Friday, September 07, 2012

Pertanyaan dan Jawaban

Hari ini gue belajar bahwa banyak pertanyaan tentang hidup yang ternyata nggak perlu jauh-jauh dan pusing mencari jawabannya. 

Kita bisa temukan di lingkar pertemanan paling dalam. Dan yang paling penting, kita bisa menemukannya di sebuah tempat bernama: rumah. 

Sent from my iPhone

Monday, July 30, 2012

Diabaikan ...



Setiap kedai kopi ini buka. 

Aku selalu tepat waktu menyambangi. 

Aroma kopi, suara barista meneriakkan pesanan, bunyi desisan mesin uap pembuat buih susu, selalu membuatku tenang dan menerbitkan senyum kali pertama di pagi hari. 

Aku senang di sini. 

Hangat. 

Dari pojok kedai kopi ini, aku bisa leluasa memandangi orang datang dan pergi. 

Melihat air muka mereka yang selalu membawa banyak pesan. 

Lelaki yang temu janji dengan selingkuhannya. 

Perempuan yang curhat masalah kantor dengan sahabatnya. 

Ibu yang menyuapi si kecil dengan kue coklat yang menjadi andalan kedai kopi ini. 

Setiap mencuri dengar pembicaraan di sekitar. 

Setiap mencuri lihat momen-momen di sekitar.

Aku tertular rasa. 

Aku selalu punya keinginan untuk menyapa mereka. 

Mengajak bicara. 

Bicara apa saja. 

Tak ada hal remeh untukku. 

Tapi nampaknya mereka menganggapku sambil lalu. 

Aku cuma pelanggan tetap kedai kopi ini yang selalu duduk di pojoknya. 

Sudahlah kunikmati saja. 

Dan kutunggu sampai mereka menyapa. 

Pada satu saat nanti ….. 

…………………………………….......

"Duduk di pojok itu yuk … kosong tuh!"

"Nggak ah… hawanya nggak enak bikin merinding. Kamu nggak tau kemarin ada satu pelanggan kedai kopi ini mati mendadak sakit jantung di pojok itu?" 

"Ooooh …." 

"Udah ah jangan ngeliat kesitu … serem"


Sunday, May 13, 2012

Selamat Hari Ibu....




Rencananya sih mau menulis tentang Hari Ibu.

Katanya sih hari ini.

Walaupun secara pribadi aku ndak menganggap penting, tapi ya sudahlah.. kadang kita perlu penanda untuk lebih menghargai sebuah momen atau mungkin persona yang seringkali ketulusan dan cintanya suka kita anggap sebagai sebuah keniscayaan alias boso enggrisnya 'taken for granted' … wuih, kalimat panjang ini kok kesannya mbois dan SOK intelek ya hahahaha.. nggak aku banget.

Tadinya juga, tulisan tentang Ibu ini mau kubuat super melankolis dengan pilihan kata puitis yang kalo misalnya aku membacanya kembali, aku bisa menangis haru biru semacam sehabis nonton film drama seri Korea.

Tapi niatan itu batal, gara-gara semalam aku berkumpul dengan Aryan, Daniel, Putra, dan Adit bicara soal 'bullying' …

Maaf sok keminggris ngomong 'bullying'. Karena sejujurnya, aku belum menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk kata yang satu ini. Kalo ada yang tau? sini mau kok diberi tahu :) .. alaaah apaan sih gus hehehehehe

Aha! ilham tiba!

Aku mau menulis bagaimana Ibuku melindungi kami anak-anaknya dari dampak psikologis perlakuan bernama 'bullying' ini.

Dari kecil, aku ini target potensial.

Kurus, item, kurang gizi, terlihat rapuh.

Dari kecil, aku sering sering dicemooh dan diteriaki, "Agus banci… Agus banci!"

Karena bicara terlalu 'lemah lembut' untuk kanak seusiaku.

Jarang keluar kelas saat istirahat.

Terlalu asyik dengan duniaku sendiri dengan buku yang kubaca.

Waktu itu, banyak teman sekelas yang tak tahu kalau selepas sekolah, aku juga sangat menikmati mandi di kali dan terjun salto dari pohon kelapa yang tumbuh miring di pinggir kali dengan Aan adikku.

Atau main layangan di sawah lepas panen yang mengering kemudian berubah menjadi tanah lapang bersama adikku.

Bahkan naik kerbau di sawah.

Sedemikian seringnya aku dilecehkan dengan panggilan "Agus banci" sampai akhirnya aku ndak pernah mau datang ke acara reunian SD.

Well, pernah sih sekali sempat datang.

Tapi tak menyenangkan.

"Hi Andi … ini Agus .. masih inget?"

"Agus? Agus yang mana ya? Oooooo Agus banci .. woooi apa kabar? hahahah gila udah lama banget ya nggak pernah ketemu!"

Yak, saya cuma bisa senyum.

Aku sekarang ndak peduli orang ngatain aku apa … Agus banci kek! waria kek! Ndak peduli.

Tapi ketika itu diucapkan oleh kawan jaman SD. Rasa sakitnya masih sama seperti saat aku masih SD dulu.

Dulu, aku sering pulang ke rumah selepas sekolah dengan menahan tangis.

Ibuku tempat mengadu.

"Aku kenapa sih dipanggil banci? aku memang begini? aku biasa-biasa aja kok. Tapi kenapa mereka manggil aku banci cuma karena aku ndak sepaham sama mereka?"

Ibuku cuma berkata,"Mereka cuma iri sama kamu!"

"Aku nggak mau mereka iri. Aku ini kan biasa saja!"

"Kamu istimewa. Kamu punya yang tak mereka miliki. Kamu istimewa!"

"Aku istimewanya dimana?"

"Kamu cerdas. Anak-anakku nggak ada yang bodoh! Kamu perencana yang baik, dan Aan pelaksana yang baik dari semua yang engkau rencanakan! Kalian sempurna! Makanya kalian bersaudara!"

"Aku mau mereka berhenti memanggil aku banci!"

"Betul kamu mau begitu? Baiklah, mulai besok, kalau mereka melecehkanmu lagi, LAWAN! JANGAN PULANG HANYA MENANGIS!"

"Berantem maksudnya Ma?"

"Iya, lawan! Kalau mereka menghinamu, bilang baik-baik kalau yang mereka lakukan salah dan itu membuatmu sakit hati. Kalau ucapan tidak bermakna, HANTAM mereka!"

"Tapi badan mereka lebih besar dariku"

"Kamu mungkin akan kalah. Kamu mungkin akan dihajar sama mereka. Tapi pilih: kamu pulang dengan rasa tidak berdaya atau kamu pulang dengan rasa bahwa kamu sudah membela apa yang kamu yakini benar?"

"Satu lagi Gus, isi otakmu jauh lebih bermutu dari mereka. JANGAN BIARKAN MEREKA MENGUNGGULIMU! KAMU HARUS JADI NOMOR SATU DI ATAS MEREKA!"

Dan itu yang aku lakukan.

Hampir setiap hari, aku pulang dengan muka bengep memar. Atau tangan yang lecet. Atau bahkan kombinasi dari keduanya ditambah dengan kancing baju yang lepas akibat berkelahi dengan mereka yang memanggilku banci.

Aku selalu kalah.

Ya iyalah. Lha wong biasanya melawan lebih dari dua hahahahah

Hampir setiap hari aku dipanggil guru BP.

Katanya Agus sudah berubah jadi anak bengal.

Begitu yang dibilang guruku pada Mama.

Mama hanya tersenyum. Tapi tak pernah meminta maaf atas kelakuanku.

Aku juga ndak pernah disuruh meminta maaf.

Pertarungan fisik kuimbangi dengan persaingan di mata pelajaran.

Tak pernah kumaafkan diriku kalau diantara mereka yang selalu melecehkan itu mengungguliku.

No, I am not gonna let them. To-the-HELL-to-the-NO hahahaha

Masa SD kulalui dengan dagu terangkat.

Aku melawan bullying dengan caraku sendiri.

Dengan cara yang diajarkan Mama.

Masa SMP dilalui dengan cara yang sama.

Tapi yang neraka sesungguhnya adalah masa SMA.

Pernah, selepas jam sekolah. Aku dihadang dijalan.

Diseretnya aku ke kamar mandi kecil dibelakang mushala sekolah.

Satu lawan berenam. Bisa apa aku?

Dilucuti celanaku dan celana dalam.

Diikatnya tangan dan kakiku.

Aku hanya memakai baju sekolah.

Dan, kamar mandi kemudian dikunci.

Aku ditemukan penjaga sekolah jam 7 malam.

Dipikirnya kamar mandi belakang mushala berhantu. Dan hantunya sedang marah.

Padahal itu aku menendang-nendang pintu kamar mandi.

Sampai akhirnya sumpal mulut terlepas dan aku bisa berteriak.

Setelah kejadian itu, aku takut berangkat sekolah.

Tapi Mamaku bilang, "Ingat Gus, LAWAN! jangan biarkan mereka menang!"

Dan setiap berangkat ke sekolah, aku seperti agus kecil jaman SD yang berangkat ke sekolah dengan tantangan yang sama setiap hari.

Aku memilih untuk melawan.

Aku memilih untuk mengalahkan ketakutanku sendiri.

Aku dikuatkan oleh Mama.

Dengan segala pola asuhnya yang spartan dan keras dulu.

Mom, i thank you. With all my heart.

Happy mother's day.

I love you. With all my heart.




Sunday, April 08, 2012

Ibuku Harimau .. Hauuuum!


Senin pagi.

Ritual pagi bangun tidur sekarang sudah berubah. Biasanya langsung minum segelas air putih. Sekarang? cek bebi bebi cek linimasa kicauan burung kecil biru :)

Dan salah satu kawan yang kuikuti kicauannya pagi ini adalah @rebornsin

Kicauannya pagi ini:
"Pun begitu dengan orang tua yang ngebandingin anak mereka dengan anak orang lain yang lebih sukses... itu gak etis sama sekali lho"

Aku jadi inget masa kecilku dulu.

Ibuku dulu begitu.

Suka mbanding-mbandingin aku dengan kawan sebaya.

Suka maksa.

Suka meneror.

Galak luar biasa.

Serem.

Hahahahaha ...

Bisa jadi celetukan @rebornsin ini sebenarnya ndak nyambung dengan yang kuceritakan nanti. Tapi, pemicu kenangan itu bisa macam-macam.

Tulisan.

Ucapan.

Apapun.

Bahkan yang tadinya tidak diniatkan untuk memiliki konteks yang berhubungan.

Beberapa waktu lalu, karena tulisan ini:


Akhirnya aku membeli buku karangan Amy Chua judulnya "The Hymn of the Tiger Mom"

Buku ini bercerita bagaimana pola asuh yang spartan sungguh. Jauh dari teori bahwa mendidik anak harus dengan cara yang 'halus', tidak mengkritik, dengan tutur bahasa yang halus, memotivasi, membuat anak harus merasa nyaman dengan dirinya sendiri.

Oh NO... sungguh jauh dari itu.

Dan cara Ibu saya mendidik dulu pun, persis beneur cyiin! hahahahah

Aku jadi ingat beberapa nukilan ucapan Ibuku dulu:

"Aku heran, Iwan kok bisa lebih jago matematika dari kamu... padahal belajarnya sama, bukunya sama, gurunya sama sekolahnya sama, tapi kenapa dia bisa lebih hebat?"

"Karena Iwan lebih jago Ma..."

"Nggak, itu karena kamu terlalu MALAS!"

"Tapi aku belajar tiap hari kok... Iwan memang lebih pintar Ma daripada aku!"

"Nggak... kamu cuma MALAS!"

Duileeee...

Dan, sesi spartan menyiksa dimulai. Setiap malam, Ibuku siap dengan penggaris mika disebelahku yang belajar keras mencongak perkalian, pembagian, pengurangan. Kalau jawaban ndak keluar dari mulutku kurang dari lima detik. Hyuuuk buku-buku jariku sukses ditampar penggaris mika.

Setiap malam aku menangis. Setiap malam tersiksa.

Sampai pada satu titik, setiap jawaban sedemikian otomatis keluar dari mulutku tanpa perlu berpikir panjang. Dan jawaban itu BENAR!

"Tuh, bener kan? kamu cuma MALAS... bukan nggak bisa!"

..................................................

"Kamu kenapa pulang nangis?"

"Mainanku diambil Anjari dan teman-teman badungnya ... aku dikatain banci Ma!"

"Anjari dimana?"

"Masih di lapangan"

"Ayo kita sekarang kesana!"

Yes! Anjari bakal dihajar Ibuku! -joged2

"Itu yang namanya Anjari?"

"Iya Ma ..."

"Nah, sekarang, KAMU SAMPERIN MEREKA, AMBIL MAINAN KAMU, BERANTEM! KAMU NGGAK BOLEH PULANG SEBELUM KAMU LAWAN MEREKA YANG NGATAIN KAMU BANCI! MAMA NUNGGU DISINI!"

Buseeet!

Ya, saya sukses pulang kerumah dengan baju sobek, mulut sobek, mata bengep ditonjok, tangan dan kaki lecet-lecet!

"Lain kali, AWAS KALO PULANG CUMA NANGIS! LAWAN!"

...................................................

"Ini lomba nyanyi pertamaku Ma, aku deg-degan!"

"Kamu bisa! KAMU HARUS MENANG!"

"Tapi..."

"Nggak ada tapi-tapi, kamu harus menang karena kamu memang BISA!"

OK, bukannya ditenangkan malah bikin lebih nervous ajijah nih emak ike cyin.

Dan Ibuku pergi ke Pasar Anyar membeli bahan untuk dibuat jas manggung.

Dijahitnya sendiri semalaman. Dengan payet berbentuk burung garuda. Aku melihatnya dengan tekun.

"Mati aku! kalo sampe nggak menang.... waduh!"

Dan benar saja

"Nih, pake! Mama sudah berusaha keras membuatmu tampil ngganteng... KAMU HARUS MENANG karena Mama tau kamu pantas untuk menang!"

Aku naik panggung dengan badan panas dingin luar biasa.

Dan MENANG!

"Tuh kan, menang... ndak usah senang berlebihan... itu wajar!"

Duileee .. dipuji aja kagak hahahahahah

..........................................

Aku ingat pelajaran kali pertama berenang

Kolam renang Milakancana, Bogor.

Kedalaman 1 m.

Aku, Ibu, dan Bapak berdiri di sisi kolam renang.

Tiba-tiba, Bapak mengangkatku dengan ringan seperti ranting kering dan diceburkannya makhluk kecil item manis ini ke tengah kolam.

Aku megap-megap.

Air kolam terminum.

Aku berteriak tolong.

Mereka diam saja.

Aku mau mati.

Mereka diam saja.

Semua anggota tubuh bergerak.

Aku nggak boleh mati.

Dan, akhirnya mengambang. Hidup. Puji Tuhan :)))

"Mama nggak tolongin kamu, karena Mama tau kamu bakal bisa ngambang kok...."

Iyeeee ... ngambang ... untung bukan ngambang karena metong ya bo'

..............................................

Gong dari ancaman Ibu waktu kecil adalah:

"Sini ... Kamu sama Aan (adikku) ... gini ya, Mama udah susah payah membesarkan kalian... cari uang susah. Jadi, kalau kamu sampe nggak naik kelas... Maaf, kalian kukirim ke PANTI ASUHAN aja ya. Berarti Mama gagal mendidik kalian"

Bergidik nggak sih anak kecil digituin.

................................................

But, come to think of it...

Aku sama adikku ndak pernah ada rasa dendam tuh. Malah bersyukur sekarang. Karena 'kekejaman' Ibuku ini sukses membikin kami anak-anaknya tahan banting.

Hidup di luar sana jauh lebih kejam.

Kami diajar untuk tidak terlalu gampang mengasihani diri sendiri.

Kami belajar tangguh.

Ibuku harimau.

Ibumu?


Senja

Aku selalu suka senja.

Tak ada yang lebih menentramkan hati dan mata saat melihat, bahkan energi yang sedemikian besar seperti matahari pun butuh untuk silam sesaat.

Pernah satu saat, kita duduk bersisian.

Menikmati kopi tubruk berkawin susu.

Dan satu eclair cappuccino.

Sambil menikmati sensasi matahari yang terpeleset pelan-pelan.

Keindahannya bisa ditempeli rasa yang macam-macam.

Kagum

Melankolis

Romantis

Apa saja.

Kembali aku disini menikmati senja tak pernah biasa.

Sayangnya, senyummu sudah tak ada.

Tuesday, April 03, 2012

Mengobati.

Setiap saya mendengar suara si Mamah di telepon bicara,"Sudahlah, hidupmu akan terus jalan. Ceritanya akan terus berubah. Kamu akan baik-baik saja. Percaya apa kataku"

Pil kina kalah mujarab.

Setiap Ia berkata,"Kamu aku didik jadi lelaki. Lelaki itu belajar untuk tidak meragu dengan pilihan yang dibuat. Lelaki itu sejatinya ndak takut melakukan kesalahan. Jatuh, lalu lari lagi. Kalau ndak bisa lari, jalan pun boleh asal jangan berhenti"

Pasak bumi kalah mujarab

Setiap Ia berkata,"Agus maunya apa? Jangan menunggu diberi. Keajaiban itu diciptakan olehmu sendiri. Ayo kejar!"

Jamu pegal linu hilang daya.

Ah, lihatlah. Betapa aku sedemikian mudah dikuatkan olehnya.


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Saturday, March 31, 2012

Sembuh

Tiap orang memiliki mekanismenya sendiri-sendiri untuk menyembuhkan luka.

Saya memilih untuk menulis.



Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sunday, March 25, 2012

Saat Rasa dan Hati Bicara... (The Baked Goods)

Cita-citaku sedari dulu adalah punya kedai kopi kecil yang nyaman.

Setiap saat membaui aroma biji kopi yang berkawin dengan air panas dari teko meruap di udara sambil menyamik cemilan kue manis.

Setiap saat menyapa setiap yang datang. Mencuri kepingan cerita dari mereka.

Aku mau kedai kopiku nanti jadi kepompong kecil bagi yang datang untuk sejenak mencuri tenang setelah itu lanjut lagi bergerak hidup.

Itulah kenapa hingga saat ini, aku sungguh menyenangi suasana Bakoel Koffie Cikini. Lantai atas.

Di pojok ruang. Menyesap kopi tubruk sambil melihat banyak kepingan cerita sana sini.

Tak mau membandingkan.

Tapi hari ini aku menemukan tempat yang racikannya dibuat dengan hati oleh pemiliknya.



The Baked Goods, nama kedainya.

Kedai kecil di ujung jalan Sabang.

Begitu masuk ke dalamnya, imaji kedai kecil cita-citaku tergambar sempurna.



Setiap makanan di dalamnya punya cerita.

Cerita yang dibuat dengan hati.

"Carrot cake dan Bublanina ini Mbak Jana Parengkuan paling jago mbuatnya mas. Enak deh... mau coba?"

Carrot cakenya juara!

Bublanina, kue khas Ceko dengan isi buah strawberry di dalamnya. Mantap!

Dan bodohnya, dua cake tadi habis masuk perut tanpa sempat di foto hahahahaha.

Baiklah, apa lagi yang bisa dikudap sambil nulis-nulis?

Aaaah, mari kita coba 'Quiche Spinach, mushroom and smoke beef'-nya.

Kebodohan tak terulang kali kedua. Foto dulu! :)

Dulu, ada film kartun berjudul "Yoichi Anak Cita Rasa" .. juru masak cilik yang setiap masakannya bisa membawa kita pada suasana hati tertentu.

Naaaaah! makanan di The Baked Goods ini juga begitu hahahahah

Bayangkan ada makhluk item (tapi manis) duduk di pojokan sendirian sibuk dengan laptopnya dan senyum-senyum sendiri macam orang gila belum minum obat.

Nah, seperti itu.

Pemanjaan lidah dan rasa hati belum selesai.

Apa lagi yang harus dicoba?

Ah saatnya pindah ke luar. Merokok. Ngopi.

Kopi? kata masnya yang njaga:

"Kopi kita arabica mas... Mas Erwin Parengkuan dan Mbak Jana penikmat kopi. Kopi yang paling enak? arabica lah yaaauu!" ... sambil mengacungkan jempol.

Bwahakakakak mas yang njaga ini lho .. ndagel juga ternyata.

Baik, saya pesan kopi hitam dan ...... Fruit cake!


Pilihan tidak salah. Rasa masam dan manis dari kue berisi buah kering berkawin sempurna dengan aroma legit kopi tubruk hitam.

Mantep. Marem. Sedep!

Ini adalah ujung minggu yang sungguh menyenangkan.

Saat rasa dan hati bicara.

Aku mau berkunjung sekali lagi ke sini.

Ikut? ;)

Saturday, March 24, 2012

Lia Waria ...

Lia namanya.

Tertulis di KTP, Budi Istyawardhana.

34 tahun usianya. Seusia denganku.

Karibku dari jaman aku masih bekerja di Semarang.

"Lia, aku pindah ke Jakarta. Semoga kamu bisa nyusul kerja di sana juga ya!"

"Bo' akikah tinta mawar ah cyin (terjemahan: nggak mau ah). Sutra endang sukamti di sindang (terjemahan: aku sudah enak di sini). Salon lagi laris bo... buat tabungan hari tua mak. Semoga sukses ya Gus di Jakarta. Kita harus tetap saling bertukar kabar"

Kami tetap berkarib sampai sekarang.

Lia sekarang pindah ke Medan.

Hidupnya senang.

Salonnya laris manis.

Tangannya memang dingin. Setiap wajah yang disentuh, jadi lebih cantik. Setiap rambut yang disentuh, jadi lebih indah.

Setiap bertukar kabar, kami saling mendoakan.

Kami tak mendoakan agar hidup jadi lebih ramah. Tapi kami mendoakan agar kami jadi pribadi yang lebih tangguh dan lebih ulet.

Tadi pagi Lia menelpon dan kami bicara.

Sepanjang pembicaraan, aku jadi ingat nukilan-nukilan pembicaraan saat kami dulu mulai berteman.

Begini nukilannya:

"Gus,Bayangkan, tubuhmu seperti negara asing & kau terjebak di dalamnya tanpa paspor. What are you gonna do?"

"Gus, gue siap menghadapi dunia. Tapi tidak sebaliknya. Setiap saat gue bisa ditikam oleh hidup"

"Gus, katanya gue produk yg salah. Tapi, gue harus nyalahin siapa? Dibilang sakit jiwa? Lah, emang gue milih?"

"Gus, katanya orang kayak gue pasti masuk neraka. Well, apa intinya menghukum gue eternally besok? Udah, sekarang aja!"

"Jadi banci mengajarkan gue satu hal yang bikin gue kuat. Menertawakan kesedihan!"

"Gus, orang menertawakan, mencaci, boleh! Tapi masa gue juga harus dihilangkan haknya menjalani hidup? Boleh sekalian bunuh gue?"

"Jangan-jangan Tuhan itu sebenarnya ilusi. Jangan-jangan orang yang benci sama gue itulah sebenarnya yang jadi Tuhan! Kenapa gue dihakimi setiap hari? Enak aja menghakimi hidup yang mereka nggak ciptakan! Gue mau lawan! Terus aja mencaci gue, gue buktiin kalo gue lebih kuat dari mereka dan hidupku gue akan baik-baik saja"

"Gus, katanya bilang 'nggak ada pilihan' sesungguhnya adalah pilihan. Lah, kalo opsinya cuma satu? Gimana?"

"Gus, teman terbaik gue sekarang cuma toket palsu. Dan elu hehehe. Thank you"

........................

Tadi pagi, aku dan Lia bertukar kabar dengan hati senang.

Dan kamu, masih punya niat ngganggu banci?

Sunday, March 11, 2012

Rumah baru ..

Jadi ini sih gara-gara sempat temu janji dengan Sari.

Karib lama jaman kuliah.

Dulu kami sering saling bertukar buku berisi puisi kami masing-masing seperjalanan kereta dari UI menuju Bogor.

Ritual ini terhenti selepas kami lulus.

Semenjak itu, aku ndak pernah lagi secara serius menulis puisi.

Aku sejatinya ndak jago berbahasa indah.

Tapi, justru dengan puisi itulah aku berlatih mencari padanan kata atau kalimat singkat yang mampu merangkum makna besar. Tidak hanya sekedar indah untukku sendiri. Tapi orang lain pun harus mampu secara mudah mencerna.

Ini kemudian sungguh berguna untuk pekerjaanku sekarang. Pekerjaan dimana seringkali aku harus merangkum pesan dalam kalimat singkat, padat, dan harus mudah dimengerti.

Terima kasih Sari :)

dan sekarang, aku mengganti buku tulis berisi puisi dulu itu ke dalam bentuk baru.

Kunjungi rumah puisi dan cerita pendekku di sini:

www.pojokruang.tumblr.com

silakan kakaaaak :)

Friday, March 09, 2012

Berhenti Meminta ...


Katanya, berdoa itu bicara.

Lima tahun lalu, pencerahan baru tiba.

Saat bicara padaNYA, aku sebenarnya sedang tak bicara padaNYA.

Aku menjadikan saat bicara padaNYA sebagai tempat sampah.

Saat dimana aku sedang membuang 'sampah' hati dengan banyak berkeluh kesah.

Aku menjadikan momen bicara padaNYA sebagai ritual membuang energi negatif.

Mungkin nggak salah.

Cuma kesannya kok jadi kurang ajar.

Saat bicara padaNYA, aku seperti preman.

Minta ini.

Minta itu.

Dengan justifikasi bahwa IA lah tempat meminta.

Minta banyak. lebih menjurus nodong!

Padahal kalau memang percaya IA itu ada. Tak perlu diminta, IA memberi.

Sekarang, setiap bicara padaNYA. Aku berhenti meminta.

Aku akan mengabarkan berita baik saja dan bersyukur.

Bersyukur bahkan saat sedang menerima ujian.

Mengabarkan berita baik bahwa aku menjalani hidup dengan penuh.

Sedihnya ada.

Senangnya ada.

Malasnya ada.

Semangatnya ada.

Bosannya ada.

Marahnya ada.

Kecewanya ada.

Hidup yang penuh.

Karena (asumsiku), tak ada kabar yang lebih menggembirakanNYA selain kabar bahwa ciptaannya menjalani hidup yang penuh.

Salah satu ciptaanNYA itu, aku :)

Aku ternyata berhenti meminta, sudah cukup lama.


Thursday, March 08, 2012

Menua bersama, itu saja...

Yang tertinggal dari cerita Java Jazz kemarin.

Suami istri ini kujumpai saat menemani kinyis-kinyis di Java Jazz...

Duduk di depanku karena tak ada lagi tempat yang kosong di kedai makan yang ada di tengah Java Jazz.

Sang istri kelelahan.

"Nak, dua kursi ini bisa Ibu pakai?"

"Silakan Ibu..."

Sang suami berkeliling membeli makanan.

"Capek ya Bu ..."

"Iya. Aduuuuh mesti berdiri hampir dua jam..."

"Ibu nonton Stevie Wonder juga? pacar saya juga tadi ikut antri.."

"Oh ya, aduh telat luar biasa ya ... Ibu capek nunggunya .. Tapi bahagia! It was one good performance!"

"Berdua saja Bu?"

"Iya dong, kami mau pacaran heheheh ..."

Dan sepanjang suami istri itu duduk di depanku

Rasa dimanjakan dengan pemandangan cinta

Tatapan penuh rasa

Perhatian yang datang dalam bungkusan yang sederhana

Istri mengeluarkan saputangan dan menyeka ujung bibir suami

"Ibu mau minum apa? Bapak mau belikan ..."

"Pak, makannya pelan-pelan ..."

Menua bersama

Bahagia bersama

Aku juga ingin yang sama

Sesederhana itu

Tuesday, March 06, 2012

Menua dan bahagia di Java Jazz






Tak ada yang lebih menyenangkan dilakukan di akhir pekan selain menghabiskannya dengan sahabat terdekat dan juga ... (uhuuuk)... pacar tentunya ;)

Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang yang paling disayang bahagia bukan kepalang.

"Bebe, Aku mau liat Stevie Wonder ..."

"Tapi Aku lagi nggak punya uang"

"Tapi... Aku mau nonton!" (tatapan memelas)

"Let's see what I can do.." (tatapan kesian)

Keajaiban katanya datang kepada orang yang beriman.

Nah, untuk kasus yang satu ini, keajaiban juga bisa datang untuk lelaki yang sayang sama pacarnya... Hahahaha

Dapat satu tiket Stevie Wonder.

Aku memang berdoa nggak minta dua tiket kok.

Lha wong duitnya nggak ada :)

Doa dijawab secukupnya.

Satu tiket daily pass. Satu tiket Stevie Wonder. Terbeli.

Udah.

Kepengen sih menyambangi Java Jazz.

Katanya banyak brondong! :) -siap2 dijewer-

Tapi ya udahlah. Asal si kinyis kinyisku bisa datang. Aku sih senang-senang saja kok duduk manis di rumah.

Tapi, lagi-lagi keajaiban datang untuk lelaki yang sayang dengan pacarnya :) (uhuuk...)

Ndilalah dapat satu tiket daily pass. Ya sudahlah, sini keliling liat pertunjukkan musik ......... sambil cuci mata hahahaha.

Nah, bahagia itu ditambah berlipat.

Sahabat turut serta.

Seperti biasa, celetukan konyol berhamburan.

Dan pembicaraan paling berkesan terjadi antara Indira dan saya:

"Gus, seneng ya kita bisa kumpul begini ... one big happy family"

"Iya, and i'll be watching you and Aryan grow old together and happy.."

"Terus kita liat Naga sama Caya anak-anakmu itu pacaran..."

"Iya, tapi sebelum mereka pacaran, mereka harus nganter gue nonton konser kayak begini! Kalo pacarnya Naga protes, sikat!"

"Terus kita nyinyirin ceweknya Naga ..."

"Ehmmm itu mah elu kali Ndi ..."

"Terus Naga ngeband sama temen-temennya, dan manggung di Java Jazz ..."

"Nyet, ya kali masih ada Java Jazz ..."

"Iya, terus bandnya Naga nyanyi apa ya? ..."

"Tribute to ST12?"

"Bukan ... tribute to Nirvana"

"Bo' itu mah bandnya kiteee bukan Naga ... pan Nirvana udah hampir 20 tahun yang lalu nyet!"

"Oh, iya ya ..."

"Ndi, emang lo masih mau berteman sama gue kalo gue menua?"

"Lo pikir?"

"Oh, i love you Indi .. I love you Aryan ..."

"Kalo pun ya Ndi, gue harus menua sendirian ... Gue tetap bahagia kok surrounded by you guys... Indi, Arya, Ibeth, Sandy, Inu, Nanit... semuanya!" (yang ini gue ucapkan dalam hati, karena kalo gue bilang sama Indi saat itu ... pasti gue bakal mewek)

.................................

Selebihnya? well, foto-foto diatas sudah menjelaskan.

Java Jazz menegaskan.

Aku akan menua, bahagia, sama-sama.

Dengan kalian.

Sekian.

Yuk, berpelukan.



Tuesday, February 07, 2012

Makanan Cinta


Kombinasi perut lapar, udara dingin, pandangan yang menerawang dari ketinggian gedung lantai 11.

Bicara cinta sih maksudnya:

"Cinta itu seperti inari sushi. Kenikmatan yang berbungkus sederhana"

"Kalo cinta kayak velvet cake Union yg bermegah dan mendongak dagu, hanya nikmat di dua suapan, setelahnya dilepeh.. Mahal. Biasa aja"

"Cinta itu harusnya kayak klepon, sederhana, membawa harum pandan, dan membawa kejutan manis meleleh saat tergigit"

"Cinta itu harusnya kayak onde-onde. Renyah tergigit, membawa suka, dan siapa yg berani meragukan kelezatan di dalamnya?"

"Cinta itu harusnya kayak salmon sashimi. Ndak perlu mendandani dengan bumbu yg berlebihan. Siapa yg butuh vetsin ketika legit sudah disaji?"

"Cinta itu harusnya kayak combro. Selalu berhasil membawa kejutan walau pedas tapi membuat riang"

"Cinta itu mestinya kayak cenil. Kejutan-kejutan kecil dalam warna-warni yg membuat suka hati"

"Cinta itu mestinya kayak gemblong. Karena hidup seringkali liat, susah ditaklukan, tapi selalu manis ujungnya"

"Cinta itu mestinya kayak getuk lindri. Selalu bisa berkawin dengan teh wangi. Lagi2 kesederhanaan dalam bungkus bersahaja"

"Cinta itu mestinya kayak lapis legit. Butuh sabar menunggu lapis demi lapis matang sempurna. Siapa yg meragukan sabar sbg bumbu cinta?"

"Cinta itu mestinya kayak nagasari. Dua adonan yg berkawin saling mengisi. Kenapa harus bermegah ketika isi sudah paripurna?"

"Cinta itu mestinya kayak tiramisu. Pahit hidup yg berkawin dengan legit keju. Karena hidup setimbang seimbang"

.................................

Yang mana versimu? ;)

@agusitem

Monday, January 09, 2012

Yang Membuat Hati Hangat...

Setiap tahun berganti. Aku sudah berhenti untuk membuat daftar resolusi.

Terlalu banyak janji yang lewat tenggatnya.

Makin tambah umur (baca: tua), Aku makin sadar bahwa ujung dan akhir tahun adalah penanda Gusti Allah bahwa:

Dalam hidup, martabat bisa hilang.

Peduli bisa lenyap.

Bahkan cinta, energi maha dahsyat yang selalu diagung-agungkan pun bisa lenggang kangkung pergi tanpa permisi.

Tapi dua hal yang akan selalu menjadi ada ditinggalkan Gusti Allah untuk kita.

Dua hal itu: PERCAYA dan HARAPAN.

FAITH .... and HOPE.

Mungkin inilah kenapa setiap menjelang awal tahun, ramai-ramai kita menulis daftar resolusi.

Sebagai alat penegasan pada diri sendiri bahwa saat kita masih memiliki "FAITH" dan "HOPE", maka semuanya akan baik-baik saja.

Penghujung tahun 2011 lalu, Gusti Allah sedemikian sayangnya padaku.

Aku diberi banyak olehNYA.

Banyak sedih.

Banyak amarah.

Banyak lara.

Tapi juga,

Banyak bahagia.

Banyak berkah.

Banyak suka.

Bejana hidupku dibuatnya penuh. komplit.

Di ujung tahun 2011 lalu, Aku kembali diingatkan bahwa selama ini, IA sudah memberiku satu hal yang berharga untuk aku memaknai bahwa apabila hal yang satu ini ada, maka dua hal yang paling penting dalam hidup yaitu "FAITH" dan "HOPE" akan sedemikian gampang dimiliki.

Satu hal itu adalah lingkaran pertemanan yang luar biasa.

Inilah lingkaran pertemanan itu:




Kami menandai akhir tahun dan menyambut awal tahun dengan jamuan makan malam.

Jauh dari sederhana. Mewah untuk ukuran kami.

Kami mungkin jarang bersua.

Kami bukan tipikal kawan yang selalu bersama setiap hari.

Ukuran lekatnya lingkaran pertemanan ini bukan itu.

setiap kami berkumpul,

Lara pergi

Duka minggir

Sedih dipaksa lari

Cuma bahagia.

Saat berdoa kemarin, Aku bicara pada Gusti Allah.

Bukan untuk meminta dan mengadu.

Tapi untuk mengabarkan berita baik dan bersyukur.

Bahwa ENGKAU sudah mengirimkan pengingat dalam bentuk yang sungguh indah.

Kalian, yang tak perlu kusebutkan satu demi satu sudah menjadi pengingat yang indah bahwa:

Hidup ndak perlu dijalani dengan getir

Hidup ndak perlu dijalani dengan tawar hati

Hidup harus dijalani dengan pandai bersyukur

Hidup harus dijalani dengan selalu berusaha bisa bahagia dengan detil kecil

Untuk kalian, yang tak perlu kusebut satu demi satu,

Terima kasih.


Thursday, January 05, 2012

Hujan, Dulu ...

Dulu, hujan begini, ban dalam bekas berubah menjadi kapal pesiar sepanjang sungai belakang rumah kami.

Dulu, hujan begini, masuk angin bukan momok. pulang bermain dgn ujung jari keriput kedinginan itu anugerah besar dalam hidup.

Dulu, hujan begini, saatnya memasukkan sepatu ke dlm tas. Kaki rindu lumpur dan becek. bau lumpur hujan itu ekstasi dlm bentuk sederhana.

Dulu, hujan begini, payung jadi barang haram, kenapa nikmat kebasahan harus terhalang?

Dulu, hujan begini, saat yang tepat mandi di kali, bareng kerbau bau dan potensi banjir bandang tiba2. lagi-lagi, hidup cuma sekali.

Dulu, hujan begini, kolong tempat tidur berubah jadi gua buatan. singkong goreng, teh panas, dan imajinasi. serasa limun jahe dan lidah asap.

Dulu, hujan begini, Ibuku sibuk mengaduk adonan bolu kukus. Mengembang sempurna seperti bunga mawar. bahagia bisa sederhana kok.

Dulu, hujan begini, saat yang tepat menggoreng belut hasil pancingan. cuma 4! tapi yg sedikit itu biasanya justru nikmat.

Dulu, hujan begini, kami bikin perahu dari gedebok pisang. potensi bersua dgn ular yg merenangi sungai. tapi idup cuma sekali. siapa takut!

Dulu, hujan begini, bisa dipastikan saya ada di tengah sawah bareng temen2, lempar2an lumpur. potensi tersambar gledek sih. siapa peduli.

.....

Ditulis sambil memperhatikan rinai hujan yang datang terlalu sering.



Wednesday, January 04, 2012

Tanya

"Kok lo mempertanyakan pemberian Tuhan sih?"

Lho, kenapa nggak, bukannya itu gunanya berdoa ya?

"Kok lo kayak mempertanyakan rencana Tuhan sih?"

Lho, kenapa nggak, justru karena obyek dari rencana itu adalah Saya, boleh dong mencari pencerahan alasannya.

Bener nggak sih? ....



Monday, January 02, 2012

Gampang


Bolu kukus yang mengembang seperti bunga mawar setiap minggu pagi buatan Ibu.

Aroma bau tanah yang ketabrak air hujan di ujung kakiku.

Gulali seperti kapuk warna merah yang lekat legitnya di ujung lidah.

Elusan hangat tangan Ibuku di ujung kepalaku.

Susu coklat panas sambil menghitung rintik hujan sore hari dari balik jendela.

Belut goreng pasar Godean setelah pantat kebas dibonceng Eyang dengan sepeda unta.

Mandi di kali.

Hangatnya punggung kerbau yang kunaiki.

Genggaman tanganmu saat lara.

Hembusan halus nafasmu di tengkukku.

Sebatang coklat.

Seulas senyum sepulang kerja.

Aku ternyata gampang dibuat bahagia.

Kamu?



Jendela


Jendela kedai kopi ini membingkai rasa yang tak pernah tersampaikan

Saat Engkau berlari menghindari rinai hujan dari seberang jalan

Saat Engkau menyapu pandangan ke dalam ruang

Dan mengabaikan keberadaanku di pojoknya.


Jendela kedai kopi ini membingkai rasa yang tak pernah tersampaikan

Saat Senyummu bertabrakan dengan aroma kopi tubruk panas dan Engkau memainkan kuping cangkir di depanmu

Saat senyummu menjadi antidot laraku di sini

Dari jendela ini, Aku mengumpulkan satu demi satu kenangan

Mulai dari kedatanganmu, sampai pergimu

Hanya satu yang kurang

Keberadaanmu bukan untukku.

Tuesday, December 06, 2011

Jangan Cengeng!



Setiap Aku gundah, yang pertama kali Aku lakukan adalah berusaha mengingat-ingat apa saja yang pernah si Mamah pernah bilang atau ajarkan ketika Aku kecil.

Aku merasa, secara pribadi, runtutan kejadian-kejadian masa kecilku dan bagaimana si Mamah mengajarkanku untuk menghadapinya, sungguh berpengaruh terhadap bagaimana aku melihat suatu permasalahan serta kemudian merumuskan apa yang harus dilakukan.

Seperti sekarang. Di saat sedang putus asa dan kayaknya kok ya udah ndak ada energi untuk lebih trengginas menghadapi beberapa masalah, Aku inget si Mamah pernah bilang:

Gus, cuma Gusti Allah yang punya kemewahan untuk bilang,"NGGAK BISA!". Jadi, jangan cengeng! nggak ada yang nggak bisa! pilihannya cuma kamu mau apa enggak!

Mamah, mengajarkan ini dengan cara yang spartan.

Kadang, Aku dulu sungguh sebal dibuatnya.

Kalau dia tidak percaya Aku sudah melakukan yang terbaik. Beliau ndak segan menyuruhku mengulang semuanya dari awal.

Melakukan yang terbaik bukan berarti harus jadi yang paling bagus, nomor satu, atau apalah ... kurasa bukan itu esensinya.

Tapi beliau sepertinya berusaha memastikan bahwa setiap hal yang dikerjakan harus sepenuh hati.

Filosofi ini tentu dulu aku ndak pernah memahami. Namanya juga anak kecil. Taunya cuma senang-senang.

Tapi sekarang, berasa banget!

Dan malam ini, ucapan itu kembali terngiang:

Cuma Gusti Allah yang punya kemewahan untuk bilang,"NGGAK BISA!"

Makanya Gus, JANGAN CENGENG! KAMU PASTI BISA!


Sunday, December 04, 2011

Haus?



Kemarin, kawanku bercerita:

"Gus, ini yang terjadi di kantor gue. ibaratnya, Mereka tau Gue haus! Tau banget!"

"Tenang, Kita tau banget kamu haus, air minum segera datang besok!", Kata mereka.

"Yang Mereka nggak sadar Gus, kalo gue harus nunggu sampe besok, gue bakal mati karena dehidrasi!"

..........................

Aku sekali lagi teringat dengan analogi Eyang Kakung tentang hidup.

Dia bilang, hidup itu seperti pertunjukkan wayang.

Gusti sing paring urip memberikan cerita besarnya untuk kita.

Kembangan cerita diserahkan pada sang dalang.

Kitalah sang dalang itu. Kitalah yang memberi warna pada cerita besar yang sudah diterima.

DibekaliNYA kita dengan satu kotak wayang dengan beragam karakter didalamnya untuk menjahit kembangan cerita sesuai yang kita inginkan.

Susah.

Senang.

Sedih.

Gembira.

Getir.

Tawa.

Apa saja.

Berdasarkan analogi ini kawan, kalau Aku jadi kamu, gunungan wayang segera Aku balik! Babak cerita baru segera Aku mulai! Aku ndak akan menunggu sampai besok untuk mereka memberikan air minum pengobat haus.

Aku akan mencari oase dengan caraku sendiri! apapun caranya! apapun konsekuensinya!

Karena Aku percaya, kita ini bukan wayang di dalam kotak yang menunggu terambil.

Kita adalah, SANG DALANG.





Wednesday, November 30, 2011

Membalik Halaman

Lembar baru

Tantangan baru

Cerita baru

Wahai hidup, telah kau siapkan petualangan apa untukku?

Halaman hidup siap berganti.


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tuesday, November 29, 2011

Lilin Terakhir



Sepekan lalu aku bertemu dengan Bapak. Palgunadi T Setiawan.


Beliau adalah mantan petinggi ASTRA. Aku bertemu dengannya dalam rangka pekerjaan.


Pertemuan yang sungguh menyenangkan. Aku seperti berbicara dengan Eyang Kakung.


Bahkan Beliau sempat mendongeng untukku. Dongeng yang indah.


Begini ceritanya:

Tinggallah 4 lilin di dunia ini sebagai penerang.

Masing-masing berusaha bertahan agar tidak hilang nyala.


Lilin pertama punah pendarnya. Lilin itu bernama MARTABAT


Lilin kedua kalah dan mati. Lilin itu bernama PEDULI


Lilin ketiga menyusul menyerah. Lilin itu bernama CINTA

Tuhan kemudian mengirimkan malaikatnya untuk menjaga agar dunia tidak gelap gulita.

Lilin terakhir penerang dunia tidak boleh mati.

Tuhan mengirimkan malaikat terbaiknya.

Malaikat itu bernama PERCAYA

Dan, lilin terakhir itu bernama HARAPAN

...............................



Wednesday, November 23, 2011

Kaki

Dari seorang kawan:

"Gus, rejeki itu kakinya sepuluh...lo cuma dua. Kalo lo ngejar rejeki, nggak bakalan bisa! Satu-satunya yang lo bisa kerjakan adalah gimana caranya lo bikin diri lo semenawan mungkin sampe akhirnya rejeki yang ngejar! Bukan lo!"

Well noted my dear friend....


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, November 17, 2011

Mencinta..

Saat ini, cinta itu sudah tak seperti api.

Ia seperti bara yang menempel pada kayu yang rela terbakar api.

Hangat.

Nyaman.

Demikianlah Aku mencintaimu.


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tuesday, November 15, 2011

Seimbang Setimbang

Terinspirasi dari ucapan Bapak Donald Trump.

Katanya, pernyataan yang begini:

"Aku mau hidupku 'balance' ah antara pekerjaan dan kehidupan pribadi..."

Ternyata nggak bener.

Karena menurutnya, di dalam pernyataan tersebut, ada unsur keterpaksaan.

Alih-alih mengeluarkan energi ekstra utk secara cermat membagi antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, kenapa nggak berusaha untuk mencintai pekerjaanmu hingga bisa sedemikian menyenangkan utk dijalani?

Therefore, he said,"you really got nothing to lose..."

Hemmm... Good point pak...


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Monday, November 14, 2011

Bisik

Ibuku berkata:

"Kalo nanti Aku meninggalkanmu... Sedih boleh tapi jangan berlebihan ya. Aku kan sudah satu komplek dengan Gusti Allah, dengan demikian Aku akan lebih mudah mbisikin DIA apa aja yang baik buat Kamu..."

.....................

OK... Mari kita mewek berjamaah.


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, November 10, 2011

Selimut Hati


Selimut ini hadiah paling nyleneh yang pernah diberikan si Mamah.

Selimut ini hadiah ulang tahunku, tiga tahun lalu.

Selimut puskesmas, kami menyebutnya.

Bisa dibeli di pasar tradisional. motif garis-garis dan dulu sih, selalu jadi selimut rumah sakit kelas ekonomi.

Setiap orang punya penanda rasa.

Sebuah benda tempat kita menitipkan kenangan saat nanti memori di dalam kepala dan benak tak bisa lagi menemukan jejaknya karena usang termakan usia.

Demikian juga dengan selimut ini.

Aku masih ingat, bersama dengan selimut bermotif garis ini, kami bertiga -Aku, Aan adikku, dan si Mamah duduk bersisian di depan teras berselimut untuk menghangatkan kaki kami sambil menikmati teh manis hangat wangi melati saat hujan.

Momen kecil sederhana yang indah.

Aku juga masih ingat, bagaimana kami bertiga berkumpul di tempat tidur, berselimut motif garis-garis itu sambil menikmati cerita si Mamah atau sekedar berkeluh kesah sebelum tidur.

Momen kecil sederhana yang indah.

Selimut motif garis punya pertalian yang erat dengan masa kecil dan rasa nyaman cangkang aman bernama: R-U-M-A-H

Tiga tahun lalu, saat Aku sedemikian sering mengeluh rindu dengan rumah. Rindu pulang.

Mamah memberiku selimut itu.

Sebagai penanda rasa.

Hadiah nyleneh tapi maknanya luar biasa.


Sunday, October 30, 2011

Merona Karena Rhoma


Jaman Aku masih kelas 3 SD, karena kondisi keuangan kami saat itu, kami mesti merelakan rumah yang kami miliki untuk dikontrakkan sebagai tambahan penghasilan.

Kami, suka nggak suka mesti suka harus pindah ke sebuah rumah petak kecil kontrakan di pinggiran kota Bogor.

Kampung Kramat, nama desanya.

Ngenes banget hati ini rasanya, dulu.

Kontrakan yang kami tempati, sebuah ruang yang disekat menjadi ruang tamu yang berfungsi sebagai ruang nonton TV dan ruang belajar, satu buah kamar tempat Aku, Aan adikku, dan Mamah beristirahat, dan satu dapur kecil.

Ada 4 rumah petak berjejer di situ. Rumahku yang paling ujung sebelah kiri. berurutan, berikut adalah tetangga kami disana:

Rumah petak no.2:
Pak Sodikun. Pemilik gerobak gorengan. Ini perasaanku saja, tapi dulu, menurutku pisang molen jualannya adalah pisang molen terenak di Bogor hehehehe. Ibu Sodikun dulu di kampungnya mungkin pernah juara baca Al-Quran. Kalau waktu Isya tiba, kami lamat-lamat mendengarkan Ibu Sodikun membaca ayat-ayat Quran dengan indah. Junaedi, yang biasa kupanggil Edi, seumur denganku. Jago main petasan bumbung bambu kalo puasa tiba, nakal luar biasa, tapi teman berenang di kali yang menyenangkan. Dulu, aku sering terkagum-kagum dengan kemampuannya salto dari batang kelapa yang miring menjulur ke kali. Seperti liat atlet loncat indah di acara Arena ke Arena dulu di TVRI hehehe.

Rumah petak no.3:
Mbak Emilia. Kerjanya sih kata Mamahku dulu adalah Lighting Girl di klub malam. Aku ndak tau apa maksudnya profesi bernama Lighting Girl ini. Tapi yang Aku tau, Mbak Emilia selalu berangkat saat kami mulai beranjak tidur dan pulang saat kami mau berangkat sekolah di pagi hari. Pernah satu kali, Mbak Emi ini mabuk luar biasa. Pintu kami digedor dengan marah karena kuncinya tak bisa membuka pintu. Ya iyalah, lha wong salah rumah ahahahha. Beberapa bulan setelah kami tinggal di sana, Mbak Emi hamil di luar nikah. Mamahku yang kelabakan mencari dukun beranak saat Ia melahirkan. Satu bulan setelah melahirkan, radio tape satu-satunya milik kami dicurinya. Mbak Emi hilang sesudah itu.

Rumah petak no.4:
Mas Budi. Dulu sih ngakunya beliau ini wartawan. Di kamarnya, berserakan banyak tabloid Monitor, Majalah Senang, Jakarta Jakarta, dan majalah Ria Film. Aku paling suka membaca majalah Ria Film di rumahnya. Dari majalah itu, aku tau tentang Lin Ching Shia, Andy Lau, dan film-film mandarin yang bisa kulihat di video rumah Pak Haji Ali dengan membayar 50 rupiah hehehe ... betul, di kampung itu, kita bisa nonton video selayaknya pergi ke bioskop dengan membayar.

Di depan rumah petak kami, tinggallah keluarga Pak Ali. Pak Ali ini supir angkot nomor 08 jurusan Pasar Anyar - Citeureup. Istrinya setiap pagi berjualan lontong sayur dan bihun goreng. Kalau si Mamah punya uang belanja lebih, kami menikmati sarapan mewah lontong sayur atau bihun goreng bertabur telur dadar buatan Bu Ali.

Dari mereka-mereka inilah akhirnya Aku menyukai dangdut.

Harus kukatakan, sedari kecil kami - Aku dan Aan adikku, terpapar dengan banyak jenis musik.

Mamahku penyuka sejati Janis Joplin, Deep Purple, The Doors, The Rolling Stones, The Beatles, Frank Sinatra, Nancy Sinatra, Pat Boone, Elton John, dan Eric Clapton

Kami tumbuh dan belajar menyenangi penyanyi yang kusebutkan tadi.

Selain itu, Mamahku juga suka Utha Likumahua, Vina Panduwinata, Elfa's Singer, bahkan jajaran artis-artis JK Record hahahaha

Tapi. Tidak pernah. Menikmati. Dangdut.

Awal-awal kami pindah ke Kampung Kramat. Kami tersiksa.

Alih-alih kami dibangunkan oleh kokokan ayam jago, pagi kami dibangunkan oleh suara Hamdan ATT yang membahana, berasal dari kaset yang diputar oleh Pak Sodikun.

Dinding kamar rumah petak itu demikian tipis. Kami merasa terganggu tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Belum lagi, kalau sambil menyiapkan dagangan gorengannya, Pak dan Ibu Sodikun duet bernyanyi mengiringi Hamdan ATT, Mansyur S atau Ida Laila.

Berisik. Berisik. Berisik.

Tapi nampaknya, di lingkungan itu, cuma kami saja yang merasa terganggu. Yang lain sepertinya menikmati.

Lain Pak Sodikun, lain pula Pak Ali.

Pak Ali ini penyuka semua lagu-lagu Rhoma Irama.

Setiap hari, kalau Pak Ali ada di rumah, semua lagu-lagu Rhoma Irama yang dimilikinya diputar.

Kalo radio tape Pak Ali bernyawa, mungkin akan berteriak, "Hentikaaaaaannn!!!! aku lelaaaaah!" hahahahaha

Lama-lama kami terbiasa.

Lama-lama kami suka.

Apalagi Rhoma Irama.

Tanda-tanda kami mulai menyukai lagu dangdut ternyata menjadi 'social lubricant' yang ampuh untuk kami bisa lebih diterima sebagai bagian 'keluarga' di komplek rumah petak itu.

Dari Pak Ali, aku mendengar cerita tentang betapa hebatnya Rhoma Irama.

Setiap mendengar ceritanya yang berapi-api, tumbuhlah rasa kagumku.

Rhoma Irama, hebat!

Kekaguman makin menjadi saat Aku mulai cinta dengan lagu-lagunya.

Setiap pulang sekolah, Aku meminjam kaset-kaset milik Pak Ali. Aku pelajari cengkok lagunya, Aku hapal liriknya.

Susah. Karena menurutku, harmoni pada lagu-lagu Rhoma Irama itu harus dibawakan dengan perasaan. Setiap lagunya punya jiwa dan karakter sesuai isinya.

Hebat!

Pada akhirnya, aku mengidolakan Rhoma Irama dengan sepenuh hati.

Lagu-lagunya menghibur kami sekeluarga saat kami dirundung lara.

Well, nggak cuma keluarga kami nampaknya. Tapi juga keluarga Pak Ali, Pak Sodikun, Mas Budi, bahkan Mbak Emi -kalau Ia lagi nggak mabuk hehehehe.

Bahkan, saat film terbaru Rhoma Irama bersama IDA IASHA berjudul Nada dan Dakwah diputar. Kami beramai-ramai naik angkot Pak Ali pergi ke Cibinong Theatre ikut mengantri nonton. Tiket? 400 rupiah saja waktu itu plus paha bentol-bentol karena digigit kutu busuk :) maklum, kursinya kursi kayu yang tak terawat hehehehe.

Aku punya impian, pada satu saat, Aku harus melihatnya bernyanyi langsung di depanku!

Mimpi itu, kubawa sampai saat ini. Beberapa kali kesempatan untuk melihatnya bernyanyi lewat begitu saja karena satu dan lain hal.

lebih dari dua puluh tahun, aku memendam mimpi ini (mulai lebay hahahahaha)

Sampai akhirnya, kudengar Rhoma Irama mau manggung di Studio 3 dan 4 MNC TV!


Aku bertekad untuk datang.

Jejaring pertemanan digunakan. Tapi tak ada yang seratus persen menjanjikan kepastian aku bisa masuk ke studio 3 dan 4.

Peduli setan. Aku nekad datang kesana.

Seperjalanan. Aku sudah panas dingin.

Antusias dan rasa kuatir campur aduk.

Sampai di MNC TV, aku bingung.

Tak ada orang untuk bertanya.

Akhirnya ngikut nggrombol dengan orang-orang yang kuasumsikan ingin masuk juga ke studio 3 dan 4.

Ternyata benar.

Aku diterima sebagai keluarga besar hahahahaha.

Keluarga besar pecinta Rhoma Irama.

"Sampeyan suka dengan Rhoma Mas?"

"Iya..."

"Wuiiih uedaaan ... Sampeyan kayak bukan penggemar dangdut. Bajunya klimis kayak eksekutif muda!... nama saya Jumadi mas!"

"Saya Agus...", duileeee baju klimis ala eksekutif muda?! hahahaha bo', cuma pake kaos polo sama jeans kaleeeee.

"Lagu favoritnya apa Mas Agus?"

"Setitik air hina mas... saya hapal jaya!"

"Wuiiiih ... lagunya susah tuh mas!"

Ampun, aku bangga banget! hahahaha

Detik-detik menjelang siaran live on-air jam sembilan malam.

Saat itu sudah jam delapan. Tak ada kepastian Aku bisa masuk studio.

Aku sudah resah tidak karuan.

Pokoknya, gimana caranya, aku harus masuk. Mimpi itu tinggal sedikit lagi bisa diwujudkan. Aku harus berjuang! (mulai lebay lagi hahahaha)

Aku berjanji, kalau sampai bisa masuk, aku mau sujud syukur di pintu studio.

Timbul Ide, melipirlah ke gerombolan penonton berbayar. Dengan tujuan, kalau pintu studio terbuka, aku bisa masuk ikut arus penonton berbayar.

Salah!

Koordinator penonton berbayar, bermata setajam elang! hahahahah

"Eh, yang ini bukan penonton bawaan gue nih! BAJUNYA BAJU ORANG KAYA!!"

Duileeeeeh ... pake KAOS POLO SAMA JEANS!!! ... mau nangis rasanya.

Harapanku untuk bisa masuk mulai punah.

Sampai akhirnya, kawannya kawanku Indi menghubungi.

"Halo, Agus ya? sorry, Aku dikasih tau Indi katanya kamu panik nggak bisa masuk? gue tadi abis meeting jadi nggak bisa langsung ketemu... lo ada dimana? gue samperin deh"

Senyumku mengembang seperti bolu kukus yang matang sempurna!

Tuhanku! impian itu terwujud!

Aku bisa masuk studio 3!!!!!

sepeninggal kawannya Indi setelah diantar masuk ke dalam, AKU SUJUD SYUKUR!!!!! hahahahaha

Peduli setan!

Saat pertunjukkan dimulai. Saat Rhoma Irama mulai menyanyi TAK SAMPAI 10 LANGKAH jaraknya dariku.

Aku menangis.

Mimpiku dijawab.

Satu lagu pertama, "Viva Dangdut" ... aku bernyanyi sambil menangis.

Setelah itu, Larutlah dalam keriaan.

Malam itu malam yang paling indah.

Malam saat diriku dibuat merona karena Rhoma.

Terima kasih Gusti Allah.

Satu lagi bukti bahwa doa itu PASTI dijawab.

Mimpi itu pasti terwujud kalau kita percaya.