Thursday, September 11, 2014
Shaken not stirred, please.
Sunday, August 24, 2014
Kecewa
Seringkali yang bikin kita kecewa itu bukan orang lain. Tapi diri kita sendiri dengan segala ekspektasi yang kita buat.
Sent from my Sony Xperia™ smartphone
Friday, August 22, 2014
Inspirasi Hidup
Inspirasi hidup memang bisa datang kapan saja. Dari siapa saja.
Ini office boy kantor karibku, Arifaldi Dasril.
Di saat yang lain mungkin selepas kerja segera bersenang-senang, Ia memilih belajar Adobe Photoshop menemani mereka yang sedang lembur. Tutorial di youtube, tentunya.
"Emang ngerti bahasa inggrisnya?"
"Enggak, tapi ikutin aja lah... Klik klik... Nanti juga ngerti maksudnya mas. Nanti kalau tabungan sudah cukup, mau les bahasa inggris"
Tahu cerita macam begini tuh pencerahan betul.
Semoga Ia rejekinya ditambahkan.
Semoga tabungannya segera dicukupkan buat les bahasa inggris.
Aku jadi ingat Badrun, office boy kantor lama. Setiap hari selalu tersenyum nir mengeluh.
Orang kaya kan katanya orang yang selalu pandai bersyukur dan selalu merasa cukup.
Badrun tuh ya begitu itu.
Hingga sebelum aku resign, Ia diangkat jadi staf administrasi.
Aku berdoa buat si dul ini.
Thursday, August 07, 2014
Katanya Setia. Katanya Cinta
Ada dinamikanya. Dalam dinamika, mungkin ada yang berubah. Cara memandang hidup, skala prioritas, visi, bisa jadi satu dan pihak lain mulai berbeda.
Kalau sudah begitu, kadar setia diukur dari mana? Keinginan yang satu menunggu yang lain untuk menyamakan irama dinamikanya atau diukur dari sejauh mana kita bisa jujur sama diri sendiri bahwa mungkin yang satu harus melepas yang lain supaya bisa berlari dengan dinamikanya sendiri dan menjadi pribadi yang seutuhnya?
I wonder ...
-elus2 jenggot.
Thursday, April 03, 2014
Think different
Baca copy ad apple 'think different'. Keren!
Begini ditulis:
They invent. They imagine. They heal. They explore. They create. They inspire. They push the human race forward.
Maybe they have to be crazy. How else can you stare at an empty canvas and see a work of art? Or sit in a silence and hear a song that is never been written? Or gaze at a red planet and see a laboratory on wheels?
We make tools for these kinds of people. While some see them as the crazy ones, wee see genius.
Because the people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do.
Monday, January 13, 2014
Jiro Dreams of Sushi
Jiro Dreams of Sushi
Kesindir.
Karena kerjaan yang ada hubungannya dengan masak-masak, akhirnya beberapa hari kemarin sempat ngobrol sama juru masak hebat, Adith.
Dia rekomendasiin film ini buat ditonton.
Jiro. Dianggap sebagai asset bangsa. 20 buah sushi buatannya seperti alunan orkestra saat disajikan berurutan.
Restorannya kecil di ujung stasiun kereta tapi dianggap sebagai restoran sushi termahal yang pernah ada.
Seperti kita menghargai batik sebagai hasil budaya inggil, demikian juga Jiro terhadap sushi.
Dibutuhkan 10 tahun magang di restorannya utk bisa memiliki keahlian membuat sushi kelas wahid. Latihannya dimulai dari menyajikan handuk cuci tangan dengan hangat yang tepat, memotong ikan, hingga naik kelas membuat tamagoyaki atau sushi telur dadar. Salah satu anak magangnya baru sukses membuat tamagoyaki setelah 300 kali percobaan.
Kemarin kan males banget mau kerja. Bikin proposal aja nggak kepengen padahal hari presentasinya udah mepet.
Di awal film ini, Jiro bilang:
"Once you decide on your occupation, you must immerse yourself in your work. You have to fall in love with your work. Never complain about your job. You must dedicate your life to mastering your skill. That is the secret of success, and that is the key to being regarded hoborably"
Ok, semangat!
Thank you adith utk referensinya filmnya. Bagus!
Sent from my LG Mobile
Wednesday, January 08, 2014
Stop Dreaming Start Living
Sunday, November 17, 2013
Kenapa ya kenapa.
Tuesday, November 12, 2013
Yang Detil
Monday, November 11, 2013
Inget Bapak
Thursday, November 07, 2013
Bego
Jadi inget.
Curhat:
"Kantor dan kerjaan gue menyebalkan. Gue udah nggak ada semangat lagi tiap bangun pagi mesti ke kantor"
Bukan kali pertama kudengar keluh ini.
Ditanya:
"Udah ngapain aja biar nggak begitu?"
"Udah kirim2 cv?"
"Udah nanya2 kerjaan sama temen2?"
"Coba liat cv lo!"
"Kok mbikin cv kayak gini?"
Jawabannya plintat plintut. Anak ini nggak serius untuk menolong dirinya sendiri.
"Udah curhatnya? Gue pernah mengeluh kayak gitu. Boong kalo gue bilang nggak pernah. I feel you. Tapi, Menurut gue, sekarang daripada lo berusaha nyari kerjaan baru, mendingan lo belajar bersyukur dulu"
"Bersyukur lo tiap tgl 25 ada uang buat bayar kost, ke club sekali seminggu, makan enak, baju bagus, naik taksi dan beli starbucks bisa tiap hari"
"Bersyukur bahwa dari kerjaan lo yg lo bilang menyebalkan itu, lo bisa ngopi2 di tempat ini buat curhat. Dan, setelah itu mungkin keadaan bakal pelan2 jadi lebih baik buat lo"
Dibalas muka sebel.
Cipika cipiki.
Yuk dag nek sampe ketemu lagi.
(Maaf ya, justru karena temen makanya dilarang ngomong pereeeuz)
Shared from Google Keep
Monday, September 16, 2013
Tentang Presentasi
Delivering a presentation well (the acting bit) is a useful skill, and one that can be learnt surprisingly easily, but what really matters is the playwright's skill; the ability to write a great presentation in the first place
- Stephen Bayley & Roger Mavity
Tuesday, August 20, 2013
Seandainya
Seandainya aku menjadi orangtua, tega kah aku mengutuk anakku sendiri?
Rasanya aku tetap akan berdoa dan bersedih.
Sedih. Bukan amarah.
Tuesday, January 15, 2013
Harta
Sent from my iPhone
Wednesday, December 26, 2012
Amira dan Raka
Monday, December 17, 2012
Pelajaran Tentang Cinta ...
Pelajaran cinta #1
"Aku nggak ngerti jalan pikiran Mama..."
"Sekarang kau tak akan paham. Nanti kau akan mengerti"
Perempuan. Ia menakutkan dalam keagungannya.
Pelajaran cinta #2
"Benci nggak kamu sama Bapak?"
"Enggak"
"Kenapa? Bapak kan banyak salah sama kamu..."
"Karena ternyata Bapak bukan nabi. Aku ndak perlu takut sama Bapak. Bapak ndak bisa pukul aku lagi. Bapak cuma manusia. Bisa salah, kayak aku. Bisa taku, kayak aku. Jadi aku ndak benci Bapak..... Karena Bapak bukan Nabi"
Pelajaran cinta #3
"Bapak keras ya sama kamu? ..."
"Iya..."
"Tapi Bapak sayang sekali sama kamu..."
"Ndak apa. Ditampar sesekali bikin aku sadar kalau aku masih manusia. Bapak seperti jam weker. Menyebalkan. Tapi bikin aku ndak telat sekolah. I love you Bapak"
Pelajaran cinta #4
"Memberi. Itu saja..."
"Gimana mau memberi kalau tak memiliki, Ma?"
"Memberi. Itu saja ..."
"Mama, aku bukan seperti lagu berjudul Kasih Ibu... Hanya memberi tak harap kembali"
-Setelah hidup 25 tahun di dunia, baru aku paham maknanya
Pelajaran cinta #5
"Kamu banci ya?..."
"Kalo aku banci, Bapak pukul aku?"
"Enggak. Kamu yang pukul aku. Kencang..."
"Satu sama pak ..."
"Impas..."
"Jadi rela?..."
"Impas..."
-And for that Bapak, I love you
Pelajaran cinta #6
"Janji nggak jadi tua dan kesepian ya.."
"Janji..."
"Janji nggak bikin Mama sama Bapak kuatir ya ..."
"Janji"
-Mereka memintaku untuk selalu berusaha bahagia. And that's exactly what I am gonna do for the rest of my life ...
Friday, September 07, 2012
Pertanyaan dan Jawaban
Sent from my iPhone
Monday, July 30, 2012
Diabaikan ...
Sunday, May 13, 2012
Selamat Hari Ibu....
Rencananya sih mau menulis tentang Hari Ibu.
Katanya sih hari ini.
Walaupun secara pribadi aku ndak menganggap penting, tapi ya sudahlah.. kadang kita perlu penanda untuk lebih menghargai sebuah momen atau mungkin persona yang seringkali ketulusan dan cintanya suka kita anggap sebagai sebuah keniscayaan alias boso enggrisnya 'taken for granted' … wuih, kalimat panjang ini kok kesannya mbois dan SOK intelek ya hahahaha.. nggak aku banget.
Tadinya juga, tulisan tentang Ibu ini mau kubuat super melankolis dengan pilihan kata puitis yang kalo misalnya aku membacanya kembali, aku bisa menangis haru biru semacam sehabis nonton film drama seri Korea.
Tapi niatan itu batal, gara-gara semalam aku berkumpul dengan Aryan, Daniel, Putra, dan Adit bicara soal 'bullying' …
Maaf sok keminggris ngomong 'bullying'. Karena sejujurnya, aku belum menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk kata yang satu ini. Kalo ada yang tau? sini mau kok diberi tahu :) .. alaaah apaan sih gus hehehehehe
Aha! ilham tiba!
Aku mau menulis bagaimana Ibuku melindungi kami anak-anaknya dari dampak psikologis perlakuan bernama 'bullying' ini.
Dari kecil, aku ini target potensial.
Kurus, item, kurang gizi, terlihat rapuh.
Dari kecil, aku sering sering dicemooh dan diteriaki, "Agus banci… Agus banci!"
Karena bicara terlalu 'lemah lembut' untuk kanak seusiaku.
Jarang keluar kelas saat istirahat.
Terlalu asyik dengan duniaku sendiri dengan buku yang kubaca.
Waktu itu, banyak teman sekelas yang tak tahu kalau selepas sekolah, aku juga sangat menikmati mandi di kali dan terjun salto dari pohon kelapa yang tumbuh miring di pinggir kali dengan Aan adikku.
Atau main layangan di sawah lepas panen yang mengering kemudian berubah menjadi tanah lapang bersama adikku.
Bahkan naik kerbau di sawah.
Sedemikian seringnya aku dilecehkan dengan panggilan "Agus banci" sampai akhirnya aku ndak pernah mau datang ke acara reunian SD.
Well, pernah sih sekali sempat datang.
Tapi tak menyenangkan.
"Hi Andi … ini Agus .. masih inget?"
"Agus? Agus yang mana ya? Oooooo Agus banci .. woooi apa kabar? hahahah gila udah lama banget ya nggak pernah ketemu!"
Yak, saya cuma bisa senyum.
Aku sekarang ndak peduli orang ngatain aku apa … Agus banci kek! waria kek! Ndak peduli.
Tapi ketika itu diucapkan oleh kawan jaman SD. Rasa sakitnya masih sama seperti saat aku masih SD dulu.
Dulu, aku sering pulang ke rumah selepas sekolah dengan menahan tangis.
Ibuku tempat mengadu.
"Aku kenapa sih dipanggil banci? aku memang begini? aku biasa-biasa aja kok. Tapi kenapa mereka manggil aku banci cuma karena aku ndak sepaham sama mereka?"
Ibuku cuma berkata,"Mereka cuma iri sama kamu!"
"Aku nggak mau mereka iri. Aku ini kan biasa saja!"
"Kamu istimewa. Kamu punya yang tak mereka miliki. Kamu istimewa!"
"Aku istimewanya dimana?"
"Kamu cerdas. Anak-anakku nggak ada yang bodoh! Kamu perencana yang baik, dan Aan pelaksana yang baik dari semua yang engkau rencanakan! Kalian sempurna! Makanya kalian bersaudara!"
"Aku mau mereka berhenti memanggil aku banci!"
"Betul kamu mau begitu? Baiklah, mulai besok, kalau mereka melecehkanmu lagi, LAWAN! JANGAN PULANG HANYA MENANGIS!"
"Berantem maksudnya Ma?"
"Iya, lawan! Kalau mereka menghinamu, bilang baik-baik kalau yang mereka lakukan salah dan itu membuatmu sakit hati. Kalau ucapan tidak bermakna, HANTAM mereka!"
"Tapi badan mereka lebih besar dariku"
"Kamu mungkin akan kalah. Kamu mungkin akan dihajar sama mereka. Tapi pilih: kamu pulang dengan rasa tidak berdaya atau kamu pulang dengan rasa bahwa kamu sudah membela apa yang kamu yakini benar?"
"Satu lagi Gus, isi otakmu jauh lebih bermutu dari mereka. JANGAN BIARKAN MEREKA MENGUNGGULIMU! KAMU HARUS JADI NOMOR SATU DI ATAS MEREKA!"
Dan itu yang aku lakukan.
Hampir setiap hari, aku pulang dengan muka bengep memar. Atau tangan yang lecet. Atau bahkan kombinasi dari keduanya ditambah dengan kancing baju yang lepas akibat berkelahi dengan mereka yang memanggilku banci.
Aku selalu kalah.
Ya iyalah. Lha wong biasanya melawan lebih dari dua hahahahah
Hampir setiap hari aku dipanggil guru BP.
Katanya Agus sudah berubah jadi anak bengal.
Begitu yang dibilang guruku pada Mama.
Mama hanya tersenyum. Tapi tak pernah meminta maaf atas kelakuanku.
Aku juga ndak pernah disuruh meminta maaf.
Pertarungan fisik kuimbangi dengan persaingan di mata pelajaran.
Tak pernah kumaafkan diriku kalau diantara mereka yang selalu melecehkan itu mengungguliku.
No, I am not gonna let them. To-the-HELL-to-the-NO hahahaha
Masa SD kulalui dengan dagu terangkat.
Aku melawan bullying dengan caraku sendiri.
Dengan cara yang diajarkan Mama.
Masa SMP dilalui dengan cara yang sama.
Tapi yang neraka sesungguhnya adalah masa SMA.
Pernah, selepas jam sekolah. Aku dihadang dijalan.
Diseretnya aku ke kamar mandi kecil dibelakang mushala sekolah.
Satu lawan berenam. Bisa apa aku?
Dilucuti celanaku dan celana dalam.
Diikatnya tangan dan kakiku.
Aku hanya memakai baju sekolah.
Dan, kamar mandi kemudian dikunci.
Aku ditemukan penjaga sekolah jam 7 malam.
Dipikirnya kamar mandi belakang mushala berhantu. Dan hantunya sedang marah.
Padahal itu aku menendang-nendang pintu kamar mandi.
Sampai akhirnya sumpal mulut terlepas dan aku bisa berteriak.
Setelah kejadian itu, aku takut berangkat sekolah.
Tapi Mamaku bilang, "Ingat Gus, LAWAN! jangan biarkan mereka menang!"
Dan setiap berangkat ke sekolah, aku seperti agus kecil jaman SD yang berangkat ke sekolah dengan tantangan yang sama setiap hari.
Aku memilih untuk melawan.
Aku memilih untuk mengalahkan ketakutanku sendiri.
Aku dikuatkan oleh Mama.
Dengan segala pola asuhnya yang spartan dan keras dulu.
Mom, i thank you. With all my heart.
Happy mother's day.
I love you. With all my heart.
Sunday, April 08, 2012
Ibuku Harimau .. Hauuuum!

Senin pagi.






