Monday, September 28, 2009

Anak Cengeng Pulang Kandang ....



Aku si anak cengeng pulang.

Kali ini, keinginan untuk mengambil cuti panjang sedemikian menggebu... mengalahkan keinginan menabung jatah cuti konsekuensi dari jadi kacung korporat untuk berlibur dengan yang-tidak-boleh-disebut-namanya ke Bali merayakan hari jadi.

Aku seperti anak burung rindu dengan hangat sarang dan lindungan sayap Ibunya.

Di luar dari itu, firasatku berkata bahwa ada sesuatu hal besar terjadi dan aku perlu ada disana.

Hubungan batin dengan Aan adikku juga si Mamah sedemikian kuat hingga bila salah satu dari kami sedang susah hati, yang lain akan resah.

Benar saja, sesuatu terjadi dengan Mamah.

Tak hendak kuceritakan detilnya.. yang jelas, kami untuk kesekian kali harus merapatkan barisan .. perpegangan tangan dan menghadapi segalanya bersama-sama.

Ada yang bilang, kebahagiaan itu milik sendiri...

tapi buatku, kebahagian pribadi tak apa berkurang demi lingkaran terdekat orang yang mencintai kita sepenuh hati.

itu lebih baik, daripada bahagia tapi sendirian.

mimpi-mimpiku dan proses mengejarnya bisa dengan mudah aku bunuh ,,, dihapus bila perlu supaya lingkaran terdekat orang yang mencintai kita sepenuh hati berkurang lara...

itu lebih baik, daripada bahagia tapi sendirian.

kawan boleh datang dan pergi

sahabat boleh datang dan pergi

kekasih boleh datang dan pergi

tapi keluarga, mereka akan tetap di sisi, bahkan ketika engkau sudah melakukan kesalahan sedemikian fatal dalam hidup.

Syukurlah ... jumlah hari cuti yang kuambil cukup untuk mengurusi apa yang perlu diurus.

dan tetap, semuanya dibuat suka hati ... bagaimana pun caranya.

kami masih tetap tertawa ha ha hi hi

kami masih melakukan hal-hal menyenangkan.. menikmati liburan ... pergi sana sini.

sambil tetap secara serius menambal sana sini apa yang perlu ditambal.

dan sekali lagi, kami berhasil membuktikan bahwa kami kuat ...

kalau begini, aku bisa pulang ke Jakarta dengan hati lega.

Seperti biasa, Gusti Sing Paring Urip bicara dalam berbagai cara.

Disaat bimbang .. meragu dengan kemampuan untuk menghadapi hidup, aku menemukan benda ini:




sudah rusak ... tapi dulu, deringnya nyaring bukan kepalang! juara!

ingat sekali... jam ini adalah salah satu benda yang kubeli dengan honor pertama saya nyanyi di kawinan...

honornya tujuh puluh ribu. Jam ini kubeli empat puluh ribu di Pasar Peterongan Semarang.

Dulu, aku sering sengaja bangun selepas jam dua belas malam terus naik ke loteng sama si Mamah ...

Jam beker ini selalu sukses dengan nyaringnya membangunkan kami.


jarang kami bicara saat itu

hanya merokok

mencuri ketenangan disaat yang lain tidur

sesekali bicara kejadian hari-hari dan menertawakan betapa bodohnya kami bisa ada di dalam situasi yang sedang dibahas

"Mestinya begini lho Mah .. sdjgsaldhadad terus di hsdgada"

"Ih harusnya ya Gus ... lucu banget sih kjadgkjassdk sadgasgdja"

orang bilang kita butuh meditasi untuk mencuri kejernihan dan mengambil aksi yang tepat akibat pemikiran yang tenang.

ritual merokok di loteng dini hari adalah cara kami berkontemplasi atau ... yaaa boleh lah disebut meditasi.


.........................

dan lewat jam yang gimana caranya kok ditemukan kembali ...

Gusti Sing Paring Urip mungkin mau bilang padaku...

"Ayo thole cah ngganteng ... jangan buru-buru ... lakukan seperti jaman kamu sering manjat loteng dan merokok disitu dini hari .... sing tenang, ojo grusa grusu!"

nasehatNYA .... cespleng! mujarab! manjur!

Monday, September 21, 2009

Semawis Ya Semawis ...

Kemarin,

Temu janji dengan karibku Phillip. Kawan hampir 8 tahun lalu ku kenal.
Sekarang, setiap perjumpaan dengan kawanku yang satu ini dihabiskan untuk mengenang jaman saya tinggal di Semarang. tentunya, Phillip jadi salah satu saksi perjalanan hidup mulai dari masalah keluarga, percintaan, karir, gossip (yeap heheh) bahkan sampai kenakalan-orang-gede yang anonoh heheheh.

Bersamanya, saya diajak pergi ke Semawis.

Belum pernah ke Semawis.


Yang ndak tau apa itu Semawis --sama seperti saya--, ndak usah repot. Saya sudah tanya sama mas Google dan saya kupi pes yaaa nukilan
infonya:

.....................................................................

"Pasar Semawis, atau dikenal juga sebagai Waroeng Sema
wis, adalah pasar malam di daerah pecinan Kota Semarang. Pasar ini awalnya merupakan gagasan dari perkumpulan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata).

Pasar Semawis bermula dengan diadakannya Pasar Imlek Semawis di tahun 2004, menyusul diresmikannya Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional di Indonesia.


Buka setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu malam disepanjang jalan Gang Warung, Pecinan - Semarang, Pasar Semawis menyajikan be
raneka ragam hidangan yang bisa anda pilih bersama keluarga mulai dari pisang plenet khas Semarang, nasi ayam, es puter, kue serabi, aneka sate, bubur kacang hingga menu - menu steamboat yang menarik untuk dicicipi. Pusat jajanan terpanjang di Semarang ini buka mulai jam 6 sore hingga tengah malam"

.............................................................


Kalau dibaca infonya dari Mas Google itu, mestinya sih kemarin, Semawis ndak buka.


Ngaaaajaaaaib' (tirukan gaya Asmuni Srimulat) ... lha kok kemarin Semawis nggelar dagangan.

Perkenalan saya dengan Semawis ternyata tidak menjadi sekedar rasa suka hati cacing-cacing di perut ini dengan parade kuliner disana. suasananya sedemikian kawan:


Hati tenang kalau perut kenyang. Lapar mata lapar perut terbayar dengan satu piring nasi campur yang uenaknya betul betul!

Ditutup sukses dengan satu gelas Liang Tea dingin.


Tamasya dilanjutkan. berkelilinglah saya di sana. Aroma macam-macam kuliner seperti berarak-arak di belakang kami.

Pisang plenet saus susu krim kental


Sate usus babi yang gurih

Martabak manis Gang Warung yang tipis kering legit


Bakpao mini isi kacang hijau yang berlompatan dari dandang

koko dan cici berlogat cina semarang


"kowe meh da mana ci'? moi moi ne kok ndak diajak
?"

"Yo ndak isa tho koh ... lha wong akune' wa
e misih da sini .. misih makan gitu o'!"

berlaku seperti pelet yang membuatku mau datang
kembali.

Tak jauh dari kami, karaoke gratisan pinggir jalan digelar. Om, tante, opa, oma berkumpul mengusir rasa sepi ditinggal anak cucu merantau dan ndak pulang-pulang. Mungkin juga untuk menawar rasa rindu kampung halaman dengan lagu-lagu mandarin yang sering dialih bahasa jawa dengan irama campur sari.

Sambil lalu, kami yang masih lajang ini melihat mereka meluapkan rasa lewat tarik suara.

"Gus, kita nanti kalau tua mungkin kayak gitu ya ... ngumpul biar nggak kesepian!"

"Iya Phil,
tua sih boleh phil ... tapi semoga badanku ndak segede buntelan dosa begini kalau aku udah tua ya ... setidaknya lebih kurus... teteup!"

"Gus.... gendut mah gendut aja!"


ya ya ya kawanku ini memang terkenal dengan mulut siletnya .....

Semawis berusaha menawarkan apa saja. bahkan pijat pinggir jalan murah meriah.

Sayang, kenikmatan pijatan pudar gara-gara yang mijet aku bau ketek! baunya sumebyar semriwing setiap dia deket2 mijet badanku.. weleh-weleh ... mumet!

Penutup dari pertemuan saya dengan Semawis dihabiskan di tempat ini


Aku selalu percaya bahwa manusia tidak akan pernah bisa membaca pikiran Gusti Allah.

Kalau manusia sudah bisa membaca rencana Gusti Allah... maka, Tuhan kita sudah tidak LUAR BIASA! begitu bukan?

demikian juga dengan tukang ramal.

yang kupercaya dari mereka adalah ... mereka seperti cermin yang memantulkan balik segala sinyal gelombang rasa yang kita pancarkan diluar dari bahasa dan suara ...

Bapak tua tukang ramal ini seperti cermin jernih yang mampu memantulkan balik imajiku sendiri saat berbicara dengannya.

"Nyooo ... Sinyo tuh boros ndak karu-karuan ... ndak boleh lho Nyooo!"

"Sinyo nih sebenarnya pinter banget lho... tapi pemales! ndak boleh Nyooo ... kalau Nyoo bisa menghilangken sifat pemales, kamu bisa lebih sukses!"

"Kamu tuh orangnya ndak tegaan ya ... ndak isa buka toko Nyoo ... bisa-bisa tokomu habis dikasih-kasih isine sama kamu..."

"Nyooo ... jangan pernah membeli pertemanan dengan uang ... kamu tuh rada minderan ya !? padahal ndak ada alasan buat minder lho .... ati-ati Nyooo ... banyak yang berteman sama kamu cuma pas kamu lagi banyak uang Nyooo!"

"Mamahmu sehat ... tapi kok kayaknya lagi banyak pemikiran .. pemikiran apa aku ndak tau Nyoo"

.................. Aaaaah, Bapak tua yang bertindak seperti cermin yang jernih ....

Semawis ... besok saya berkunjung lagi ya....

Thursday, September 10, 2009

Masalah Hatiii Ciiing!!! ....


Kemarin, Gusti Allah menjawab pertanyaan dan kegundahan saya lewat dua orang karib bernama Kelik dan Cungkring.


Mari aku perkenalkan dengan mereka...

Kelik, seorang juru kamera sebuah rumah produksi rekanan kami. Rantau dari Makasar. Seorang kawan sekaligus partner kerja dengan kualitas pertemanan khas anak rantau... gayanya lempeng dot com .. ndak dibuat-buat.

Cungkring, seorang asisten produksi, satu kantor dengan Kelik. Mahkluk ajaib yang kadang suka telat mikir tapi baik hati.

Karena sebuah project kantor, aku meminta bantuan mereka untuk meminjam satu kamera piranti kami untuk keperluan dokumentasi sebuah forum diskusi untuk menggali "insight" sebuah komunitas.

Sudah lama sekali aku ndak pernah mengoperasikan kamera. Terakhir kali melakukannya adalah 4 tahun yang lalu ketika masih jadi pembantu umum di sebuah rumah produksi.

Kemarin, saat menyambangi kantor mereka untuk mengambil kamera pinjaman itu. Saya tersentuh sekali dengan bagaimana mereka memperlakukan kami (aku dan lani, karib kerjaku).

Aku tipe orang yang selalu memperhatikan air muka.

Biasanya yang ada di hati selalu sukses tercermin di air muka bukan?

Aku orang yang cukup sensitif untuk meraba dan menerka apakah seseorang itu bersikap palsu.

Dan percayalah, ketika aku merasa orang yang dihadapanku ini bersikap palsu .... aku bisa bersikap jauuuuuh lebih palsu dibandingkan mereka ;) .. catat, aku mungkin termasuk aktor yang baik untuk yang satu ini hahahaha.

Ketika kami datang. Mereka berdua -kelik dan cungkring- menyambut kami dengan ramah yang tidak dibuat-buat.

Memberikan kursus singkat bagaimana menggunakan kamera semi-pro yang kami mau pinjam.

Saat taksi pesanan datang, Cungkring membantu membawakan kamera yang kalau dimasukkan dalam tas khusus, naujubileee gedenya dengan ringan tangan.

dasar lelaki doyan drama ... aku tersentuh sekali dengan perlakuan mereka itu hahahaha

T-U-L-U-S ... menjadi kata kuncinya.

Aku sih merasa yakin... ketika mereka berlaku sedemikian ... mereka melakukannya benar-benar karena mereka INGIN melakukannya TANPA berpikir bahwa hal tersebut adalah utang dan berharap bahwa utang yang mereka beri harus dibayar.

dari ketulusan tumbuh rasa hormat.

dari ketulusan tumbuh respek

dari ketulusan muncul keinginan untuk melakukan hal terbaik yang bisa kita beri untuk orang-orang yang sudah menunjukkan hal tersebut.

dari kejadian kemarin, aku bilang sama diri sendiri

Agus, kalau kamu mau melakukan sesuatu hal baik sama orang... lakukan dengan dengan tulus ... dan jangan hitung-hitung.

Masalah hitung menghitung yang ini, bukan urusanmu ... ini kerjaannya Gusti Allah.

Agus, kalau kamu mau melakukan sesuatu yang baik sama orang lain ... lakukan bukan karena kamu takut orang itu ngambek .. atau marah ... atau kamu merasa hutang budi dengan orang tersebut.

berbuat baik nggak kayak kita nyebar piutang buat orang lain dan kita kejar-kejar orang itu untuk mengembalikan kebaikan yang kita anggap utang.

berbuat baik sama orang, jangan diinget-inget ...

jangan memperlakukan berbuat baik sama orang, kayak kita sedang berinvestasi.

lha wong, sekali lagi ... masalah itung-itungan untung rugi dalam hal ini kan bukan urusan kita.

Kegelisahan terjawab kegundahan dihapus ... malah tambah diingatkan ...

sigh .... Gusti Allah kalau njawab pertanyaanku emang bener-bener kuompliiiiit cing!!!! :)


Sunday, August 30, 2009

Daun Singkong Oh Daun Singkong...


Gara-gara kemarin makan nasi padang beserta uba rampenya... tau kan? sambel ijo dan daun singkong.


aku lama sekali ngliatin daun singkong itu dan senyum sendiri

jadi inget Bapak.

Bapak paling anti sama yang namanya daun singkong.

Masakan apa pun kalau kecampuran daun singkong, dijamin ndak akan disentuh.

Air mukanya kalau dibayangkan sekarang sungguh lucu hehehe ... kayak anak bayi melepeh bubur susunya.

alasannya, "Haduuuuh ... awit cilik panganane godhong telo puhong ... wis tuwo kok yoo iku maneh! ora gelem aku!"

terjemahannya, "dari kecil makan daun singkong teruuus ... udah tua begini masak daun singkong lagi! ndak mau!"

Aneh! tapi ya itu lah Bapakku.

Jadi mikir, kita kadang terlalu melekatkan satu benda dengan yang namanya rasa.

rasa yang dilekatkan macam-macam ...

Bagaimana dengan diriku sendiri? haduh .... daftarnya bisa macam-macam.

--------------------------------------------

Saya dan Masakan si Mamah
Si Mamah itu hobi masak dan jangan ditanya, masakannya enak! dulu jaman kecil, jaman kami hidup prihatin ... satu hal yang jadi hiburan si mamah adalah membuka-buka buku resep masakan setiap sore. Air mukanya sumringah penuh senyum membayangkan Ia sibuk di dapur memasak apa yang ada di buku resep. Kami anak-anaknya suka sekali memperhatikan. Di mata kami, air mukanya membahagiakan.

Dalam hati aku berjanji, "Kalau nanti aku kerja dan punya uang, aku akan memastikan si Mamah punya uang untuk bisa masak apa pun yang Ia pengen Masak! aku akan memastikan di meja makan ada masakan-masakan hasil jiplakannya lewat buku masak yang dulu cuma ia buka-buka dan baca!"

dan sampai sekarang, setiap aku nelp si Mamah... pertanyaan pertamaku adalah:

"Masak apa Mah?"

terlontar otomatis begitu saja.

Kalau jawabannya dia masak yang menurut ukuranku "sederhana" misal:

"Alaaah ngene wae Gus ... njangan (sayur) bayem bening karo tempe bacem!"

aku kok merasa bersalah ya heheheh .... kayak aku kurang ngirimi beliau uang hahahahah.

kalau jawabannya:

"Masak nasi jaha plus tino ransak bulu!"

"Masak ayam bacem sama kare kentang!"

Bahagia sekali rasanya! hahahahahaha

---------------------------------------------------

Saya dan traktir teman
Jaman aku kuliah... aku pernah mengalami yang ..errr kasarnya ya, mbeli teh botol aja mesti mikir berkali-kali! :)

Kalo inget jaman itu aku suka mikir,

"Kok idup gue dulu kayak di film Dono Kasino Indro pas mereka lagi kuliah ya ....!"

komedi banget!

dulu, alam sadarku berkata

"Kalau nanti aku urip mulyo ... bekerja dan menghasilkan uang ....aku ndak mau itungan kalau soal makanan! kalau aku ada uang, aku ndak akan mikir dua kali untuk ngajak temen makan enak! kalau bisa, aku yang traktir-traktir!"

dan kejadian sampai sekarang

aku sulit mengerem kebiasaanku makan enak kalau lagi ada duit.

-----------------------------------------------

Saya dan Tas
Jaman aku kecil dulu, ada seorang kawan yang koleksi tas "Sanrio"-nya uedaaan banyaknya!

Kalau ndak tau "Sanrio" ... itu merk dari jepang yang mengeluarkan karakter kayak "Hello Kitty" ... "Twinkle Twinkle Star" dan banyak lagi lah!

Aku dulu melongo liat dia ganti-ganti tas kayak ganti-ganti baju!

buatku, hidupnya dia bahagia banget! heheheh

Sekarang, aku suka mbeli-mbeli tas walaupun kadang ndak aku pake karena ndak cocok!

Bukan tas yang harganya mahal siih ... tas-tas biasa yang masih kebeli sama duit gaji tiap bulannya tapi ya itu ... ndak pernah bisa dipake!

kalo ngeliat onggokannya di lemari, rasanya sayang sekali!

Tapi begitu aku mau kasih ke orang .... percaya lah, rasanya seperti mau pisah sama pacar

berat banget!

------------------------------------

Saya dan Tustel
Dulu, aku selalu menganggap bahwa tustel itu barang mewaaaaah banget! rasanya jadi manusia yang paling eksis banget deh kalo punya tustel.

Pikiran bahwa tustel itu barang sangat mewah terbawa sampai sekarang

setiap ngeliat tustel digital ... mengabaikan bisa membelinya... aku kok selalu merasa kayak mau beli mobil. muahaaal banget! heheheheh

dan jadilah sampai sekarang aku ndak pernah punya tustel. ada yang mau kasih ? :)

Ihhhh .... daftarnya baru keinget empat ... tapi kok aku kayak orang sakit jiwa ya .....

Sunday, August 16, 2009

"UP" .. Pilem Sialan!


Sialan!

Begitu selesai nonton film ini,

Otakku seperti kelas penuh dengan kanak-kanak badung yang berteriak riuh rendah saat Ibu Guru ndak masuk.

Katanya hidup itu seperti berpetualang,

belok kiri atau belok kanan?

nyebrang kali atau naek pohon?

nanjak atau ndronjong berlari turun?

kita ndak pernah tahu tantangan macam apa lagi yang bakal disajikan di depan kita.

Petualangan langsung dimulai begitu paru-paru di kotori udara dan kita membuat kotor semesta dengan polusi suara di kali pertama

dengan siapa kita ditemani berpetualang jadi tidak penting lagi

pada ujungnya, tiap orang punya plotnya sendiri-sendiri.

saat berpetualang,

kawan bisa datang dan pergi

musuh bisa datang dan pergi

bahkan yang kita anggap sigaraning ati alias belahan jiwa pun bisa pergi

yang kekal cuma RASA.

Dari suami

dari istri

dari kawan

sebenarnya kita sedang belajar bersama-sama untuk memahami apa artinya "berteman dengan kesendirian"

sudah terlalu lama kita dilenakan dengan ilusi untuk melupakan seorang kawan bernama "kesendirian"

suami mati

istri pergi

kawan permisi mau mandi

dan kita ditinggal dengan plot petualangan yang harus dijalani sampai akhir.

pada ujungnya, kawan bernama "kesendirian" adalah partner sejati.

Carl Fredricksen, sang kakek tua di film ini seperti mengingatkanku untuk terus bermimpi.

Kata Simbah Carl ... mimpi adalah bahan bakar utama kita mengarungi petualangan sampai gigi kita ompong (wait, aku sudah ompong sih sekarang) ... sampai nafas kita satu dua .. sampai jalan pun harus pakai tongkat kaki empat.

Katanya pula, suami .. istri .. sahabat ... kerabat adalah sekedar sisipin karakter peneman pada setiap bab-bab dari plot besar petualangan kita.

bersiaplah untuk kemungkinan ditinggalkan mereka begitu kita berpindah bab

sialan sialan sialan!

maksudnya pengen ha ha ha hi hi hi

malah kejebak nulis sing ndak nggenah macam begini


Wednesday, August 12, 2009

Mari Bicara...


Aku mau bicara ngalor ngidul dulu ah ...

Baru saja mbaca tulisan dewi lestari di blog-nya ... tentang hubungan antara anak dan orang tua. Dalam hal ini, hubungannya dengan sang Ibu.

Menyentuh sekali...

Bagaimana tulisannya membuatku menyusuri relung-relung paling dasar antara hubungan saya dengan Mamah dan Bapak.

Kata Mbak Dewi Lestari, pada ujungnya... yang paling esensial adalah bagaimana anak dan orang tua berbicara dari hati ke hati tidak dalam konsep anak dan orang tua ... namun sebagai manusia utuh.. dewasa.

Bagaimana satu individu yang matang berkomunikasi dengan individu yang lain yang bersama-sama menjalani hidup .. ditempa dengan pengalaman ... dan belajar banyak dari kehidupan.

Kalau merunut perjalanan kami,

Aku semakin sadar

Begitu kuatnya pengaruh Mamah dan Bapak tentang bagaimana kami memaknai hubungan kasih ... menunjukkan rasa sayang ... juga bagaimana kami memandang dan menjalani hidup.

Demikian juga, aku merasa ... bagaimana kami bereaksi terhadap apa yang terjadi dalam hubungan mereka, memberikan pembelajaran bagi Mamah dan Bapak mengenai pemaknaan cinta kasih ...

--damn, at this point ... a glass of cold beer will be just fine! hehehe--

Tidak ada sekolah dimana kita bisa belajar untuk menjadi orang tua

Landasannya cuma keyakinan bahwa kita harus rela untuk bertemu dengan pengalaman-pengalaman baru dan harus bereaksi terhadap pengalaman itu ...

siap atau tidak siap itu bisa didebat sampai waktu yang terentang.

Aku meyakini seorang perempuan tidak serta merta tumbuh rasa keibuannya...

pas mak mbrojol anak dari rahimnya ... satu hal yang Ia rasa mungkin justru bukan rasa keibuan yang membuncah

jangan-jangan justru rasa kaget...

kaget kok yo iso methu jabang bayi dari badannya

kaget lan was-was .. "Aduuuh piye carane aku le ngrawat iki jabang bayi"

Rasa keibuan tumbuh seiring dengan Ia mengalami pengalaman-pengalaman baru

ngganti popok kalo eek

mulai belajar membedakan tangisan bayi ... tangisan kalo laper beda dengan tangisan kalo dia ngompol ...

Ia bertumbuh seiring dengan sang anak bertumbuh...

mengagumkan ya! ...

hihihihi aneh... aku kok ngomongin tentang ibu-ibu sih ...

Tanpa disadari,

orang tua dan anak ada dalam relasi saling membutuhkan untuk mereka bisa bertumbuh .. untuk mereka bisa mengalami pengalaman-pengalaman baru yang sudah direncanakan oleh Sang Hidup.

yang satu jadi ndak pengin kehilangan yang lain.

lompat sedikit ah,

Jadi inget.. kemarin pas lagi ngopi-ngopi cantik di sebuah mal

Aku ngliat Ibu muda, baby sitter, anak dan tas belanjaan

yang nggendong anak siapa? baby sitter

yang njinjing tas belanjaan siapa? Ibu muda

aku kok jadi sedih.

Perempuan itu baru saja kehilangan satu momen dimana Ia sebenarnya punya kesempatan untuk merasakan perjalanan pengayaan batin.

Dari dulu, aku selalu suka dipeluk dan memeluk si Mamah

Buatku, aroma tubuhnya adalah aroma yang paling enaaaak yang pernah ada di dunia

aroma tubuhnya menentramkan.

Dulu, aku selalu suka bagaimana Bapak menggandeng tanganku setiap kami punya kesempatan piknik ke Kebon Raya, Bogor. erat dan mantap .. rasanya, semua akan baik-baik saja kalau ada Bapak disebelahku.

Dulu.......errrrr....... aku tidak terlalu suka dengan cara spartan Bapak mendidik kami.

Aku ndak akan mencontoh caranya ... tapi toh sekarang aku salut bahwa karena itu, aku diajar untuk tidak terlalu gampang mengasihani diri sendiri.

dan perempuan yang kulihat tadi baru saja menukar rasa-rasa itu dengan tas belanjaan.

aaaah mungkin aku saja sih yang terlalu sensitif.

Ok, balik lagi ke topik awal.. hehehehe

eh, tunggu .. di awal aku ngomong apaan sih?

tunggu bentar aku scroll ke atas dulu hehehehe

lupa bouw...

o iya,

Kurasa, beberapa tahun belakangan ini lah... kami mengalami pengalaman-pengalaman baru nikmatnya melepaskan atribut anak dan orang tua tanpa melepaskan rasa hormat

dan bicara sebagai manusia yang matang

dan kemudian memaklumi dengan ikhlas proses pembelajaran hidup.

Ini juga berkaitan dengan pemaknaan ku mengenai kata MAAF seperti yang pernah kutulis sebelumnya.

Perlahan, tembok dendam terkikis runtuh ...

rasanya damai sekali

dalam hidup, baru kali ini perjalanan spiritualku membawaku ke level "kedamaian" yang baru ...

pertanyaannya untukmu,

apakah kalian juga sudah mengalami hal yang sama?

--mandi lagi ah ... kepalaku kok tiba-tiba panas abis nulis yang sok daleeeem begini heheheh--



Tuesday, August 11, 2009

Menghitung Kado



Ehhh ... aku hebat! dalam satu hari menulis dua postingan heheheh ...

Ok, mari berlanjut aaah

Iya iya betul ...

Rejeki .. kenikmatan dari Gusti Sing Paring Urip itu ndak akan pernah bisa dihitung sama kita manusia.

dalam bahasa enggris ... dan kudengar di pilem "Kungfu Panda" ... dibilangnya eperiday is a giv ... dat is way dey kol it presen ...

Setiap hari, Gusti Sing Paring Urip bagi-bagi kado buat kita semua ....

Wow ... Supermarket deket kost-kostan kalah tuh ... padahal Supermarket itu selalu bilang padaku kalau mereka tiap hari bagi-bagi kado .. asaaaaaal beli minyak goreng minimal 2 kilo hihihihih

tapiii, boleh dong aku, sesuai dengan kemampuan mencoba menghitung kado apa saja yang sudah dikasih ....

biar aku semakin yakin kalo aku disayang sama Gusti Sing Paring Urip

pastinya sih disayang buanget .. lha wong bentukan bernama Agus Hariyo Purnomo ini, cuma SATU di dunia ... nggak ada yang sama percissss denganku heheheh

Kalo cuma satu ... kan pastinya di eman-eman ... errr maksudku itu bahasa jawa buat disayang-sayang .. walaupun ndak sampai digendong kemana-mana (mulai garing hehehe)

Hemm sampai seharian ini aku sudah di kasih kado apa ya :

"Supir metromini pagi ini ndak ugal-ugalan .... YANG ARTINYA aku dikasih kado ndak mengalami mual-mual dikarenakan metromini yang zig zag ndak karuan"

"Matahari pagi tadi cuma senyum malu-malu .. jadi ndak panas ... YANG ARTINYA aku ndak diperbolehkan bertambah legam kulitnya hihiih"

"Mau sarapan uenaak ... lontong sayur bersantan kental ....lha kok cuma nemu 2 keping Weetbix 100% whole grain dan satu sachet MILO... YANG ARTINYA aku ndak diperbolehkan untuk MENGGEMBUNG dengan sukses ... waktunya untuk diet hahahah"

"Tadi di jalan, ada mbak manis yang ngeliatin aku dengan tatapan kagum .... YANG ARTINYA aku masih tetap dikasih kegantengan dan masih enak diliat"

"Begitu masuk kantor, ndilalah radio tape nyala dan memutar Mbak Lady Gaga teriak-teriak Poker Face ... geyol geyol sebentar ... YANG ARTINYA Gusti Sing Paring Urip Request lagu sing mbikin aku bersemangat"

"Dikasih kerjaan sangat sedikit hari ini ... YANG ARTINYA, aku masih diperbolehkan santai-santai di kantor sambil browsing sana-sini heheheh .... termasuk kado dooong itu!"

dan kawan,

kadomu hari ini apa?


Monday, August 10, 2009

Tentang MAAF


Mari kita bicara tentang kata MAAF ...

Kata yang butuh waktu cukup lama buatku untuk bisa sepenuhnya memaknai.

Mendendam itu manusiawi kah?

Kurasa iya...

Apalagi ketika kita berkali-kali dibenturkan dengan situasi yang membuat rasa hati menjadi pahit dan getir

dibenturkan seperti memar yang belum hilang lebamnya namun keburu disusul dengan memar berikutnya di tempat yang sama ...

Thrombopop ... obat oles memar niscaya kurang digdaya untuk menghilangkan sakitnya.

lho... lhaaa kok malah ngomongin obat .. bwehehehe .. dasar cah gemblung!

Dua minggu lalu ada kudengar,

"In forgiveness there is love"

dalam maaf ada cinta... dalam cinta ada pemaknaan hidup ... dalam pemaknaan hidup ada tujuan ...

Dua minggu lalu pun ada kudengar,

"Mendendam itu seperti kita meminum racun ... tapi berharap orang lain yang mati"

Ketika kudengar kalimat sedemikian,

Aku seperti merunut kembali jalan hidupku

Aku diajak melihat kebelakang

dan mengingat bagaimana aku memaknai kata maaf.

Pernah nonton sinetron "Keluarga Cemara" ?

Keluarga kecil, sederhana, bersahaja dan sungguh gambaran ideal seperti yang yang ada di dalam buku-buku Enid Blyton ...

Naaah, keluargaku tidaklah seperti itu hehehehe....

Aku ndak bilang masa kecilku suram dan tidak menyenangkan

Helll yesss!!! masa kecilku sangat menyenangkan!! ...

tapi selain itu,

Aku dan Aan juga menghabiskan masa kecil dengan belajar susah payah memahami hubungan kasih Si Mamah dan Si Bapak yang sungguh rumit dan sangat sulit dimengerti ...

Katanya, Cinta esensinya ada di RASA ...

Tapi, ketika sang RASA sulit dimengerti bahkan cenderung menyakiti orang-orang di lingkaran orbitnya ...

Bukan kah cinta kemudian menghilang maknanya?

-eitttsss sedaaaap!! hahahahah Agus kalo ngelindur emang suka keluar kalimat dahsyat bweheheh-

Kami -Agus dan Aan adikku- tak pernah bisa memahami bahwa ada seorang perempuan yang justru karena rasa cintanya yang besar terkesan milih pasrah dengan keadaan .... seperti mencinta dengan mata yang tertutup, telinga yang tuli, dan mulut yang bisu

Di saat yang bersamaan... kami melihat seorang perempuan yang kuat ... dan mampu membawa kami selamat dari titik-titik badai dan berhasil membawa kami untuk tidak tenggelam dan bersyukur sesudahnya bahwa kami ini ternyata manusia yang kuat!

Aku juga berusaha memahami bahwa ketika ada kudengar

"Bapak sayang kok sama kalian .."

aku berharap bahwa aku mengerti dengan makna kalimat itu

sungguh-sungguh aku berusaha mengerti ...

dan ketika Aku sepertinya gagal memahaminya

Aku mendendam ...

Sekarang aku paham,

Dendam itu adalah manifestasi dari perasaan gagalnya aku memaklumi bahwa lelaki di depanku adalah manusia ...

dan manusia bukan malaikat yang tak mampu berbuat salah

Pernah dengar,

"Forgiveness is more about yourself" ?

kurang lebih dulu, si Mamah juga pernah berkata begitu

dan lagi-lagi, aku gagal mengerti

Dulu,

Maafku cuma maaf di bibir

Sekedar untuk menyamankan hati gundah ... untuk mengelabui hati yang pilu untuk sementara waktu ...

Dan benar ...

Satu kata ...

MAAF

butuh waktu lama untukku memaknainya sebenar ...

ada kudengar,

"In forgiveness there is love"

"Forgiveness is more about yourself"

Saya melihat ke belakang ...

dan saya mengangguk membenarkan.


Wednesday, July 22, 2009


Oleh si Mamah, aku dari kecil ndak pernah diajar untuk mengeluh... pelajaran ini konsisten dicontohkan olehnya.

Seingatku, dari dulu sampai sekarang... Si Mamah ndak pernah mengeluarkan kata-kata bernada keluh keluar dari mulutnya.


Dulu, jaman kami masih kecil ... kami hidup dalam kondisi yang sungguh prihatin. Di mata kami (Aku dan Aan, adikku)... baru sadar sekarang, Si Mamah mengajarkan bahwa hidup itu harus kayak bajaj ... mau depan belakang, kiri kanan udah mentok ... bajaj selalu saja bisa belok! semua bisa disiasati ...


yang sedih bisa dibikin suka hati

yang kesal bisa dibuat jadi sesuatu yang tak membuat sesal

Yang sumpek bisa dibikin sesuatu yang ndak mbikin kepala jadi judeg

Si Mamah mengajarkan untuk selalu menertawakan kesempitan...


celetukan-celetukannya justru membangkitkan kami anak-anaknya untuk bermimpi dan yakin pada mimpi-mimpi itu bahwa suatu saat mimpi dijawab 100% komplit ndak dikurang-kurangi!


"Bapak lagi pergi jauh cari duit banyak buat kita... ambil buku ... tulis apa aja yang kamu mau beli dengan uang yang banyak itu!"


sedih jadi berganti kesenangan menuangkan rasa hati ...

sedih jadi empat lembar daftar mimpi ...


"Tuhan lagi becanda sama kita ... kita punya rumah kok malah ngontrak ya heheheh ... biar ngerasain jadi juragan kontrakan kayaknya!"


"Mending makan begini aja ya .. diawet-awet uangnya.. mbesok sabtu minggu jalan-jalan"

kami memahami nilai uang, hidup cermat dan prihatin dengan cara-cara yang ajaib

Kalau kami mengeluarkan kalimat mengeluh ...

Si Mamah bakal segalak kingkong ngamuk!


dari situ bermula .. sekarang sering kali muncul celetukan dari kawan seperti begini:


"Ya ampun cinnn .. kerjaan buanyak kok lo masih ketawa-tawa aja sih bo' .... plis deh!"


"Bo' .. lo sedih beneran nggak sih? kok gue nggak yakin ya?!"

"Gue nggak percaya deh ... serius lo bo'? terus gimana? ... aaaah ....lo ngomongnya sambil cengengesan ketawa-ketawa gitu sih!"


efek sampingnya dari cara spartan si Mamah dulu adalah... sekarang, aku sulit total kalo curhat yang sedih-sedih... cuma seiprit-seiprit ... ndak tuntas hahahahahah!

selalu saja ada yang tertinggal .. satu atau dua kalau lagi curhat yang sedih-sedih hahahahah ...


errrrr dipikir-pikir, itu sebenarnya bukan efek samping yang negatif malah ya ... justru bagus malah .. orang lain jadi nggak nanggung terlalu banyak ... beban hidup mereka kan juga udah berat heheheheh

Tapi dulu, beberapa kali sih kami memergoki Si Mamah menangis diam-diam ... biasanya di dapur ... malam-malam saat dianggapnya kami sudah tidur.


Kami sih pura-pura ndak tau aja ... justru melawak lebih sering ... biar rame


yang rame-rame biasanya ces pleng .. mujarab ngusir sedih!


dan itu kebawa sampai sekarang ...
kalau aku banyak ngelucu yang ndak penting terlalu sering ... sebenarnya indikasi utama kalau sebenarnya lagi banyak beban hidup hahahahahah

duh duh duh ... yo opo tho aku iki ... ngalor ngidul nulis ndak penting!


well well well ... sebenarnya ini caraku sendiri buat mengingatkan hal-hal esensial dalam hidup yang pernah diajarkan si Mamah
termasuk diantaranya ndak boleh terlalu gampang mengeluh ..

Agus...
ayo semangat!!!!


Thursday, July 16, 2009

Ketika Aku Kagum Padamu



Setiap kita berjalan bersisian, aku selalu rindu rasa nyaman yang tertular dari setiap pori-pori kulitmu

dengan cara yang sederhana, kau membuatku merasa yakin bahwa semuanya baik-baik saja

Setiap kita berjalan bersisian, aku selalu rindu bagaimana kau menabrakkan banyak inspirasi tentang menjalani hidup yang lebih baik

dengan cara yang sederhana, kau membuatku merasa yakin bahwa visi hidupku sudah berjalan pada jalur yang sesuai

setiap kita berjalan bersisian, kau memperkaya dunia ku dengan banyak hal yang tidak pernah terpikir sebelumnya

dengan cara yang sederhana, bingkai hidupku kau isi banyak warna

dan... saat itulah ... aku demikian kagum padamu ....



Monday, July 13, 2009

Perjalanan Arya (Part 6)


Give Me S.E.X

Tidak ada yang mengalahkan nuansa hati yang bernyanyi ...
Pada satu saat, saya pernah menyaksikan bagaimana matahari bersembunyi malu karena bara panasnya mengaku kalah telak pada nuansa hati yang bernyanyi ..

Itu yang terjadi saat ini, di dalam sebuah kedai kopi ....

dua hati sedang berdansa ....


"Kamu lihat bulatan merah matahari senja itu Raka?"


"Ada apa Arya?"


"Mau rasanya kusiram ia supaya padam dan waktu berhenti karena bola merah itu menghentikan isyaratnya untuk sang waktu bergulir"

-- tiba-tiba bibirku ditutup rindu--

saya membiarkan bibirnya meloloskan tulang ...
meluruhkan setiap sendi


aku membiarkan sensasi hangat menyelusup, menebarkan rasa yang membuat setiap pori mengembang sempurna untuk dengan rakus menikmati setiap detik tebaran rasa ....


sentuhan kulitnya menerbitkan rasa enggan untuk membiarkan ia beranjak satu mili pun ...


kubiarkan raga mengusir setiap helai kain yang menempel di kulit


aku ingin setiap pori bernyanyi seperti katak yang menandak menarikan tarian pemanggil hujan ...

tubuhnya hangat seperti bara api ...
setiap pagutannya memantikkan pendar sang surya si empunya cahaya


wahai pemberi hangat ...
aku ingin kau masuki setiap relung-relungnya ...


perkosa aku!


tetesan keringatmu ...

cengkraman tanganmu di bahuku ...

gigitanku di bahumu ...

begitu kau masuk ...

saya tahu ...

detik itu pula ...

saya merindumu ...

(bersambung)

Klik: Perjalanan Arya (Part 5)


Perjalanan Arya (Part 5)


Raka dan Hati Bernyanyi

ia kembali ...
lihatkah kemari ...
biar kutubruk dirimu dengan senyum...


(bersambung)

Klik : Perjalanan Arya (Part 4)


Perjalanan Arya (Part 4)


The Other Side of Raka


Lama aku memandang jendela
Suara ketukan air kala hujan selalu menenangkan.
Tapi tidak kali ini.

Hujan gerimis sekarang, membawa rasa yang berbeda

Ia selalu datang saat hujan tiba ...

Ketika pintu terbuka,
wajahnya seperti kanvas yang membiarkan cipratan rinai hujan berdansa dengan pendar cahaya...

hatiku dibuka tepat saat ia membuka pintu ...
tak perlu diketuk ...
masuk saja ....
karena engkau lah pemiliknya ...

(bersambung)

Klik: Perjalanan Arya (Part 3)

Saturday, July 11, 2009

Perjalanan Arya (Part 3)



Ini kali ketiga pintu kedai dibuka dengan segenap hati ...


Raka, asal kau tahu saja
nurani, rasa dan hati sudah menyelinap pergi, jauh sebelum gagang pintu kedai kusentuh...

mereka berlarian tak sabar menunggu ...
sayang ragaku memiliki batasnya ... jadi kubiarkan saja mereka berlarian

mereka rindu nampaknya dengan sang senyum.


benar saja,

"Arya, tunggu sebentar...." Raka berjalan ke pojok ruang ... hahahaha cerdas! sudut tempatku mendudukkan hati di berinya label "reserved" ...

"Aku tahu hari ini kau akan kemari", katanya

Raka, hari ini .. esok nanti... janji ...

"Aku selalu rindu tempat ini ...." kataku , walaupun ... sebenarnya aku ingin sekali berteriak,"tempat ini membuatku selalu merindumu!"

"Aku juga selalu benci ketika sudut ruang itu tak berpenghuni ...." matanya berbicara semantap senyumnya ....

"Jadi................... saya selalu ditunggu?"

"Pasti ........."
--gravitasi kemudian beranjak pergi--

"Cangkir ini resmi jadi sekutumu ...", katanya

"Hahahahah .... kasihan dia ... kalau dia bisa bicara, pasti dia akan menjerit protes sebab kupingnya lecet karena terlalu sering kumainkan"

"Cangkir ini selalu rindu sekutunya Arya..."

Kemudian mata kami bertabrakan ...

"Saya akan tunggu kamu selesai bekerja hari ini Raka...."

"Saya akan meminta kamu menunggu kalau begitu ..."

dan hari ini....

detik berkhianat....

menit berkhianat....

waktu berkhianat...

waktu seperti merambat

waktu melambat

aku minta kamu cepat ...
tapi waktu memilih berkhianat ... merambat ... melambat ...

--tapi kemudian sang waktu dikalahkan niat--

"Selesai, dan kamu adalah tamu paling akhir yang pulang..."

"Kita akan kemana kah Raka?"

"Gandeng tangan saya!"


"Baiklah...."


"Kita akan membiarkan tautan dua tangan ini yang menentukan... bagaimana?"

"Baiklah ..."

.........................

"Raka, tautan tangan aku dan kamu bergeming pun tidak ... apakah kita akan terus berdiri saja macam begini sampai pagi nanti?"


"Hahahahah ...... tunggu sebentar"

-- cakram musik memainkan fungsinya--


"Pegang tanganku", sang senyum berkata

"Ok ... "

"Sebelum tautan tangan kita memutuskan sikapnya .... kita harus berdansa"

"Hahaha ... saya belum pernah berdansa seumur-umur Raka"


"Saya mengajak hatimu berdansa"

And you can tell everybody this is your song
It may be quite simple but now that it's done
I hope you don't mind
I hope you don't mind that I put down in words
How wonderful life is while you're in the world


"Kenapa Raka?"

"Kenapa apanya?"

"Begini?"

"Begini bagaimana?"


"Kamu tahu ... "


"Iya Arya ... aku tahu .......... begitu detik tergelincir ketika pintu itu terbuka olehmu ...... saya tahu ............ bahwa sang hujan telah mengantarkanmu cuma untukku"


Sekarang, saya berharap bahwa saya punya daya untuk mengalahkan waktu ...
saya berharap bahwa saya bisa membunuh sang waktu ... Wahai detik, membeku lah!

"Bisakah begitu rasanya Raka"

"Bisa ..."

"Bolehkah saya membiarkan ini?"


"Tentu, hatimu sudah memutuskan jawabannya bukan?"


"Betul ... begitu aku ditabrakan kuasa senyummu ... hatiku sudah menentukan tujuannya"

"Maka dari itu, kita sekarang berdansa"


So excuse me forgetting but these things I do
You see I've forgotten if they're green or they're blue
Anyway the thing is what I really mean
Yours are the sweetest eyes I've ever seen

And you can tell everybody this is your song
It may be quite simple but now that it's done
I hope you don't mind
I hope you don't mind that I put down in words
How wonderful life is while you're in the world


(bersambung)


Klik : Perjalanan Arya (Part 2)

Thursday, July 09, 2009

Perjalanan Arya (Part 2)



Cangkir Putih dan Hujan



ada pertalian antara saya dan hujan ...

hujan selalu memberikan ruang tenang buat saya ...

dan aku yakin, banyak yang sama denganku tentang hal ini


aku selalu berharap ketika hujan mengguyur, terjebaklah aku di kemacetan ...

biar nikmat kurasa rinai hujan menempias kaca mobil ...
atau kubiarkan saja rinai hujan tak berbatas apapun mengenai wajah ...

tapi nampaknya,
sekarang rinai hujan bersahabat dengan cangkir putih ...

kembali... kali kedua aku ada disini ...


kemanakah sang senyum yang selalu menghangatkan sang rinai hujan ...


uap kopi di cangkir ini masih membawa tenang ...


namun rasanya sunyi tanpa sang senyum ....


kubayangkan dia sedang berlari kesini ...
sambil membawa sekarung senyum....

kurasa rinai hujan tak akan jahat hati membius tubuhnya dengan rasa dingin ...

kurasa, sang hujan akan mengajaknya berdansa ...

cepatlah datang sang senyum ...


uap kopi... suara rintik hujan ... seperti tak bernyawa ...


pintu terbuka ...

sang senyum tiba ....

"Evita ..... sorry telat ... maaf sekali"

disampirkannya tas punggung ... apakah yang kau bawa didalamnya? senyum kah ? boleh kah kubuka ?

kulihat jendela dan bulir-bulir hujan tersenyum padaku ...
bulir hujan kembali bernyawa dengan kehadirannya

sudah, jangan hiraukan aku ... akan kunikmati sekerat demi sekerat kejaiban di depan mata...

dan kemudian kami bertumbukan ....


"Hi ..." sapanya padaku ...


Aduh, tolong .. jangan kau buka lagi mulutmu melontarkan bebunyian kata-kata ... aku terlalu lemah

"Kue kenari hari ini nggak ada ... tapi ada Kue kurma special buatanku yang sudah terbuat dan ada di dalam kulkas di dapur... Kue kurma dan Teh Melati segera buatmu ya"

"Kehujanan kah ?" tanyaku

"cuma ujung celana saja", jawabnya

"jauhkah?"

"Apanya yang jauh?", suaranya terdengar selalu jenaka...

suaranya membuatku kemekmek tak bisa bergeming ...
kemanakah logika yang sudah terasah sedemikian lama karena bangku sekolah ... aku seperti lelaki paling idiot sedunia ...

"Oh maksudku .. rumahmu dari sini Raka"


"Ohhh aku tinggal di belakang kedai kopi ini.. saya tinggal ke belakang ya mas ... kue kurma menunggu buatmu"

saya juga menunggu senyummu datang kembali Raka ...

..................................................................................

"Kenapa kalau mas datang selalu datang hujan?"

"Raka, ini bulan dengan akhiran -ber .... memang seharusnya datang hujan bukan?"

"Tapi kenapa kalau mas datang... rintik hujannya sedemikian halus.... seperti benang-benang jatuh"

"Kamu puitis juga ya ... "

"Aku terlalu banyak dicekoki drama radio waktu kecil", pandangannya menerawang ke arah gerimis datang

"Oya ... ?"

"Iya Mas Arya ... aku ingat jaman kecil sering banget ndongkrok di depan radio dengerin sandiwara radio .... dan berimajinasi sesudahnya"

"Aku juga..."


"Kamu juga Mas?"

"Iya ..."


"Wah ... kamu tau rasanya kan?"


"Tahu sekali..."


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" sang senyum bertanya ...

"Aku juga berpikir tadi rinai hujan seperti benang halus ....", jawabku


"Hahahah begitu kah?"

"Begitu nampaknya"

senyumnya makin lebar ... matanya makin berbinar ...

Aaaah .. jika ia adalah bagian kertas majalah ... ingin rasanya kugunting senyum itu ... dan kubawa pergi

"Aneh .. cangkir ini pun cangkir yang sama waktu kemarin kesini mas Arya"

Raka, mungkin cangkir ini setuju menjadi sekutu ku .. sama seperti rinai hujan ...

"Ada yang melambai memanggilmu Raka..."

"Oh iya ... aku nanti kembali kesini ya mas .. tunggu"

Janji itu pun aku gunting ... aku mau genggam ...


"Saya tunggu ...."


--tapi sekali lagi, tinggalkan senyummu--


(Bersambung)

Klik: Perjalanan Arya (Part 1)