Wednesday, April 28, 2010

Kang Apud yang saya kenal ...

Aku sepertinya pernah menulis tentang Kang Apud.

Tapi sudahlah, aku ndak bosan kok untuk menuliskannya lagi.

Di setiap perjalanan, Gusti Allah sing paring urip sedemikian baik hati berbicara pada kita lewat begitu banyak pertanda di lingkar kehidupan sehari-hari untuk membuat hidup kita selalu bisa dinikmati dan disyukuri.

Lewat Kang Apud, dulu Aku selalu diingatkan.

Kang Apud, office boy jaman dulu Aku masih jadi produser radio untuk program siaran pagi di Female Radio, Jakarta.

Masih ingat,

Dulu selalu bangun setengah lima pagi.

Berangkat jam lima pagi dari Depok, menembus udara dingin pake motor, berjaket tebal, pergi ke gedung perkantoran Ratu Plasa, lantai 20.

Menemani Arlingga Pandega, penyiar pagi.

Berkawan dengan satu operator siar

Berkawan dengan Anto, produser senior yang punya pertalian erat dengan toilet, asap rokok dan buang hajat sebagai momen berharga untuk mendapatkan pencerahan ide kreatif hehehehe

Aku cuma bertahan 3 bulan saja. Bukan karena ndak cinta dengan pekerjaannya disana. Sebelumnya pun, Aku pernah jadi penyiar di Semarang untuk waktu yang cukup lama.

Di 3 bulan itu,

Setiap pagi, Kang Apud selalu hadir dengan wajah sumringah cerah ceria.

Hidup dan menjalani hidup seperti tanpa beban.

Tidak pernah keruh air mukanya.

Tidak pernah bersungut-sungut.

"Kang Apud nggak pernah sedih ya?..."

Jawabannya hanya senyum dan, "Aahhh, mas Agus bisa aja .... "

tanpa ada detil cerita.

"Ngantuk kayaknya mas, mau kopi?"

"Mas, kwetiauwnya udah ada tuh buat sarapan..."

Pekerjaannya dijalani dengan hati.

Dulu, kalau sedang rawan hati.

Datang ke kantor bersungut-sungut karena suasana hati yang tidak menyenangkan.

Setiap ketemu Kang Apud pagi-pagi.

Seperti selalu diingatkan.

"Ih Agus, malu dong sama Kang Apud! ..."

Hari ini, sewaktu menyambangi Radio Female untuk supervisi program talkshow salah satu klien kantor, Aku kembali bertemu Kang Apud.

Dan rasa yang Ia bawa, tidak berubah.

Kang, terima kasih.



Wednesday, April 14, 2010

Bapak, yang saya kenal ...



Bapak, sekali lagi Aku menyesal kenapa dulu keluarga kita hampir ndak pernah punya foto penanda momen-momen keluarga, dari Aku masih kecil sampai sekarang.

Kalian berdua, Mamah dan Bapak kompak bilang, "Halaaah nggo opo tho, tuku tustel?!"

Yo wis, foto memang bukan alat bagi kita untuk membekukan kenangan.

Aku akan menulis semua hal yang bisa aku ingat tentang kita, keluarga, dan orang-orang yang dicinta sebagai pengingat kejadian berkesan.

Aku akan menulis.

Banyak yang kuingat

Banyak yang kulupa

Banyak juga yang rasanya ingin Aku lupa

Tentang Bapak.

Aku masih ingat,

Bagaimana Bapak uring-uringan kalau pagi ndak nemu sendal jepit yang sebenarnya lebih layak masuk tempat sampah saking sudah tipis dan jeleknya minta ampun karena Bruno, anjing kampung peliharaan kita dulu menganggapnya sebagai daging empal dan menaruhnya di tempat rahasia.

Bagaimana dulu Bapak ndak pernah lupa membubuhkan sedikit garam pada segelas susu segar yang sudah dihangatkan untukku dan berkata,

"Nih, biar lebih gurih ... biar kamu ndak enek!"

Bagaimana dulu setiap beli tahu isi di depan asrama polisi tempat kita tinggal, Bapak telaten membuka tahu isi dan memisahkan toge didalamnya dan berkata,

"Tuuuh, udah bersih, yang ini buat kamu!"

Bagaimana dulu aku dikibuli bahwa kerangka ikan paus di Museum Zoologi Kebun Raya Bogor itu, dibeli di Ancol.

Bagaimana dulu aku diajak keliling daerah Suryakencana dan Sempur Bogor pake Astrea 800.

Bagaimana dulu setiap hari minggu, kolam renang Milakancana Bogor jadi saksi betapa menyenangkannya minggu pagi buat kita berdua.

Masih ingat,

"Bapak nggak pernah punya anak cengeng! nangis boleh, tapi cengeng awas ya!"

"Anak laki-laki harus nurut sama Mamah!"

Masih ingat,

Aku di elus-elus punggungnya saat tidur siang ndak berhenti sebelum aku lelap.

Masih ingat,

Untuk melihat detil-detil kecil di sekitar

Masih ingat,

Untuk ndak bergantung sama orang

Ndak boleh iri

Ndak boleh curang

Aku juga masih ingat,

Betapa hancurnya hati ini saat engkau memilih untuk pergi dari kami

Betapa Aku menyimpan amarah untukmu

Betapa Aku kecewa

Betapa Aku meradang

Dan hatiku jatuh koma karenanya saat itu.

Tapi ternyata, mungkin ini cara Aku belajar dan mencoba memahami

Bahwa, Bapakku itu hanya seorang lelaki yang menjalani kodratnya sebagai insan yang tidak sempurna dan tidak luput dari salah ....

Hanya lelaki biasa yang juga mampu menyakiti orang-orang yang dicintainya.

Butuh waktu lama memahami itu, tapi percayalah ... sekarang Aku mengerti sepenuhnya.

Butuh waktu lama membuang kecewa, tapi percayalah ... sekarang Aku sudah berdamai dengan apa yang di belakang

Masih ingat,

Betapa Aku menangis bahagia saat mencuri dengar,

"Agus itu kalo nulis bagus banget ya ...."

"Agus kok jarang pulang sih .... suruh lebih sering pulang besok-besok!"

"Tanyain sana, Agus masih punya uang nggak dia?"

"Agus tuh gajinya berapa tho? kalo kecil, suruh kerja aja di Semarang lagi deh ... tinggal di rumah aja"

Dibalik ekspresi datar dan tidak peduli ... Bapak perhatian sekali.

Dari Mamah, Aku tahu Bapak selalu bangga denganku ...

"Anakku kerja di TV lho! dia bikin kuis!"

"Anakku bikin iklan!"

"Anakku kreatif!"

Bapak yang saya kenal, adalah lelaki yang sungguh sayang pada Aku, anaknya.

Kali ini, Aku mau bilang,

Bapak, selamat ulang tahun ...

Agus sayang sama Bapak.


note: gambar dipinjam dari www.gettyimages.com


Tuesday, April 06, 2010

Menjalani mimpi ...


Dua minggu belakangan ini lelah luar biasa.

Berkeluh kesah pun rasanya sudah tak ada daya.

Diantara kesibukan kemarin, sempat mengirim foto di atas, lewat surel buat si Mamah.

Meskipun beliau ndak pake buah berry hitam, tapi Aku bersyukur pernah ngajarin Ia menggunakan surat elektronik.

dan celetukan si Mamah tentang foto yang ku kirim menyadarkan.

"Mana, katanya capek banget? lha wong mukamu sumringah, seger dan bahagia gitu kok! ndak percaya aku kalo kamu itu sutriiiss!" ....

Akhirnya melihat kembali foto-foto yang sempat terambil kemarin saat bekerja.

Iya ya, heran. Aku kok ndak kelihatan capek di semua foto ini.

Somehow, i always manage to put a big smile to every picture.

No matter how tired, somehow I always very excited.

lho, kok malah keminggris kaya ngene tho aku saiki ..hehehehe balik ke jowo-isme ah.

Aku ini sedang menjalani mimpi-mimpi kecilku sekarang.

Aku ini sedang menikmati bagaimana doaku dari kecil dijawab satu demi satu sama Gusti Allah.

Hemmmm pantesan kemarin dibikin lelah luar biasa sampai akhirnya ndak ada daya untuk mengeluarkan keluh kesah.

Sampai hampir jatuh sakit malah heheheheh.

Mungkin, saat itu ... Gusti Allah mau bilang:

"Agus .. wis meneng wae .. ojo ndresulo ... ojo misuh-misuh ... just shut up and dance because I answer your dreams and pray!"

Matur nuwun Gusti Allah.


Tuesday, March 16, 2010

PLONG



Dulu, jaman aku masih di Semarang.

Setiap hati lagi gundah, tengah malam, Aku pasti duduk manis di loteng rumah.

Ajaibnya, nyamuk-nyamuk di loteng sepertinya tahu Aku sedang nggak nyaman hati. Mereka bersekutu dan sepakat untuk ndak ngganggu.

Sepi, dingin sejuk, tenang.

Tanpa banyak kata, rasanya beban hati meluruh sebagian.

Sambil menikmati kepulan asap rokok Gudang Garam Merah yang biasanya aku colong dari lemari si Mamah. Aku ngobrol sama Gusti Allah.

Ngobrol kayak anak bicara sama orangtuanya.

Kadang penuh amarah, kadang mengerang sedih, atau cerita tentang hal-hal yang menyenangkan.

Ngoceh sendirian, menghamburkan kata-kata pada semesta, berharap semesta menjadi tukang pos yang baik untuk semua hal yang Gusti Allah harus tentang Aku.

dua tiga batang Gudang Garam Merah menguap di udara.

Hati gundah diguyur berserah.

Tenang setelahnya.

Kadang, Aku mendapati si Mamah terbangun ambil air es dari kulkas.

Kemudian kami bicara.

Air es berganti bir hitam dingin.

Dan kami bicara sampai pagi tak tahan untuk datang.

dua kali tenangnya.

Begitu lama Aku merantau.

Ritualnya tetap sama.

Loteng rumah berganti dengan balkon kantor di lantai 3 kalau malam-malam Aku masih tertahan karena tenggat waktu pekerjaan.

Mencuri waktu sebentar, bicara pada Sang Bapa.

Ngoceh sendirian, menghamburkan kata-kata pada semesta, berharap semesta menjadi tukang pos yang baik untuk semua hal yang Gusti Allah harus tentang Aku.

5 menit mencuri sunyi dan teduh.

Setelah itu, biasanya aku menulis.

Menulis apa saja.

Seingatnya.

Bahkan untuk hal paling remeh yang bisa aku ingat pada hati itu.

Pelepasan paling menyenangkan untukku, menulis.

Menulis apa saja.

Kalau aku terlalu lelah untuk menulis apa saja, tombol putar cepat di telepon genggam mengirimkan pesan untuk si Mamah.

Perempuan beranjak tua yang sedia kapan saja untuk diajak bicara.

Kalimat yang kadang terdengar sinis darinya selalu tidak pernah gagal memberi pencerahan tentang hidup.

Dalam minggu ini, aku sering uring-uringan.

Rasanya lelah bukan kepalang.

Masalah pekerjaan, dan tetek bengek hidup lainnya yang kala itu bikin aku pengen teriak-teriak berkeluh kesah.

Mau bicara pada kawan, sepertinya tindakan paling egois menimbang kayaknya mereka juga sudah demikian lelah.

Menulis pun aku takut yang keluar nanti sumpah serapah... ndak nyaman terbaca setelahnya.

Aku berbicara dengan si Mamah pada ujungnya.

Dua inti nasihatnya tentang hidup, begini dia bicara:

"Agus, tentu kamu ndak akan bisa bikin semua orang senang. Tapi, rasa senang itu menular lho anakku. Kalau kau buat dirimu senang, siapa tau kamu bisa bikin suasana jadi berbeda. Ndak usah, semuanya tertular rasa senang yang kamu bawa. cukup orang-orang terdekatmu saat itu saja sudah bagus!.... pasti susah ya... apalagi kalau kamu pun lagi capek. Tapi, Aku tau kamu pasti bisa!"

"Mungkin, belakangan ini kamu agak lupa bilang sama Gusti Allah ... bilang, Gusti Allah, terima kasih, sudah cukup, engkau murah hati.... karena biasanya, kalau kamu bilang begitu, biasanya nikmatmu akan ditambah.... Jangan lupa bersyukur nak"

Setelah pembicaraan itu, rasanya bisa tidur nyenyak sekali.




note: gambar dipinjam dari www.gettyimages.com

Monday, March 01, 2010

Tentang rindu yang tak sampai ...


Lagu ini kudengar menjelang dini hari.

"Di wajahmu kulihat bulan" judulnya.

Lagu keroncong dan dihayati sepenuhnya oleh Hetty Koes Endang, si penyanyi.

Kerinduan yang tak sampai ...

Begini liriknya:

Di wajahmu kulihat bulan
Bersembunyi di sudut kerlingan
Sadarkah tuan kau di tatap insan
Yang hauskan belaian

Di wajahmu kulihat bulan
Menerangi hati gelap rawan
Biarlah daku mencari naungan
Di wajah damai rupawan

Serasa tiada jauh dan mudah dicapai tangan
Ingin hati menjangkau kiranya tinggi di awan

Di wajahmu kulihat bulan
Bersembunyi di balik senyuman
Jangan biarkan ku tiada berkawan
Hamba menanti kan tuan

--------------------

Setan, aku jadi rindu tak berketentuan !



note: gambar dipinjam dari www.gettyimages.com

Friday, February 26, 2010

Kalau bumbunya cinta, memang beda ....



Saya selalu suka dengan kedai kopi.

Jangan ditanya apakah saya menyenangi kopi.

Berkali-kali kubilang dan sekali lagi kunyatakan, aku tak pernah menyenangi serangan rasa pahit saat meminunnya.

Kalau mau sedikit drama, aku lebih suka dipaksa minum brotowali dibanding minum kopi.

hubungan saya dengan kopi seperti benci tapi rindu.

benci rasanya, kangen aromanya.

Balik lagi tentang kedai kopi.

Pada satu waktu aku pernah bilang sama si Mamah,
"Kalau aku mbesok sudah berkelimpahan uang, aku mau bikin kedai kopi kecil... kubuat senyaman mungkin. Musik lamat-lamat. Kudapan kecil-kecil sekepalan tangan bayi. Yang datang aku ajak kenal dan berteman. Ngobrol ngalor ngidul sambil nyebul rokok kretek dan gemuyu ndak tentu. Kedai kopi ku jadi sarang mencuri sunyi sementara waktu. Yang datang bisa numpang menangis. Kopi buatanku tidak diseruput sambil lalu. Roti keju buatanku dinikmati tidak buru-buru. Lha wong, aku ndak nyari uang disitu.... kan udah banyak uang"

Kedai kopi yang tak menjual kopi dan penganan semata.

Kedai kopi yang menjual cinta dan gairah hidup pemiliknya.
Selama aku merantau, jarang aku menemukan Kedai kopi seperti dalam angan.

Sampai kemudian satu waktu, kawan dari masa lalu menghubungi dan menghubungi.

"Aku mau pamer sama kamu! Kamu sudah keduluan... Kamu harus datang!", katanya.

Aku tau kawanku itu mau pamer apa.

Kedai kopi yang tidak biasa.

Temu janji beberapa kali tak pernah bisa.

Sampai pada satu hari Aku bisa menyambangi.
Aku seperti disodori bentuk jadi dari mimpi.

Entah apakah kawanku ini punya mimpi yang sama, tapi Aku benar-benar seperti diberi lihat kayak apa nanti pada satu saat satu waktu Gusti Sing Paring Urip menjawab mimpi tentang kedai kopi.
Koffiedoeloe nama tempatnya.

Seperti rumah penampakannya.

Sederhana.

Seperti berkunjung ke rumah Eyang Kakung yang ada di Yogya.
Kursi model tua.
Mesin jahit jaman dulu yang kayaknya sih masih bisa dikaryakan selayaknya dulu Mamahku menisik bolong di pantat celana seragam SD karena aku si badung tak kunjung segera pulang tapi malah main gelosotan sama anak-anak kampung sebelah.

Barang-barang tua yang sepertinya langsung angkut dari kampung dan ditaruh sana sini di dalam lemari jaman Simbah Putri masih suka dansa dansi.

Deretan rokok kampung yang ndak akan pernah ditemu di warung rokok pinggir jalan pasar Benhil. Bukan untuk dijual tentu saja! lha wong nyari rokok begitu susahnya bukan kepalang.

Doaku yang ini tentu saja tidak akan pernah dijawab Gusti Allah... apalagi kalau didengar oleh kawanku itu.

Aku berdoa supaya kedai kopi kawanku itu jangan terlalu ramai hahahaha...

Lha piye, aku lebih merasa lebih nyaman begitu...

Kamu tau kan seperti apa rasanya punya barang yang sudah lama dibawa mimpi terus tiba-tiba ada jadi di depan mata?

Dari detil sederhana yang ada, aku bisa bilang, buat kawanku itu, "Koeffiedoeloe" seperti anaknya.

detil sederhana kaya makna

detil sederhana yang ditata dengan cinta

runtut kubaca daftar minumannya...

hemmm aroma jeruk adalah aroma kedua yang paling aku suka selain aroma kopi.

membayangkan kopi berkawin dengan jeruk seharmonis coklat berkawin dengan jeruk rasanya kok terlalu berharap banyak.

Iya, pernah ada kudengar kopi rasa jeruk.

Tapi memesannya saja sudah enggan.

Kayak apa rasanya ya?

Aku ditendang Kopi Djeroek Tjoklat.

Kopi Djeroek Tjoklat tersinggung aku meragukan hasil perkawinan kopi dan jeruk.

Rasanya dahsyat

Aromanya nikmat

Sialan, aku dipaksa menjilat ludah sendiri.

Aku yang tak suka pahit kopi bisa dibuat terkintil-kintil seperti kenap panah asmara.

Kawanku bilang, "Kamu harus coba Es Kopi Spesial Koffiedoeloe!"

Dalam hati sebenarnya merutuk, "Cis! aku sudah jatuh cinta dengan tempatnya ... masakan masih kurang?"

Hemmm ... ternyata rasanya lumayan enak.

Wong londo bilang ini kopi "eggnog"

Disini, versi es eggnog ala Indonesia... disesuaikan dengan lidah jowo.

Yaaaa ok lah! sedap! ... ndak sampai taraf "sedap betul!" buatku pribadi.

Aku lebih banyak bengong sendiri sambil asyik sendiri menulis.

Mungkin buat kawanku menyebalkan... lha wong sudah lama ndak ketemu kok ya diabaikan karena aku lebih memilih tenggelam menikmati suasana dan asyik sendiri dengan isi kepalaku.

Ini opini pribadi, menurutku:

Abaikan suara lamat-lamat motor lalu lalang di depan kedai.

Bersiaplah seperti berkunjung ke rumah eyang yang nyaman.

duduk manis.

nikmati rasa.

nikmati kopinya.

makan bila perlu kalau lapar.

karena,
kedai kopi ini rasa cinta pemiliknya.

satu-satunya yang harus diwaspadai adalah:

kamu bisa sangat jatuh cinta dengan tempat ini.


catatan:Aku ndak dibayar apa-apa ya oleh pemilik kedai kopi ini ... jadi jangan anggap tulisan ini advertorial heheheh




Friday, February 19, 2010

Haru karena Abiyu ...



Setahun yang lalu Aku kenal Abiyu.

Gambaran anak lucu ini mulai samar terlupakan di ingatan kalau saja Abiyu tidak mengirim pesan singkat

"Maaf ini no henpon Om Agus ya?"

Kujawab, "Iya betul, ini siapa ya?"

"Om Agus, ini Abiyu... Abiyu pake henpon kakak!"

Langsung Aku telpon anak ini..

Kami bicara ini itu ...

Sudah kelas 6 SD Abiyu sekarang.

Abiyu Aku kenal saat kebetulan harus mengurus sebuah kegiatan sosial perusahaan asuransi yang menjadi klien saat itu.

Abiyu kena kanker mata dan karenanya, Ia harus menggunakan bola mata palsu untuk mata kirinya.

Saat harus mengantarkan uang hasil kegiatan sosial ke rumah sakit tempat Abiyu akan mendapatkan perawatan prostese bola mata palsunya.

Aku dikenalkan dengan kawan-kawan Abiyu yang kebetulan harus rawat inap di rumah sakit.

Mereka semua terkena kanker.

Kebanyakan sudah stadium lanjut.

"Abiyu sih udah sembuh Om ... Kalo Nia, Tantri, Iwan .. terus yang itu, Koko, Jannah.. bla bla bla (Aku lupa namanya, maklum sudah setahun yang lalu) .... masih harus di rumah sakit Om ... belum sembuh"

Aku berkenalan dengan mereka.

Malaikat-malaikat kecil yang sungguh kuat.

Secara detil aku lupa pembicaraan lengkap dengan para malaikat kecil itu ...

Tapi aku dibuat kagum dengan ketabahan dan bagaimana mereka memandang kematian dan cinta...

Ini nukilan pembicaraanku dengan malaikat-malaikat kecil itu yang masih bisa teringat, setelah bicara lewat telpon dengan Abiyu kemarin:

"Kalau Tuhan sayang sama aku... kenapa Aku dikasih sakit macam begini ya? Emang Aku nakal banget ya Om? Aku sedih liat Bunda nangis terus kalo nemenin aku disini!"

--waktu itu Aku diam saja... ndak tau njawabnya gimana .... plus sedang berusaha menahan tangis sampe kerongkonganku sakit--

"Mungkin Tuhan kesepian disana ... jadi dia buru-buru panggil Aku buat pulang Om ... biar ada teman mainnya!"

--yang ini Aku nangis--

"Om Agus cengeng!"

--yang ini disorakin rame-rame sama malaikat-malaikat kecil itu karena aku nggak berhenti nangis waktu ngobrol sama mereka--

"Doaku sebelum tidur, Aku minta Mamah sama Papah udah dapet gantinya Aku kalau nanti Aku dipanggil Tuhan Om"

"Kalau mual terus malem-malem sampe Aku muntah ... Aku pengen buru-buru sama Tuhan deh Om"

"Kalo Aku dikasih sembuh ... Aku mau jadi pemaen bola! biar badannya kuat nggak gampang sakit!"

"Aku kok dibikin mimisan terus ya Om?"

Pulang dari sana mataku segede bola pingpong, mbendul karena nangis.

Tapi pembicaraan dengan Abiyu kemarin benar-benar menyenangkan.

Anak kecil yang sungguh kuat!

Abiyu, kamu ndak cuma bikin aku terharu.

Tapi juga bikin Aku buru-buru mengucap syukur.



note: gambar dipinjam dari www.gettyimages.com

Sunday, February 07, 2010

Membekukan Kenangan




Aku posting ulang tulisan ini sekedar mengingatkan diri sendiri untuk tidak iri dengan kawan yang punya begitu banyak foto masa kecil, begini tulisannya:

Tulisan ini terinspirasi dari nukilan pembicaraan menyenangkan saya dengan Cink Cink dan Fa saat kami membunuh waktu untuk dengan tidak sabar pergi ke sebuah klub disko yang kali pertama akan saya kunjungi ....


Malam menyenangkan, untuk pertama kalinya juga bertemu dengan Novi, adith si badan besar tapi sukses mencengangkan kami semua dengan kelincahan tubuhnya ... kurasa, ilmu peringan tubuhnya sudah kelas wahid ... lantai dansa tidak runtuh terguncang hentakan tubuhnya.

Anyway, malam di lantai dansa intinya menyenangkan :)

sebenarnya yang lebih menyenangkan dari itu adalah pembicaraan saya dengan Cink Cink dan Mas Fa

yang kemudian melemparkan saya kembali untuk merunut ulang mengapa saya sangat suka menulis ...

dan kenapa sekarang saya termasuk golongan banci tampil ... liat tustel ...errr.. maaf, saya agak susah mengucap "kamera" untuk benda yang satu itu... soalnya, dari kecil udah kebiasa memanggil benda itu dengan sebutan "tustel" heheheh ...

ok, saya termasuk banci tampil ... liat tustel langsung horny ...hahahah ...

tiap orang punya cara bagaimana membekukan peristiwa ... menyimpannya untuk kemudian bisa merasakan kembali sensasi rasa yang terjadi pada peristiwa itu ...

tustel... foto adalah satu satu cara ...

tapi tidak untuk saya ... dulu .. hehehe

dulu, tustel adalah benda sangat mewah untuk kami .... bisa dihitung dengan jari, berapa kali kami pergi ke studio foto saat itu ...

akhirnya, foto adalah benda sangat asing buat kami ...

bahkan sampai sekarang, saya tidak pernah tertarik untuk membeli tustel ... seaneh yang terbilang ... tustel adalah tetap dianggap benda mahal dimata saya meskipun sebenarnya dengan penghasilan sekarang ... membeli satu tustel sih bisa-bisa saja heheheheh ...

jadi, sensasi menyenangkan menarik kembali rasa dari peristiwa lewat foto-foto adalah hal baru ...

aaah untung ada facebok dan jejaring pertemanan yang lain yang saya bisa unduh semua foto-foto dimana saya ada didalamnya ... terima kasih teman-teman ...

lalu, bagaimana kami --saya, aan adik saya dan Mamah, membekukan rasa peristiwa ...

betul, dengan menulis ...

saya masih ingat, ketika itu Ibu saya pada satu malam meminta kami berkumpul di kamar , sebelum tidur, sambil membawa buku tulis tebal berwarna biru dan berkata,

"Agus ... Aan ... ini adalah BUKU MIMPI ... mulai malam ini kita punya kewajiban untuk menulis semua hal yang kita inginkan disini ..."

Aan
"Apa aja Mah?"

Mamah
"Iya, apa aja .. Adek boleh tulis apaaaa aja ... adek kesel, tulis disini .. adek, pengen es krim tulis disini!"

dan mulai lah kami menulis apa pun di buku tebal warna biru itu ...

satu hal yang saya lekat ingat sampai sekarang... setiap kata, setiap rasa yang tertulis di buku biru tebal itu adalah begini:

"Adek... Mamah ... Mas pengeeen banget jadi penyiar radio ... kerja buat Nisrina Nur Ubay di TVRI ... nulis-nulis buat majalah Tom Tom sama Kawanku ... pengen jadi penyanyi kayak Hana Pertiwi sama Novia Kolopaking ... sama ngatur-ngatur orang"

Gusti Sing Paring Urip itu memang selalu menjawab permintaan kita anak-anakNya ...

semua mimpi saya dijawab dalam porsinya masing-masing

Saya jadi penyiar radio daerah walaupun ndak terkenal amat .. tapi rasa pernah punya penggemar sih aku pernah lah mengalaminya heheheh ....

kerja di station televisi pun pernah ... kerja untuk sebuah rumah produksi TV Program kondang .... yang berhasil mengeluarkan Idola Indonesia

pernah menyanyi dari kafe ke kafe ... meskipun kadang hanya dinikmati oleh para pelayan-pelayan di kafe itu karena kafenya sepi melompong

ngatur-ngatur orang pun pernah ... jadi production assistant yang bertugas meng-audisi kontestan yang kepengin masuk TV ...

....................

setiap kali kami melihat ulang buku itu, kami bertiga selalu terkejut bahwa setiap permintaan... bahkan yang sepele sekali pun ... ternyata dijawab sama Gusti Sing Paring Urip ...

Dalam kadar tertentu, buku itu secara tidak langsung merupakan perjalanan religi kami untuk melihat bukti bahwa Tuhan tidak pernah tidur buat kami ...

Buku itu adalah foto-foto masa kecil yang tak pernah kami punya ....



Wednesday, February 03, 2010


Pernah ngerasa nggak kalau sebenarnya kita harusnya berhak dapat lebih dari yang kita punya sekarang?

Wajar.


Karena blog, belakangan ini Saya berkenalan dengan banyak kawan yang punya cerita hidup sungguh kaya.

Si ini cerita itu


Si itu cerita ini


Macam-macam cerita


Tanpa sadar, mereka memperkaya Saya juga.


Selama ini, Saya melihat dunia dari sebuah jendela yang sama bertahun-tahun dengan pemandangan indah yang berganti-ganti setiap waktu.

Menyenangkan? pastinya.

Apakah saya mencintai apa yang saya nikmati? tentu saja.


Tertarik kah saya untuk melihat dunia dari jendela lain? iya.


Saya, iri.


Gusti Sing Paring Urip memang Maha Tahu.

Kemarin, atas nama pekerjaan, saya harus supervisi proses produksi sebuah TV Program.


Sambil mengawasi dan memberi masukan, konsentrasi buyar karena satu orang.


Novi, namanya. Salah satu Asisten Produksi dari TV Station rekanan kantor untuk produksi TV Program ini.


Hari itu, Mukanya lusuh. Kurang tidur. Keringetan. Mungkin baru saja selesai shift editing malam sampai pagi dan sekarang sudah harus ada di lokasi.

Novi nampaknya berusaha mengumpulkan semangat. Pekerjaannya masih banyak dan proses syuting berlangsung seharian.

"Mas Agus, ini script openingnya aku rubah begini ya ...!"

"Mas kayaknya hostnya, harus di brief ulang sama Mas Agus ... boleh nggak bantuin?"


"Mas, wardrobe buat syuting blok berikutnya Mas Agus bantuin pilih ya!"


"Mas ini nih Mas ...."

"Mas itu tuh Mas ..."


Aku tahu betapa susahnya tetap bersemangat saat badan sudah berteriak protes kelelahan.


Dan, Novi hari itu sungguh berusaha keras.
Novi berusaha mengakomodir keinginan Produsernya.

Novi berusaha mengakomodir keinginan kami, sang rekanan.


Ia berlari sana sini.

Saya terharu.


Diantara keharuan, Saya sadar.

Novi itu SAYA, tujuh tahun yang lalu.

Semangat Novi, semangat Saya dulu.


Lewat Novi, Gusti Allah mau bilang hari itu,

"Agus, ayoooo .... noleh ke belakang sebentar ... liat segala nikmat ... liat segala mimpi yang sudah dijawab ... berhenti iri ... ayo mulai lebih semangat!"

Gusti Allah sayang sama Saya.


Isi hati dijawab tuntas.


Note: gambar dipinjam dari www.gettyimages.com

Wednesday, January 27, 2010

Saat kopi mulai ditelanjangi ...



Ini cerita tentang Sang Kopi:

Selepas Aku engkau setubuhi,

saat menikmati lelehan keringat menguap pelan di udara, sambil dihibur matahari menggembos tanpa daya dihisap bumi

Aku lekat memandangmu Lelakiku.

Dulu, persetubuhan bagiku, seperti minyak tanah berkawin dengan korek api.

Panas

Meletup

Liar membakar

Tak ada cinta.

Cinta dan kelamin, dua lingkaran yang tidak beririsan.

Apa itu cinta?
Taik kucing dengan cinta.

Sejatinya, aku seperti lubang hitam.

Siapa pun yang memasuki Aku

Ia tidak mengamplifikasi rasa.

Ia jatuh.

Semua rasa yang diberi, pada ujungnya hanya terbaui samar-samar

Persona ku terlalu kuat.

Rasa ku terlalu kuat.

Jadi buat apa cinta?

Cinta bagiku seperti perpaduan deodorant wangi berkawin dengan keringat di ketiak yang ujungnya beranakan bau kecut.

Kopi tetap berbau, berasa kopi meski Ia berkawin dengan apa pun.

Nampaknya, aku ditakdirkan sendirian.

Jadi buat apa mengurusi Cinta.

Cinta seperti permen karet lengket di pantat celana.

Sekali lagi, Aku memandangmu, wahai lelakiku.

Dengan cara yang sederhana, kamu sudah merenggut milikku yang paling berharga.

Nyawaku sudah kau kantongi.

Sialan, kalau ingat kali pertama bertemu

Aku tidak pernah menyangka, lelaki sederhana macam kamu mampu menggerakkan semesta.

Atau jangan-jangan,

Kamu adalah varian kopi baru ?

(bersambung...)



note: gambar dipinjam dari www.gettyimages.com

Sunday, January 24, 2010

Anak Bawang



Anak bawang mandi di kali, disuruh mandi di pinggir dan dijaga sama anak badung lainnya yang lebih tua.


Anak bawang main petak umpet selalu dibolehkan menang sama anak badung lainnya

Anak bawang bikin salah, salahnya dianggap seperti debu.

Senangnya jadi anak bawang.

Belakangan ini aku menghabiskan waktu di luar kantor dengan karib yang secara usia jauh di atasku.

Matang karena pengalaman.

Bijak karena ditabrak oleh hidup.

Saat ada di kumpulan, aku senang memposisikan diri jadi orang yang paling bodoh.

Senang dianggap jadi orang yang nggak tau apa pun.

Karena dengan demikian, aku bisa bertanya macam-macam.

"Apaan sih itu? kok aku nggak tau?"

"Emang bisa begitu?"

"Kenapa?"

"Lho, bukannya harusnya ini begini itu begitu?"

"Masa sih?"

Menyenangkan melihat mereka berbinar.

Mereka merasa lebih tau.

Mereka bicara.

Kadang bicara berlebihan.

"Jadi ya, anak bawang, kamu mestinya ina inu gini ginu gono gini!"

"Nih ya, anak bawang, dulu itu aku kena kinu kini kono sampe dadi ngono"

"ginul ginul godal gadul"

"mencungul cungul gobal gabul ngalor ngidul"

Nah, kembali lagi ke cerita tentang para tetua yang belakangan ini aku sering ngintil jadi ekor tikus... jadi anak bawang.

Pelajaran yang paling mengena kemarin adalah:

Tentang K-O-N-S-I-S-T-E-N-S-I

Orang banyak maunya macam aku ini ternyata sangat kekurangan hal yang satu itu. Konsistensi.

Gampang bosan.

Disimpulkan, ibarat armada perang. Aku ini seperti garda depan yang sungguh bergairah ampun-ampunan untuk mendobrak pintu benteng. Beragam cara dilakukan.

Begitu pintu robek dibuka, Aku si garda depan malas untuk bersih-bersih musuh di dalam .... mestinya, harus sama trengginasnya ketika sudah ada di dalam.

Lha ini, begitu sudah di dalam, Aku malah sudah mikir pintu benteng musuh mana lagi yang harus aku hajar...

Menaklukan kota musuh ndak cuma sekedar menghajar pintu bentengnya. Tapi juga harus rajin bersih-bersihnya.

Tentang bosan, disimpulkan saat para karib tetuaku selesai bicara

"Your greatest enemy is nothing but yourself, wahai anak bawang!"

Betul sekali.

Para tetua, karibku tercinta, Anak bawang mau bersih-bersih dan mawas diri dulu ya.



note: gambar dipinjam dari www.gettyimages.com

Saturday, January 23, 2010

Saat teh menulis surat ...




Saat kutulis surat ini,

Aku tak pernah yakin, engkau akan membacanya.

Aku juga tak pernah yakin, rasa hatiku bisa diwakili dengan kata.

Rasa ini lautan, aku hanya punya gelas.

Ku tulis surat ini saat tanah dihajar matahari yang kepleset.

Kamu tahu betapa aku benci senja.

Saat itu, aku merapuh.

Pertalian senja dengan aku kehilanganmu terlalu kuat.

Lewat surat ini, aku mau bilang betapa aku membencimu karena engkau sudah membuatku demikian bahagia.

Betapa kehadiranmu sudah membuat semua hal yang membuatku bermakna menjadi tak ada harga.

Sungguh menyedihkan, aku menyalahkanmu untuk semua hal terbaik.

Rasanya, aku ingin berteriak pada semesta, protes kenapa engkau yang menjadi kurirnya.

Tapi aku tidak bisa berteriak pada takdir.

Rasaku lautan dan aku aku cuma punya gelas.

Saat kau membaca surat ini, aku ingin meminta.

Tolong, kembalikan nyawaku.





note: gambar dipinjam dari www.gettyimages.com

Wednesday, January 20, 2010

Berguru pada benda kecil isi besar



Ini buku kecil tapi bukan untuk orang yang kecil

Ini buku sederhana dengan isi yang jauh dari kesederhanaan

Ini adalah kado kecil di awal tahun dari karibku Wenni, natal kemarin

Bule bernama Charles M. Schulz dibuku ini lewat kutipan-kutipan omongan si anjing lucu bernama Snoopy cuma mau mengingatkan kita bahwa ternyata oh ternyata, kita terlalu mempersulit diri sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan. Drama dalam hidup kita, ternyata kita sendiri lah yang punya andil paling besar.

Berangkatlah dari detil kecil dalam hidupmu, kata anjing lucu Snoopy.

Wenni, terima kasih untuk kadonya... maaf, hadiahmu ini sudah agak lecek karena seringnya aku buka tutup dan baca berkali-kali.

Pemberian memang tidak diukur dari rupiah

Tapi keseriusan untuk memilih benda yang tepat

karena hadiah, cerminan hati.

Surat buat Bapak dan Mamah



Bapak

Mamah

Aku cuma mau ngabari, aku baik-baik saja

Selalu sehat

Walaupun sekarang udah sering dan gampang buanget masuk angin

Pak, aku menyalahkan Mamah untuk ketergantunganku dengan kerokan.

Aku sebal, karena kalau Aku masuk angin, siksanya bukan karena sakitnya semata. Tapi, karena aku ndak pernah bisa menuntaskan pengubatan masuk anginku dengan tolak angin cari atau apa pun. Aku harus dikerok!

Yang kayak begini ini Pak, yang bikin aku jengkel lan mangkel bukan kepalang. Lha piye, aku njur langsung kangen rumah tho ya! Aku kangen dikerokin sambil diomeli karena sering begadangan main sampe malam bahkan subuh.

rasa kangen dengan wangi minyat telon, uang koin lima ratusan, dan di usap-usap punggungnya itu lho yang semakin bikin aku merasa masuk anginku itu tambah dahsyat siksaannya.

Duh, Bapak ...

Setiap aku liat warung sate dan sop kaki kambing pinggir jalan, aku selalu kepikiran sama Bapak.

Jadi inget, betapa setiap sabtu minggu ... Bapak kayak cacing kepanasan ndak betah di rumah.

mau cuci mobil lah

mau beli pakan ikan lah

mau lari-lari di stadion Mugas lah

mau makan enak lah

Cuci mobil aku ndak mau nemenin

Mbeli pakan ikan aku ndak mau ... mumet .. pusing liat tempatnya

Opo maneh, dengan lari-lari di stadion Mugas.... nehi babuji lah yauw ...

dan aku tau, Bapak juga tau kalau tiga ajakan diatas akan selalu sukses di tolak sama anakmu yang sulung sedikit kurang ajar macam aku ini.

Makan sate kambing berdua ... lhaaaa, baru aku mau Pak!

Dan kalau akhir minggu ... Aku kangen sama Bapak.

Aku kangen dengar seribu keinginan yang mengamini Bapak untuk bisa jalan-jalan ke luar rumah.

Aku kangen makan sate kambing sama Bapak.

Ternyata, diantara banyak hal yang membuatku kesal tentang Bapak

Aku juga punya banyak hal-hal menyenangkan dan membuat rindu Bapak.

Sepertinya porsi hubungan kita memang seperti lagunya Ratih Purwasih jaman dulu deh Pak .... "Antara Benci dan Rindu" judulnya.

Halaaaah itu lhoooo .. yang dulu kita pernah punya karaoke laser disc-nya...

bukan penyanyi aslinya sih ... cover version ... yang diputer terus sama Bapak... Duh, betapa aku berharap player laser disc kita dulu itu jebol rusak sekalian biar ndak bisa dipake buat muter lagu itu.

Aku kangen sekali sama Bapak.

Iya, aku juga kangen sekali sama Mamah.

Rod Steward, di lagunya "When I Need You" pernah bilang, " A telephone can't take the place of your smile"

Iya, aku bisa menelepon kapan saja.

Tapi ya itu ... Rod Steward aja bilang begitu.

Jangan salahkan kalau aku demikian rindu.

Dua minggu ini, karena pekerjaan, aku bertemu dengan banyak orang.

Aku berinteraksi dengan dengan beragam karakter orang.

Ada yang baik

Ada yang badung ndak ketulungan.

Yang baik, aku ndak mau cerita banyak.

Yang badung, aku juga ndak mau cerita.

Tapi dari pengalamanku berinteraksi dengan orang-orang badung itu

aku cuma mau bersyukur.

Dengan segala kekuranganku,

ndak sabaran

pelupa

pemalas

penganut setiap "ke-pepet-isme"

moody

cerewet

rewel

agak ......... boros -nyengir-

tukang ngetut

meskipun gambaran keluarga kita jauh dari model "Keluarga Cemara", sinetron yang dulu sangat kita suka itu.

Aku bersyukur ...

dengan segala kelebihan dan kekurangan kalian sebagai manusia

kalian sudah mengajarkan aku nilai-nilai hidup dasar

ndak gampang iri

ndak gampang dengki

menghargai kesungguhan

menghargai kerja keras

ndak gampang merendahkan orang lain

berusaha ndak menghakimi

menghargai detil-detil kecil hidup

Bapak ... Mamah ...

Untuk semua ini, aku bersyukur sebenar.



note: gambar dipinjam dari www.gettyimages.com

Tuesday, January 19, 2010

Duel persetubuhan (Teh dan Kopi)


Saat gelap di usir terang, Teh berdiri telanjang.

Wahai lelakiku,

atas nama embun setengah membeku yang diperkosa matahari saat Ia mulai terbangun perlahan,

Aku memujamu.

Kita berkendara, engkau kereta emas, dan aku saisnya.

Tenang

Pelan

Hanyut

Tenang

Pelan

Hanyut

Berkali-kali

lagi

lagi

Tinggalkan kelaminmu

dan biarkan aku menjilati jiwamu

lima kali kecepatan suara, nyawamu aku bawa pergi

masuki aku pelan

sampai aku meleleh

sampai aku mengutuk

karena, engkau tak ada sebentar lagi

seperti gelap diusir terang.

...................................................................................

Kopi setia menunggu matahari kecemplung kolam

dan engkau datang.

Wahai lelakiku,

atas nama birahi dan segala keliaran binatang,

Kopi memujamu.

nafsu

nafsu

nafsu

Aku beri hentakan seperti denyut lahar yang tak betah ada di dalam.

kasar

mencengangkan

aku jamin, engkau akan berdansa dengan keliaran semesta

tinggalkan kepalamu di rumah

biarkan ujung penismu berkuasa

saat engkau nikmati damai dalam liar

siapa yang butuh tenang?

setan! engkau direnggut

saat terang datang


note:
gambar dipinjam dari www.gettyimages.com

Saturday, January 16, 2010

Duel lanjut terus ! ...



Sambil melihat matahari terpeleset dari orbitnya,
Teh dan Kopi bertemu kembali.

Kopi,
aku sekarang tak akan iri lagi padamu.
Aku akan membiarkan dirimu memilikinya pagi hari.
Cinta yang membakar seperti dirimu, aku tak akan pernah punya.

Teh,
Aku tak akan iri lagi padamu.
Aku akan membiarkan dirimu memilikinya saat matahari kelelahan.
Cinta yang meneduhkan seperti dirimu, aku tak akan pernah punya.

Kopi,
pernah kah terpikir bahwa lelaki yang kita cinta ternyata tak membuat hidup kita penuh.

Teh,
berkali-kali aku merasa begitu. Tapi, aku tak mau beranjak jauh.

Kopi,
ini harus diakhiri. Mari kita buat Ia memilih salah satu dari kita.
Teduh dariku atau bara panas dari mu.

Teh,
Baiklah, dengan konsekuensi aku dibiarkan mendingin dan kehilangan makna pada pagi hari. Aku setuju.

Salah satu dari kita, harus mati.

Tuesday, January 12, 2010

Mangkal di pinggir jalan dulu ...



Kawanku pernah bilang,

"Hidup itu ibarat naek bajaj, belok kiri belok kanan, cuma Tuhan dan ... tukang bajaj-nya yang tahu"

Aku bilang,

"Tapi kita boleh teriak-teriak suruh belok kiri kanan dong? lha wong yang tau tujuan akhirnya kan kita... bukan tukang bajajnya?"

Kawanku bilang begini juga,

"Hidup itu ibarat bajaj juga, mau mentok kiri mentok kanan, bajaj tetep dengan ajaibnya bisa belok"

Sayangnya hidup nggak sesederhana itu ya....

Tahun lalu, saya mengawalinya dengan berjalan bersama-sama dengan beberapa karib.

Kami punya dan berbagi mimpi yang sama

Dalam perjalanan, yang satu belok kanan ...

Yang satu belok kiri ...

Aku? memutuskan untuk berhenti di pinggir

Si Mamah pernah bilang,

"Sebenarnya, dalam hidup, nggak ada yang namanya pilihan terbaik ... Asal kamu yakin dan percaya ... semua akan baik-baik saja"

Sekarang, aku lagi berhenti di tengah jalan...

lurus, kiri, kanan atau justru jalan mundur

aku belum tahu

keyakinan untuk memilih dan menjalani

sementara ini aku belum punya

lurus, kiri, kanan atau justru jalan mundur

aku belum tahu

Friday, January 08, 2010

Pemantik Api



Malam ini, tiba-tiba aku kangen sama Eyang Kakung Marto Utomo.

Ayah dari si Mamah.

Pemicunya sederhana.

Aku lihat pemantik api di mejaku.

Dulu, setiap libur sekolah, Aku selalu di kirim liburan ke Yogya.

Senang bukan kepalang.

Waktunya untuk badung sepuas-puasnya.

Buatku, Eyang Kakung Marto adalah salah satu orang yang sungguh berjasa.

Ia adalah salah satu orang yang berjasa menempa kepekaan rasa untuk melihat hal sederhana menjadi luar biasa.

Dulu Eyang punya pemantik api yang luar biasa bagusnya.

Setiap aku libur sekolah. Setiap aku dikirim ke Yogya.

Tak bosan rasanya meminta untuk bisa memiliki pemantik api miliknya yang luar biasa bagusnya itu.

"Pemantik api ini buatku ya Eyang! boleh ya? ya ya ya !?"

Tiga kali kenaikan kelas .... Tiga kali liburan ... tiga kali ditolak.

"Lha ... piye, kalo pemantik api ini buatmu ... Eyang terus mbakar rokoknya pake apa?"

Tiga kali kenaikan kelas ... tiga kali liburan ... tiga kali jawaban yang sama.

Sampai akhirnya,

"Pemantik ini boleh buatmu ... tapi kamu harus bayar sama Eyang!"

"Kenapa nggak jadi hadiah ulang tahunku aja sih Eyang?"

"Berani bayar sama Eyang?"

"Berapa ?"

"Alat tukarnya bukan uang!"

"Lalu apa ?"

"Setiap hari, kamu harus bercerita sama Eyang ... kamu harus mendongeng! buatkan Eyang dongeng!"

Permintaan yang aneh.

Ritual dimulai.

Setiap pagi setelah sarapan, Eyang Marto pegang satu benda.

"Hari ini barang yang Eyang pegang, adalah senter! buatkan aku dongeng tentang senter! malam sebelum kamu tidur, kamu harus baca dongengmu di depan Eyang!"

Sambil bermain di luar, otakku bekerja merangkai kata menjadi cerita tentang senter.

"Hari ini barang yang Eyang pegang, adalah sebatang pensil! buatkan aku dongeng tentang sebatang pensil! malam sebelum kamu tidur, kamu harus baca dongengmu di depan Eyang!"

Sambil bermain di luar, otakku bekerja merangkai kata menjadi cerita tentang sebatang pensil.

"Hari ini uang koin 25 perak!"

"Hari ini kunci gembok!"

"Hari ini sendok nasi!"

"Hari ini sandal jepit!"

Pokoknya, barang apa saja yang terlihat matanya pertama kali, itu yang jadi pekerjaan rumahku untuk membuat dongeng.

Demikian setiap hari.

Sampai liburanku selesai.

Sampai aku harus dikirim pulang kembali ke rumah.

Pemantik api akhirnya jadi milikku.

Tapi sebenarnya, Eyang Kakung memberi lebih dari itu.

Thursday, January 07, 2010

Cuma karena lumpur ....


Dari jendela kantor, aku lihat hujan datang.

Tadinya pelan-pelan

Mengendap-endap

Kemudian deras.

Orang suka menikmati matahari turun pelan-pelan.

Orang suka menikmati matahari naik pelan-pelan.

Aku, tidak pernah suka dua hal itu.

Dua hal yang aku suka.

Aku suka saat menjelang hujan turun.

Seperti menunggu dan menebak kapan air mata jatuh ketika seseorang sedang berkaca-kaca.

Menebak, di detik keberapa air mata kalah melawan gravitasi.

Aku suka saat kabut pelan-pelan lari dari atas

Menebak, di detik keberapa ujung hidung dicubit dingin.

Dari jendela, aku lihat hujan.

Dulu, betapa pun sedihnya aku.

Ketika mendung muncul, Aku seperti menunggu hadiah.

Jantungnya deg-degan parah.

Sampai kemudian air hujan datang bersenggama dengan tanah.

Dan aku membayangkan tanah lapang di belakang rumah.

Membayangkan hasil senggama tanah dan air hujan

Berupa lapangan becek dan mereka menunggu aku menjejakkan kaki kecil disana.

Sensasi cipratan lumpur di kaki ku sungguh menyenangkan.

Sungguh indah, bagaimana aku bisa demikian bahagia karena hal yang sedemikian remeh.

Aku, si kecil yang bahagia cuma karena lumpur.

Dari jendela, aku melihat ke luar.

Dan melihat air hujan berarak.

Aku berjanji,

Aku mau selamanya bisa tetap dibuat bahagia dengan hal-hal kecil.

Seperti aku dulu,

Bahagia cuma karena air hujan... tanah ... lumpur.

Wednesday, January 06, 2010

Dipijet ... Kepijet



Bambang namanya.


Pertemuan dengannya berawal dari selebaran yang tertempel di tiang listrik sebelah kost.

Pijat panggil rumah 24 jam.

10 malam, tak bisa tidur karena terlalu lelah dan putus asa mencari bantuan supaya bisa tidur nyenyak.

Roti bakar satu tumpuk tak membantu.

Susu coklat hangat tak berdaya.

Tukang pijat langganan di mal ambassador sudah tidur nyenyak dan baru buka besok pastinya.

Nomor telepon di selebaran yang tertempel di tiang listrik itu pun aku hubungi.

Bambang datang.

Pijatannya mantap.

Sopan.

Pertemuan pertama, ternyata bukan hanya pijatannya yang mantap.

Pembicaraan sembari dia memijat ku yang bikin hati hangat.

"Mbang, capek kok malah ndak bisa tidur piye ya Mbang ? ... bingung aku!"

"Biasa tuh mas ... otot-ototnya kaku Mas ... sambil dipijet sambil ngobrol aja Mas sama Saya"

"Wah, kalo di spa atau di panti pijat kita di usir nih Mbang kalo ngobrol begini... bisa ditimpuk tempat tidur sama sebelahku"

Dan kami bicara ....

Bambang bilang, "Lha wong ulet bulu aja bisa hidup dan dikasih makan ... ndak mungkin Gusti Allah ndak merhatiin kita mas ..."

Bambang bilang, "Tangan saya ini alat buat berbuat baik ... coba, berapa orang yang sukses tidur nyenyak tidur malamnya gara-gara saya ... tiap orang punya alatnya sendiri-sendiri untuk berbuat baik"

Bambang bilang, "Harus BERSYUKUR dan BANGGA Mas..... BERSYUKUR dan BANGGA"

Bambang bilang, "Kalo saya iri ... lama-lama bisa bunuh diri Mas ..."

Karena tengkurep, jadi cuma bisa mendengar suara si Bambang

Tapi pasti selama pembicaraan Aku bisa mbayangkan kalau air mukanya penuh senyum.

Sesi pijat selesai.

Bambang sudah pulang.

Lewat Bambang, Aku diingatkan.

Monday, January 04, 2010

Ada yang menangis ...


Di sebuah meja pojok kedai kopi


Teh celup menangis

Sepoci air panas bosan padanya

Sepoci air panas tak ingin bergabung dengan sang Teh celup

Padahal, tanpa sepoci air panas

sang teh celup tak berarti apa-apa

teh celup bermakna ketika Ia berkawin dengan air panas di dalam poci itu

Sang poci lebih rela membiarkan air panas di dalamnya mendingin

teh celup bersedih

teh celup akhirnya mati pelan-pelan dimakan waktu.

Saturday, January 02, 2010

Pssst ... Jangan diganggu .. Lagi mojok !

Berlari kecil, Aku menuju kedai kopi tempat kita temu janji hari ini.

Tidak pernah bisa dipahami, dari mana Ia tahu bahwa kedai k
opi tempat kita temu janji hari ini adalah sarang nyamanku mencuri sunyi.

Sarang nyamanku tempat dimana aku melakukan mekanisme sama seperti sapi yang mengeluarkan kembali rumput yang ditelannya dari l
ambung ke mulutnya dan mengunyah pelan-pelan agar sari gizi rumput tercerna sempurna.

Aku berlari kecil menghindari rinai hujan yang halusnya seperti benang putus-putus kecil-kecil.

Sudah sampai.


Aku melihatmu.

"Hi, aduh maaf .. aku sedikit telat dari janji semula... kamu tidak akan pernah menduga jalanan di Jak
arta. Kurasa kamu tahu itu ya ..."

Cuma dibalas senyum.


"Kamu 2010 kan? aku sudah tahu namamu ... betapa senang, akhirnya kita bertemu"

Dibalasnya lagi dengan senyum.


Aku meminum teh bunga pelan-pelan sembari mengatur napas satu-satu.

"Baiklah 2010... aku mau bercerita padamu. Sebelumnya, lihatlah foto lama yang kubawa... yang ini !"



"Dan yang satu ini ..."



"Foto-foto ini terambil hampir 13 tahun lalu"

"Lelaki kurus dengan banyak mimpi"

"lelaki kurus datang ke Jakarta dengan hati mantap bahwa semua hal bisa dilalui ... semua bisa dilakukan ... dan lelaki ini, mau semuanya yang dunia bisa beri untuknya"

"Dan ketika aku mulai bertemu 2009 sampai akhirnya memutuskan untuk berpisah dengannya, pada saat-saat terendah dalam hidup di tahun itu, aku ndak pernah bosan melihat lagi ... dan lagi .. dan lagi ... foto-foto itu"

"2010, kamu tahu, pelajaran paling bermakna apa yang kudapat ketika bersama 2009 dan foto-foto ini? ... Ya, 2009 membawaku pemaknaan lebih dalam tentang harapan, doa dan mimpi"

"Dengan 1996 aku mengalami titik balik paling berkesan dalam perjalanan hidup. 1996 meneguhkan perasaan bahwa aku ternyata terbuat dari materi tahan banting. Bahwa, sebelumnya aku sering memandang rendah potensiku untuk mendapat hal-hal besar. 1996, membuatku menghargai diri sendiri"

"oleh 1996 ... dibawanya aku yang baru mencicip kejutan-kejutan kecil Sang Hidup sudah siapkan buatku. Bahkan, kejutan paling sedih pun selalu meninggalkan rasa manis di ujung hati. seperti madu yang meninggalkan rasa manis berkepanjangan di ujung lidah"

"13 tahun ... sekarang, aku sudah menggendut, mulai memakai krim anti penuaan dini supaya tetap terlihat muda kinyis-kinyis, mulai memilih-milih makanan yang lebih sehat walaupun dengan sadar aku membiarkan diri menikmati makanan enak tapi berbahaya karena meninggalkan buah tangan berupa lemak disana-sini, dan belum bisa lepas dari merokok"

"Tapi, di dalamnya, aku tetap lelaki yang sama ...... lelaki yang punya banyak mimpi. Mimpi untuk dirinya sendiri dan buat orang-orang yang dianggap lingkaran paling dalam dalam hidupnya"

"Kalau aku lihat lagi, senyumku tetap menyimpan rasa yang sama dengan senyum yang ada di foto 13 tahun yang lalu"

"Kalau aku lihat lagi, aku tetap lelaki yang diantara ke-drama-annya tetap selalu memandang dunia dan manusia di dalamnya dengan sikap positif, tak berprasangka buruk. Aku melangkah dengan ke-naif-an anak kecil yang selalu berpikir bahwa masalah hari ini selesai babaknya saat Ia beranjak tidur dan terbangun pagi esoknya"

"Aku cinta dengan lelaki yang ada di dalamku"

"2009 memberiku hadiah penting"

"2009 aku bertemu dengan Boo Boo. Kami bercinta seperti remaja. Di ujungnya, kami bertumbuh ... berevolusi... Cinta seperti remaja berhenti"

"2009 dan Boo Boo mengajarkan pemahaman baru tentang cinta yang rasanya aku siap menguji cobanya pada bab baru dalam hidup"

"2009 bilang aku harus berterima kasih pada Boo Boo untuk pelajaran baru ini. Drama sudah dilewati, tangis sudah berhenti. Dan Boo Boo, ya aku berterima kasih padamu"

"2009 bilang aku harus berterima kasih untuk segala detil-detil kecil dalam hidup yang bisa membuat kita bahagia. Bahagia itu sederhana. Begitu 2009 bilang padaku"

"1996 seperti ketapel yang melesatkan aku meraih banyak mimpi"

"2009 seperti cermin yang membuatku mengerti esensi"

"Wahai 2010, demikian ceritanya ... sekarang, apa yang kau bawa untukku?"