Tuesday, May 17, 2011

Matah Ati. Senyawa Indonesia

Beberapa minggu yang lalu, sempat bicara dengan karib lama yang tinggal di Jerman.

Karibku ini kemudian bertanya,"Yang bikin kamu bangga jadi anak Indonesia tuh apa ya?"

Jawaban ala kontestan putri kecantikan segera dikeluarkan.

Gitu deh.

Tapi sebenarnya, Aku kalo ditanya begitu, butuh waktu lama buat menjawab.

Apa yang bikin bangga ya?

Jujur. Aku sulit menjawab.

Pertanyaan dan jawaban sekenanya berhenti di situ saja.

Sudahlah. Kerjaanku lagi banyak-banyaknya. Mbok mikir yang lebih penting saja.

Dasar nasib.

Minggu kemarin, Aku ketiban rejeki dapat tiket gratis nonton Matah Ati.

Dengar punya dengar sih katanya bagus.

Ngintip Youtube nukilan pertunjukannya, kok kayaknya ya benar adanya kabar yang kudengar itu.

Dari beritanya mbah google, konsep pertunjukkan Matah Ati ini mengacu pada langendriyan atau opera jawa yang diciptakan oleh Mangkunegoro IV dari Pura Mangkunegaran Surakarta.

Weleh, iki piye? Langendriyan yang Aku tahu, dialog di dalamnya disampaikan dengan nembang jowo. Bahasanya pun ndak main-main... kromo inggil! tuturan bahasa jawa kelas inggil yang sering kudengar dari eyang putri dan seringkali, aku yang ngakunya orang jawa saja ndak pernah mudeng alias paham maksudnya.

Aduh.

Yo wis, ndak apa-apa. Mari kita jadikan rasa penasaran itu sebagai bumbu.

Minggu lalu. Sembari menunggu pertunjukkan dimulai, Aku sudah ditampar lebih dulu.

Dalam buku program, Jay Subiyakto- penata artistik pertunjukan ini menulis,

"Mungkin hanya bangsa ini yang tidak malu ketika tidak mengetahui sejarah dan kebudayaan bangsanya sendiri"

Alamak.

Atilah Soeryadjaya- produser eksekutif dalam kata pengantarnya bicara,

"Ini lahir dari rasa prihatin dan mimpi. Aku ndak terima dan sedih. Mosok tho yo, di koran luar negeri ada di tulis "Solo is a haven for terrorist"... duh Gusti. Saya ingin menjawabnya dengan karya"

Saat membaca kata pengantar dua orang seniman ini saja Aku sudah ditampar dengan keras.

"Kebudayaan adalah siapa kita dan apa yang kita perbuat untuk kelangsungan jati diri Bangsa dan Negeri tercinta" -Jay Subiyakto.

Ah, Aku sudah tidak nyaman lagi duduk di luar. Aku ingin segera masuk.

Ayo, mulai pertunjukkannya dong!

Kawan, ijinkan aku mencoba bercerita semampuku tentang Matah Ati ini ya.

Matah Ati bercerita tentang roman seorang perempuan dari desa Matah bernama Rubiyah. Jatuhlah cintanya pada Raden Mas Said, bangsawan keraton yang karena intrik istana, terbuang dan menjalani hidup sebagai rakyat biasa.

Lelaku dijalankan. Rubiyah menjadi simbol perempuan jawa yang trengginas, kuat dalam kelembutan.

Kesetimbangan berlaku. Raden Mas Said. Lelaki yang memimpin dengan rasa. Mengikat perbawa.

Dengan ikrar "Tiji Tibeh, Mati Siji Mati Kabeh. Tiji Tibeh, Mukti Siji Mukti Kabeh" Ia membawa pengikutnya berjuang melawan kumpeni.

Hingga akhirnya Raden Said bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro I dan Rubiyah menjadi garwa dengan gelar B.Ray Matah Ati, yang berarti melayani hati sang pangeran. Dari mereka berdua, turun para penguasa istana Mangkunegaran.

Amplifikasi rasa menerabas bahasa.

Biarkan saja kalau kamu, seperti Aku yang ndak paham bahasa jawa sebagai penutur.

Rasa disampaikan seperti udara yang masuk ke dalam pori dan diam di hati.

Lewat irama dan titi nada, kesenduan, kegundahan, dan suara hati Rubiyah langsung terasa.

Adegan dari babak pertama ini sungguh menggetarkan. Tentang Rubiyah yang gundah dan punya segudang pertanyaan tentang dirinya dan apa yang hidup janjikan untuknya. Aduh, bisikan lirih lewat tembang jawa yang bahkan bahasanya saja tak kumengerti kenapa bisa membuatku menitikkan air mata.

Ini adalah adegan saat rombongan Raden Mas Said melintasi desa Matah dan kali pertama bertemu dengan Rubiyah. Ada satu adegan setelah ini saat Raden Mas Said melakukan tapa brata kemudian menari dengan seorang gadis yang menitis dalam lelaku tapa. Aku dibuat merinding entah kali yang keberapa.

Adegan peperangan pasukan Raden Mas Said dengan pasukan Belanda. Caping dijadikan simbol gerilya.


Adegan Pesta Agung. Perayaan kemenangan sekaligus pesta pernikahan Raden Mas Said dengan Rubiyah.

Saat panggung tutup tirai. Pertunjukkan usai. Aku seperti menemukan cara menjawab pertanyaan, "Apa yang membuatmu bangga jadi anak Indonesia?"

Matah Ati adalah senyawa Indonesia yang menjelma.

Mungkin telat, tapi upaya mengumpulkan jawaban kenapa Aku wajib bangga jadi bagian bangsa besar bernama Indonesia, buatku bisa dimulai. Sekarang.



note: gambar diunduh dari berbagai sumber di internet, fotografer Davy Linggar

Friday, April 22, 2011

Burung pipit pulang kandang


Di twitter aku sempat menulis:
"Burung pipit rindu sarang. Sayapnya letih. Ia mau istirahat"

Terus terang Aku ndak pernah serindu begini untuk pulang ke rumah. Tapi entah kenapa beberapa minggu sebelumnya, Aku kepikiran rumah. Kepikiran pulang ke Semarang.

Apalagi kalau menurutkan logika. Duh, tanggal tua belum gajian hehehe. Sangking kepengin pulang, sempat mikir, "Pokoknya mboh piye carane Aku harus pulang"

Keputusan yang tepat Agus.

Aku baru ngabari Mamah kalau Aku pulang semalam sebelum berangkat.

"Emang kamu ada uang buat pulang?", Mamah menggugat.

Hahahaha pertanyaan yang sudah bisa ditebak.

"Ada, tenaaaang!", padahal hati kebat kebit.

"Bawain Johnnie Walker Blue Label doooong!", Mamah berfatwa.

Duh, tau aja sekarang aku handle brand ini. Mintanya yang varian kelas inggil pula. Tau aja barang mahal.

"Lain kali ah, nggak ada uang nih! bye!", pembicaraan kusudahi sebelum permintaan mulai aneh-aneh hahahahaha.

Pulang ke rumah disambut air muka sumringah si Mamah, sungguh membuat manis hati yang sedang tawar.

Rasanya hangat.

Seperti baterai kosong yang bertemu dengan charger.... eerrrrr analogi yang aneh. tapi sudahlah.

Hari itu, Mamah masak spesial buatku.

Sayur lodeh, sambel terasi, dan sate babi.

well, sate babinya nggak bikin sendiri sih. beli jadi.

"Aduh, kamu kalo makan apa selalu serakus ini?"

Hahahahah... si burung pipit kelaparan dan siap menggendut selama dua hari ke depan.

Lalu kami bicara.

Tepatnya sih, mendengarkan si Mamah bercerita panjang lebar tentang apa saja.

Ceritanya selalu dimulai dengan,"Kamu tau nggak sih Gus ..." macam ibu-ibu rumpi di sinetron.

Tapi momen rumpi ini menyenangkan buat kami berdua.

Jadi semakin sadar, orangtua kita semakin tua semakin rentan kesepian. Dan kita, anak-anaknya adalah penawar sepi mereka.

Mereka cuma butuh didengar. Mereka nggak butuh mendengar,"Tuh kaaan, Aku bilang juga apaaaa...." dari anak-anaknya.

Anggap aja ini bayaran impas waktu mereka dulu dengan sabar mendengar rengekan kita yang suka minta ini itu.

Kami saling mengisi daya hidup dengan cara yang sederhana tapi menyenangkan.

Dengan bicara.

Aku tetap menyimpan rasa kuatir dengan pola makan si Mamah. Ia semakin tua. Syukurlah kebiasaan merokoknya sudah berkurang, mendekati berhenti.

Kebiasaannya minum bir hitam juga jauh berkurang, mendekati berhenti.

Perempuan di depanku ini adalah perempuan paling perkasa yang pernah kukenal sepanjang hidupku dan mulai rapuh dimakan umur walau semangat hidupnya akan selalu sama.

Sambil mendengarkan si Mamah bicara dengan selalu membuka kalimat, "Kamu tau nggak sih Gus ... "

Di kepalaku, aku sibuk mengenang masa kecil. Masa di mana perempuan perkasa di depanku ini membangun dasar untukku bisa tumbuh.

Aku punya proyek besar.

Aku mau menulis sebanyak mungkin tentang kenangan masa kecilku.

Supaya nanti, kalau Aku pulang lagi.

Aku punya tulisan yang bisa kubacakan buat si Mamah.

Burung pipit pulang sarang.

Hatinya Senang.

Wednesday, April 20, 2011

E-N-G-K-A-U



Karena engkau, aku mengerti makna kata PULANG dengan sebenar.

Karena engkau, aku menemukan pemaknaan baru kata RUMAH.

Karena engkau, kata SABAR esensinya menjadi sedemikian sederhana untuk dijalani.

Karena engkau, kata SYUKUR seperti oase saat aku lelah.

Karena engkau, sekarang aku tahu kata MIMPI harus berkawin dengan kata HARAPAN.

Dan yang terakhir, karena engkau, aku jadi tahu kemana dua kata TERIMA KASIH mesti bermuara.

Ijinkan saya menitip kenangan


Jaman Aku masih kecil. Tustel barang mahal. Daripada afdruk foto, mending uangnya buat makan.

Mamahku bilang,"mari membekukan kenangan dengan menulis apapun yang terjadi dalam lintasan hidup kita"

Dan itulah yang Aku lakukan sampai sekarang.

Pada huruf, kata dan kalimat Aku menitip rasa.

Supaya saat kemampuanku mengingat segala detil hidup, menghilang dayanya. Aku bisa datang pada huruf, kata dan kalimat untuk minta diceritakan ulang.

.......................................

Mamahku bilang, Hidup ini punya banyak cerita.

Jaman Aku masih kecil. Sering diajaknya Aku ke Pasar Anyar, Bogor.

Sambil menikmati es teler dan mie bangka, si Mamah bilang,"Kamu liat deh, tukang ikan itu. Menurutmu dengan air muka yang masam begitu apa yang dia rasakan hari ini? Ceritakan padaku detil hidupnya"

Dan mulailah Aku mereka cerita, membangun jalan hidup tukang ikan di depanku. Apa suasananya hari ini. Bagaimana Ia menjalani hidup. Kenapa Ia bersedih.

Sepulangnya, Aku tulis di buku biru tebal yang dibeli Mamah di toko buku Naga Mulia, ceritaku tentang si tukang ikan.

Dari situ, Aku terbiasa menitip rasa pada huruf, kata, dan kalimat.

Mungkin ini sebabnya sekarang, Aku suka menikmati momen duduk di pojok ruang kedai kopi sendirian. Mencuri dengar pembicaraan. Mencuri cerita. Kemudian mereka-reka cerita versiku dari momen yang baru saja kunikmati.

....................................

Juru foto punya tustel.

Aku punya kertas dan pena.


Monday, April 18, 2011

Ketika Aku bicara padaMU


Di twitter, Joko Anwar bertanya,"Kalau Tuhan bisa mendengar meski kita bicara dalam hati, seberapa pentingkah bersyukur out loud?"

Beberapa hari yang lalu, sepulang kerja, jam delapan malam. Rumah sebelah kamar kost mengadakan kegiatan berdoa bersama. Pemimpin doa memimpin menggunakan pengeras suara dengan volume super semacam konser dangdut tujuh belasan.

Sambil ganti baju, dan bersih-bersih selepas kerja, Aku berharap semoga nggak ada yang sedang sakit gigi cenut-cenut, atau baru saja seharian kena marah klien.

Aku yakin. Kalau memang ada yang sedang sakit gigi, atau sedang emosi tingkat tinggi dan butuh sedikit mencuri tenang sesampai di rumah selepas kerja seharian. Satu hal yang mereka inginkan bukan mendengar suara bervolume super membahana.

Mau itu kumpulan orang sedang berdoa keras-keras. Atau bahkan suara kumpulan orang sedang bernyanyi dangdut.

Jadi inget jaman masih kecil, si Mamah mengajarkan kami bicara sama Tuhan.

Si Mamah pernah bilang, "Pernah mbayangin nggak, kamu punya teman, setiap ketemu, selalu mengeluh. Rewel. Yang diceritain hal yang sedih mulu. Udahlah rewel, mintanya macem-macem pula. sebel nggak punya temen macam begitu?"

AKu,"Sebal luar biasa"

Mamah,"Nah, bayangkan temanmu yang kayak begitu nggak cuma satu. tapi satu sekolahan. Dan setiap hari, kamu ndak bisa bilang ndak, harus dengerin mereka ini satu demi satu. kamu ngerasanya gimana?"

Aku,"Aku pasti muntah"

Mamah,"Aku juga sebal kalo tiap kamu pulang sekolah, yang diceritain selalu hal-hal yang menyebalkan. Semacam ndak ada kabar baik hari itu. Aku sih ndak keberatan kamu lagi sedih dan mau cerita. Tapi masak sih idupmu sedih mulu. Aku juga pengen dong denger cerita menyenangkan dari anakku"

Mamah, "Tapi Tuhan maha baik"

Lalu si Mamah bilang:

Berdoa itu berbicara. Bukan meminta.

Gunakan sanubarimu. Pakai hatimu.

Berbisiklah dalam hati.

Ceritakan padaNYA hal menyenangkan yang terjadi pada hari itu, lebih dulu. Berterima kasihlah.

Permintaan itu hanya bagian kecil dari pembicaraan. Karena tanpa diminta pun, IA akan memberi.

.....................

Sekarang Aku ingin menambahkan:

Dan, untuk bicaranya padaNYA. Nggak perlu pake TOA.

Tuesday, March 22, 2011

Bayarannya apa?


Kemarin, sahabatku bercerita tentang kesusahan hatinya. Ia sedih.

Hidup menurutku akan selalu penuh keajaiban.

Ibarat buku, hidup adalah sebuah buku yang menyajikan pada kita cerita dengan plot yang mengejutkan. Kita tak pernah tahu kemana arah cerita mengalir sampai kita membuka lembaran berikutnya.

Liku hidup tak pernah di duga.

Dan hidup, sekali lagi, penuh keajaiban.

Kawanku pernah bilang, "Kalau rencana Gusti Allah itu bisa ditebak oleh kita, maka Gusti Allah sudah tidak maha luar biasa"

Bener juga ya.

Wahai sahabatku yang sedang berduka.

Aku pernah menulis begini:

Anggaplah kita ini seperti batu kali.

teronggok di pinggir kali.

tak berbentuk.

tak indah.

Gusti Allah seperti pemahat patung yang menemukan kita.

Pelan-pelan, IA akan mengikis, memukul, membuang, dan mengambil hal-hal yang dianggapNYA tak perlu melekat.

Terus berulang-ulang. sakit. sampai terkadang kita sering bertanya sebenernya apa sih rencanaNYA buat hidup kita.

Sampai kemudian tiba-tiba batu kali yang tadinya tak berbentuk itu menjadi karya seni, baru kita sadar bahwa rencanaNYA itu akan selalu indah.

Semoga kita diberi kekuatan dan kesabaran menjalani proses saat IA memahat hidup kita.

Kalau ditanya, "Gusti Allah, lalu bayarannya apa sudah bikin hidupku indah?"

Kurasa IA akan berkata, "Bayar AKU dengan yakin, percaya, dan sabar"

Monday, March 21, 2011

Dan, katanya ini CINTA


Kemarin, karibku nun menikah.

ini sebagai hadiahnya:



Katanya, ini cinta

Mulai hari ini, kukembangkan layar dan kau nakhodanya.

Mulai hari ini, cerita hidup kita tidak akan pernah sama.

Padamu, ingatkan Aku untuk selalu membayar jasamu. Karena engkaulah yang menemukanku dan berjanji membawaku ke relung-relung hidup yang tak pernah Aku duga sebelumnya.

Aku berhutang hari ini, esok, dan selanjutnya.

Ini adalah, saat dimana keping jiwaku menemukan pemiliknya.

Mulai hari ini, kukembangkan layar dan kau nakhodanya.

Cerita hidup kita tidak akan pernah sama.Lagi.

Ingatkan Aku untuk selalu mengenang hari ini, saat Aku perlu semangat agar selalu bisa melihatmu tersenyum ketika engkau membuka pintu rumah kita.

Ingatkan Aku untuk selalu mengenang hari ini, saat Aku menitipkan kenangan pada kerut-kerut halus yang muncul di ujung mata, bibir, dan lengan kita.

Ingatkan Aku untuk selalu mengenang hari ini, saat estafet hidup kita berpindah tangan kepada malaikat-malaikat kecil hasil buah cerita cinta.

Ingatkan Aku untuk selalu mengenang hari ini, supaya aku bersyukur bahwa akulah lelaki paling beruntung itu.

Ingatkan Aku selalu mengenang hari ini.

Hari saat engkau memilikiku, sepenuhnya.


Sunday, March 20, 2011

Catatan kecil untukmu


Kamu meminta, "ceritakan padaku rasa itu!"

Memintaku menggambarkan rasa padamu seperti memindahkan lautan ke dalam gelas.

Seperti membuka kotak perhiasan yang ditabrak matahari pagi.

Seperti bara yang setia pada hangat.

"Biasanya kau selalu bisa memindahkan rasa ke dalam kata, lakukan itu untukku", katamu.

Padamu, kata menunduk menghamba rasa.

Padamu, rasa itu terlalu besar kuasanya.

Terlalu besar.

Semoga kamu mengerti.

Dan, detik ini, aku menghamba padamu.

Friday, February 18, 2011

Rekapitulasi

Dulu, si Mamah selalu menekankan begini:

"Aku mau, anak-anakku bisa jujur sama dirinya sendiri, tau apa yang mereka mau, dan mau kerja keras untuk itu!"

Aku diajar untuk selalu percaya pada mimpi-mimpiku.

Kebohongan itu tabu. Apapun alasannya.


Kejahatan paling inggil dimata si Mamah, adalah membohongi diri sendiri.


Kebebasan paling utama adalah ketika kita meyakini segala mimpi yang kita punya
dan berusaha untuk mewujudkannya.

Ujung 2010, Aku memutuskan untuk menulis surat pengunduran diri.

Bukan karena ndak suka lagi dengan pekerjaan di sarang nyaman itu.


Aku kepengin lagi seperti anak burung yang belajar terbang kali pertama.


Mau memberikan sedikit waktu untuk diriku sendiri melihat kembali daftar
mimpi-mimpi yang belum tuntas diwujudkan dan harus dikejar.

Gusti Allah membuktikan dukunganNYA lewat:

Januari
Keinginanku untuk membayar tuntas mimpi seorang Agus kecil seperti dimudahkan.

Pengen punya dan nulis buku, satu-satunya mimpi yang belum terbayar.

Iya, memang buku itu cuma kumpulan dari tulisan-tulisan yang selama ini sudah ada di blog. Tapi tetap saja lah Aku butuh waktu untuk memilih mana yang harus termuat, mengedit yang diperlukan supaya lebih enak dibaca dan juga mencari desainer grafis yang bisa membuatkan cover design untuk buku itu.

Ndilalah semuanya dimudahkan. Cuma butuh waktu efektif 2 minggu untuk akhirnya buku itu lahir. Empat mimpi masa kecilku, terjawab semua. Ini buktinya


Januari

Aku diingatkan untuk selalu punya mimpi besar dan yakin bahwa apapun bisa diraih kalau dasarnya niat baik serta mau kerja keras dan tekun.
Aku dapat kesempatan untuk bertemu dengan sosok inspiratif dan punya mimpi luar biasa, tidak hanya untuk dirinya sendiri. Di Flores, aku bertemu dengan perempuan ini:


Alfonsa Horeng namanya.

Perempuan luar biasa yang memberdayakan perempuan Flores dengan menanamkan dan selalu memupuk spirit menenun.
Karena dengan menenun kita akan melihat bagaimana keluruhan budi, kesabaran, ketelitian, ketekukan serta daya imajinasi yang luas dan kreatifitas dalam pribadi perempuan Flores menjelma menjadi karya seni tinggi.

Darinya Aku belajar bahwa keluhuran budi akan selalu menebas rintangan apapun. Interaksi dengan masyarakat adat yang kutemui disana sungguh membuka betapa kayanya negeri ini.

Di Maluku, aku bertemu dengan lelaki ini:

Rence Alfons.

Bung Rence aku memanggilnya. Lelaki yang punya mimpi luhur untuk membangun tanah kelahirannya dan menyatukan spirit Ambon manise lewat Molucca Bamboo Wind Orchestra dengan latar belakang anggota yang beragam mulai dari petani, polisi, pelajar, tukang ojek, penyadap nira.


Aku dibuat merinding kagum saat paduan suling bambu dan instrumen musik tradisional Maluku yang lain seperti toleng-toleng, toto buang, rebana, tifa, dan indahnya suara nyong ambon mengeluarkan pesonanya.

Sekali lagi, lewat Rence Alfons betapa pentingnya punya mimpi dan visi.

Februari
Keinginanku untuk seperti burung kecil belajar terbang langsung dijawab Gusti Allah dengan beberapa tawaran untuk menghuni sarang baru.


Ternyata benar, cuma butuh keberanian untuk keluar dan menutup pintu supaya kita bisa tahu bahwa sebenarnya ada begitu banyak pintu yang terbuka menunggu untuk kita masuki.

Sarang baru sudah dipilih
Burung kecil bersemangat untuk belajar terbang lagi.


note: foto-foto dan cerita detil perjalananku ke kawasan Indonesia timur menyusul ;)

Thursday, February 10, 2011

Cerita Teh dan Kopi


(Dua hati )
(Dua Cerita)
(Satu rasa)

Cerita Teh
Pada gelap semesta,
Aku menulis di udara.
Aku rindu!

Cerita kopi
Atas nama asap yang berpisah dari abu di jariku.
Aku sungguh mencandu engkau.
Pulang sekarang!

Cerita Teh
Dari jendela kedai kopi ini aku melihatnya.
Berlari kecil menghampiri.
Jantungku keburu copot.
Jantungku mencolot.

Cerita Kopi
Sialan, lelaki kayak begini kok bisa mengganggu benak!
celana katun murah, sepatu dengan kaus kaki putih. Situ pikir Michael Jackson.
Dandanan tak berkelas.
Dengan senyum kelas bintang lima.
Damn! sekarang yang murahan siapa ya!

Cerita Teh
Jangan malu, katanya.
Ulurkan tanganmu dan sebut nama, katanya.
berkali-kali kulihat kamu mengikuti langkahku ke sini, katanya.
dan terus terang, aku selalu menanti tatapan mata itu, katanya.
Ah, sedemikian jelasnya kah?

Cerita Kopi
Katanya,
Kamu nggak galak kok!
Kamu cuma rapuh.
Kayak kertas tissue.
Setan! setan! setan!
Aku sebal!

Cerita Teh
Lelaki ini berkata,
Mulai sekarang berhenti menulis kata rindu di udara.
Mulai lah merinduku.
Hatiku ingin berteriak,
Udara kehilangan maknanya.

Cerita Kopi
Lelaki ini berkata lugas,
Jangan ajak aku kesini kalau engkau malu.
Yang merindu bukan aku tapi kamu.
Aku pulang dulu ya.
Mulutku terkunci,
Jangan pergi!

Cerita Teh
"Uhhhmm enak!"
"Bolu kukus paling enak yang pernah kumakan!"
Matanya bercahaya seperti anak kecil kena permen gulali.
Wahai lelakiku ...
Besok kubawakan lagi, masakan penuh rasa hati
Untukmu.

Cerita Kopi
"Aku tambah gendut ya?"
"Makanku banyak belakangan ini!"
"Atau jangan-jangan karena aku sering diomelin sama kamu?!"
"Nggak apa-apa deh .. omelan sayang!"
"Apa? mau masakin aku? nggak salah? ihihihih coba aku pengen liat kamu sukses masak air tanpa gosong panci!"
Ingin rasanya aku tak masuk kantor hari ini.

Cerita Teh
"Ah masa belum pernah ke club?"
"Kamu kan udah tua! heheheh"
"Aih, mukamu merah kayak perawan desa!"
"Ouch ... idih dicubit! kayak lagi pacaran di pinggir kali ah! ini di cafe, sayang!"
-Ihiik- Lelakiku, aku memang seperti Minah gadis dusun bila bersamamu.


Cerita Kopi
"Pssst ..aduh, apa-apaan sih kamu ikutan masuk ke ruang ganti!"
"Aduuuuh, nanti ada yang liat! ini di SOGO sayang, bukan di rumahmu"
"Eh eh eh ... ah ah ah ... sayang .................. jangan ............... aaaaaaahhhhhh ....!"
Iya, aku liar!

Cerita Teh
"Kalau nanti liat penari telanjangnya, matamu jangan melompat keluar ya!"
Kamu dengan mata jenakamu itu.
"Serius kamu baru pertama kali ini ke gay club? serius?!"
sudah diam!
"Ahahahaha tanganmu keringetan!"
diam! diam! diam! aku malu aku takut!
"Tenang ... ada aku, kamu akan baik-baik saja!"
Tatapan menenangkan itu, wahai lelakiku, justru membuatku semakin ingin pulang dan mencumbumu ....

Cerita Kopi
Aku membalas SMS yang dikirimnya..
"Heeeeeh .... hari gini nggak ada tuh yang bilang SELAMAT BERCENGKRAMA! cis!"
Tapi entah kenapa, senyumku tak pernah mau pergi setiap membaca lagi smsmu, wahai lelakiku.

Cerita Teh
Masih terngiang-ngiang yang dia bilang,
"Ibuku selalu bilang, laki-laki nggak boleh pake tissue! Harus pake saputangan. Nih, kado dari aku... dipake ya ... biar inget aku terus!"
Sekarang aku memegang saputangan kedua dari 3 buah yang kau beri. Setiap memegangnya, hatiku menghangat.


(cerita akan terus lanjut)


Monday, February 07, 2011

Hujan dan Senja


Pada sebuah kedai kopi

Hujan dan Senja berbicara...

Hujan berkata,

Wahai Senja, magnet hidup membawaku padamu

Aku rela, meskipun nanti sepeninggalnya, aku tak berbentuk terpanggang hangatmu

Senja tak menunggu lama

Senja menanggalkan pakaiannya

Senja mencumbu

Hujan merindu

dan lantai menjadi saksi bisu .....

........................................................................


note: gambar dipinjam dari gettyimages

Saturday, February 05, 2011

Pertanyaan dan Mimpi


Aku sekarang paham bahwa impian dan harapan, sebenarnya adalah pertanyaan-pertanyaan kita pada sang Pemberi Hidup tentang apa yang sudah disiapkanNYA untuk hidup kita.

Jaman Aku dan Aan -adikku- masih kecil, kami terbiasa mendokumentasikan hidup lewat kata. kalimat. tulisan.

Semua pertanyaan kami pada Gusti Allah terdokumentasikan tidak saja di benak. Tapi juga di dalam sebuah buku besar tebal berwarna biru yang Mamah beli di toko buku favorit kami "Gunung Mulia", Bogor.

Sebuah buku yang menyimpan bukti bahwa segala pertanyaan kita tentang hidup PASTI akan selalu dijawab sama Gusti Allah.

Sayang, buku besar itu hilang saat banjir besar sewaktu kami tinggal di Semarang.

"Aan besok kalo udah gede, mau jadi polisi!", bisa?

"Aan besok kalo udah gede, mau cari sekolah gratis! keluar udah jadi orang pangkat!", bisa?

"Gaji pertama Aan kalo udah kerja buat patungan beliin Mamah tiket pesawat!", bisa?

Aku belajar untuk tidak lupa dengan mimpi-mimpi yang Aku punya.

Dulu, Agus kecil pernah menulis begini:

"Mimpiku kalo besok udah gede: aku mau jadi penyanyi, penyiar radio, kerja di TV, dan nulis buku kayak Gola Gong, Andra P Daniel, Hilman, dan Enyd Blyton"

Aku berhutang pada Agus kecil.

Hutangku dibayar cicil dengan menjalani hidup tanpa pernah melupakan impian-impian itu yang merupakan pertanyaan pada Gusti Allah.

DijawabNYA tuntas. Pada porsinya masing-masing.

Keajaiban adalah sebuah keniscayaan pada orang yang percaya.

Mimpi pamungkas si Agus kecil, terjawab. Lunas.

Isi buku kecil ini sebenarnya hanya kumpulan-kumpulan tulisan dari usahaku untuk membekukan kenangan. Mendokumentasikan hidup.

Isinya sangat pribadi. Mungkin tidak punya makna istimewa buat yang lain.

Tapi ini mimpi yang menjadi bentuk.

Untuk Agus kecil, mimpimu tuntas!

Saturday, October 16, 2010



Pada satu waktu,
Sebatang rokok jatuh cinta pada sang tuan

Ia memuja
Kepadanya, dibiarkan sang tuan mengambil bagian penting dalam hidup.

Ia pasrah
Kalau pada ujungnya, Ia menguap tak bermakna
Meninggalkan hanya sisa abu yang sebentar lagi hilang

Ia rela
pelan-pelan disakiti, dibakar api.

Tidak apa-apa.
Mengabaikan kebendaan. Cinta, sejatinya adalah energi luar biasa.

Sebentar lagi, karena cinta, esensi hidup sebatang rokok menemukan tempat nyaman.
Ia akan selamanya memeluk lengket dalam tubuh sang tuan.
Mengalir bersama darah.

Ia menunggu dengan sabar
Giliran untuk terambil dari bungkusan.

Ia berteriak-teriak memanggil.
Tapi nasib memilih tidak berteman.

Satu per satu, sang tuan mengambil batang demi batang.

Sampai tinggal Ia seorang.

"Ah, sekarang giliranku", pikirnya penuh suka.

kemudian terdengar bunyi kematian.

Sang tuan, memutuskan untuk berhenti merokok.

Ia gundah bukan kepalang.

Sedih tak tertahan.

Cinta tak bertemu muara.

"Malam ini, aku akan berdoa sepenuhnya, semoga besok, waktuku tiba", pikirnya.

Malam berganti, pagi tiba.

Sebatang rokok membuka mata.

Gelap.

Wahai, gerangan dimana sang tuan?

Kenapa matahari pun tak ada?

Sebatang rokok, berujung di tempat sampah.

dengan cintanya.





Saturday, October 02, 2010

Mari Menjadi DALANG


Semalam, saya nonton film ini.

Legends of The Guardian. Seru.

Film yang mengajarkan banyak hal.

Satu adegan di film itu yang melemparkan saya ke masa kanak-kanak.

Di awal, cerita, anak burung hantu sungguh terpesona dengan dongeng sebelum tidurnya.

Ksatria.


Nilai baik.

Yang jahat pasti kalah.

Yang baik, menang dengan tidak mudah.

Pada dongeng sebelum tidur, anak burung hantu ini belajar banyak hal.


Betapa pentingnya punya keyakinan.


Betapa pentingnya punya mimpi.


Saya jadi ingat.

Betapa dulu, saya sungguh menikmati Mamah bercerita pada kami berdua -aku dan Aan- adikku.


Ceritanya apa saja.

Timun mas yang dikejar-kejar raksasa, sampai raksasa mati tenggelam dalam lumpur hisap begitu timun mas melempar terasi ajaib.


Bisma yang punya kesaktian tak bisa mati kecuali Ia menginginkannya.

Kancil yang licik. cerdik tapi dipakai membodohi. Betapa Mamah benci dengan tokoh kancil ini.

Rahwana yang punya sepuluh muka menyeramkan. Padanya, sepuluh sifat jelek manusia melekat.


Mamah bukan pendongeng yang baik.


Selalu ada jeda sebelum cerita berlanjut.

Ia mencoba mengingat pakem cerita yang dibawa. Kalau lupa, yaaaa, mulailah beliau improvisasi sepenuhnya.


Meski begitu, ceritanya selalu mengagumkan.


Sampai pada akhirnya beliau menyerah.


Lemari memori di otaknya sudah dibongkar. Cerita yang diingatnya habis sudah.

Pada majalah Bobo, Kuncung, Tomtom, Ananda, Kawanku dan Tom Tom beliau bergantung.

Mulailah Mamah hanya menemani kami melahap cerita di majalah itu sebelum tidur sambil menampung pertanyaan-pertanyaan ajaib dan dijawab dengan logika sekenanya supaya kami puas pertanyaan menemukan jawaban yang lagi-lagi ... hanya sekenanya hehehehe

"Kita bisa beli dimana kantung si pak janggut ini?"


"Kenapa Paman Kikuk selalu kikuk? jahat sekali saudara dan teman-temannya tak mengajari Ia untuk tidak kikuk. Kikuk kok jadi bahan tertawaan. harusnya kan kasihan!"

"Baju Nirmala itu siapa tukang cucinya ... kasihan sekali tukang cucinya harus mencuci baju sebesar itu... kalau hujan turun, ada berapa baju merah jambu besar yang Nirmala punya?"


"Kenapa majalah ini namanya TomTom ... yang punya majalah, namanya Tom Tom kah? kayak apa orangnya?"


"Deni manusia ikan itu pernah makan sambal nggak ya?"


"Celana si Oki, sahabat Nirmala ini kayak celana senam punya Mamah ya! celana Oki warna hijau ... punya Mamah merah!"


Sampai pada satu saat, Mamah membuatkan kami layar wayang dari kertas gambar tipis ukuran besar.

Pada kiri kanannya diberi tiang dari lidi panjang, ditancap kiri kanan pada kaleng susu indomilk bekas.
Diguntingnya gambar-gambar lucu dari majalah yang sudah kami baca. dilekatkannya pada sebatang lidi supaya bisa kami pegang.

Rupanya, Mamah sudah bosan mendengar kami bertanya ini itu hahahahah.

"Sekarang giliran Mamah didongengi...kalian dalangnya"

Kami mulai bergantian sebelum tidur mendongeng untuknya.

Ceritanya apa saja.


Imajinasi anak-anak seluas samudra. Improvisasi cerita terjadi setiap saat. Kalau ditanya alasan kenapa si ini digituin .. si itu dibegituin... si anu kok harus begitu ... alasannya bisa macam-macam. Argumen diciptakan. kesahihannya mutlak tidak perlu ditanya. Pokoknya ya harus begitu.

Mamah bertanya, "Kok dia harus kalah? ..."


Jawaban kami, "Ya karena dia begini begitu...bla bla bla"


Butuh waktu sampai saya lulus SD sampai akhirnya saya bosan dengan dongeng sebelum tidur itu.


saya mau menyambungkan itu dengan pemikiran saya sekarang.


Oleh Gusti Allah,
kita ini seperti kanak-kanak yang dibekali layar kertas lebar.

sekotak wayang. dari kotak wayang itu kita bertemu dan berkawan.

Cerita berjalan. dan, kita sendiri sebenarnya yang menjadi subyek aktif penentu cerita.

Semua hal tidak terjadi atas dasar keniscayaan.


Akan selalu ada alasan kenapa lakon berganti, cerita berganti, dan siapa saja yang datang dan pergi.


Setelah nonton film itu, Saya seperti diingatkan Gusti Allah
"Agus, kamu sudah aku beri sinopsis besar. awal dan ujung. Sekarang, kamu adalah sang dalang. Berikan aku detil cerita dari sinopsis besar yang KU beri"

Sampai sekarang dan nanti, saya, sang dalang, sedang bercerita.

Menghidupkan hidup.


Salam.


Friday, September 17, 2010

Sang Pencerah itu....


Tonton film ini!

Abaikan saja bila ada kekurangannya.

Saya cukup bangga, film Indonesia akhirnya ada yang seperti ini.

Music scoring-nya demikian indah.

Saya rasa, mereka yang ada dibalik pembuatan film ini sudah sedemikian berusaha keras untuk menyampaikan rasa. Ketika ini terjadi, buat Saya, sebuah film menjadi bernyawa.

Abaikan saja alur penceritaan yang terkadang terbata-bata.

Abaikan saja ketika beberapa kali muncul dialog sang tokoh utama, KH Ahmad Dahlan yang terlalu dipaksakan berusaha indah dan penuh filosofi tapi jatuh menjadi "garing" karena diterjemahkan dalam akting hati-hati oleh sang pemeran.

Abaikan saja ketika beberapa kali, akibat dialog yang maunya dipanjang-panjangkan, sang tokoh utama jadi terkesan 'menyek-menyek', gampang mutung alias putus asa dan kok ndilalah seperti sakit2an heheheheh. Karena, di dalam angan Saya, seorang tokoh dengan visi yang demikian mengagumkan macam Ahmad Dahlan ini, air mukanya tegas, penuh wibawa, memancarkan perbawa yang bikin orang sekitar kagum. Tapi, Lukman Sardi membuatnya macam lelaki yang dibentak sekali saja sudah terbatuk-batuk dan matanya langsung sayu.

Film ini, layak ditonton.

Nikmati saja keindahan makna.

"Wong bodo itu ndak semata karena pendek akalnya lho thole cah ngganteng. Wong pinter yo bisa saja jadi bodo kalau Ia semata memakai akal tapi nuraninya digadaikan!"

"Meyakini itu perkawinan antara akal dan nurani. Lha, kalau cuma nurani saja, ati-ati lho,njungkel jadi FANATIK! pakaian nurani, ya akalmu!"

"Bahkan, manusia dengan visi hidup yang luar biasa pun bisa meragu!"

"Kalau kita tahu yang terbaik, lalu, buat apa kita ada di sini di dunia ini?"

"Sampeyan melabelkan Saya kafir, tantanglah keyakinanmu dengan akal!"

"Agama itu seperti musik. Meneduhkan, membuat tenang, membawa damai. Supaya begitu? belajarlah titi nadanya. Musik dengan titi nada yang berantakan, bikin marah, bikin mumet!"

"Memaknai agama tidak hanya dengan tuntas membaca semalam suntuk. Tindakanmu cerminan setiap kata yang engkau baca, meski itu hanya 1 ayat saja. Berbuatlah!"

"Raga bisa kau robohkan, tapi, mampukah engkau merobohkan jiwaku?"

Hati saya hangat setelah menikmati film ini.

Diluar sosok, saya memahami.

Sang Pencerah itu ada di dalam hati kita semua.

Sang Pencerah itu, Akal dan Nurani.

Salam.


Tuesday, September 14, 2010

Upin & Ipin, Unyil Kucing (Mudik 2010, Part IV)

Beberapa waktu lalu sempat di-tag notes-nya Mbak Tatyana tentang film kartunanak-anak Upin&Ipin.

Berkunjung dan kenalan deh sama Mbak Tatyana Soebiyanto di facebook, terus baca notes-notesnya.

Dijamin kecanduan. Sayang dia jarang nulis notes.

Tapi sekalinya nulis, wah, mareeeem! mantaap tenaaaan!


Halaaaah iki opo tho yooo kok malah ngalor ngidul hehehe.

Tulisan Mbak Tatyana tentang si Upin & Ipin itu jadi pemicu tulisan ini.

Pulang kampung, selain secara tidak resmi menjadi pengganti asisten rumah tangga selama mereka tidak ada, juga merupakan kesempatan emas buat Raihan,keponakanku semata wayang untuk bebas "memperbudak" Pakdhenya.

Ngemong keponakan.

Karena ngemong Raihan ini lah selama pulang kampung aku jadi hampir setiap hari nonton Upin & Ipin di rumah.

Dan karena hampir setiap hari nonton kakak beradik yang jalannya kayak tuyul inilah, Saya
kemudian bisa mengerti kenapa Mbak Tatyana suka sekali dengan Upin & Ipin.

Inilah sosok kanak-kanak sebenarnya.

badung.

pengen tau segala hal.


lari kesana kemari.


bikin sewot orangtua.


dan yang paling penting,
terpuaskan hasrat bermainnya.

Sejatinya, kanak-kanak harus dijauhkan dari hal-hal yang mengagungkan individualitas.


lha piye, beberapa kali aku lihat ada anak balita kok yo wis jago tenan maen PSP.


Ditowel dikit sama orangtua diajak ngobrol, kok yo ngamuk.


Kalo aku jadi Bapaknya, wis tak buang PSP-nya itu.

Upin & Ipin mengingatkan para orangtua bahwa dunia anak, ya bermain.


Titik.

Jaman mbiyen waktu aku kecil.


Nilai yang sama, ditawarkan sama si Unyil.

Mau katanya disisipi propaganda orde baru kek, nyata-nyatanya dulu aku juga ndak paham kok
isi propagandanya apa.

Yang aku ingat dan aku setujui adalah:


manjat pohon jambu itu menyenangkan.

maen ujan-ujanan dan belepotan lumpur itu menyenangkan.


mandi di kali menyenangkan.


maen musik ala-ala band dekil, band-nya si Unyil itu keren.


maen sepeda rame-rame itu cihuy.


orang itu ada yang licik, pemalas, kikir, manipulatif dan mestinya ndak boleh begitu.

Upin & Ipin serta Unyil mengingatkan bahwa kanak-kanak belajar lewat bermain.

Wis, piye maneh, jadi orangtua itu, kalau mau disebut profesi, adalah profesi paling menantang sedunia.

Ndak ada sekolah untuk menjadi orangtua.

Jadi orangtua itu, ibaratnya kayak orang yang langsung kecebur di kolam renang.


Opsinya cuma satu.

Belajar untuk bisa ngambang dan selamat sampai tujuan.


Selama hampir empat tahun mengurus salah satu klien brand susu pertumbuhan anak dan terpapar dengan banyak "first time mom & dad" (uedan, aku mulai keminggris hehehe) Aku banyak ketemu dengan orangtua muda yang salah kaprah.


Kebanyakan dari mereka pengen anaknya pinter.

Ndak salah.

Tapi, kalau kebablasan, menurutku sih agak ngeri dampaknya.


Yang dikejar cuma aspek kognitifnya semata.


Pokoknya pinter!

Aku memang belum jadi orangtua.


Tapi di pemahamanku, untuk menjawab tantangan masa depan.


Pintar saja nggak cukup.
diatas itu, seorang anak dibutuhkan untuk jadi TANGGUH.

Anak tangguh, kalau dikasih masalah, ndak nglokro alias cepat mengeluh tapi sigap mencari alternatif-alternatif solusi.


Di keseharianku aku sering ketemu junior yang begitu mentok masalah dikit, ngeluh ngalor ngidul ....
"Ya ampuuun ... lo kagak tau aje dulu gue lebih nista cobaannya dari elu! yet, here i am ... i'm survive! please deh!", dalam hati.

Untuk bisa jadi anak tangguh, gimana?

Dalam pemahamanku, ya, biarkan si anak banyak belajar hidup lewat satu-satunya cara yang menyenangkan untuknya.


Bermain.


Boso enggrisnya, "Learning through playing"


Aku suka sebal dengan orangtua yang "horny" banget nyari kegiatan sekolah ini itu, untuk stimulasi ini itu, biar anaknya bisa ini itu.


Padahal, dua-duanya kerja. nyebelin kan?!


Mbok ya ketimbang kirim anak mereka masuk kelas ini itu yang tadi itu, ajak main kek!


Jadi inget, jaman Aku sama Aan masih kecil.


Mamah ndak pernah nyuruh aku belajar hehehehe cuma diancam sih, "Kalau sampe kalian ndak naik kelas, Mamah kirim kalian ke Panti Asuhan ya! Mamah nggak mau ngurus kalian lagi!" Udah. Itu aja.

Ndak pernah nanya udah ngerjain PR atau belum. Ulangan dapet berapa. Yang penting ndak jadi anak brandal! nggak jadi preman. naik kelas.


Kami dibiarkan bebas bermain sama anak-anak kampung.

pulang ke rumah dengan bau keringat amis karena terbakar matahari.


pulang ke rumah dengan baju yang kotor sana sini, makanya si Mamah paling males kalo harus beliin baju mahal. Yang murah-murah aja.

adem ayem aja kami berdua main hujan-hujanan dan guling-gulingan di lumpur. Untung dikasih obat cacing Upixon secara teratur.


adem ayem aja kalo kami berantem sama anak-anak kampung itu. Malah, kalau pulang ngadu justru dimarahin. Yang ada, kami diantar ke TKP sama si Mamah dan disuruh berantem hahahahaha


Tapi, kalau ketahuan curang, mencuri, ngerusak barang orang lain. siap-siaplah disambut si Mamah di depan pintu dengan gagang sapu atau selang air. bisa kena sabet kita! hihihi


Ketahuan nyontek, beeeuh... ancur idup kita hahahaha ... Mamah pernah bilang, "Aku nggak malu punya anak bodoh, tapi sampe jadi curang dan pecundang, malu luar biasa!"


Balik ke jaman sekarang, aku jadi mikir. Berapa banyak ya anak sekarang yang tau betapa menyenangkannya maen ujan-ujanan dan belepotan lumpur?

Berapa banyak ya anak-anak jaman sekarang yang bisa merasakan keceriaan gaya Upin & Ipin itu?


Atau jangan-jangan ini cuma nostalgia aku saja semata-mata.

Diluar hal yang sedih-sedih. Masa kecil ku ternyata lebih banyak senangnya.


Ayo Upin Ipin, kita maen Unyil kucing

Monday, September 13, 2010

Perut dan Hati (Mudik 2010, Part III)

Untuk cinta, katanya sih dari mata turun ke hati.

Kalau ini masalah pulang kampung, nggak begitu ukurannya.

Dari perut, turun ke hati. Itu kayaknya yang benar.

Tiap benda punya nilai melankolisnya sendiri-sendiri.

Tiap hal menyimpan rasa.

Makanan, buat Saya salah satunya.

Seenak-enaknya makanan di warung, restoran paling mahal sekalipun.
Tidak ada yang mengalahkan masakan rumah.

Pada setiap hal, kalau kita mau, kita bisa menitipkan kenangan.

Makanan, buat Saya sah-sah saja dijadikan "cantolan" rasa dan kenangan.

Berikut adalah makanan-makanan yang punya nilai rasa buat Saya:

Tiwul
Ini adalah sarapan favorit Saya setiap pulang.

Makanan dari bahan ketela pohon atau singkong ini enak bukan kepalang disantap pagi hari, dengan parutan kelapa muda dan gula jawa.

Obat lapar mujarab begitu buka mata, badan masih bau ketek, mulut masih bau lambung kosong.

Segelas teh tubruk wasgitel, wangi legi sepet lan kentel, jodoh abadi penganan sarapan yang satu ini.

Rasa tidak berbohong. Tiwul di pagi hari dijamin bikin bengong.

Dulu, jaman Saya selalu dilempar Bapak dan Mamah setiap libur panjang sekolah ke rumah eyang kakung dan putri di Yogya.

Setiap pagi, Saya selalu tak pernah mau hilang momen saat Eyang Putri menyiapkan tiwul hangat buat kami serumah.

Saya, waktu itu selalu terpesona dengan bagaimana Eyang Putri meniup buhul bumbung kecil bambu ke kompor kayu bakar dan melihat percik api kecil berubah membesar.

Hangatnya kayu bakar menjalar lewat udara membuat kulit Saya yang keriput kedinginan karena selesai mandi merona hangat. Tekun, Saya ndongkrok di dapur menunggu sang tiwul siap diganyang.

Saya menikmati setiap gerakan Eyang Putri sigap memarut kelapa muda.

Merajang halus satu bonggol gula jawa menjadi halus dan ditaruh d
i lepek-lepek kecil untuk Saya, Eyang Kakung, Bulih Harmi dan Paklik Ripto.

Tiwul matang kukus di dandang.

Disiangi, dibuang uapnya dengan kipas bambu.

dihidangkan dan seisi rumah merubung meja makan k
ecil sebelah dapur.

Sambil menikmati sarapan, Eyang Putri dengan tangan kasar kapalan mengelus-elus kepala.

"Makan yang banyak ya cucuku sing paling ngganteng, ben cepet gedhe, ben cepet urip mulyo!"

Elusan sayang Eyang Putri adalah obat perangsang nafsu makan yang dahsyat mujarab.
Pujiannya selalu menyenangkan untuk di dengar.

Nah, sekarang saya tau kenapa saya sekarang "agak" narsis dan rakus hehehehe

dari kecil selalu dibilang ganteng dan makan banyak sebagai indikator kesuksesan hahahahah

Kalau sekarang, elusan sayang dan pujian Eyang Putri berganti dengan si Mamah menemani saya sarapan sambil mendengarkannya bercerita apa saja, mulai dari harga cabe rawit yang naiknya selangit sampai gosip tentang rumah tangga tetangga sebelah.

Dan itu, juga obat perangsang nafsu makan yang juga dahsyat mujarab.

Kari Kentang
Sayur sederhana ini hasil perkawinan dari kentang, kubis, wortel, buncis, tetelan daging, bumbu kari dan santan.

Rasanya legit ditemani tempe goreng bacem dan cabe rawit.
Bapak, yang Saya tahu paling anti dengan sayuran.

"Awit aku cilik, urip susah, mangan godong2an terus, wis cukup!" terjemahannya, Bapak bilang dari kecil jaman idup susah sehari-harinya makan dedaunan saja. jadi sekarang udah bosen heheheh. Aneh. Tapi ya itu ke
nyataannya.

Tapi, begitu si Mamah masak sayur ini.

Traumanya sirna! cespleng! ampuh!

Bapak makan seperti mewakili 2 kompi pasukan yang kurang makan.

Lahap bukan kepalang.

Saya suka ketawa geli kalau lihat air muka Bapak saat menikmati sayur ini.

Seperti bocah kesenangan.

gurih legit sayur ini, terkecap dan terkenang saat Saya jauh dari rumah.

Kalau di warteg langganan kebetulan masak sayur ini.

Saya suka senyum sendiri.

Lidah dan hati terhubung.

Kenangannya gurih legit.

Seperti kuah santan sayur kari kentang.

Sarden Kaleng
Ini adalah makanan kesukaan yang tidak pernah bikin bosan

Sarden kaleng merek BOTAN, MAYA atau ABC langganan Saya sedari kecil.

Asam, gurih, legit.

Jaman saya kecil, tinggal di Bogor.

Ini adalah makanan mewah pengganti ayam atau daging dan dihidangkan jarang-jarang di meja.

Kalau punya uang berlebih, baru si Mamah membeli lauk ini.

Waktu itu, pemikiran bocah kami selalu menganggap makanan kaleng adalah makanan anak gedongan.

Makanan yang harus di beli di supermarket meskipun di warung kecil sebelah rumah kontrakan kami pun ada dijual.

Nggak, belinya harus di supermarket adem nyaman, kalo perlu ndorong trolley walaupun cuma beli satu kaleng.

Di ruang tamu, yang sekaligus berfungsi sebagai ruang nonton TV, belajar dan makan. Saya dan adik menunggu aroma sarden kaleng yang sedang dipanaskan, berarak memenuhi ruangan.

Nasi panas, ikan sarden dan krupuk jengkol.

Nikmat itu bungkusannya sederhana saja bagi kami.

Jadi kawan, ayo, apa makanan pengisi perut dan hatimu? :)


Sunday, September 12, 2010

Sahabat (Mudik 2010, Part II)


Semarang.

Setiap sudut kota ini seperti laci kecil tempat saya menitipkan kenangan.

Kenangan, itu akan selalu manis.

Meski saat dibuatnya, kadang harus dibayar sedih.

Selain menghabiskan waktu di rumah.

Menggendutkan diri dengan segala makanan enak yang tak bersahabat dengan bentuk tubuh.

Saya sungguh mencinta saat-saat ngopi duduk bicara dengan karib lama.

Phillip namanya.

Tak terasa, 11 tahun sudah kami bersahabat.

Pasang surut pertemanan selalu ada.

Ya dimaklumi saja. Kami ini kan dua entitas bernyawa yang punya jalannya sendiri.

Dengan Phillip, pembicaraan kilas balik, terutama jaman Saya berjibaku merintis karir selalu terselip.

Saya lupa detil perkenalannya gimana.

Kalau tidak salah ingat, perkenalan kami di mulai di sebuah kafe, yang pada masanya, tersohor.

Java Kafe.

Masih ingat, tiket masuknya cuma 20 ribu untuk ditukar soft drink atau segelas bir yang sudah hilang gelembungnya.

Saya masih kuliah waktu itu. Dia sudah punya pekerjaan yang bikin ngiler lah.

Apa ya yang bikin kami tetap berteman.

Kami ini macam bumi dan langit.

Dia, cina Semarang.

Saya, berkulit gudeg kendhil.

Kadang kami berseberangan.

Kadang kami saling lempar kalimat "sayang" yang mungkin kalau orang lain dengar, bisa geleng-geleng kepala saking "tajemnya" hehehehe

Tapi, itulah makna pertemanan yang tak berbayar, tak berpamrih.

Masing-masing dibiarkan untuk tumbuh menjadi pribadinya sendiri.

11 tahun kami berteman.

to all the ups and downs ... Phillip .... thank you.


Yang namanya CINTA, luar biasa (Mudik 2010 part I)


Kalau Saya baterai, ini adalah saat dimana sang baterai sedang dikalibrasi dan diisi ulang sampai penuh dayanya.

Saya pulang.

Saya, rindu pada Ibu.

Saya, rindu pada seisi orang rumah.

Pada mereka, kutitipkan daya hidup.

Ketika pulang, semua momen, rasanya dibubuhi dengan penyedap rasa bernama CINTA.

Nikmat luar biasa.

Sambal terasi teman sayur lodeh buatan si Mamah, semakin lama, makin sedap saja rasanya.

Bangun tidur pagi karena teriakan keponakan tersayang, Raihan, adalah alarm yang sungguh membelai.

Sarapan, makan siang dan makan malam dengan tatapan kagum si Mamah yang terheran-heran dengan kapasitas lambung yang mengarah rakus selalu saja menyenangkan.

"Enak?"

"Enak luar biasa Mah..."

"Kalau kamu ndak ada di rumah, Aku selalu kangen melihat kamu makan sedemikan lahap... nggak ada di rumah ini yang serakus kamu!"

Malam pertama Saya di rumah, dihabiskan dengan menemani si Mamah nonton sinetron dikamarnya sampai Ia terlelap.

Tak pernah mengerti kenapa para Ibu yang Saya kenal suka sekali terpapar dengan kekerasan, intrik kasar dan serapah di setiap sinetron yang kabarnya sih, si produser sinetronnya sendiri melarang keluarganya untuk menonton sinetron yang mereka buat.

Demikian jauh dari nyata.

Demikian miris dramanya.

Si Mamah terlelap sebelum sinetron kesayangannya selesai dongengnya.

Televisi masih menyala memuntahkan gambar dan suara.

Saya memperhatikan Mamah.

Dengkur halusnya menenangkan.

Pada kerut-kerut halus di matanya, Saya menitipkan banyak cerita.

Kulitnya sudah mulai kisut.

Menua.

Inilah perempuan perkasa yang dulu dan sampai sekarang demikian banyak mengajarkan saya makna hidup.

Mengajarkan saya keihklasan.

Mengajarkan saya makna berjuang.

Mengajarkan saya mencintai.

Mengajarkan saya hidup.

Pada kerut-kerut halus di matanya, Saya menitipkan banyak cerita.

Cerita tentang mimpi.

Cerita tentang suka.

Cerita tentang tangis.

Cerita tentang hidup.

"Ketika menua, ternyata gampang sekali kita diserang sepi. Kamu nggak marah kan kalau aku menelponmu sering-sering?"

"Agus, lagi apa? lagi kerja ya? Mamah mau cerita!"

"Seneeeng deh dibeliin tas! Makasih ya Nak!"

"Setrikaan di rumah udah jelek..."

"Kamu kirim uangnya ya? asik... makasih ya Gus!"

Sekali lagi saya memandang si Mamah.

Dengkurannya halus.

Air mukanya yang tenang tak bisa menutupi kerut-kerut kulitnya.

Pada kerut-kerut halus di matanya, saya menitip pesan.

Kamu, dulu tak pernah mengeluh saat saya kencing di celana.

Tak pernah lelah saat saya butuh diangkat ketika belajar menapak.

Tak pernah marah saat saya minta dituntun karena dunia di depan sana serasa hal baru yang menakutkan.

Tak pernah hilang sabar saat saya cerewet untuk hal-hal yang remeh rasanya.

Saat engkau menua.

percayalah, Saya akan selalu ada sama seperti dulu engkau selalu ada.

Tubuhmu menua.

Tapi untuk saya, hati dan cintanya, selalu sama.



Sunday, June 20, 2010

Katanya sih Hari Bapak .... katanya lho yaaa


Seperti juga saya lupa dan nggak 'ngeh' kalau ada hari istimewa bernama 'Hari Ibu' ... saya juga ora weruh babar blas tentang "Hari Bapak'

Yo wis, kali ini, mari kita bicara tentang seorang lelaki yang bertemu dengan seorang perempuan, berkopulasi lah mereka, dan muncullah kita di dunia gara-gara mereka

dan kita panggil lelaki itu, Bapak.

Bapak saya bernama Sandiyo.

Lelaki sederhana, datang dari dusun Nanggulan, Kulon Progo, Magelang.

Sandiyo, anak pertama dari istri kedua Bapak Soemoredjo dan Ibu Parjiyem, sepasang suami istri yang nanti saat saya mengotori udara dunia dengan teriakan cempreng, saya panggil simbah Soemo dan simbah 'Mi.

Kepincut sama perempuan yang masih ada hubungan keluarga jauh.

Suharry, namanya.

Perempuan energik.

Groupies band rock.

Pinter main bass guitar.

Terkenal badung dulu jaman sekolah di SMA Bopkri Yogyakarta.

Jaman saya SMA, saya takut sekali bolos sekolah.

Suharry, biang bolos sekolah heheheheh

"Eh justru karena dulu Mamah badung, makanya Mamah tau akibatnya, makanya Mamah nggak mau kamu badung!"

pembelaan yang selalu muncul saat saya bilang, "Ah kayak Mamah dulu nggak bandel aja!"

pembicaraan selalu berhenti saat si Mamah berkata, "Kalau sampe kamu nggak naek kelas atau di-skors karena badung, MAMAH KIRIM KALIAN KE PANTI ASUHAN!'

Yak sodara-sodara... kami anak-anaknya sukses bungkam mulut heheheheheheheh

eh, kok ngelantur ya ... maaf, kebablasan hehehehe

Singkat cerita, Sandiyo dan Suharry jatuh cinta.

Kami ini lah buah cinta mereka.

Jatuh cinta yang aneh.

Yang perempuan, kayak petasan banting

Yang laki-laki, dibentak sekali, kayaknya jatuh sakit

tapi ternyata Sandiyo, pendiam karena dulu masih anak dusun nggak ngerti apa-apa.

Begitu tau ini itu ... beuuuh mulai bikin ulah hehehehehe

eits, ini kata si Mamah.

Saya sih .............................. cuma ...................... meng-amin-i saja hehehehe

Blaik kowe... kebablasan maning!

Baiklah,

hubungan saya dengan Bapak pernah mengalami masa-masa dimana saya pernah begitu kecewa dengan lelaki yang satu ini

begitu kecewanya, sampai rasanya sulit membedakan antara rasa kecewa dengan dendam

hubungan saya dengan Bapak pernah mengalami masa-masa dimana saya sungguh tak bisa mencerna bagaimana lelaki ini menerjemahkan rasa cinta

begitu tak mengertinya saya, sampai-sampai rasanya lebih baik menganggap lelaki ini tidak pernah ada dalam kehidupan saya ketimbang kemudian membuat hidup saya bertambah sulit.

tapi masa-masa itu sudah lewat.

berdamai dengan masa lalu

menerima dengan lapang dada bahwa sejatinya tiap orang tua adalah manusia juga yang jauh dari sempurna

sungguh membuat yang namanya dendam dan kecewa itu seperti layaknya sebutir debu yang gampang sekali hilang dihembus angin iseng.

Saya ternyata punya banyak hal yang sungguh menyenangkan untuk dikenang bersama Bapak

Dengan caranya sendiri, Bapak menabung banyak rasa sayang di dalam pribadi anak laki-laki bernama Agus Hariyo Purnomo

Dengan caranya sendiri, Bapak mengajarkan bagaimana caranya bertahan hidup

Dengan caranya sendiri, Bapak mengajarkan bagaimana hidup harus ditaklukan dengan menyingkirkan rasa cengeng

Dengan caranya sendiri, Bapak berkata kepada saya anaknya, "Agus, Bapak cuma laki-laki yang terkadang juga ndak tau harus berbuat apa saat yang di dalam kepala sebenarnya cuma ingin yang terbaik buat anak-anaknya"

Dengan caranya sendiri, Bapak menaruh bangga kepada saya, anak laki-lakinya.

Di hari yang katanya hari khusus buat Bapak-Bapak ....

Agus, cuma mau berkata

"Bapak, terima kasih buat semuanya ... dalam ketidaksempurnaanmu pun kamu sudah memberikan makna lebih dalam hidup saya .... Agus sayang sekali sama Bapak ... sayang sekali .... selamat Hari Bapak ... Bapakku, Sandiyo"