi mengarungi kehidupan yang sudah disediakan jalannya oleh Gusti Sing Paring Urip.
Aku akui ... aku merasa ditinggal sendirian oleh kalian pada saat itu.
Aku akui... aku merasa tidak siap membayangkan kalian tidak ingat jalan pulang untuk menemui aku .. perempuan yang lambat laun dibunuh umur.
Saat kutulis surat ini ... rumah terasa sepi tanpa kalian.
Semoga kalian tidak pernah berat hati saat sedemikian sering aku menelpon kalian ...
Mengajakmu bicara apa saja ... bahkan pada hal-hal kecil seperti betapa nyinyirnya tetangga bertanya kenapa engkau ndak kawin-kawin.
Aku mulai bawel sekali ya?
menunggu telpon kalian demikian menyiksa
kalian sedang apa?
kalian baik-baik saja?
kalian ingat aku?
kenapa tak memberi kabar?
kalian lupa padaku?
lima menit mendengar suara kalian di ujung telpon sungguh memberiku kedamaian.
sabar lah padaku ya ... sesabar aku dulu menyuapimu makan saat sakit
sabarlah padaku ya ... sesabar aku dulu mengajarkan i-ni i-bu bu-di ...
sabarlah padaku ya .. sesabar aku dulu mengajarimu naik sepeda roda dua
terima kasih saat ini ... saat aku melakukan kesalahan ... saat aku menunjukkan bahwa aku bukan manusia super ... kalian masih ada disampingku
kalian masih ada menggenggam tanganku dan mengangkatku untuk kuat berdiri
kalian masih menjadi tameng hidupku ... dan menuntunku memperbaiki kesalahan-kesalahan.
sekarang dan nanti .. aku merasa yakin ... bahwa memang, kalian ingat jalan pulang ... jalan untuk menemuiku .. perempuan yang lambat laun dibunuh umur.
aku cinta kalian
aku akan mengirim cinta pada kalian .. setiap detik setiap waktu
karena aku yakin ... cintaku membuat kalian teguh menjalani hidup ...
aku cinta kalian
cinta sekali
baiklah, tanganku sudah pegal menulis sedemikian banyak.
tidur lah anakku...
bayangkan aku mencium keningmu ya ... sama seperti setiap malam dulu aku menidurkan kalian dengan bekal cium sayang di kening.
salam sayang,
Ibumu,
Suharry
..........................................
Disarikan dari pembicaraan dini hari anak dan Ibu .... ditemani udara dingin, nyamuk centil dan aroma Dji Sam Soe.

Aku si anak cengeng pulang.
Kali ini, keinginan untuk mengambil cuti panjang sedemikian menggebu... mengalahkan keinginan menabung jatah cuti konsekuensi dari jadi kacung korporat untuk berlibur dengan yang-tidak-boleh-disebut-namanya ke Bali merayakan hari jadi.
Aku seperti anak burung rindu dengan hangat sarang dan lindungan sayap Ibunya.
Di luar dari itu, firasatku berkata bahwa ada sesuatu hal besar terjadi dan aku perlu ada disana.
Hubungan batin dengan Aan adikku juga si Mamah sedemikian kuat hingga bila salah satu dari kami sedang susah hati, yang lain akan resah.
Benar saja, sesuatu terjadi dengan Mamah.
Tak hendak kuceritakan detilnya.. yang jelas, kami untuk kesekian kali harus merapatkan barisan .. perpegangan tangan dan menghadapi segalanya bersama-sama.
Ada yang bilang, kebahagiaan itu milik sendiri...
tapi buatku, kebahagian pribadi tak apa berkurang demi lingkaran terdekat orang yang mencintai kita sepenuh hati.
itu lebih baik, daripada bahagia tapi sendirian.
mimpi-mimpiku dan proses mengejarnya bisa dengan mudah aku bunuh ,,, dihapus bila perlu supaya lingkaran terdekat orang yang mencintai kita sepenuh hati berkurang lara...
itu lebih baik, daripada bahagia tapi sendirian.
kawan boleh datang dan pergi
sahabat boleh datang dan pergi
kekasih boleh datang dan pergi
tapi keluarga, mereka akan tetap di sisi, bahkan ketika engkau sudah melakukan kesalahan sedemikian fatal dalam hidup.
Syukurlah ... jumlah hari cuti yang kuambil cukup untuk mengurusi apa yang perlu diurus.
dan tetap, semuanya dibuat suka hati ... bagaimana pun caranya.
kami masih tetap tertawa ha ha hi hi
kami masih melakukan hal-hal menyenangkan.. menikmati liburan ... pergi sana sini.
sambil tetap secara serius menambal sana sini apa yang perlu ditambal.
dan sekali lagi, kami berhasil membuktikan bahwa kami kuat ...
kalau begini, aku bisa pulang ke Jakarta dengan hati lega.
Seperti biasa, Gusti Sing Paring Urip bicara dalam berbagai cara.
Disaat bimbang .. meragu dengan kemampuan untuk menghadapi hidup, aku menemukan benda ini:

sudah rusak ... tapi dulu, deringnya nyaring bukan kepalang! juara!
ingat sekali... jam ini adalah salah satu benda yang kubeli dengan honor pertama saya nyanyi di kawinan...
honornya tujuh puluh ribu. Jam ini kubeli empat puluh ribu di Pasar Peterongan Semarang.
Dulu, aku sering sengaja bangun selepas jam dua belas malam terus naik ke loteng sama si Mamah ...
Jam beker ini selalu sukses dengan nyaringnya membangunkan kami.
jarang kami bicara saat itu
hanya merokok
mencuri ketenangan disaat yang lain tidur
sesekali bicara kejadian hari-hari dan menertawakan betapa bodohnya kami bisa ada di dalam situasi yang sedang dibahas
"Mestinya begini lho Mah .. sdjgsaldhadad terus di hsdgada"
"Ih harusnya ya Gus ... lucu banget sih kjadgkjassdk sadgasgdja"
orang bilang kita butuh meditasi untuk mencuri kejernihan dan mengambil aksi yang tepat akibat pemikiran yang tenang.
ritual merokok di loteng dini hari adalah cara kami berkontemplasi atau ... yaaa boleh lah disebut meditasi.
.........................
dan lewat jam yang gimana caranya kok ditemukan kembali ...
Gusti Sing Paring Urip mungkin mau bilang padaku...
"Ayo thole cah ngganteng ... jangan buru-buru ... lakukan seperti jaman kamu sering manjat loteng dan merokok disitu dini hari .... sing tenang, ojo grusa grusu!"
nasehatNYA .... cespleng! mujarab! manjur!