Sunday, August 30, 2009

Daun Singkong Oh Daun Singkong...


Gara-gara kemarin makan nasi padang beserta uba rampenya... tau kan? sambel ijo dan daun singkong.


aku lama sekali ngliatin daun singkong itu dan senyum sendiri

jadi inget Bapak.

Bapak paling anti sama yang namanya daun singkong.

Masakan apa pun kalau kecampuran daun singkong, dijamin ndak akan disentuh.

Air mukanya kalau dibayangkan sekarang sungguh lucu hehehe ... kayak anak bayi melepeh bubur susunya.

alasannya, "Haduuuuh ... awit cilik panganane godhong telo puhong ... wis tuwo kok yoo iku maneh! ora gelem aku!"

terjemahannya, "dari kecil makan daun singkong teruuus ... udah tua begini masak daun singkong lagi! ndak mau!"

Aneh! tapi ya itu lah Bapakku.

Jadi mikir, kita kadang terlalu melekatkan satu benda dengan yang namanya rasa.

rasa yang dilekatkan macam-macam ...

Bagaimana dengan diriku sendiri? haduh .... daftarnya bisa macam-macam.

--------------------------------------------

Saya dan Masakan si Mamah
Si Mamah itu hobi masak dan jangan ditanya, masakannya enak! dulu jaman kecil, jaman kami hidup prihatin ... satu hal yang jadi hiburan si mamah adalah membuka-buka buku resep masakan setiap sore. Air mukanya sumringah penuh senyum membayangkan Ia sibuk di dapur memasak apa yang ada di buku resep. Kami anak-anaknya suka sekali memperhatikan. Di mata kami, air mukanya membahagiakan.

Dalam hati aku berjanji, "Kalau nanti aku kerja dan punya uang, aku akan memastikan si Mamah punya uang untuk bisa masak apa pun yang Ia pengen Masak! aku akan memastikan di meja makan ada masakan-masakan hasil jiplakannya lewat buku masak yang dulu cuma ia buka-buka dan baca!"

dan sampai sekarang, setiap aku nelp si Mamah... pertanyaan pertamaku adalah:

"Masak apa Mah?"

terlontar otomatis begitu saja.

Kalau jawabannya dia masak yang menurut ukuranku "sederhana" misal:

"Alaaah ngene wae Gus ... njangan (sayur) bayem bening karo tempe bacem!"

aku kok merasa bersalah ya heheheh .... kayak aku kurang ngirimi beliau uang hahahahah.

kalau jawabannya:

"Masak nasi jaha plus tino ransak bulu!"

"Masak ayam bacem sama kare kentang!"

Bahagia sekali rasanya! hahahahahaha

---------------------------------------------------

Saya dan traktir teman
Jaman aku kuliah... aku pernah mengalami yang ..errr kasarnya ya, mbeli teh botol aja mesti mikir berkali-kali! :)

Kalo inget jaman itu aku suka mikir,

"Kok idup gue dulu kayak di film Dono Kasino Indro pas mereka lagi kuliah ya ....!"

komedi banget!

dulu, alam sadarku berkata

"Kalau nanti aku urip mulyo ... bekerja dan menghasilkan uang ....aku ndak mau itungan kalau soal makanan! kalau aku ada uang, aku ndak akan mikir dua kali untuk ngajak temen makan enak! kalau bisa, aku yang traktir-traktir!"

dan kejadian sampai sekarang

aku sulit mengerem kebiasaanku makan enak kalau lagi ada duit.

-----------------------------------------------

Saya dan Tas
Jaman aku kecil dulu, ada seorang kawan yang koleksi tas "Sanrio"-nya uedaaan banyaknya!

Kalau ndak tau "Sanrio" ... itu merk dari jepang yang mengeluarkan karakter kayak "Hello Kitty" ... "Twinkle Twinkle Star" dan banyak lagi lah!

Aku dulu melongo liat dia ganti-ganti tas kayak ganti-ganti baju!

buatku, hidupnya dia bahagia banget! heheheh

Sekarang, aku suka mbeli-mbeli tas walaupun kadang ndak aku pake karena ndak cocok!

Bukan tas yang harganya mahal siih ... tas-tas biasa yang masih kebeli sama duit gaji tiap bulannya tapi ya itu ... ndak pernah bisa dipake!

kalo ngeliat onggokannya di lemari, rasanya sayang sekali!

Tapi begitu aku mau kasih ke orang .... percaya lah, rasanya seperti mau pisah sama pacar

berat banget!

------------------------------------

Saya dan Tustel
Dulu, aku selalu menganggap bahwa tustel itu barang mewaaaaah banget! rasanya jadi manusia yang paling eksis banget deh kalo punya tustel.

Pikiran bahwa tustel itu barang sangat mewah terbawa sampai sekarang

setiap ngeliat tustel digital ... mengabaikan bisa membelinya... aku kok selalu merasa kayak mau beli mobil. muahaaal banget! heheheheh

dan jadilah sampai sekarang aku ndak pernah punya tustel. ada yang mau kasih ? :)

Ihhhh .... daftarnya baru keinget empat ... tapi kok aku kayak orang sakit jiwa ya .....

Sunday, August 16, 2009

"UP" .. Pilem Sialan!


Sialan!

Begitu selesai nonton film ini,

Otakku seperti kelas penuh dengan kanak-kanak badung yang berteriak riuh rendah saat Ibu Guru ndak masuk.

Katanya hidup itu seperti berpetualang,

belok kiri atau belok kanan?

nyebrang kali atau naek pohon?

nanjak atau ndronjong berlari turun?

kita ndak pernah tahu tantangan macam apa lagi yang bakal disajikan di depan kita.

Petualangan langsung dimulai begitu paru-paru di kotori udara dan kita membuat kotor semesta dengan polusi suara di kali pertama

dengan siapa kita ditemani berpetualang jadi tidak penting lagi

pada ujungnya, tiap orang punya plotnya sendiri-sendiri.

saat berpetualang,

kawan bisa datang dan pergi

musuh bisa datang dan pergi

bahkan yang kita anggap sigaraning ati alias belahan jiwa pun bisa pergi

yang kekal cuma RASA.

Dari suami

dari istri

dari kawan

sebenarnya kita sedang belajar bersama-sama untuk memahami apa artinya "berteman dengan kesendirian"

sudah terlalu lama kita dilenakan dengan ilusi untuk melupakan seorang kawan bernama "kesendirian"

suami mati

istri pergi

kawan permisi mau mandi

dan kita ditinggal dengan plot petualangan yang harus dijalani sampai akhir.

pada ujungnya, kawan bernama "kesendirian" adalah partner sejati.

Carl Fredricksen, sang kakek tua di film ini seperti mengingatkanku untuk terus bermimpi.

Kata Simbah Carl ... mimpi adalah bahan bakar utama kita mengarungi petualangan sampai gigi kita ompong (wait, aku sudah ompong sih sekarang) ... sampai nafas kita satu dua .. sampai jalan pun harus pakai tongkat kaki empat.

Katanya pula, suami .. istri .. sahabat ... kerabat adalah sekedar sisipin karakter peneman pada setiap bab-bab dari plot besar petualangan kita.

bersiaplah untuk kemungkinan ditinggalkan mereka begitu kita berpindah bab

sialan sialan sialan!

maksudnya pengen ha ha ha hi hi hi

malah kejebak nulis sing ndak nggenah macam begini


Wednesday, August 12, 2009

Mari Bicara...


Aku mau bicara ngalor ngidul dulu ah ...

Baru saja mbaca tulisan dewi lestari di blog-nya ... tentang hubungan antara anak dan orang tua. Dalam hal ini, hubungannya dengan sang Ibu.

Menyentuh sekali...

Bagaimana tulisannya membuatku menyusuri relung-relung paling dasar antara hubungan saya dengan Mamah dan Bapak.

Kata Mbak Dewi Lestari, pada ujungnya... yang paling esensial adalah bagaimana anak dan orang tua berbicara dari hati ke hati tidak dalam konsep anak dan orang tua ... namun sebagai manusia utuh.. dewasa.

Bagaimana satu individu yang matang berkomunikasi dengan individu yang lain yang bersama-sama menjalani hidup .. ditempa dengan pengalaman ... dan belajar banyak dari kehidupan.

Kalau merunut perjalanan kami,

Aku semakin sadar

Begitu kuatnya pengaruh Mamah dan Bapak tentang bagaimana kami memaknai hubungan kasih ... menunjukkan rasa sayang ... juga bagaimana kami memandang dan menjalani hidup.

Demikian juga, aku merasa ... bagaimana kami bereaksi terhadap apa yang terjadi dalam hubungan mereka, memberikan pembelajaran bagi Mamah dan Bapak mengenai pemaknaan cinta kasih ...

--damn, at this point ... a glass of cold beer will be just fine! hehehe--

Tidak ada sekolah dimana kita bisa belajar untuk menjadi orang tua

Landasannya cuma keyakinan bahwa kita harus rela untuk bertemu dengan pengalaman-pengalaman baru dan harus bereaksi terhadap pengalaman itu ...

siap atau tidak siap itu bisa didebat sampai waktu yang terentang.

Aku meyakini seorang perempuan tidak serta merta tumbuh rasa keibuannya...

pas mak mbrojol anak dari rahimnya ... satu hal yang Ia rasa mungkin justru bukan rasa keibuan yang membuncah

jangan-jangan justru rasa kaget...

kaget kok yo iso methu jabang bayi dari badannya

kaget lan was-was .. "Aduuuh piye carane aku le ngrawat iki jabang bayi"

Rasa keibuan tumbuh seiring dengan Ia mengalami pengalaman-pengalaman baru

ngganti popok kalo eek

mulai belajar membedakan tangisan bayi ... tangisan kalo laper beda dengan tangisan kalo dia ngompol ...

Ia bertumbuh seiring dengan sang anak bertumbuh...

mengagumkan ya! ...

hihihihi aneh... aku kok ngomongin tentang ibu-ibu sih ...

Tanpa disadari,

orang tua dan anak ada dalam relasi saling membutuhkan untuk mereka bisa bertumbuh .. untuk mereka bisa mengalami pengalaman-pengalaman baru yang sudah direncanakan oleh Sang Hidup.

yang satu jadi ndak pengin kehilangan yang lain.

lompat sedikit ah,

Jadi inget.. kemarin pas lagi ngopi-ngopi cantik di sebuah mal

Aku ngliat Ibu muda, baby sitter, anak dan tas belanjaan

yang nggendong anak siapa? baby sitter

yang njinjing tas belanjaan siapa? Ibu muda

aku kok jadi sedih.

Perempuan itu baru saja kehilangan satu momen dimana Ia sebenarnya punya kesempatan untuk merasakan perjalanan pengayaan batin.

Dari dulu, aku selalu suka dipeluk dan memeluk si Mamah

Buatku, aroma tubuhnya adalah aroma yang paling enaaaak yang pernah ada di dunia

aroma tubuhnya menentramkan.

Dulu, aku selalu suka bagaimana Bapak menggandeng tanganku setiap kami punya kesempatan piknik ke Kebon Raya, Bogor. erat dan mantap .. rasanya, semua akan baik-baik saja kalau ada Bapak disebelahku.

Dulu.......errrrr....... aku tidak terlalu suka dengan cara spartan Bapak mendidik kami.

Aku ndak akan mencontoh caranya ... tapi toh sekarang aku salut bahwa karena itu, aku diajar untuk tidak terlalu gampang mengasihani diri sendiri.

dan perempuan yang kulihat tadi baru saja menukar rasa-rasa itu dengan tas belanjaan.

aaaah mungkin aku saja sih yang terlalu sensitif.

Ok, balik lagi ke topik awal.. hehehehe

eh, tunggu .. di awal aku ngomong apaan sih?

tunggu bentar aku scroll ke atas dulu hehehehe

lupa bouw...

o iya,

Kurasa, beberapa tahun belakangan ini lah... kami mengalami pengalaman-pengalaman baru nikmatnya melepaskan atribut anak dan orang tua tanpa melepaskan rasa hormat

dan bicara sebagai manusia yang matang

dan kemudian memaklumi dengan ikhlas proses pembelajaran hidup.

Ini juga berkaitan dengan pemaknaan ku mengenai kata MAAF seperti yang pernah kutulis sebelumnya.

Perlahan, tembok dendam terkikis runtuh ...

rasanya damai sekali

dalam hidup, baru kali ini perjalanan spiritualku membawaku ke level "kedamaian" yang baru ...

pertanyaannya untukmu,

apakah kalian juga sudah mengalami hal yang sama?

--mandi lagi ah ... kepalaku kok tiba-tiba panas abis nulis yang sok daleeeem begini heheheh--



Tuesday, August 11, 2009

Menghitung Kado



Ehhh ... aku hebat! dalam satu hari menulis dua postingan heheheh ...

Ok, mari berlanjut aaah

Iya iya betul ...

Rejeki .. kenikmatan dari Gusti Sing Paring Urip itu ndak akan pernah bisa dihitung sama kita manusia.

dalam bahasa enggris ... dan kudengar di pilem "Kungfu Panda" ... dibilangnya eperiday is a giv ... dat is way dey kol it presen ...

Setiap hari, Gusti Sing Paring Urip bagi-bagi kado buat kita semua ....

Wow ... Supermarket deket kost-kostan kalah tuh ... padahal Supermarket itu selalu bilang padaku kalau mereka tiap hari bagi-bagi kado .. asaaaaaal beli minyak goreng minimal 2 kilo hihihihih

tapiii, boleh dong aku, sesuai dengan kemampuan mencoba menghitung kado apa saja yang sudah dikasih ....

biar aku semakin yakin kalo aku disayang sama Gusti Sing Paring Urip

pastinya sih disayang buanget .. lha wong bentukan bernama Agus Hariyo Purnomo ini, cuma SATU di dunia ... nggak ada yang sama percissss denganku heheheh

Kalo cuma satu ... kan pastinya di eman-eman ... errr maksudku itu bahasa jawa buat disayang-sayang .. walaupun ndak sampai digendong kemana-mana (mulai garing hehehe)

Hemm sampai seharian ini aku sudah di kasih kado apa ya :

"Supir metromini pagi ini ndak ugal-ugalan .... YANG ARTINYA aku dikasih kado ndak mengalami mual-mual dikarenakan metromini yang zig zag ndak karuan"

"Matahari pagi tadi cuma senyum malu-malu .. jadi ndak panas ... YANG ARTINYA aku ndak diperbolehkan bertambah legam kulitnya hihiih"

"Mau sarapan uenaak ... lontong sayur bersantan kental ....lha kok cuma nemu 2 keping Weetbix 100% whole grain dan satu sachet MILO... YANG ARTINYA aku ndak diperbolehkan untuk MENGGEMBUNG dengan sukses ... waktunya untuk diet hahahah"

"Tadi di jalan, ada mbak manis yang ngeliatin aku dengan tatapan kagum .... YANG ARTINYA aku masih tetap dikasih kegantengan dan masih enak diliat"

"Begitu masuk kantor, ndilalah radio tape nyala dan memutar Mbak Lady Gaga teriak-teriak Poker Face ... geyol geyol sebentar ... YANG ARTINYA Gusti Sing Paring Urip Request lagu sing mbikin aku bersemangat"

"Dikasih kerjaan sangat sedikit hari ini ... YANG ARTINYA, aku masih diperbolehkan santai-santai di kantor sambil browsing sana-sini heheheh .... termasuk kado dooong itu!"

dan kawan,

kadomu hari ini apa?


Monday, August 10, 2009

Tentang MAAF


Mari kita bicara tentang kata MAAF ...

Kata yang butuh waktu cukup lama buatku untuk bisa sepenuhnya memaknai.

Mendendam itu manusiawi kah?

Kurasa iya...

Apalagi ketika kita berkali-kali dibenturkan dengan situasi yang membuat rasa hati menjadi pahit dan getir

dibenturkan seperti memar yang belum hilang lebamnya namun keburu disusul dengan memar berikutnya di tempat yang sama ...

Thrombopop ... obat oles memar niscaya kurang digdaya untuk menghilangkan sakitnya.

lho... lhaaa kok malah ngomongin obat .. bwehehehe .. dasar cah gemblung!

Dua minggu lalu ada kudengar,

"In forgiveness there is love"

dalam maaf ada cinta... dalam cinta ada pemaknaan hidup ... dalam pemaknaan hidup ada tujuan ...

Dua minggu lalu pun ada kudengar,

"Mendendam itu seperti kita meminum racun ... tapi berharap orang lain yang mati"

Ketika kudengar kalimat sedemikian,

Aku seperti merunut kembali jalan hidupku

Aku diajak melihat kebelakang

dan mengingat bagaimana aku memaknai kata maaf.

Pernah nonton sinetron "Keluarga Cemara" ?

Keluarga kecil, sederhana, bersahaja dan sungguh gambaran ideal seperti yang yang ada di dalam buku-buku Enid Blyton ...

Naaah, keluargaku tidaklah seperti itu hehehehe....

Aku ndak bilang masa kecilku suram dan tidak menyenangkan

Helll yesss!!! masa kecilku sangat menyenangkan!! ...

tapi selain itu,

Aku dan Aan juga menghabiskan masa kecil dengan belajar susah payah memahami hubungan kasih Si Mamah dan Si Bapak yang sungguh rumit dan sangat sulit dimengerti ...

Katanya, Cinta esensinya ada di RASA ...

Tapi, ketika sang RASA sulit dimengerti bahkan cenderung menyakiti orang-orang di lingkaran orbitnya ...

Bukan kah cinta kemudian menghilang maknanya?

-eitttsss sedaaaap!! hahahahah Agus kalo ngelindur emang suka keluar kalimat dahsyat bweheheh-

Kami -Agus dan Aan adikku- tak pernah bisa memahami bahwa ada seorang perempuan yang justru karena rasa cintanya yang besar terkesan milih pasrah dengan keadaan .... seperti mencinta dengan mata yang tertutup, telinga yang tuli, dan mulut yang bisu

Di saat yang bersamaan... kami melihat seorang perempuan yang kuat ... dan mampu membawa kami selamat dari titik-titik badai dan berhasil membawa kami untuk tidak tenggelam dan bersyukur sesudahnya bahwa kami ini ternyata manusia yang kuat!

Aku juga berusaha memahami bahwa ketika ada kudengar

"Bapak sayang kok sama kalian .."

aku berharap bahwa aku mengerti dengan makna kalimat itu

sungguh-sungguh aku berusaha mengerti ...

dan ketika Aku sepertinya gagal memahaminya

Aku mendendam ...

Sekarang aku paham,

Dendam itu adalah manifestasi dari perasaan gagalnya aku memaklumi bahwa lelaki di depanku adalah manusia ...

dan manusia bukan malaikat yang tak mampu berbuat salah

Pernah dengar,

"Forgiveness is more about yourself" ?

kurang lebih dulu, si Mamah juga pernah berkata begitu

dan lagi-lagi, aku gagal mengerti

Dulu,

Maafku cuma maaf di bibir

Sekedar untuk menyamankan hati gundah ... untuk mengelabui hati yang pilu untuk sementara waktu ...

Dan benar ...

Satu kata ...

MAAF

butuh waktu lama untukku memaknainya sebenar ...

ada kudengar,

"In forgiveness there is love"

"Forgiveness is more about yourself"

Saya melihat ke belakang ...

dan saya mengangguk membenarkan.


Wednesday, July 22, 2009


Oleh si Mamah, aku dari kecil ndak pernah diajar untuk mengeluh... pelajaran ini konsisten dicontohkan olehnya.

Seingatku, dari dulu sampai sekarang... Si Mamah ndak pernah mengeluarkan kata-kata bernada keluh keluar dari mulutnya.


Dulu, jaman kami masih kecil ... kami hidup dalam kondisi yang sungguh prihatin. Di mata kami (Aku dan Aan, adikku)... baru sadar sekarang, Si Mamah mengajarkan bahwa hidup itu harus kayak bajaj ... mau depan belakang, kiri kanan udah mentok ... bajaj selalu saja bisa belok! semua bisa disiasati ...


yang sedih bisa dibikin suka hati

yang kesal bisa dibuat jadi sesuatu yang tak membuat sesal

Yang sumpek bisa dibikin sesuatu yang ndak mbikin kepala jadi judeg

Si Mamah mengajarkan untuk selalu menertawakan kesempitan...


celetukan-celetukannya justru membangkitkan kami anak-anaknya untuk bermimpi dan yakin pada mimpi-mimpi itu bahwa suatu saat mimpi dijawab 100% komplit ndak dikurang-kurangi!


"Bapak lagi pergi jauh cari duit banyak buat kita... ambil buku ... tulis apa aja yang kamu mau beli dengan uang yang banyak itu!"


sedih jadi berganti kesenangan menuangkan rasa hati ...

sedih jadi empat lembar daftar mimpi ...


"Tuhan lagi becanda sama kita ... kita punya rumah kok malah ngontrak ya heheheh ... biar ngerasain jadi juragan kontrakan kayaknya!"


"Mending makan begini aja ya .. diawet-awet uangnya.. mbesok sabtu minggu jalan-jalan"

kami memahami nilai uang, hidup cermat dan prihatin dengan cara-cara yang ajaib

Kalau kami mengeluarkan kalimat mengeluh ...

Si Mamah bakal segalak kingkong ngamuk!


dari situ bermula .. sekarang sering kali muncul celetukan dari kawan seperti begini:


"Ya ampun cinnn .. kerjaan buanyak kok lo masih ketawa-tawa aja sih bo' .... plis deh!"


"Bo' .. lo sedih beneran nggak sih? kok gue nggak yakin ya?!"

"Gue nggak percaya deh ... serius lo bo'? terus gimana? ... aaaah ....lo ngomongnya sambil cengengesan ketawa-ketawa gitu sih!"


efek sampingnya dari cara spartan si Mamah dulu adalah... sekarang, aku sulit total kalo curhat yang sedih-sedih... cuma seiprit-seiprit ... ndak tuntas hahahahahah!

selalu saja ada yang tertinggal .. satu atau dua kalau lagi curhat yang sedih-sedih hahahahah ...


errrrr dipikir-pikir, itu sebenarnya bukan efek samping yang negatif malah ya ... justru bagus malah .. orang lain jadi nggak nanggung terlalu banyak ... beban hidup mereka kan juga udah berat heheheheh

Tapi dulu, beberapa kali sih kami memergoki Si Mamah menangis diam-diam ... biasanya di dapur ... malam-malam saat dianggapnya kami sudah tidur.


Kami sih pura-pura ndak tau aja ... justru melawak lebih sering ... biar rame


yang rame-rame biasanya ces pleng .. mujarab ngusir sedih!


dan itu kebawa sampai sekarang ...
kalau aku banyak ngelucu yang ndak penting terlalu sering ... sebenarnya indikasi utama kalau sebenarnya lagi banyak beban hidup hahahahahah

duh duh duh ... yo opo tho aku iki ... ngalor ngidul nulis ndak penting!


well well well ... sebenarnya ini caraku sendiri buat mengingatkan hal-hal esensial dalam hidup yang pernah diajarkan si Mamah
termasuk diantaranya ndak boleh terlalu gampang mengeluh ..

Agus...
ayo semangat!!!!


Thursday, July 16, 2009

Ketika Aku Kagum Padamu



Setiap kita berjalan bersisian, aku selalu rindu rasa nyaman yang tertular dari setiap pori-pori kulitmu

dengan cara yang sederhana, kau membuatku merasa yakin bahwa semuanya baik-baik saja

Setiap kita berjalan bersisian, aku selalu rindu bagaimana kau menabrakkan banyak inspirasi tentang menjalani hidup yang lebih baik

dengan cara yang sederhana, kau membuatku merasa yakin bahwa visi hidupku sudah berjalan pada jalur yang sesuai

setiap kita berjalan bersisian, kau memperkaya dunia ku dengan banyak hal yang tidak pernah terpikir sebelumnya

dengan cara yang sederhana, bingkai hidupku kau isi banyak warna

dan... saat itulah ... aku demikian kagum padamu ....



Monday, July 13, 2009

Perjalanan Arya (Part 6)


Give Me S.E.X

Tidak ada yang mengalahkan nuansa hati yang bernyanyi ...
Pada satu saat, saya pernah menyaksikan bagaimana matahari bersembunyi malu karena bara panasnya mengaku kalah telak pada nuansa hati yang bernyanyi ..

Itu yang terjadi saat ini, di dalam sebuah kedai kopi ....

dua hati sedang berdansa ....


"Kamu lihat bulatan merah matahari senja itu Raka?"


"Ada apa Arya?"


"Mau rasanya kusiram ia supaya padam dan waktu berhenti karena bola merah itu menghentikan isyaratnya untuk sang waktu bergulir"

-- tiba-tiba bibirku ditutup rindu--

saya membiarkan bibirnya meloloskan tulang ...
meluruhkan setiap sendi


aku membiarkan sensasi hangat menyelusup, menebarkan rasa yang membuat setiap pori mengembang sempurna untuk dengan rakus menikmati setiap detik tebaran rasa ....


sentuhan kulitnya menerbitkan rasa enggan untuk membiarkan ia beranjak satu mili pun ...


kubiarkan raga mengusir setiap helai kain yang menempel di kulit


aku ingin setiap pori bernyanyi seperti katak yang menandak menarikan tarian pemanggil hujan ...

tubuhnya hangat seperti bara api ...
setiap pagutannya memantikkan pendar sang surya si empunya cahaya


wahai pemberi hangat ...
aku ingin kau masuki setiap relung-relungnya ...


perkosa aku!


tetesan keringatmu ...

cengkraman tanganmu di bahuku ...

gigitanku di bahumu ...

begitu kau masuk ...

saya tahu ...

detik itu pula ...

saya merindumu ...

(bersambung)

Klik: Perjalanan Arya (Part 5)


Perjalanan Arya (Part 5)


Raka dan Hati Bernyanyi

ia kembali ...
lihatkah kemari ...
biar kutubruk dirimu dengan senyum...


(bersambung)

Klik : Perjalanan Arya (Part 4)


Perjalanan Arya (Part 4)


The Other Side of Raka


Lama aku memandang jendela
Suara ketukan air kala hujan selalu menenangkan.
Tapi tidak kali ini.

Hujan gerimis sekarang, membawa rasa yang berbeda

Ia selalu datang saat hujan tiba ...

Ketika pintu terbuka,
wajahnya seperti kanvas yang membiarkan cipratan rinai hujan berdansa dengan pendar cahaya...

hatiku dibuka tepat saat ia membuka pintu ...
tak perlu diketuk ...
masuk saja ....
karena engkau lah pemiliknya ...

(bersambung)

Klik: Perjalanan Arya (Part 3)

Saturday, July 11, 2009

Perjalanan Arya (Part 3)



Ini kali ketiga pintu kedai dibuka dengan segenap hati ...


Raka, asal kau tahu saja
nurani, rasa dan hati sudah menyelinap pergi, jauh sebelum gagang pintu kedai kusentuh...

mereka berlarian tak sabar menunggu ...
sayang ragaku memiliki batasnya ... jadi kubiarkan saja mereka berlarian

mereka rindu nampaknya dengan sang senyum.


benar saja,

"Arya, tunggu sebentar...." Raka berjalan ke pojok ruang ... hahahaha cerdas! sudut tempatku mendudukkan hati di berinya label "reserved" ...

"Aku tahu hari ini kau akan kemari", katanya

Raka, hari ini .. esok nanti... janji ...

"Aku selalu rindu tempat ini ...." kataku , walaupun ... sebenarnya aku ingin sekali berteriak,"tempat ini membuatku selalu merindumu!"

"Aku juga selalu benci ketika sudut ruang itu tak berpenghuni ...." matanya berbicara semantap senyumnya ....

"Jadi................... saya selalu ditunggu?"

"Pasti ........."
--gravitasi kemudian beranjak pergi--

"Cangkir ini resmi jadi sekutumu ...", katanya

"Hahahahah .... kasihan dia ... kalau dia bisa bicara, pasti dia akan menjerit protes sebab kupingnya lecet karena terlalu sering kumainkan"

"Cangkir ini selalu rindu sekutunya Arya..."

Kemudian mata kami bertabrakan ...

"Saya akan tunggu kamu selesai bekerja hari ini Raka...."

"Saya akan meminta kamu menunggu kalau begitu ..."

dan hari ini....

detik berkhianat....

menit berkhianat....

waktu berkhianat...

waktu seperti merambat

waktu melambat

aku minta kamu cepat ...
tapi waktu memilih berkhianat ... merambat ... melambat ...

--tapi kemudian sang waktu dikalahkan niat--

"Selesai, dan kamu adalah tamu paling akhir yang pulang..."

"Kita akan kemana kah Raka?"

"Gandeng tangan saya!"


"Baiklah...."


"Kita akan membiarkan tautan dua tangan ini yang menentukan... bagaimana?"

"Baiklah ..."

.........................

"Raka, tautan tangan aku dan kamu bergeming pun tidak ... apakah kita akan terus berdiri saja macam begini sampai pagi nanti?"


"Hahahahah ...... tunggu sebentar"

-- cakram musik memainkan fungsinya--


"Pegang tanganku", sang senyum berkata

"Ok ... "

"Sebelum tautan tangan kita memutuskan sikapnya .... kita harus berdansa"

"Hahaha ... saya belum pernah berdansa seumur-umur Raka"


"Saya mengajak hatimu berdansa"

And you can tell everybody this is your song
It may be quite simple but now that it's done
I hope you don't mind
I hope you don't mind that I put down in words
How wonderful life is while you're in the world


"Kenapa Raka?"

"Kenapa apanya?"

"Begini?"

"Begini bagaimana?"


"Kamu tahu ... "


"Iya Arya ... aku tahu .......... begitu detik tergelincir ketika pintu itu terbuka olehmu ...... saya tahu ............ bahwa sang hujan telah mengantarkanmu cuma untukku"


Sekarang, saya berharap bahwa saya punya daya untuk mengalahkan waktu ...
saya berharap bahwa saya bisa membunuh sang waktu ... Wahai detik, membeku lah!

"Bisakah begitu rasanya Raka"

"Bisa ..."

"Bolehkah saya membiarkan ini?"


"Tentu, hatimu sudah memutuskan jawabannya bukan?"


"Betul ... begitu aku ditabrakan kuasa senyummu ... hatiku sudah menentukan tujuannya"

"Maka dari itu, kita sekarang berdansa"


So excuse me forgetting but these things I do
You see I've forgotten if they're green or they're blue
Anyway the thing is what I really mean
Yours are the sweetest eyes I've ever seen

And you can tell everybody this is your song
It may be quite simple but now that it's done
I hope you don't mind
I hope you don't mind that I put down in words
How wonderful life is while you're in the world


(bersambung)


Klik : Perjalanan Arya (Part 2)

Thursday, July 09, 2009

Perjalanan Arya (Part 2)



Cangkir Putih dan Hujan



ada pertalian antara saya dan hujan ...

hujan selalu memberikan ruang tenang buat saya ...

dan aku yakin, banyak yang sama denganku tentang hal ini


aku selalu berharap ketika hujan mengguyur, terjebaklah aku di kemacetan ...

biar nikmat kurasa rinai hujan menempias kaca mobil ...
atau kubiarkan saja rinai hujan tak berbatas apapun mengenai wajah ...

tapi nampaknya,
sekarang rinai hujan bersahabat dengan cangkir putih ...

kembali... kali kedua aku ada disini ...


kemanakah sang senyum yang selalu menghangatkan sang rinai hujan ...


uap kopi di cangkir ini masih membawa tenang ...


namun rasanya sunyi tanpa sang senyum ....


kubayangkan dia sedang berlari kesini ...
sambil membawa sekarung senyum....

kurasa rinai hujan tak akan jahat hati membius tubuhnya dengan rasa dingin ...

kurasa, sang hujan akan mengajaknya berdansa ...

cepatlah datang sang senyum ...


uap kopi... suara rintik hujan ... seperti tak bernyawa ...


pintu terbuka ...

sang senyum tiba ....

"Evita ..... sorry telat ... maaf sekali"

disampirkannya tas punggung ... apakah yang kau bawa didalamnya? senyum kah ? boleh kah kubuka ?

kulihat jendela dan bulir-bulir hujan tersenyum padaku ...
bulir hujan kembali bernyawa dengan kehadirannya

sudah, jangan hiraukan aku ... akan kunikmati sekerat demi sekerat kejaiban di depan mata...

dan kemudian kami bertumbukan ....


"Hi ..." sapanya padaku ...


Aduh, tolong .. jangan kau buka lagi mulutmu melontarkan bebunyian kata-kata ... aku terlalu lemah

"Kue kenari hari ini nggak ada ... tapi ada Kue kurma special buatanku yang sudah terbuat dan ada di dalam kulkas di dapur... Kue kurma dan Teh Melati segera buatmu ya"

"Kehujanan kah ?" tanyaku

"cuma ujung celana saja", jawabnya

"jauhkah?"

"Apanya yang jauh?", suaranya terdengar selalu jenaka...

suaranya membuatku kemekmek tak bisa bergeming ...
kemanakah logika yang sudah terasah sedemikian lama karena bangku sekolah ... aku seperti lelaki paling idiot sedunia ...

"Oh maksudku .. rumahmu dari sini Raka"


"Ohhh aku tinggal di belakang kedai kopi ini.. saya tinggal ke belakang ya mas ... kue kurma menunggu buatmu"

saya juga menunggu senyummu datang kembali Raka ...

..................................................................................

"Kenapa kalau mas datang selalu datang hujan?"

"Raka, ini bulan dengan akhiran -ber .... memang seharusnya datang hujan bukan?"

"Tapi kenapa kalau mas datang... rintik hujannya sedemikian halus.... seperti benang-benang jatuh"

"Kamu puitis juga ya ... "

"Aku terlalu banyak dicekoki drama radio waktu kecil", pandangannya menerawang ke arah gerimis datang

"Oya ... ?"

"Iya Mas Arya ... aku ingat jaman kecil sering banget ndongkrok di depan radio dengerin sandiwara radio .... dan berimajinasi sesudahnya"

"Aku juga..."


"Kamu juga Mas?"

"Iya ..."


"Wah ... kamu tau rasanya kan?"


"Tahu sekali..."


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" sang senyum bertanya ...

"Aku juga berpikir tadi rinai hujan seperti benang halus ....", jawabku


"Hahahah begitu kah?"

"Begitu nampaknya"

senyumnya makin lebar ... matanya makin berbinar ...

Aaaah .. jika ia adalah bagian kertas majalah ... ingin rasanya kugunting senyum itu ... dan kubawa pergi

"Aneh .. cangkir ini pun cangkir yang sama waktu kemarin kesini mas Arya"

Raka, mungkin cangkir ini setuju menjadi sekutu ku .. sama seperti rinai hujan ...

"Ada yang melambai memanggilmu Raka..."

"Oh iya ... aku nanti kembali kesini ya mas .. tunggu"

Janji itu pun aku gunting ... aku mau genggam ...


"Saya tunggu ...."


--tapi sekali lagi, tinggalkan senyummu--


(Bersambung)

Klik: Perjalanan Arya (Part 1)

Wednesday, July 08, 2009

Perjalanan Arya (Part 1)



Aaaah bertemu lagi kita...


gimana?

sudah menemukan sudut favoritmu di kedai kopi ini ?

ohohohoho .. no no no .. you can not take that corner dear ..

ujung ini sudah jadi milikku ...


Psst ... seperti janjiku ... aku akan bercerita tentang RAKA ...


duduk manis .. sambil menyesap kopi pahitmu ...

dengarkan aku ....


kubawa engkau pada satu masa satu waktu ....

...............................................................................

Pada satu waktu ketika air hujan bersuka ria menari ....

tak tuk tak tuk .... sepatu kulitku sudah lembab beranjak basah menghantam genangan air tak dapat kuhindarkan ujung celana terkena tempias hujan ...

ah, pintu kedai kopi itu tinggal beberapa langkah lagi ...


hap hap hap langkahku berderap ...


bunyi deritan pintu saat kubuka seperti teriakan suka cita karena rasa dingin cepat akan terganti ...

kulihat di sofa tengah ruang, terisi orang ...

ujung sebelah kiri, terisi orang ...

aduh, jangan sampai tak menyisakanku satu kursi saat ini ...


dingin rembesan hujan di kaki dan kemeja kerjaku mulai menyerang ...


aku sudah berlari dan rasanya berhak untuk secangkir kopi mengabaikan bahwa aku tak pernah menyukai rasa air kopi ...


aha ... di ujung kanan kursi kosong menanti ...


"Hujan memang tak mengenal belas kasih ..." ada suara kudengar ....

"hmppph ... saya benci hujan ..."

Suara itu kemudian berkata kembali,
"Saya buatkan kopi panas dengan kudapan kue kenari ya Pak ... dijamin, hati dingin jadi hangat!"

Kemudian aku bertubrukan dengan sebentuk senyum

betul, terasa hangat ...


senyum yang kulihat baru saja ini sukses membetot rasa dingin tinggalan hujan yang menempel di tubuh dan ujung celana ...

ada apa dengan senyumnya ...

"Saya kan belum memesan..........................."


Senyumnya kemudian berbicara, "Bapak harus pesan kue kenari kami hari ini ... kalau menyesal, saya tidak akan meninggalkan nota tagihan untuk minuman dan kudapan yang Bapak dapat hari ini .... "


wahai makhluk indah yang sedang berbicara padaku .... kau tak meninggalkan aku logika untuk membantah semua kata yang keluar dari sebuah senyum ....


"Baiklah ... saya pesan itu...apa pun itu yang tadi kau bilang..."


Sang pemiliki senyumnya kemudian berbicara,"lima menit ditunggu ...."

ahh ...
lima menit yang akan menjadi lima menit terlama dalam hidup ... bawa kembali cepat senyum itu .... aku tak butuh lima menit ... ketika sang detik mulai terpeleset ... ketika itu pula saya membutuhkan senyummu ...

....................................................

"Ini kue kenari ... ini kopi panasnya Pak... nama saya Raka ... kalau ada yang kurang Bapak bisa panggil saya"

RAKA ....

maaf ... senyumnya lagi-lagi menumpulkan logika ...

bukan, bukan menumpulkan ...

membuat lumpuh nampaknya ...

bahkan memori saya pun enggan berpisah dengannya ...

sial, aku dilumpuhkan cuma dalam waktu lima menit saja begitu pintu kedai kopi ini kubuka ....................

tak lama berselang, sang pemilik senyum menghampiri, "Sudah hilang hangatnya kopi di cangkir dan Bapak seperti masih enggan untuk meminumnya...."

jiwaku melonjak ...


"Jantung saya berdebar kalau minum kopi", jawabku

dan senyummu lebih dahsyat dampaknya dari kopi ini...

"Waaah maaf Pak ... saya ganti dengan teh poci panas ya", jawabnya

"Oh ... jangan ... tidak usah, ini ... saya minum kok" air kopi itu berpindah tempat dari cangkir ke kerongkongan ...

kalau itu membuatmu tak beranjak .. aku rela menahan debar jantung semalaman nanti ...


"Sudah .. nih .. sudah habis... lihat.. kopi sudah tandas!", kubalas dengan senyum ekstra manis

"Ahahahahah Pak ... minum kopi kok kayak minum air putih ... dinikmati dong Pak", matanya juga berbicara jenaka

"Saya berjanji akan belajar menikmati kopi dengan satu syarat"

"Apakah itu ?"

"Jangan panggil saya Pak .... saya punya nama ... dan nama saya Arya"

"Baik Pak Arya...."
senyumnya yang jenaka kembali membetot semua sendi ....

"Raka .. seperti saya belajar menikmati kopi ... tolong, belajar juga untuk memanggil saya dengan nama saja .. Arya"

"Baik ... Arya ....................................."


"Raka ... sepertinya yang disana memanggilmu"


"Oh, tunggu sebentar ya ...."


pergilah ...............

tapi tinggalkan senyummu disini ............
............................................

begitulah kawan,
bagaimana saya mengenalnya ...

RAKA ...........

R-A-K-A ...............


nanti kau akan temui begitu banyak campur tangan air hujan ... senja ... cangkir kopi ketika saya membawamu lebih jauh dalam perjalanan ini ..............

(bersambung)

Klik: Mencuri Sunyi ... (Prolog Perjalanan Arya)


Tuesday, July 07, 2009

Mencuri Sunyi .... (Prolog Perjalanan Arya)

Tak pernah terpikir kalau saya bisa sedikit mencuri sedikit damai disini ...

Asyik saya bermain dengan cangkir mungil di depanku sekarang ...

Kupegang dan kuputar searah jarum jam tanpa sadar ...

menikmati sekali uap air panas bercampur kopi arabica naik ke udara dan singgah di dua lubang hidung saya meruapkan aroma yang menenangkan ...

saya tak pernah suka rasa kopi ...

tapi saya suka aromanya ...

tak ada yang salah dengan itu bukan?

sesedih yang terbilang ...

saya selalu merasa bersalah ketika kedamaian sedikit terusik, ketika si air bercampur bubuk kopi itu sudah kelelahan meruapkan aromanya ke udara ...

lebih bersalah lagi ketika saya harus memanggil sang pelayan untuk cangkir kedua .. kesempatan kedua menikmati nikmatnya ...

sungguh aneh bagaimana rasa damai itu terbawa ...

baiklah,

ujung dari kedai kopi ini akan saya klaim sebagai lahan pribadi. Mungkin, kalau sang pemiliknya mengijinkan... bolehlah ku sewa saja ujung ruangan ini dan tak membolehkannya terduduki dengan yang lain kecuali saya semata.

sayangnya tak boleh ...

boleh percaya, tidak pun boleh... pernah kuminta hal sedemikian. Cuma dibalas senyum. Kampret, bukan senyuman yang kuperlu...

Aaaaah... lupa saya mengenalkan diri nampaknya padamu ...

panggil saya Arya ... Arya Wardhana.

maaf, saya lupa mengambilkan kursi untukmu...

tunggu sebentar ...

................................................

Ok, sampai dimana kita tadi ...

ya ya ya ... tiap orang punya secuil apapun yang bisa dilabeli mediumnya untuk mencuri sedikit rasa tenang ...

saya ?

well, kamu sedang melihat secuil itu disini heheheh ...

duduk manis dulu di sebelahku ...

apa? kedamaian buatmu? aduh, maaf kawan... kedamaian saya disini cuma dilambari aroma uap kopi dan musik lamat-lamat di ujung pengeras suara di sana yang kadang-kadang mengeluarkan bunyi-bunyian yang tak bisa kupahami maknanya.

Psssst ... sebenarnya aku punya rahasia kecil ... sedikit disana .. sedikit disini ...

dekatkan telingamu!

baik, di ujung berseberangan percis dengan kita duduk ... aku sering melihat pertengkaran kecil suami istri yang belakangan ini kutahu nama si perempuan adalah Karmila ... si lelaki bernama Fajar ...

Karmila pernah protes katanya Fajar tak suka lagi dengan bentuk tubuhnya .. ahahahaha rajukan khas perempuan ... apakah terjemahan kata jujur untuk mereka, para perempuan ya? seringkali kulihat Fajar kelimpungan mencari jawaban yang memuaskan istrinya ... apakah jujur itu menurut mereka , para perempuan? mungkin Fajar perlu lebih peka rasa ... tiap perempuan kupikir hanya perlu rasa kenyamanan bahwa dirinya sepenuhnya dicinta ... ketika rasa itu sudah mereka dapat ... aku rasa ya, mereka tak akan peduli apakah yang keluar dari lelaki itu bohong atau sungguhan .. sungguh!

Aku salah?

kalau aku salah ... ya biarkan saja ... biarkan saja saya ada di bagian lain dari sisi koin .. dan kamu ada dibagian berseberangan

Fajar dan Karmila ... mengabaikan mereka sering bertengkar kecil disini... tapi sebenarnya mereka sama denganku... mereka berusaha mencari secuil lahan damai disini ... dimana mereka bisa secara tenang melakukan bicara antar dua hati ... siapa berbohong pada siapa .. siapa berbohong apa ... nggak masalah kayaknya buat mereka ... kalau hati plong, sedikit bohong bisa dianggap kosong-kosong hahahahah

Kalau nanti siang sempat, kembali ke sini bersamaku ... berani taruhan, di kursi sofa tengah ruangan kedai kopi ini kau temui lelaki bernama Lucky... ini kutau setelah kucuri dengar si peracik kopi menyapanya, "Selamat siang Mas Lucky ... kopi susu, susunya tanpa lemak kan?" ...

perhatikan seksama ketika Ia memulai ritual menikmati secangkir kopinya ... hemmm, kujamin kau akan dengan rela mengendurkan otot-otot di sekitar rahang dan mulutmu ternganga penuh nafsu melihat jakunnya turun naik memompa air kopi susu dari mulut turun ke kerongkongannya ... tak pernah saya lihat ada lelaki yang menaik turun kan jakunnya sedemikian seksi dan menggoda ... hahahahah kau semakin memandangku dengan aneh pastinya ... bagaimana kuterjemahkan kata seksi dengan aktifitas satu organ manusia yang kalau bahasa jawanya, aku kasih tau, namanya kolomenjing itu beraksi ... cihuy cuuuy!

Nanti aku akan bercerita bagaimana satu orang lelaki di ruangan ini berhasil membuat saya terkunci tak beranjak pergi dari kursi ini ... dan merasa bahwa sang penguasa waktu juga dengan rela mengunci detik sampai ia tak mampu bergeming ...

RAKA ..............

R-A-K-A namanya .........

nanti,

ku kan bercerita banyak tentangnya .........

uap kopimu tak bersisa ....

saatnya kau pesan satu cangkir kopi lagi ....

mari ..........


Friday, July 03, 2009

Soal Hil Yang Mustahal


Poro kadang lan saderek

Kocap kacarito ...

Di dunia bernama "Kacung kampreto kok yoo rekosooo" kami sering sekali harus bekerja dengan para dewa dunia atas angin bernama "el kliente brengseke" ...

Semoga diberkati kekuatan lebih buat para "kacung kampreto" ketika ketiban tanggung jawab harus angon atau ngayomi semua keinginan dewa bernama "el kliente brengseke" ini ...

Tapi dunia memang sudah bubrah ... sudah terbalik-balik ...

Dewa "El kliente brengseke" kadang menganggap bahwa kami-kami ini para kampreto, tukang sulap yang bisa memunculkan keajaiban seenaknya ...

lhaaa wong tukang sulap saja punya keterbatasannya ...

lhaa wong tukang sulap saja punya buku panduan "Bagaimana Menjadi Tukang Sulap Dalam 15 Menit"

Tapi Kacung Kampreto dihadapkan pada situasi dimana kadang justru menggelikan sesudahnya .. walau pun ketika kejadian berlangsung, sungguh membuat hati Kampreto mangkel bukan kepalang!

Cerita berikut disarikan dari berbagai keluh kesah para Kacung Kampreto saat mereka punya waktu ngumpul-ngumpul dan bertukar cerita bagaimana kami disuruh untuk mengerjakan HIL YANG MUSTAHAL!!!!


Cerita Kacung Kampreto bernama Yu Yem Parjiyem Koyo Peyeum
Yu Yem di utus untuk mengurus sebuah perhelatan sungguh akbar di Bali dengan segala detil yang alaihim printilannya buanyak ...

GONG-nya adalah ...

Yu Yem mesti mengerjakan semuanya sendirian

tim combo hemat .. dengan personil minim

jadi, Yu Yem harus berbesar hati untuk bermutasi menjadi manusia bertangan delapan sodara sodara yang terkasih!!!

lupakan jalan-jalan di pinggir pantai

lupakan belanja di Seminyak

lupakan nasi campur di Warung Made

Yu Yem sukses kusut masai raut mukanya selama di Bali!

Menahan beban hati yang rasanya berteriak, "Suamiiii kuuuuuu aku nggak mauuuu bekerja lagiiii aaaaaahhh!!!!" ... Yu Yem akhirnya berhasil tuntas tugas ...

Di hari perhelatan ... semuanya sudah diatur dengan rapih ...

tapi teteup... muka Yu Yem sih berantakan .. seperti hatinya juga.

Perhelatan mengambil tempat di sebuah pinggir pantai

Angin berhembus selayaknya sebuah tempat di pinggir pantai ...

Tapi ....

El Kliente Brengseke menghampiri Yu Yem dengan wajah panik dan berkata, "YU YEEEMM ... ADUUUH ANGINNYA KOK KENCENG BANGEEET SIHHH!!! ... TAMU-TAMU RAMBUTNYA BERANTAKAN!!!! ADUH GIMANA INI ... KENCENG LHO INI ANGINNYA .. PIYEEEE IKIIII!!!!"

Yu Yem menatap dewa El Kliente dengan tatapan nanar dan berteriak dalam hati, "MAKSUUUUDDDD LOOOOOO GUE JUGA HARUS BISA MENGENDALIKAN ALAM ????????? LO PIKIR GUE AANG THE AVATAR PENGENDALI ANGIN!!!! SETAAAAN!!!!"

Sepulang dari Bali, Yu Yem needs to go to the mental institution ....

...........................................................................................................

Cerita Kacung Kampreto bernama Gatot Pating Pecotot
Gatot Pating Pecotot di dapuk untuk mengurus perhelatan pelepasan sebuah kejuaraan bola sepak oleh El Kliente

El Kliente bersabda, "Pokoknya ya nak Gatoot ... aku pengin kalau nanti aku selesai ngomong dan potong pita .... ada dilepas BURUNG MERPATI! ndak cuma satu lho tentunya ... mesthi buanyaaak burungnya supaya terlihat akbar!"

Gatot Pating Pecotot tertunduk khidmat mencatat titah sambil berkata dalam hati, "Halaaaaahhhh ... hareeee giniii masih mau lepas burung merpati ... kayak Olimpiade tahun 80-an saja ..."

Gatot Pating Pecotot menyarankan alternatif yang lebih penuh kekinian dibanding lepas burung ...

tapi, El Kliente ngotot, "Wahai Pating Pecotot ... pokoknya aku mau BURUNG MERPATI! titik! ndak ada koma!"

baiklah ...

pada saat perhelatan

El Kliente berpidato

El Kliente sumringah penuh senyum

El Kliente potong pita

Burung Merpati pesanan dilepas dari kandang ....

tapi ....................................................

sang merpati mogok terbang

sang merpati kepanasan

sang merpati stress berdesakan dalam kandang

alih-alih terbang ... sang merpati memilih jalan-jalan di depan muka El Kliente

ratusan burung merpati ada di depan El Kliente ....TIDAK TERBANG TENTUNYA!

Muka Gatot Pating Pecotot pucat pias!!!!

El Kliente, "KOOOOKKKK NGGGGAAAAK TERBAAAANG?!!!!"

setelah perhelatan itu, Gatot Pating Pecotot terpikir untuk pindah pekerjaan menjadi psikolog khusus merpati yang menderita tekanan batin

................................................................

Wahai para Kacung Kampreto ... jangan bilang kalian ndak pernah ada dalam situasi kejadian macam begini!!!!

pernah kaaaaan????


Monday, June 22, 2009

Dari Makan Turun Ke Hati

Pemicu kenangan bisa macam-macam ... dari makanan misalnya. Berikut adalah makanan yang selalu sukses menghadirkan kembali rasa hati:


Bolu Kukus

ulu, setiap ulang tahun ... dijamin, pagi hari saya selalu menemui si Mamah di dapur. Kue bolu kukus buatan si Mamah dibuat dengan penuh rasa cinta. Dengan telaten Mamah memperlakukan adonan campuran telur, mentega, dan terigu
selayaknya hadiah istimewa... dengan tekun Ia mengaduk rata bahan-bahan itu menggunakan kocokan yang bentuknya seperti kumparan per dengan gagang kayu. Jangan berharap mixer elektrik... kami dulu ndak sanggup membelinya heheheh ....

lama sekali Mamah telaten mengaduk adonannya sampai mengembang sempurna. Bolu Kukus merekah sempurna seperti bunga mawar yang besar. uhhhhmmmm wangi sekali! legit bukan kepalang!

Bertiga, kami kemudian berkumpul di ruang tamu, yang berfungsi sekaligus sebagai ruang keluarga dan juga ruang belajar .....dan juga ruang bermain buat kami....
Bolu Kukus pengganti kue ulang tahun .... deretan bolu kukus dalam piring saji, seperti rangkaian bunga mawar mewah... merekah sempurna .... wang
i ... legit. Hadiah sederhana yang dilimpahi rasa cinta .... coba, apalagi yang kurang? kurasa ini adalah hadiah terindah setiap kami -saya dan Aan- berulang tahun.


Kue Ku

Mengingatkan pada indahnya masa kecil. Setiap liburan panjang tiba... saya selalu suka hati menyambutnya... karena itu berarti, waktunya saya "diungsikan" ke Yogya ... ke tempat Simbah Marto Utomo tinggal.

Setiap pagi, Simbah putri selalu membangunkan saya.... diajaknya saya ke pasar kecil di sebuah gang dekat rumah ... pasar senggol yang ... aduh, sungguh ... ritual pergi ke sana setiap pagi selalu membuat saya senang! jangan ditanya alasannya kenapa .... dimata saya waktu itu, kegiatan pasar kecil ini, membuat takjub!

tukang jual gudeg untuk sarapan yang ramai dirubung orang .... tukang jual ikan ... suara riuh rendah ... dan wangi bubur sumsum di ujung pasar senggol itu .... surga!

tapi ujung kegiatan kunjung pasar lah yang selalu saya tunggu... Simbah putri selalu menghadiahi saya satu bungkus Kue Ku, yang fresh from the oven! heheheh ....

Dulu, saya menamakan kue ini ... "kue mata kebo" .... soalnya bentuknya kayak mata kebo yang bulat dan besar heheheh .... aroma ketan yang manis .. dan pasta kacang hijau yang sungguh nikmat ... ditambah elusan tangan Simbah Putri di kepalaku .... sungguh, aku ingin sekali momen itu terulang sekali lagi.




Belut Goreng
Kalau lewat pasar Godean, Yogya ... saya jadi ingat,dulu ... saya hobi mancing belut dengan karib masa kecil... Danang, Ferry, Mbak Darsih dan Bulik Iyam .... kegiatan mancing belut bisa berlangsung seharian.

Ya, memang harusnya kegiatan mencari belut dilakukan malam hari... tapi apa mau dikata, kami yang masih kecil-kecil tentunya tidak diperbolehkan keluyuran malam hari di pematang sawah.... bisa diculik genduruwo nanti hahahah
alhasil seharian kami dipanggang terik matahari sampai kulit gosong dan aroma tubuh bau kecut dan amis paduan keringat, kotoran, dan lumpur sawah heheheh karena dilakukan pada waktu yang salah ... tentu hasilnya tidak maksimal ... paling banyak 10-15 belut kami dapat ... abaikan saja jumlahnya .... tidak sebanding dengan keasyikan kami pada waktu itu.

pulang menjelang sore, Simbah Putri menyenangkan hati kami semua dengan membersihkan hasil tangkapan .. membumbui dan menggorengnya sampai kemriyuk renyah.


Kadang, kalau Simbah ada uang lebih ... setelahnya ... sore hari, Simbah Kakung mengajak saya ke Pasar Godean mbonceng sepeda dan saya dihadiahi satu kantung belut goreng! wuuuuiih kayak dikasih emas murni! senang bukan buatan!




setelah menulis ini .... aku jadi bersyukur ... Gusti Sing Paring Urip kok kayaknya menghadiahi aku dengan kemampuan untuk mudah menyuntikkan rasa kedalam setiap hal yang aku lakukan atau alami ya .... terima kasih ya Gusti Allah, aku sudah dikasih hidup yang kaya warna ....