Tapi sudahlah, aku ndak bosan kok untuk menuliskannya lagi.
Di setiap perjalanan, Gusti Allah sing paring urip sedemikian baik hati berbicara pada kita lewat begitu banyak pertanda di lingkar kehidupan sehari-hari untuk membuat hidup kita selalu bisa dinikmati dan disyukuri.
Lewat Kang Apud, dulu Aku selalu diingatkan.
Kang Apud, office boy jaman dulu Aku masih jadi produser radio untuk program siaran pagi di Female Radio, Jakarta.
Masih ingat,
Dulu selalu bangun setengah lima pagi.
Berangkat jam lima pagi dari Depok, menembus udara dingin pake motor, berjaket tebal, pergi ke gedung perkantoran Ratu Plasa, lantai 20.
Menemani Arlingga Pandega, penyiar pagi.
Berkawan dengan satu operator siar
Berkawan dengan Anto, produser senior yang punya pertalian erat dengan toilet, asap rokok dan buang hajat sebagai momen berharga untuk mendapatkan pencerahan ide kreatif hehehehe
Aku cuma bertahan 3 bulan saja. Bukan karena ndak cinta dengan pekerjaannya disana. Sebelumnya pun, Aku pernah jadi penyiar di Semarang untuk waktu yang cukup lama.
Di 3 bulan itu,
Setiap pagi, Kang Apud selalu hadir dengan wajah sumringah cerah ceria.
Hidup dan menjalani hidup seperti tanpa beban.
Tidak pernah keruh air mukanya.
Tidak pernah bersungut-sungut.
"Kang Apud nggak pernah sedih ya?..."
Jawabannya hanya senyum dan, "Aahhh, mas Agus bisa aja .... "
tanpa ada detil cerita.
"Ngantuk kayaknya mas, mau kopi?"
"Mas, kwetiauwnya udah ada tuh buat sarapan..."
Pekerjaannya dijalani dengan hati.
Dulu, kalau sedang rawan hati.
Datang ke kantor bersungut-sungut karena suasana hati yang tidak menyenangkan.
Setiap ketemu Kang Apud pagi-pagi.
Seperti selalu diingatkan.
"Ih Agus, malu dong sama Kang Apud! ..."
Hari ini, sewaktu menyambangi Radio Female untuk supervisi program talkshow salah satu klien kantor, Aku kembali bertemu Kang Apud.
Bapak, sekali lagi Aku menyesal kenapa dulu keluarga kita hampir ndak pernah punya foto penanda momen-momen keluarga, dari Aku masih kecil sampai sekarang.
Yo wis, foto memang bukan alat bagi kita untuk membekukan kenangan.
Aku akan menulis semua hal yang bisa aku ingat tentang kita, keluarga, dan orang-orang yang dicinta sebagai pengingat kejadian berkesan.
Aku akan menulis.
Banyak yang kuingat
Banyak yang kulupa
Banyak juga yang rasanya ingin Aku lupa
Tentang Bapak.
Aku masih ingat,
Bagaimana Bapak uring-uringan kalau pagi ndak nemu sendal jepit yang sebenarnya lebih layak masuk tempat sampah saking sudah tipis dan jeleknya minta ampun karena Bruno, anjing kampung peliharaan kita dulu menganggapnya sebagai daging empal dan menaruhnya di tempat rahasia.
Bagaimana dulu Bapak ndak pernah lupa membubuhkan sedikit garam pada segelas susu segar yang sudah dihangatkan untukku dan berkata,
"Nih, biar lebih gurih ... biar kamu ndak enek!"
Bagaimana dulu setiap beli tahu isi di depan asrama polisi tempat kita tinggal, Bapak telaten membuka tahu isi dan memisahkan toge didalamnya dan berkata,
"Tuuuh, udah bersih, yang ini buat kamu!"
Bagaimana dulu aku dikibuli bahwa kerangka ikan paus di Museum Zoologi Kebun Raya Bogor itu, dibeli di Ancol.
Bagaimana dulu aku diajak keliling daerah Suryakencana dan Sempur Bogor pake Astrea 800.
Bagaimana dulu setiap hari minggu, kolam renang Milakancana Bogor jadi saksi betapa menyenangkannya minggu pagi buat kita berdua.
Masih ingat,
"Bapak nggak pernah punya anak cengeng! nangis boleh, tapi cengeng awas ya!"
"Anak laki-laki harus nurut sama Mamah!"
Masih ingat,
Aku di elus-elus punggungnya saat tidur siang ndak berhenti sebelum aku lelap.
Masih ingat,
Untuk melihat detil-detil kecil di sekitar
Masih ingat,
Untuk ndak bergantung sama orang
Ndak boleh iri
Ndak boleh curang
Aku juga masih ingat,
Betapa hancurnya hati ini saat engkau memilih untuk pergi dari kami
Betapa Aku menyimpan amarah untukmu
Betapa Aku kecewa
Betapa Aku meradang
Dan hatiku jatuh koma karenanya saat itu.
Tapi ternyata, mungkin ini cara Aku belajar dan mencoba memahami
Bahwa, Bapakku itu hanya seorang lelaki yang menjalani kodratnya sebagai insan yang tidak sempurna dan tidak luput dari salah ....
Hanya lelaki biasa yang juga mampu menyakiti orang-orang yang dicintainya.
Butuh waktu lama memahami itu, tapi percayalah ... sekarang Aku mengerti sepenuhnya.
Butuh waktu lama membuang kecewa, tapi percayalah ... sekarang Aku sudah berdamai dengan apa yang di belakang
Masih ingat,
Betapa Aku menangis bahagia saat mencuri dengar,
"Agus itu kalo nulis bagus banget ya ...."
"Agus kok jarang pulang sih .... suruh lebih sering pulang besok-besok!"
"Tanyain sana, Agus masih punya uang nggak dia?"
"Agus tuh gajinya berapa tho? kalo kecil, suruh kerja aja di Semarang lagi deh ... tinggal di rumah aja"
Dibalik ekspresi datar dan tidak peduli ... Bapak perhatian sekali.
Dari Mamah, Aku tahu Bapak selalu bangga denganku ...
"Anakku kerja di TV lho! dia bikin kuis!"
"Anakku bikin iklan!"
"Anakku kreatif!"
Bapak yang saya kenal, adalah lelaki yang sungguh sayang pada Aku, anaknya.