Thursday, June 30, 2011

Hidup ala Kue Lapis Legit


Mamahku pernah bilang, hidup itu kayak mbikin kue.

Dalam hal ini, kue lapis legit.

Harus niat.

Bahan dasarnya sabar.

Mulai dari memisahkan kuning telur dari putihnya.

Mengaduk adonan tak terburu-buru dan mesti tepat penghitungan waktu aduknya supaya mengembang sempurna.

Memastikan panggang atas dan bawah sama panasnya supaya matang sempurna.

Dan yang paling menguji sabar adalah, menuangkan adonan lapis demi lapis.

Tipis-tipis. lapis demi lapis. Harus ditunggu dengan sabar. Kalau perlu dibela-belain keringetan mlototin panggangan selama lebih dari satu jam.

Supaya nanti diujungnya, kita mendapatkan manis legitnya.

Mamahku bilang, Hidup itu sederhana dan gampang.

Kalau sabar.

Saturday, June 25, 2011

Bicara Cinta Bicara Rasa

Dicintai untuk hal yang nyata.

Dicintai untuk memaklumi kekurangan.

Dicintai untuk memaafkan.

Demikianlah dirimu ada untukku.

Berterima kasih untuk pembicaraan kecil pagi hari saat mataku dicubit matahari pagi.

Berterima kasih untuk pelukan yang meneduhkan saat Engkau ada di sisi.

Berterima kasih untuk senyuman yang selalu berhasil menenangkan gundah.

Berterima kasih karena karena Engkau berhasil membuat detil hidupku menjadi sumber bahagia.

Demikianlah nampaknya Aku mencintaimu.

......................................


Ah mati! nggak bisa nulis sok romantis begini ternyata. picisaaaan! :))


Sunday, June 19, 2011

Bapak. Yang Terucap dan Yang Baru Terungkap

Yang dibilang sama Bapak,"Anak lelaki kok nulis puisi cengeng-cengeng begini sih... mbok sana maen sama Galih, Danang!"

Yang tak diungkapnya waktu itu:
Bapak membawa puisi bernilai 9 dari Ibu Guru ke kantor. ditaruhnya di tas. dalam plastik file supaya ndak lecek.

Yang dibilang sama Bapak,"Norak banget bajunya. Kamu mau ikut lomba nyanyi pake baju begitu? Bapak nggak nonton ah!"

Yang tak diungkapnya waktu itu:
Foto Aku sedang memegang piala di atas panggung dengan baju yang dibilangnya norak, ada di laci kantornya. Lama akhirnya kutahu, Bapak ngasih Mamah uang ekstra untuk mbeli payet buat dijahit di jaket kostum nyanyiku. Ya, jaket yang dibilangnya norak.

Yang dibilang sama Bapak,"Aku tuh ndak pernah paham kamu kerja apa di Jakarta? mbikin iklan? emang tiap hari ada yang minta dibikinin iklan apa? biro iklan? kerjaanmu aneh!"

Yang tak dikungkapnya waktu itu:
Setiap kumpul arisan Bapak-bapak, Mamah mencuri dengar,"Anak saya kreatif banget lho. Dia kerja di TV, mbikin iklan, jago nulis"

Yang dibilang sama Bapak,"Bertahun-tahun kerja di Jakarta kok nggak keliatan apa kek... mbeli barang mewah kek! gajimu cukup nggak sih? kamu digaji berapa sih?"

Yang tak diungkapnya waktu itu:
Setiap saat Mamah didonder,"Apa Agus dicariin kerjaan di Semarang aja ya? cukup nggak uangnya disana? Kamu bilang ya kalo Agus ngeluh nggak punya uang, nanti kamu aja yang transfer ke dia"

Yang dibilang sama Bapak,"Cengeng amat sih jadi laki-laki!"

Yang tak diungkapnya waktu itu:
Setiap saat Mamah didonder pertanyaan,"Itu Agus kenapa? abis putus sama pacar? dimarahin sama bossnya ya? kamu paketin makanan gih! dia kan suka bandeng asap tuh... paketin lah sekilo buat makan di kost"


Untuk yang sudah terbilang dan yang baru saja terungkap setelah beberapa waktu.

Bapak, Agus sayang sekali sama Bapak.

Happy Fathers Day ya Pak

Menjadi Tua Tidak Menyenangkan


Ini transkip mimpi yang aneh. Jadi ya, Aku ngimpi lagi ngopi-ngopi dengan orang yang tengil dan nyebelin gitu deh. Tapi Aku lupa orangnya kayak apa. Ya, kayak mimpi basah kan? suka nggak keliatan mukanya tapi tau-tau udah cret basah aja ahahahaha ... udah ah, berikut transkripsinya:

"Jadi dewasa itu tidak menyenangkan. Kita punya kecenderungan untuk membohongi diri sendiri demi membahagiakan orang lain"

"Sekarang gini deh, pilih mana? bahagia tapi sendirian atau dengan sadar mengorbankan kebahagian diri sendiri supaya orang-orang yang kita sayangi bahagia?"

"Ah, pilihan nggak fair!"

"Lha, Hidup itu emang nggak pernah akan adil, equilibrium itu ndak akan pernah ada. selalu akan ada yang berlebih dan selalu akan ada yang merasa kurang... eh iya, jadi milih yang mana? bahagia tapi sendirian atau yang ... ya gitu deh tadi?"

"Aku bertanggung jawab pada hidupku. Aku selalu diajar bahwa bahagia itu lambaran dasarnya adalah jujur pada diriku sendiri. Membohongi diri sendiri adalah perbuatan paling nista, kata Ibuku. Jadi, aku akan membiarkan kejujuran sebagai kompas penunjuk arah menuju kebahagiaan"

"Lha, kalau pilihanmu membuat sedih orang-orang yang kau cintai? pegimana?"

"Boleh Aku menghela napas panjang dulu sebelum menjawab itu? Ok, sebesar aku mencintai mereka dengan sepenuh hati, Aku tidak bertanggung jawab terhadap kebahagiaan mereka. Bukankah cinta harusnya membebaskan? bukankah cinta harusnya tak membelenggu dan merelakan yang kita cintai menjadi diri sendiri, bebas dari penghakiman? Aku layak dicintai untuk hal-hal yang nyata, bukan dicintai atas nama atribut ideal"

"Kamu egois dong kalo gitu"

"Egois? lha... memenjara sebuah pribadi dengan mengatasnamakan cinta kasih, itu baru egois namanya"

"Pembicaraan ini tidak menyenangkan"

"Iya"

"Menurutmu kenapa jadi tidak menyenangkan"

"Karena kamu sudah berhasil membuatku meragu dan berpikir ulang hal-hal yang pernah kuputuskan atas dasar jujur terhadap diri sendiri, atas dasar menciptakan kebahagiaan versiku sendiri. Aku meragu. Sebenarnya Aku ini sudah berlaku benar ... atau malah berlaku konyol"

"Ganti topik yuk!"

"Yuk"


Monday, May 30, 2011

Jabang Tetuko. Ayo, Kenali Akarmu.




Aku rasa, setiap Ibu sejatinya adalah pendongeng yang hebat.

Aku selalu yakin, cerita bila di amplifikasi cinta akan menjadi luar biasa.

Sewaktu kecil, setiap malam, sebelum tidur, Ibu selalu bercerita.

Apa saja.

Cinta dua orang bernama Rama Shinta.

keluhuran hati seorang bernama Wisanggeni.

Hati yang bersih dari sosok raksasa adik dari Rahwana bernama Kumbakarna.

Apa saja.

Ceritanya bisa jadi melenceng dari pakem cerita utama. tapi imajinasi yang dilambari rasa kasih dan cinta. Tetaplah, sebuah cerita yang bermakna.

Aku selalu terkagum-kagum dengan ceritanya.

Nilai hidup meresap tak terasa.

Cerita Ibuku dulu, ternyata menjadi pondasi hidup.

Kulanjutkan kilas baliknya ya.

Jaman Aku masih SD, setiap liburan panjang, Aku selalu dilempar ke rumah Eyang Marto Utomo di Yogyakarta.

Masa-masa Aku menikmati libur panjang di Yogya menjadi lembar hidup yang sungguh berkesan.

Aku menikmati masa kecil yang penuh.

Setiap Rabu dan Jumat kalau Aku tak salah mengingat. Kami selalu berkumpul di ruang tengah di depan TV hitam putih merek Blaupunkt

TVRI Yogya memutar wayang orang.

Eyang Putri selalu menggoreng grabyas. Makanan terbuat dari tepung terigu, dicampur sedikit tetelan, digoreng semacam bakwan. dikawinkan dengan teh panas manis.

Aku selalu menikmati cerita wayang orang yang disajikan. Padahal ndak ngerti sama sekali bahasanya.

Mau bertanya pada Eyang Putri, aku kok rasanya sungkan sangking melihat Eyang Putri dan Eyang kakung demikian terhanyut dengan cerita.

Ya sudah, Aku mereka-reka saja.

"Oooo yang ini nih yang jahat!"

"Oooo ini berkhianat nih!"

"Waaah sakti sekali! bisa terbang!"

Imajinasi anak kecilku dipuaskan.

Aku selalu menunggu lakon wayang orang setiap hari yang kusebutkan tadi, meskipun Aku sama sekali ndak ngerti bahasanya.

Buatku, sungguh luar biasa!

Kembali ke kekinian.

Sekarang, setiap pulang kampung ke Semarang. Aku selalu siap sedia uang cadangan untuk membelikan mainan buat keponakanku tersayang Raihan.

Ben 10.

Thomas the Train.

Teletubbies.

Jauh di dalam hati. Aku sebenarnya menyimpan protes.

Karakter-karakter ini mengajarkan apa sih sama anak-anak sekarang?

Aku secara pribadi merindu karakter yang penuh kedalaman nilai hidup tapi tetap tampil dalam jiwa kanak-kanak yang mempelajari semuanya lewat bermain dan keleluasaan berimajinasi.

Sejauh ini, Aku merasa karakter Upin Ipin mewakili aspirasi itu.

Nakalnya anak-anak.

Penuh nilai membumi.

Walaupun bikinan negeri sebelah.

Yak, sekali lagi melebar tulisanku ini sodara-sodara heheheheh...

Akhir pekan kemarin ada pertunjukkan ini:

Jabang Tetuko, judulnya.

Tentang lahirnya Gatotkaca.

Haduh, aku seperti didongengi oleh Ibuku.

Cerita yang sanggup membuatku terkagum-kagum.

Aku ceritakan untukmu ya.

Jabang Tetukalahir dengan membawa keajaiban. Padanya, takdir beragam kesaktian mendekam. Sakti dari lahir! weleh weleh weleh! :)

Kelahirannya ini bertepatan dengan kemelut yang melanda kahyangan Jonggringsaloka.

Edan. Kalau mitologi Yunani punya Olympus tempatnya dewa-dewa. Lha, Jonggringsaloka ini sama hakikatnya.

Tempat para dewa dan bidadari tinggal mendapat serangan prabu Kala Pracona dari negara Ngembatputihan. Karena keinginan untuk menikahi seorang bidadari dari kahyangan Jonggringsaloka tidak dituruti, akhirnya raja dari para raksasa ini mengobrak-abrik kediaman para dewa. Seluruh kesatria kahyangan telah dikerahkan untuk menandingi kesaktian Kala Pracona, tetapi tak satupun yang berhasil.

Hal ini membuat para dewa panik dan mengutus Batara Narada mencari ksatria yang bisa dijadikan tameng untuk menjadi jagonya para Dewa. Setelah semua satria sakti dari bumi tidak bisa menandingi Kala Pracona, Batara Narada menemukan Jabang Tetuka yang masih berusia 16 hari. Meski masih bayi kesaktian putra Bima bisa dirasakan oleh betara Narada. Dan Jabang Tetuka dibawa naik Kahyangan untuk melawan raja raksasa pembuat onar.

Para dewa menggodok Jabang tetuko di dalam kawah Candradimuka. Berbagai pusaka dan senjata sakti para dewa turut dilebur dalam kawah yang bergejolak itu. Dalam sekejap bayi yang berwujud separuh raksasa berubah menjadi kesatria yang gagah dan rupawan. Berbagai leburan pusaka dan panasnya kawah telah merubah Jabang Tetuko menjadi semakin sakti. Karena fisiknya telah berubah, para dewa memberikan nama baru yaitu Gatotkaca. Yang memiliki arti berkumpulnya kesentosaan. Gatotkaca disebut juga 'satriyo babaran kahyangan' atau ksatria lahir dari kahyangan.

Tuh. Seru!

Mirwan Suwarso, sang sutradara mencoba membungkus cerita ini dalam pertunjukkan yang penuh kekinian dengan memadukan wayang orang, wayang kulit dan sinematografi modern. Usaha yang harus dipuji dan ndak usah lah kita buang energi dengan nyinyir mencela kekurangan di sana sini, kalau pun memang ada.

Mirwan menjaga pakem tradisional dengan menggandeng Ki Dalang Sambowo Agung dan Wayang Orang Bharata untuk kemudian berkawin dengan musikalitas seorang Deane Ogden, komposer music scoring untuk The Surrogates, Tron dan The Hitlist.

Stunt Coordinator, Benjamin Rowe, yang pernah mendapuk film macam Fast and Furious, dan Wolverine juga diajak serta.

Hasilnya?

Membanggakan.

Seperti yang Aku bilang di awal. Karya yang dilambari rasa cinta dan niat yang baik akan selalu menyentuh.

Aku bisa membaca kegundahan seorang Mirwan Suwarso sama seperti kegundahanku akan bocah-bocah jaman sekarang yang ndak ajeg pada akar budaya.

Pada tataran ide, Aku rasa kita harus hormat pada apapun usaha anak negeri untuk menghidupkan dan hidup dari akar budayanya sendiri.

Pada tataran pelaksanaan, well... Ada sih beberapa dari kawan-kawanku di media yang mengkritik bahwa panitia kurang tanggap, ndak rapih menggawangi mereka yang katanya pembawa berita untuk memahami esensi dari pergelaran ini.

Tapi apapun, Aku sih merasa harusnya niat mulia tidak boleh semena-mena dikuliti cacatnya oleh hal-hal yang tidak menyentuh esensi.

Disinilah kepekaan menangkap inti sebuah gagasan luhur diperlukan.

Seandainya Aku punya anak sekarang. Ketimbang mengajak anakku nonton orang berpakaian tokoh kartun meluncur ke sana sini pake sepatu ski es dan nyanyi-nyanyi ndak penting. Aku akan seribu kali yakin untuk mengajak anakku liat pertunjukkan macam begini.

Mengenal akar.

Mengenal jati diri.

Mengenal esensi nilai hidup.

Baik buruk.

Kegagahan.

Kejujuran.

Kerja keras.

Begitu deh :)

Silahkan dinikmati beberapa dokumentasi berikut ini:



Gambar dipinjam dari Veronica Kandi

Sunday, May 22, 2011

Memilih Tidak Sembunyi


Hi Janji yang tertunda itu akan kubalas dengan cerita...

Kamu boleh setuju, tidak pun boleh-boleh saja. esensi pertemanan kita kan tidak pamrih tapi membiarkan dua orang dengan pribadi yang berbeda tampil apa adanya dan bebas dari penghakiman :)

Dari kecil, Aku selalu diajar Ibuku bahwa Gusti Allah itu penuh kasih.

Lepas dari ritual keagamaan, Ibuku punya caranya sendiri untuk mengajarku berbicara padaNYA.

Mungkin engkau menyebutnya berdoa. Tapi sedari kecil aku ndak pernah tuh disuruh berdoa sama Ibu.

"Ayo, bicara padaNYA... karena nanti, kalau kau sudah besar, kamu pasti akan dihadapkan pada situasi dan kondisi dimana bahkan kepadaku, Ibumu ini, engkau tak bisa mengadu. Engkau tak bisa meminta hatimu tentram dengan bicara padaku. Bicaralah padaNYA... tapi jangan hanya saat engkau gundah. Kabarkan padanya berita baik. Supaya saat engkau sedih dan butuh dihibur, IA akan dengan suka hati menerimamu dan mendengar cerita duka"

Kata Ibuku, Tuhan itu sumbernya kasih.

Apapun caranya Aku bicara denganNYA, IA akan selalu bisa mendengar. Mendengar apa yang ada di benak, bahkan pada relung yang paling dalam.

Aku ndak pernah diajar Ibu tentang firman Tuhan.

Tapi Ibu selalu berkata, bahwa firman Tuhan hidup dalam benakmu.

Maka dari itu, dengarkan benakmu dengan sungguh.

Karena di dalamnya Tuhan sudah menyuntikkan firman.

Ibarat komputer, firman Tuhan seperti software yang niscaya ada didalamnya.

Cara yang aneh belajar tentang Tuhan boleh lah kau bilang begitu.

Tapi, buatku pribadi, apa yang diajarkan oleh Ibuku ini, sukses mengantarkanku selamat melewati naik dan turunnya hidup.

Karena Aku merasa IA selalu dekat.

Karena Aku merasa IA tak pernah melupakan.

Karena Aku merasa IA menghiburku selalu saat duka.

Sedikit lepas dari alur cerita, mungkin inilah yang membuatku tidak pernah percaya konsep neraka.

Kalau neraka itu seperti surga, sebuah muara keabadian. Lalu untuk apa menghukum seseorang terus-menerus dan tak memberi kesempatan untuk memperbaiki?

Bisakah penghuni neraka naik kelas pindah ke surga?

Apa maksudNYA menciptakan siksa yang abadi?

Kalau surga itu tempat penuh kebahagian yang tak berkesudahan, apakah justru tidak menimbulkan kebosanan?

esensi dari penghukuman adalah supaya kita belajar? lalu, kalau dihukum dalam keabadian, pelajaran apa yang bisa kita ambil?

Penghukuman tak berujung bukankah bertentangan dengan kodrat Tuhan yang katanya penuh kasih ya?

Ah, sudahlah, dalam ranah agama yang kamu anut dan dalami dengan sungguh-sungguh sampai belajar ke Amerika sana, pemikiranku tentang ini sah saja engkau cap dengan kata k-e-b-l-i-n-g-e-r :)

Tapi ada satu hal yang ingin Aku sampaikan berkenaan dengan ucapanmu kemarin.

Dari kecil, aku selalu diajarkan untuk selalu jujur. jujur pada diriku sendiri. belajar untuk selalu peka mendengarkan benak. mendengarkan nurani.

keputusan yang diambil, dijalankan dengan hati penuh. Dengan sepenuhnya sadar mengenai konsekuensi apa yang akan terjadi dan dijalani berkenaan dengan keputusan yang ada.

Pergumulan bahwa sejatinya Aku ndak pernah secara seksual tertarik dengan perempuan pun tidak mudah.

Tidak ada kata m-u-d-a-h untuk keputusan menerima kondisi sedemikian.

Sehubungan dengan ini, Aku dari kecil selalu merasa domba hitam yang berjalan pada sisi lain sebuah pagar nyaman dimana didalamnya domba-domba putih berkumpul dengan nyaman dan terkadang mereka berbarengan menatapku dengan pandangan penuh makna.

Aku aneh dimata mereka. hell yeah, Aku pun menganggap diriku juga aneh kok. anomali.

Tapi, bisa apa Aku?

Aku bisa saja sih dengan semir mengubah rambut dan buluku menjadi putih. Sama seperti mereka.

Dan itu berarti, aku harus menyemir rambutku seumur hidup.

Lebih dari itu, Aku harus hapal buku "bagaimana cara menjadi domba putih" seumur hidupku. Dan mengamalkan isinya seumur hidup.

Bisa saja sih. Toh, katanya, kalau sebuah kesemuan dijalankan dan dipercaya sebagai sebuah kebenaran dalam jangka yang lama, maka kita akan percaya bahwa itu adalah benar nyata adanya. bukan begitu?

Tapi, apakah itu yang mau Aku lakukan seumur hidup?

Hidup menawarkan banyak pilihan. Dan kita, ndak pernah punya hak untuk menghakimi.

Jadi, pada ujungnya. Aku memutuskan untuk jujur saja.

Menerima dan menyamankan diri dengan kondisi apapun yang ada.

Nggak mudah. modalnya satu. jujur aja.

Aku akan menganggap ini sebagai salah satu diantara banyak keputusan dalam hidup yang harus dijalankan dengan nurani yang jernih, penuh tanggung jawab.

Jadi gay. jadi manusia. jadi orang baik.

sesederhana itu.

Dengan konsekuensi yang sungguh jauh dari sederhana.

Aku bicara pada Tuhan, "Aku akan menjalankan hidupku dengan penuh kasih dan nurani. Kalau satu keputusan hidupku ini memang harus diubah. Maka Aku akan membiarkan rencana pengubahan itu berjalan menurutMU. Kalau dogma agama diberlakukan untukku. Ndak usah menunggu lama. sebentar lagi, ratusan orang akan menghampiri rumahku dan merajam dengan batu sampai aku mati pelan-pelan kok. Tapi Aku bicara padaMU pada tataran religi dimana tak ada pihak ketiga diantara Aku dan ENGKAU... Aku bicara padamu, ini keputusanku, aku jalani, kalau menurut salah, ENGKAU pasti tak pendek akal. Kutunggu rencanamu mengubah yang KAU anggap keliru"

Ibu kuajak bicara masalah ini.

Berat.

Berat sangat.

Tapi ini konsekuensi dari sebuah keputusan bahwa Aku tak akan sembunyi-sembunyi menjalani hidup. Dan pihak-pihak yang harus kali pertama mengetahui keputusanku, tentu saja beliau. Apa saja bisa terjadi. Dan Aku harus siap.

Jangan ditanya rasanya kayak apa.

Seperti membawa pisau ditangan dan disuruh menusukkan pisau itu ke jantung orang yang paling engkau kasihi, pelan-pelan.

Tapi keputusan harus dijalankan.

Konsekuensi harus diterima.

Kulihat gundah. Kulihat sedih.

Aku bersiap terima amarah.

Tapi Aku tak melihat amarah.

Aku cuma melihat kesedihan.

dan itu. Berat.

Dari mulut Ibuku cuma terucap, "Aku sedih. tapi Engkau telah menjadi lelaki dewasa. Dan melihatmu menjadi lelaki dewasa yang sadar dengan pilihan-pilihan hidupmu adalah doaku. Baiklah, hanya satu pintaku. Jangan suruh Aku berhenti berdoa dan meminta pada Tuhan. Sebab, jika ini harus diubah dan tidak ada manusia yang mampu mengubah, Kuharap Tuhan bisa mengubahmu"

So, here I am...

lelaki yang berusaha menjalani hidupnya. Itu saja.

Menyambung dengan ucapanmu kemarin saat kita ngopi-ngopi.

Boleh-boleh saja mendoakan. Engkau pasti akan mendoakan yang baik-baik. hal yang MENURUTMU baik.

Bagus. itulah guna seorang teman bukan?

Tapi jangan pernah berusaha mengubah hal yang diputuskan tak ingin diubah.

Dampingi mereka, jadilah teman dalam suka dan duka.

Siapa tau, kalau memang Gusti Allah menghendaki rencana hidup mereka diubahkan. IA meminjam tanganmu.

Tapi sekali lagi. Biarkanlah mengalir. Jangan menghakimi. Jangan menggurui. Jangan sok tau mana yang baik untuk mereka.

Soal kegalauan hatimu, sehubungan dengan pilihan-pilihan hidupmu.

Saranku cuma satu.

Jangan mengambil porsinya Tuhan dalam merancang hidup.

Setiap saat, Aku yakin, kita akan selalu bertemu dengan simpang jalan. Dan harus memilih.

Jujurlah. Mantapkan hati sesudahnya. Dan Aku yakin, semuanya akan baik-baik saja :)

Demikian ceritaku.

Semoga pilihan yang Engkau akan ambil kali ini berlandaskan kejujuran.

Karena menurutku, kita tak pernah bisa membahagiakan semua orang. Bahkan orangtua kita.

Tapi kalau memang pilihan itu diambil atas dasar ingin membahagiakan orangtuamu... yang sungguh engkau kasihi ... dengan -mungkin- konsekuensi mengorbankan kebahagianmu sendiri. Aku akan mendukungmu dan berdoa mengharapkan yang baik untukmu. Toh, itu menurutku sesuatu yang luhur.

selamat merenung, memilih, dan memutuskan.



Tuesday, May 17, 2011

Matah Ati. Senyawa Indonesia

Beberapa minggu yang lalu, sempat bicara dengan karib lama yang tinggal di Jerman.

Karibku ini kemudian bertanya,"Yang bikin kamu bangga jadi anak Indonesia tuh apa ya?"

Jawaban ala kontestan putri kecantikan segera dikeluarkan.

Gitu deh.

Tapi sebenarnya, Aku kalo ditanya begitu, butuh waktu lama buat menjawab.

Apa yang bikin bangga ya?

Jujur. Aku sulit menjawab.

Pertanyaan dan jawaban sekenanya berhenti di situ saja.

Sudahlah. Kerjaanku lagi banyak-banyaknya. Mbok mikir yang lebih penting saja.

Dasar nasib.

Minggu kemarin, Aku ketiban rejeki dapat tiket gratis nonton Matah Ati.

Dengar punya dengar sih katanya bagus.

Ngintip Youtube nukilan pertunjukannya, kok kayaknya ya benar adanya kabar yang kudengar itu.

Dari beritanya mbah google, konsep pertunjukkan Matah Ati ini mengacu pada langendriyan atau opera jawa yang diciptakan oleh Mangkunegoro IV dari Pura Mangkunegaran Surakarta.

Weleh, iki piye? Langendriyan yang Aku tahu, dialog di dalamnya disampaikan dengan nembang jowo. Bahasanya pun ndak main-main... kromo inggil! tuturan bahasa jawa kelas inggil yang sering kudengar dari eyang putri dan seringkali, aku yang ngakunya orang jawa saja ndak pernah mudeng alias paham maksudnya.

Aduh.

Yo wis, ndak apa-apa. Mari kita jadikan rasa penasaran itu sebagai bumbu.

Minggu lalu. Sembari menunggu pertunjukkan dimulai, Aku sudah ditampar lebih dulu.

Dalam buku program, Jay Subiyakto- penata artistik pertunjukan ini menulis,

"Mungkin hanya bangsa ini yang tidak malu ketika tidak mengetahui sejarah dan kebudayaan bangsanya sendiri"

Alamak.

Atilah Soeryadjaya- produser eksekutif dalam kata pengantarnya bicara,

"Ini lahir dari rasa prihatin dan mimpi. Aku ndak terima dan sedih. Mosok tho yo, di koran luar negeri ada di tulis "Solo is a haven for terrorist"... duh Gusti. Saya ingin menjawabnya dengan karya"

Saat membaca kata pengantar dua orang seniman ini saja Aku sudah ditampar dengan keras.

"Kebudayaan adalah siapa kita dan apa yang kita perbuat untuk kelangsungan jati diri Bangsa dan Negeri tercinta" -Jay Subiyakto.

Ah, Aku sudah tidak nyaman lagi duduk di luar. Aku ingin segera masuk.

Ayo, mulai pertunjukkannya dong!

Kawan, ijinkan aku mencoba bercerita semampuku tentang Matah Ati ini ya.

Matah Ati bercerita tentang roman seorang perempuan dari desa Matah bernama Rubiyah. Jatuhlah cintanya pada Raden Mas Said, bangsawan keraton yang karena intrik istana, terbuang dan menjalani hidup sebagai rakyat biasa.

Lelaku dijalankan. Rubiyah menjadi simbol perempuan jawa yang trengginas, kuat dalam kelembutan.

Kesetimbangan berlaku. Raden Mas Said. Lelaki yang memimpin dengan rasa. Mengikat perbawa.

Dengan ikrar "Tiji Tibeh, Mati Siji Mati Kabeh. Tiji Tibeh, Mukti Siji Mukti Kabeh" Ia membawa pengikutnya berjuang melawan kumpeni.

Hingga akhirnya Raden Said bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro I dan Rubiyah menjadi garwa dengan gelar B.Ray Matah Ati, yang berarti melayani hati sang pangeran. Dari mereka berdua, turun para penguasa istana Mangkunegaran.

Amplifikasi rasa menerabas bahasa.

Biarkan saja kalau kamu, seperti Aku yang ndak paham bahasa jawa sebagai penutur.

Rasa disampaikan seperti udara yang masuk ke dalam pori dan diam di hati.

Lewat irama dan titi nada, kesenduan, kegundahan, dan suara hati Rubiyah langsung terasa.

Adegan dari babak pertama ini sungguh menggetarkan. Tentang Rubiyah yang gundah dan punya segudang pertanyaan tentang dirinya dan apa yang hidup janjikan untuknya. Aduh, bisikan lirih lewat tembang jawa yang bahkan bahasanya saja tak kumengerti kenapa bisa membuatku menitikkan air mata.

Ini adalah adegan saat rombongan Raden Mas Said melintasi desa Matah dan kali pertama bertemu dengan Rubiyah. Ada satu adegan setelah ini saat Raden Mas Said melakukan tapa brata kemudian menari dengan seorang gadis yang menitis dalam lelaku tapa. Aku dibuat merinding entah kali yang keberapa.

Adegan peperangan pasukan Raden Mas Said dengan pasukan Belanda. Caping dijadikan simbol gerilya.


Adegan Pesta Agung. Perayaan kemenangan sekaligus pesta pernikahan Raden Mas Said dengan Rubiyah.

Saat panggung tutup tirai. Pertunjukkan usai. Aku seperti menemukan cara menjawab pertanyaan, "Apa yang membuatmu bangga jadi anak Indonesia?"

Matah Ati adalah senyawa Indonesia yang menjelma.

Mungkin telat, tapi upaya mengumpulkan jawaban kenapa Aku wajib bangga jadi bagian bangsa besar bernama Indonesia, buatku bisa dimulai. Sekarang.



note: gambar diunduh dari berbagai sumber di internet, fotografer Davy Linggar

Friday, April 22, 2011

Burung pipit pulang kandang


Di twitter aku sempat menulis:
"Burung pipit rindu sarang. Sayapnya letih. Ia mau istirahat"

Terus terang Aku ndak pernah serindu begini untuk pulang ke rumah. Tapi entah kenapa beberapa minggu sebelumnya, Aku kepikiran rumah. Kepikiran pulang ke Semarang.

Apalagi kalau menurutkan logika. Duh, tanggal tua belum gajian hehehe. Sangking kepengin pulang, sempat mikir, "Pokoknya mboh piye carane Aku harus pulang"

Keputusan yang tepat Agus.

Aku baru ngabari Mamah kalau Aku pulang semalam sebelum berangkat.

"Emang kamu ada uang buat pulang?", Mamah menggugat.

Hahahaha pertanyaan yang sudah bisa ditebak.

"Ada, tenaaaang!", padahal hati kebat kebit.

"Bawain Johnnie Walker Blue Label doooong!", Mamah berfatwa.

Duh, tau aja sekarang aku handle brand ini. Mintanya yang varian kelas inggil pula. Tau aja barang mahal.

"Lain kali ah, nggak ada uang nih! bye!", pembicaraan kusudahi sebelum permintaan mulai aneh-aneh hahahahaha.

Pulang ke rumah disambut air muka sumringah si Mamah, sungguh membuat manis hati yang sedang tawar.

Rasanya hangat.

Seperti baterai kosong yang bertemu dengan charger.... eerrrrr analogi yang aneh. tapi sudahlah.

Hari itu, Mamah masak spesial buatku.

Sayur lodeh, sambel terasi, dan sate babi.

well, sate babinya nggak bikin sendiri sih. beli jadi.

"Aduh, kamu kalo makan apa selalu serakus ini?"

Hahahahah... si burung pipit kelaparan dan siap menggendut selama dua hari ke depan.

Lalu kami bicara.

Tepatnya sih, mendengarkan si Mamah bercerita panjang lebar tentang apa saja.

Ceritanya selalu dimulai dengan,"Kamu tau nggak sih Gus ..." macam ibu-ibu rumpi di sinetron.

Tapi momen rumpi ini menyenangkan buat kami berdua.

Jadi semakin sadar, orangtua kita semakin tua semakin rentan kesepian. Dan kita, anak-anaknya adalah penawar sepi mereka.

Mereka cuma butuh didengar. Mereka nggak butuh mendengar,"Tuh kaaan, Aku bilang juga apaaaa...." dari anak-anaknya.

Anggap aja ini bayaran impas waktu mereka dulu dengan sabar mendengar rengekan kita yang suka minta ini itu.

Kami saling mengisi daya hidup dengan cara yang sederhana tapi menyenangkan.

Dengan bicara.

Aku tetap menyimpan rasa kuatir dengan pola makan si Mamah. Ia semakin tua. Syukurlah kebiasaan merokoknya sudah berkurang, mendekati berhenti.

Kebiasaannya minum bir hitam juga jauh berkurang, mendekati berhenti.

Perempuan di depanku ini adalah perempuan paling perkasa yang pernah kukenal sepanjang hidupku dan mulai rapuh dimakan umur walau semangat hidupnya akan selalu sama.

Sambil mendengarkan si Mamah bicara dengan selalu membuka kalimat, "Kamu tau nggak sih Gus ... "

Di kepalaku, aku sibuk mengenang masa kecil. Masa di mana perempuan perkasa di depanku ini membangun dasar untukku bisa tumbuh.

Aku punya proyek besar.

Aku mau menulis sebanyak mungkin tentang kenangan masa kecilku.

Supaya nanti, kalau Aku pulang lagi.

Aku punya tulisan yang bisa kubacakan buat si Mamah.

Burung pipit pulang sarang.

Hatinya Senang.

Wednesday, April 20, 2011

E-N-G-K-A-U



Karena engkau, aku mengerti makna kata PULANG dengan sebenar.

Karena engkau, aku menemukan pemaknaan baru kata RUMAH.

Karena engkau, kata SABAR esensinya menjadi sedemikian sederhana untuk dijalani.

Karena engkau, kata SYUKUR seperti oase saat aku lelah.

Karena engkau, sekarang aku tahu kata MIMPI harus berkawin dengan kata HARAPAN.

Dan yang terakhir, karena engkau, aku jadi tahu kemana dua kata TERIMA KASIH mesti bermuara.

Ijinkan saya menitip kenangan


Jaman Aku masih kecil. Tustel barang mahal. Daripada afdruk foto, mending uangnya buat makan.

Mamahku bilang,"mari membekukan kenangan dengan menulis apapun yang terjadi dalam lintasan hidup kita"

Dan itulah yang Aku lakukan sampai sekarang.

Pada huruf, kata dan kalimat Aku menitip rasa.

Supaya saat kemampuanku mengingat segala detil hidup, menghilang dayanya. Aku bisa datang pada huruf, kata dan kalimat untuk minta diceritakan ulang.

.......................................

Mamahku bilang, Hidup ini punya banyak cerita.

Jaman Aku masih kecil. Sering diajaknya Aku ke Pasar Anyar, Bogor.

Sambil menikmati es teler dan mie bangka, si Mamah bilang,"Kamu liat deh, tukang ikan itu. Menurutmu dengan air muka yang masam begitu apa yang dia rasakan hari ini? Ceritakan padaku detil hidupnya"

Dan mulailah Aku mereka cerita, membangun jalan hidup tukang ikan di depanku. Apa suasananya hari ini. Bagaimana Ia menjalani hidup. Kenapa Ia bersedih.

Sepulangnya, Aku tulis di buku biru tebal yang dibeli Mamah di toko buku Naga Mulia, ceritaku tentang si tukang ikan.

Dari situ, Aku terbiasa menitip rasa pada huruf, kata, dan kalimat.

Mungkin ini sebabnya sekarang, Aku suka menikmati momen duduk di pojok ruang kedai kopi sendirian. Mencuri dengar pembicaraan. Mencuri cerita. Kemudian mereka-reka cerita versiku dari momen yang baru saja kunikmati.

....................................

Juru foto punya tustel.

Aku punya kertas dan pena.


Monday, April 18, 2011

Ketika Aku bicara padaMU


Di twitter, Joko Anwar bertanya,"Kalau Tuhan bisa mendengar meski kita bicara dalam hati, seberapa pentingkah bersyukur out loud?"

Beberapa hari yang lalu, sepulang kerja, jam delapan malam. Rumah sebelah kamar kost mengadakan kegiatan berdoa bersama. Pemimpin doa memimpin menggunakan pengeras suara dengan volume super semacam konser dangdut tujuh belasan.

Sambil ganti baju, dan bersih-bersih selepas kerja, Aku berharap semoga nggak ada yang sedang sakit gigi cenut-cenut, atau baru saja seharian kena marah klien.

Aku yakin. Kalau memang ada yang sedang sakit gigi, atau sedang emosi tingkat tinggi dan butuh sedikit mencuri tenang sesampai di rumah selepas kerja seharian. Satu hal yang mereka inginkan bukan mendengar suara bervolume super membahana.

Mau itu kumpulan orang sedang berdoa keras-keras. Atau bahkan suara kumpulan orang sedang bernyanyi dangdut.

Jadi inget jaman masih kecil, si Mamah mengajarkan kami bicara sama Tuhan.

Si Mamah pernah bilang, "Pernah mbayangin nggak, kamu punya teman, setiap ketemu, selalu mengeluh. Rewel. Yang diceritain hal yang sedih mulu. Udahlah rewel, mintanya macem-macem pula. sebel nggak punya temen macam begitu?"

AKu,"Sebal luar biasa"

Mamah,"Nah, bayangkan temanmu yang kayak begitu nggak cuma satu. tapi satu sekolahan. Dan setiap hari, kamu ndak bisa bilang ndak, harus dengerin mereka ini satu demi satu. kamu ngerasanya gimana?"

Aku,"Aku pasti muntah"

Mamah,"Aku juga sebal kalo tiap kamu pulang sekolah, yang diceritain selalu hal-hal yang menyebalkan. Semacam ndak ada kabar baik hari itu. Aku sih ndak keberatan kamu lagi sedih dan mau cerita. Tapi masak sih idupmu sedih mulu. Aku juga pengen dong denger cerita menyenangkan dari anakku"

Mamah, "Tapi Tuhan maha baik"

Lalu si Mamah bilang:

Berdoa itu berbicara. Bukan meminta.

Gunakan sanubarimu. Pakai hatimu.

Berbisiklah dalam hati.

Ceritakan padaNYA hal menyenangkan yang terjadi pada hari itu, lebih dulu. Berterima kasihlah.

Permintaan itu hanya bagian kecil dari pembicaraan. Karena tanpa diminta pun, IA akan memberi.

.....................

Sekarang Aku ingin menambahkan:

Dan, untuk bicaranya padaNYA. Nggak perlu pake TOA.

Tuesday, March 22, 2011

Bayarannya apa?


Kemarin, sahabatku bercerita tentang kesusahan hatinya. Ia sedih.

Hidup menurutku akan selalu penuh keajaiban.

Ibarat buku, hidup adalah sebuah buku yang menyajikan pada kita cerita dengan plot yang mengejutkan. Kita tak pernah tahu kemana arah cerita mengalir sampai kita membuka lembaran berikutnya.

Liku hidup tak pernah di duga.

Dan hidup, sekali lagi, penuh keajaiban.

Kawanku pernah bilang, "Kalau rencana Gusti Allah itu bisa ditebak oleh kita, maka Gusti Allah sudah tidak maha luar biasa"

Bener juga ya.

Wahai sahabatku yang sedang berduka.

Aku pernah menulis begini:

Anggaplah kita ini seperti batu kali.

teronggok di pinggir kali.

tak berbentuk.

tak indah.

Gusti Allah seperti pemahat patung yang menemukan kita.

Pelan-pelan, IA akan mengikis, memukul, membuang, dan mengambil hal-hal yang dianggapNYA tak perlu melekat.

Terus berulang-ulang. sakit. sampai terkadang kita sering bertanya sebenernya apa sih rencanaNYA buat hidup kita.

Sampai kemudian tiba-tiba batu kali yang tadinya tak berbentuk itu menjadi karya seni, baru kita sadar bahwa rencanaNYA itu akan selalu indah.

Semoga kita diberi kekuatan dan kesabaran menjalani proses saat IA memahat hidup kita.

Kalau ditanya, "Gusti Allah, lalu bayarannya apa sudah bikin hidupku indah?"

Kurasa IA akan berkata, "Bayar AKU dengan yakin, percaya, dan sabar"

Monday, March 21, 2011

Dan, katanya ini CINTA


Kemarin, karibku nun menikah.

ini sebagai hadiahnya:



Katanya, ini cinta

Mulai hari ini, kukembangkan layar dan kau nakhodanya.

Mulai hari ini, cerita hidup kita tidak akan pernah sama.

Padamu, ingatkan Aku untuk selalu membayar jasamu. Karena engkaulah yang menemukanku dan berjanji membawaku ke relung-relung hidup yang tak pernah Aku duga sebelumnya.

Aku berhutang hari ini, esok, dan selanjutnya.

Ini adalah, saat dimana keping jiwaku menemukan pemiliknya.

Mulai hari ini, kukembangkan layar dan kau nakhodanya.

Cerita hidup kita tidak akan pernah sama.Lagi.

Ingatkan Aku untuk selalu mengenang hari ini, saat Aku perlu semangat agar selalu bisa melihatmu tersenyum ketika engkau membuka pintu rumah kita.

Ingatkan Aku untuk selalu mengenang hari ini, saat Aku menitipkan kenangan pada kerut-kerut halus yang muncul di ujung mata, bibir, dan lengan kita.

Ingatkan Aku untuk selalu mengenang hari ini, saat estafet hidup kita berpindah tangan kepada malaikat-malaikat kecil hasil buah cerita cinta.

Ingatkan Aku untuk selalu mengenang hari ini, supaya aku bersyukur bahwa akulah lelaki paling beruntung itu.

Ingatkan Aku selalu mengenang hari ini.

Hari saat engkau memilikiku, sepenuhnya.


Sunday, March 20, 2011

Catatan kecil untukmu


Kamu meminta, "ceritakan padaku rasa itu!"

Memintaku menggambarkan rasa padamu seperti memindahkan lautan ke dalam gelas.

Seperti membuka kotak perhiasan yang ditabrak matahari pagi.

Seperti bara yang setia pada hangat.

"Biasanya kau selalu bisa memindahkan rasa ke dalam kata, lakukan itu untukku", katamu.

Padamu, kata menunduk menghamba rasa.

Padamu, rasa itu terlalu besar kuasanya.

Terlalu besar.

Semoga kamu mengerti.

Dan, detik ini, aku menghamba padamu.

Friday, February 18, 2011

Rekapitulasi

Dulu, si Mamah selalu menekankan begini:

"Aku mau, anak-anakku bisa jujur sama dirinya sendiri, tau apa yang mereka mau, dan mau kerja keras untuk itu!"

Aku diajar untuk selalu percaya pada mimpi-mimpiku.

Kebohongan itu tabu. Apapun alasannya.


Kejahatan paling inggil dimata si Mamah, adalah membohongi diri sendiri.


Kebebasan paling utama adalah ketika kita meyakini segala mimpi yang kita punya
dan berusaha untuk mewujudkannya.

Ujung 2010, Aku memutuskan untuk menulis surat pengunduran diri.

Bukan karena ndak suka lagi dengan pekerjaan di sarang nyaman itu.


Aku kepengin lagi seperti anak burung yang belajar terbang kali pertama.


Mau memberikan sedikit waktu untuk diriku sendiri melihat kembali daftar
mimpi-mimpi yang belum tuntas diwujudkan dan harus dikejar.

Gusti Allah membuktikan dukunganNYA lewat:

Januari
Keinginanku untuk membayar tuntas mimpi seorang Agus kecil seperti dimudahkan.

Pengen punya dan nulis buku, satu-satunya mimpi yang belum terbayar.

Iya, memang buku itu cuma kumpulan dari tulisan-tulisan yang selama ini sudah ada di blog. Tapi tetap saja lah Aku butuh waktu untuk memilih mana yang harus termuat, mengedit yang diperlukan supaya lebih enak dibaca dan juga mencari desainer grafis yang bisa membuatkan cover design untuk buku itu.

Ndilalah semuanya dimudahkan. Cuma butuh waktu efektif 2 minggu untuk akhirnya buku itu lahir. Empat mimpi masa kecilku, terjawab semua. Ini buktinya


Januari

Aku diingatkan untuk selalu punya mimpi besar dan yakin bahwa apapun bisa diraih kalau dasarnya niat baik serta mau kerja keras dan tekun.
Aku dapat kesempatan untuk bertemu dengan sosok inspiratif dan punya mimpi luar biasa, tidak hanya untuk dirinya sendiri. Di Flores, aku bertemu dengan perempuan ini:


Alfonsa Horeng namanya.

Perempuan luar biasa yang memberdayakan perempuan Flores dengan menanamkan dan selalu memupuk spirit menenun.
Karena dengan menenun kita akan melihat bagaimana keluruhan budi, kesabaran, ketelitian, ketekukan serta daya imajinasi yang luas dan kreatifitas dalam pribadi perempuan Flores menjelma menjadi karya seni tinggi.

Darinya Aku belajar bahwa keluhuran budi akan selalu menebas rintangan apapun. Interaksi dengan masyarakat adat yang kutemui disana sungguh membuka betapa kayanya negeri ini.

Di Maluku, aku bertemu dengan lelaki ini:

Rence Alfons.

Bung Rence aku memanggilnya. Lelaki yang punya mimpi luhur untuk membangun tanah kelahirannya dan menyatukan spirit Ambon manise lewat Molucca Bamboo Wind Orchestra dengan latar belakang anggota yang beragam mulai dari petani, polisi, pelajar, tukang ojek, penyadap nira.


Aku dibuat merinding kagum saat paduan suling bambu dan instrumen musik tradisional Maluku yang lain seperti toleng-toleng, toto buang, rebana, tifa, dan indahnya suara nyong ambon mengeluarkan pesonanya.

Sekali lagi, lewat Rence Alfons betapa pentingnya punya mimpi dan visi.

Februari
Keinginanku untuk seperti burung kecil belajar terbang langsung dijawab Gusti Allah dengan beberapa tawaran untuk menghuni sarang baru.


Ternyata benar, cuma butuh keberanian untuk keluar dan menutup pintu supaya kita bisa tahu bahwa sebenarnya ada begitu banyak pintu yang terbuka menunggu untuk kita masuki.

Sarang baru sudah dipilih
Burung kecil bersemangat untuk belajar terbang lagi.


note: foto-foto dan cerita detil perjalananku ke kawasan Indonesia timur menyusul ;)

Thursday, February 10, 2011

Cerita Teh dan Kopi


(Dua hati )
(Dua Cerita)
(Satu rasa)

Cerita Teh
Pada gelap semesta,
Aku menulis di udara.
Aku rindu!

Cerita kopi
Atas nama asap yang berpisah dari abu di jariku.
Aku sungguh mencandu engkau.
Pulang sekarang!

Cerita Teh
Dari jendela kedai kopi ini aku melihatnya.
Berlari kecil menghampiri.
Jantungku keburu copot.
Jantungku mencolot.

Cerita Kopi
Sialan, lelaki kayak begini kok bisa mengganggu benak!
celana katun murah, sepatu dengan kaus kaki putih. Situ pikir Michael Jackson.
Dandanan tak berkelas.
Dengan senyum kelas bintang lima.
Damn! sekarang yang murahan siapa ya!

Cerita Teh
Jangan malu, katanya.
Ulurkan tanganmu dan sebut nama, katanya.
berkali-kali kulihat kamu mengikuti langkahku ke sini, katanya.
dan terus terang, aku selalu menanti tatapan mata itu, katanya.
Ah, sedemikian jelasnya kah?

Cerita Kopi
Katanya,
Kamu nggak galak kok!
Kamu cuma rapuh.
Kayak kertas tissue.
Setan! setan! setan!
Aku sebal!

Cerita Teh
Lelaki ini berkata,
Mulai sekarang berhenti menulis kata rindu di udara.
Mulai lah merinduku.
Hatiku ingin berteriak,
Udara kehilangan maknanya.

Cerita Kopi
Lelaki ini berkata lugas,
Jangan ajak aku kesini kalau engkau malu.
Yang merindu bukan aku tapi kamu.
Aku pulang dulu ya.
Mulutku terkunci,
Jangan pergi!

Cerita Teh
"Uhhhmm enak!"
"Bolu kukus paling enak yang pernah kumakan!"
Matanya bercahaya seperti anak kecil kena permen gulali.
Wahai lelakiku ...
Besok kubawakan lagi, masakan penuh rasa hati
Untukmu.

Cerita Kopi
"Aku tambah gendut ya?"
"Makanku banyak belakangan ini!"
"Atau jangan-jangan karena aku sering diomelin sama kamu?!"
"Nggak apa-apa deh .. omelan sayang!"
"Apa? mau masakin aku? nggak salah? ihihihih coba aku pengen liat kamu sukses masak air tanpa gosong panci!"
Ingin rasanya aku tak masuk kantor hari ini.

Cerita Teh
"Ah masa belum pernah ke club?"
"Kamu kan udah tua! heheheh"
"Aih, mukamu merah kayak perawan desa!"
"Ouch ... idih dicubit! kayak lagi pacaran di pinggir kali ah! ini di cafe, sayang!"
-Ihiik- Lelakiku, aku memang seperti Minah gadis dusun bila bersamamu.


Cerita Kopi
"Pssst ..aduh, apa-apaan sih kamu ikutan masuk ke ruang ganti!"
"Aduuuuh, nanti ada yang liat! ini di SOGO sayang, bukan di rumahmu"
"Eh eh eh ... ah ah ah ... sayang .................. jangan ............... aaaaaaahhhhhh ....!"
Iya, aku liar!

Cerita Teh
"Kalau nanti liat penari telanjangnya, matamu jangan melompat keluar ya!"
Kamu dengan mata jenakamu itu.
"Serius kamu baru pertama kali ini ke gay club? serius?!"
sudah diam!
"Ahahahaha tanganmu keringetan!"
diam! diam! diam! aku malu aku takut!
"Tenang ... ada aku, kamu akan baik-baik saja!"
Tatapan menenangkan itu, wahai lelakiku, justru membuatku semakin ingin pulang dan mencumbumu ....

Cerita Kopi
Aku membalas SMS yang dikirimnya..
"Heeeeeh .... hari gini nggak ada tuh yang bilang SELAMAT BERCENGKRAMA! cis!"
Tapi entah kenapa, senyumku tak pernah mau pergi setiap membaca lagi smsmu, wahai lelakiku.

Cerita Teh
Masih terngiang-ngiang yang dia bilang,
"Ibuku selalu bilang, laki-laki nggak boleh pake tissue! Harus pake saputangan. Nih, kado dari aku... dipake ya ... biar inget aku terus!"
Sekarang aku memegang saputangan kedua dari 3 buah yang kau beri. Setiap memegangnya, hatiku menghangat.


(cerita akan terus lanjut)


Monday, February 07, 2011

Hujan dan Senja


Pada sebuah kedai kopi

Hujan dan Senja berbicara...

Hujan berkata,

Wahai Senja, magnet hidup membawaku padamu

Aku rela, meskipun nanti sepeninggalnya, aku tak berbentuk terpanggang hangatmu

Senja tak menunggu lama

Senja menanggalkan pakaiannya

Senja mencumbu

Hujan merindu

dan lantai menjadi saksi bisu .....

........................................................................


note: gambar dipinjam dari gettyimages

Saturday, February 05, 2011

Pertanyaan dan Mimpi


Aku sekarang paham bahwa impian dan harapan, sebenarnya adalah pertanyaan-pertanyaan kita pada sang Pemberi Hidup tentang apa yang sudah disiapkanNYA untuk hidup kita.

Jaman Aku dan Aan -adikku- masih kecil, kami terbiasa mendokumentasikan hidup lewat kata. kalimat. tulisan.

Semua pertanyaan kami pada Gusti Allah terdokumentasikan tidak saja di benak. Tapi juga di dalam sebuah buku besar tebal berwarna biru yang Mamah beli di toko buku favorit kami "Gunung Mulia", Bogor.

Sebuah buku yang menyimpan bukti bahwa segala pertanyaan kita tentang hidup PASTI akan selalu dijawab sama Gusti Allah.

Sayang, buku besar itu hilang saat banjir besar sewaktu kami tinggal di Semarang.

"Aan besok kalo udah gede, mau jadi polisi!", bisa?

"Aan besok kalo udah gede, mau cari sekolah gratis! keluar udah jadi orang pangkat!", bisa?

"Gaji pertama Aan kalo udah kerja buat patungan beliin Mamah tiket pesawat!", bisa?

Aku belajar untuk tidak lupa dengan mimpi-mimpi yang Aku punya.

Dulu, Agus kecil pernah menulis begini:

"Mimpiku kalo besok udah gede: aku mau jadi penyanyi, penyiar radio, kerja di TV, dan nulis buku kayak Gola Gong, Andra P Daniel, Hilman, dan Enyd Blyton"

Aku berhutang pada Agus kecil.

Hutangku dibayar cicil dengan menjalani hidup tanpa pernah melupakan impian-impian itu yang merupakan pertanyaan pada Gusti Allah.

DijawabNYA tuntas. Pada porsinya masing-masing.

Keajaiban adalah sebuah keniscayaan pada orang yang percaya.

Mimpi pamungkas si Agus kecil, terjawab. Lunas.

Isi buku kecil ini sebenarnya hanya kumpulan-kumpulan tulisan dari usahaku untuk membekukan kenangan. Mendokumentasikan hidup.

Isinya sangat pribadi. Mungkin tidak punya makna istimewa buat yang lain.

Tapi ini mimpi yang menjadi bentuk.

Untuk Agus kecil, mimpimu tuntas!

Saturday, October 16, 2010



Pada satu waktu,
Sebatang rokok jatuh cinta pada sang tuan

Ia memuja
Kepadanya, dibiarkan sang tuan mengambil bagian penting dalam hidup.

Ia pasrah
Kalau pada ujungnya, Ia menguap tak bermakna
Meninggalkan hanya sisa abu yang sebentar lagi hilang

Ia rela
pelan-pelan disakiti, dibakar api.

Tidak apa-apa.
Mengabaikan kebendaan. Cinta, sejatinya adalah energi luar biasa.

Sebentar lagi, karena cinta, esensi hidup sebatang rokok menemukan tempat nyaman.
Ia akan selamanya memeluk lengket dalam tubuh sang tuan.
Mengalir bersama darah.

Ia menunggu dengan sabar
Giliran untuk terambil dari bungkusan.

Ia berteriak-teriak memanggil.
Tapi nasib memilih tidak berteman.

Satu per satu, sang tuan mengambil batang demi batang.

Sampai tinggal Ia seorang.

"Ah, sekarang giliranku", pikirnya penuh suka.

kemudian terdengar bunyi kematian.

Sang tuan, memutuskan untuk berhenti merokok.

Ia gundah bukan kepalang.

Sedih tak tertahan.

Cinta tak bertemu muara.

"Malam ini, aku akan berdoa sepenuhnya, semoga besok, waktuku tiba", pikirnya.

Malam berganti, pagi tiba.

Sebatang rokok membuka mata.

Gelap.

Wahai, gerangan dimana sang tuan?

Kenapa matahari pun tak ada?

Sebatang rokok, berujung di tempat sampah.

dengan cintanya.





Saturday, October 02, 2010

Mari Menjadi DALANG


Semalam, saya nonton film ini.

Legends of The Guardian. Seru.

Film yang mengajarkan banyak hal.

Satu adegan di film itu yang melemparkan saya ke masa kanak-kanak.

Di awal, cerita, anak burung hantu sungguh terpesona dengan dongeng sebelum tidurnya.

Ksatria.


Nilai baik.

Yang jahat pasti kalah.

Yang baik, menang dengan tidak mudah.

Pada dongeng sebelum tidur, anak burung hantu ini belajar banyak hal.


Betapa pentingnya punya keyakinan.


Betapa pentingnya punya mimpi.


Saya jadi ingat.

Betapa dulu, saya sungguh menikmati Mamah bercerita pada kami berdua -aku dan Aan- adikku.


Ceritanya apa saja.

Timun mas yang dikejar-kejar raksasa, sampai raksasa mati tenggelam dalam lumpur hisap begitu timun mas melempar terasi ajaib.


Bisma yang punya kesaktian tak bisa mati kecuali Ia menginginkannya.

Kancil yang licik. cerdik tapi dipakai membodohi. Betapa Mamah benci dengan tokoh kancil ini.

Rahwana yang punya sepuluh muka menyeramkan. Padanya, sepuluh sifat jelek manusia melekat.


Mamah bukan pendongeng yang baik.


Selalu ada jeda sebelum cerita berlanjut.

Ia mencoba mengingat pakem cerita yang dibawa. Kalau lupa, yaaaa, mulailah beliau improvisasi sepenuhnya.


Meski begitu, ceritanya selalu mengagumkan.


Sampai pada akhirnya beliau menyerah.


Lemari memori di otaknya sudah dibongkar. Cerita yang diingatnya habis sudah.

Pada majalah Bobo, Kuncung, Tomtom, Ananda, Kawanku dan Tom Tom beliau bergantung.

Mulailah Mamah hanya menemani kami melahap cerita di majalah itu sebelum tidur sambil menampung pertanyaan-pertanyaan ajaib dan dijawab dengan logika sekenanya supaya kami puas pertanyaan menemukan jawaban yang lagi-lagi ... hanya sekenanya hehehehe

"Kita bisa beli dimana kantung si pak janggut ini?"


"Kenapa Paman Kikuk selalu kikuk? jahat sekali saudara dan teman-temannya tak mengajari Ia untuk tidak kikuk. Kikuk kok jadi bahan tertawaan. harusnya kan kasihan!"

"Baju Nirmala itu siapa tukang cucinya ... kasihan sekali tukang cucinya harus mencuci baju sebesar itu... kalau hujan turun, ada berapa baju merah jambu besar yang Nirmala punya?"


"Kenapa majalah ini namanya TomTom ... yang punya majalah, namanya Tom Tom kah? kayak apa orangnya?"


"Deni manusia ikan itu pernah makan sambal nggak ya?"


"Celana si Oki, sahabat Nirmala ini kayak celana senam punya Mamah ya! celana Oki warna hijau ... punya Mamah merah!"


Sampai pada satu saat, Mamah membuatkan kami layar wayang dari kertas gambar tipis ukuran besar.

Pada kiri kanannya diberi tiang dari lidi panjang, ditancap kiri kanan pada kaleng susu indomilk bekas.
Diguntingnya gambar-gambar lucu dari majalah yang sudah kami baca. dilekatkannya pada sebatang lidi supaya bisa kami pegang.

Rupanya, Mamah sudah bosan mendengar kami bertanya ini itu hahahahah.

"Sekarang giliran Mamah didongengi...kalian dalangnya"

Kami mulai bergantian sebelum tidur mendongeng untuknya.

Ceritanya apa saja.


Imajinasi anak-anak seluas samudra. Improvisasi cerita terjadi setiap saat. Kalau ditanya alasan kenapa si ini digituin .. si itu dibegituin... si anu kok harus begitu ... alasannya bisa macam-macam. Argumen diciptakan. kesahihannya mutlak tidak perlu ditanya. Pokoknya ya harus begitu.

Mamah bertanya, "Kok dia harus kalah? ..."


Jawaban kami, "Ya karena dia begini begitu...bla bla bla"


Butuh waktu sampai saya lulus SD sampai akhirnya saya bosan dengan dongeng sebelum tidur itu.


saya mau menyambungkan itu dengan pemikiran saya sekarang.


Oleh Gusti Allah,
kita ini seperti kanak-kanak yang dibekali layar kertas lebar.

sekotak wayang. dari kotak wayang itu kita bertemu dan berkawan.

Cerita berjalan. dan, kita sendiri sebenarnya yang menjadi subyek aktif penentu cerita.

Semua hal tidak terjadi atas dasar keniscayaan.


Akan selalu ada alasan kenapa lakon berganti, cerita berganti, dan siapa saja yang datang dan pergi.


Setelah nonton film itu, Saya seperti diingatkan Gusti Allah
"Agus, kamu sudah aku beri sinopsis besar. awal dan ujung. Sekarang, kamu adalah sang dalang. Berikan aku detil cerita dari sinopsis besar yang KU beri"

Sampai sekarang dan nanti, saya, sang dalang, sedang bercerita.

Menghidupkan hidup.


Salam.


Friday, September 17, 2010

Sang Pencerah itu....


Tonton film ini!

Abaikan saja bila ada kekurangannya.

Saya cukup bangga, film Indonesia akhirnya ada yang seperti ini.

Music scoring-nya demikian indah.

Saya rasa, mereka yang ada dibalik pembuatan film ini sudah sedemikian berusaha keras untuk menyampaikan rasa. Ketika ini terjadi, buat Saya, sebuah film menjadi bernyawa.

Abaikan saja alur penceritaan yang terkadang terbata-bata.

Abaikan saja ketika beberapa kali muncul dialog sang tokoh utama, KH Ahmad Dahlan yang terlalu dipaksakan berusaha indah dan penuh filosofi tapi jatuh menjadi "garing" karena diterjemahkan dalam akting hati-hati oleh sang pemeran.

Abaikan saja ketika beberapa kali, akibat dialog yang maunya dipanjang-panjangkan, sang tokoh utama jadi terkesan 'menyek-menyek', gampang mutung alias putus asa dan kok ndilalah seperti sakit2an heheheheh. Karena, di dalam angan Saya, seorang tokoh dengan visi yang demikian mengagumkan macam Ahmad Dahlan ini, air mukanya tegas, penuh wibawa, memancarkan perbawa yang bikin orang sekitar kagum. Tapi, Lukman Sardi membuatnya macam lelaki yang dibentak sekali saja sudah terbatuk-batuk dan matanya langsung sayu.

Film ini, layak ditonton.

Nikmati saja keindahan makna.

"Wong bodo itu ndak semata karena pendek akalnya lho thole cah ngganteng. Wong pinter yo bisa saja jadi bodo kalau Ia semata memakai akal tapi nuraninya digadaikan!"

"Meyakini itu perkawinan antara akal dan nurani. Lha, kalau cuma nurani saja, ati-ati lho,njungkel jadi FANATIK! pakaian nurani, ya akalmu!"

"Bahkan, manusia dengan visi hidup yang luar biasa pun bisa meragu!"

"Kalau kita tahu yang terbaik, lalu, buat apa kita ada di sini di dunia ini?"

"Sampeyan melabelkan Saya kafir, tantanglah keyakinanmu dengan akal!"

"Agama itu seperti musik. Meneduhkan, membuat tenang, membawa damai. Supaya begitu? belajarlah titi nadanya. Musik dengan titi nada yang berantakan, bikin marah, bikin mumet!"

"Memaknai agama tidak hanya dengan tuntas membaca semalam suntuk. Tindakanmu cerminan setiap kata yang engkau baca, meski itu hanya 1 ayat saja. Berbuatlah!"

"Raga bisa kau robohkan, tapi, mampukah engkau merobohkan jiwaku?"

Hati saya hangat setelah menikmati film ini.

Diluar sosok, saya memahami.

Sang Pencerah itu ada di dalam hati kita semua.

Sang Pencerah itu, Akal dan Nurani.

Salam.


Tuesday, September 14, 2010

Upin & Ipin, Unyil Kucing (Mudik 2010, Part IV)

Beberapa waktu lalu sempat di-tag notes-nya Mbak Tatyana tentang film kartunanak-anak Upin&Ipin.

Berkunjung dan kenalan deh sama Mbak Tatyana Soebiyanto di facebook, terus baca notes-notesnya.

Dijamin kecanduan. Sayang dia jarang nulis notes.

Tapi sekalinya nulis, wah, mareeeem! mantaap tenaaaan!


Halaaaah iki opo tho yooo kok malah ngalor ngidul hehehe.

Tulisan Mbak Tatyana tentang si Upin & Ipin itu jadi pemicu tulisan ini.

Pulang kampung, selain secara tidak resmi menjadi pengganti asisten rumah tangga selama mereka tidak ada, juga merupakan kesempatan emas buat Raihan,keponakanku semata wayang untuk bebas "memperbudak" Pakdhenya.

Ngemong keponakan.

Karena ngemong Raihan ini lah selama pulang kampung aku jadi hampir setiap hari nonton Upin & Ipin di rumah.

Dan karena hampir setiap hari nonton kakak beradik yang jalannya kayak tuyul inilah, Saya
kemudian bisa mengerti kenapa Mbak Tatyana suka sekali dengan Upin & Ipin.

Inilah sosok kanak-kanak sebenarnya.

badung.

pengen tau segala hal.


lari kesana kemari.


bikin sewot orangtua.


dan yang paling penting,
terpuaskan hasrat bermainnya.

Sejatinya, kanak-kanak harus dijauhkan dari hal-hal yang mengagungkan individualitas.


lha piye, beberapa kali aku lihat ada anak balita kok yo wis jago tenan maen PSP.


Ditowel dikit sama orangtua diajak ngobrol, kok yo ngamuk.


Kalo aku jadi Bapaknya, wis tak buang PSP-nya itu.

Upin & Ipin mengingatkan para orangtua bahwa dunia anak, ya bermain.


Titik.

Jaman mbiyen waktu aku kecil.


Nilai yang sama, ditawarkan sama si Unyil.

Mau katanya disisipi propaganda orde baru kek, nyata-nyatanya dulu aku juga ndak paham kok
isi propagandanya apa.

Yang aku ingat dan aku setujui adalah:


manjat pohon jambu itu menyenangkan.

maen ujan-ujanan dan belepotan lumpur itu menyenangkan.


mandi di kali menyenangkan.


maen musik ala-ala band dekil, band-nya si Unyil itu keren.


maen sepeda rame-rame itu cihuy.


orang itu ada yang licik, pemalas, kikir, manipulatif dan mestinya ndak boleh begitu.

Upin & Ipin serta Unyil mengingatkan bahwa kanak-kanak belajar lewat bermain.

Wis, piye maneh, jadi orangtua itu, kalau mau disebut profesi, adalah profesi paling menantang sedunia.

Ndak ada sekolah untuk menjadi orangtua.

Jadi orangtua itu, ibaratnya kayak orang yang langsung kecebur di kolam renang.


Opsinya cuma satu.

Belajar untuk bisa ngambang dan selamat sampai tujuan.


Selama hampir empat tahun mengurus salah satu klien brand susu pertumbuhan anak dan terpapar dengan banyak "first time mom & dad" (uedan, aku mulai keminggris hehehe) Aku banyak ketemu dengan orangtua muda yang salah kaprah.


Kebanyakan dari mereka pengen anaknya pinter.

Ndak salah.

Tapi, kalau kebablasan, menurutku sih agak ngeri dampaknya.


Yang dikejar cuma aspek kognitifnya semata.


Pokoknya pinter!

Aku memang belum jadi orangtua.


Tapi di pemahamanku, untuk menjawab tantangan masa depan.


Pintar saja nggak cukup.
diatas itu, seorang anak dibutuhkan untuk jadi TANGGUH.

Anak tangguh, kalau dikasih masalah, ndak nglokro alias cepat mengeluh tapi sigap mencari alternatif-alternatif solusi.


Di keseharianku aku sering ketemu junior yang begitu mentok masalah dikit, ngeluh ngalor ngidul ....
"Ya ampuuun ... lo kagak tau aje dulu gue lebih nista cobaannya dari elu! yet, here i am ... i'm survive! please deh!", dalam hati.

Untuk bisa jadi anak tangguh, gimana?

Dalam pemahamanku, ya, biarkan si anak banyak belajar hidup lewat satu-satunya cara yang menyenangkan untuknya.


Bermain.


Boso enggrisnya, "Learning through playing"


Aku suka sebal dengan orangtua yang "horny" banget nyari kegiatan sekolah ini itu, untuk stimulasi ini itu, biar anaknya bisa ini itu.


Padahal, dua-duanya kerja. nyebelin kan?!


Mbok ya ketimbang kirim anak mereka masuk kelas ini itu yang tadi itu, ajak main kek!


Jadi inget, jaman Aku sama Aan masih kecil.


Mamah ndak pernah nyuruh aku belajar hehehehe cuma diancam sih, "Kalau sampe kalian ndak naik kelas, Mamah kirim kalian ke Panti Asuhan ya! Mamah nggak mau ngurus kalian lagi!" Udah. Itu aja.

Ndak pernah nanya udah ngerjain PR atau belum. Ulangan dapet berapa. Yang penting ndak jadi anak brandal! nggak jadi preman. naik kelas.


Kami dibiarkan bebas bermain sama anak-anak kampung.

pulang ke rumah dengan bau keringat amis karena terbakar matahari.


pulang ke rumah dengan baju yang kotor sana sini, makanya si Mamah paling males kalo harus beliin baju mahal. Yang murah-murah aja.

adem ayem aja kami berdua main hujan-hujanan dan guling-gulingan di lumpur. Untung dikasih obat cacing Upixon secara teratur.


adem ayem aja kalo kami berantem sama anak-anak kampung itu. Malah, kalau pulang ngadu justru dimarahin. Yang ada, kami diantar ke TKP sama si Mamah dan disuruh berantem hahahahaha


Tapi, kalau ketahuan curang, mencuri, ngerusak barang orang lain. siap-siaplah disambut si Mamah di depan pintu dengan gagang sapu atau selang air. bisa kena sabet kita! hihihi


Ketahuan nyontek, beeeuh... ancur idup kita hahahaha ... Mamah pernah bilang, "Aku nggak malu punya anak bodoh, tapi sampe jadi curang dan pecundang, malu luar biasa!"


Balik ke jaman sekarang, aku jadi mikir. Berapa banyak ya anak sekarang yang tau betapa menyenangkannya maen ujan-ujanan dan belepotan lumpur?

Berapa banyak ya anak-anak jaman sekarang yang bisa merasakan keceriaan gaya Upin & Ipin itu?


Atau jangan-jangan ini cuma nostalgia aku saja semata-mata.

Diluar hal yang sedih-sedih. Masa kecil ku ternyata lebih banyak senangnya.


Ayo Upin Ipin, kita maen Unyil kucing