Monday, January 26, 2009

Pesan untuk adikku yang cantik ...

kemarin, pada sebuah kedai kopi... Adikku yang cantik sedang bercerita bagaimana hatinya dihancurkan oleh seorang lelaki ...

tidak ada yang lebih menyesakkan hati ketika melihat seorang perempuan menangis ...

aaah Adikku yang cantik ... ini hanya pemikiranku saja ... jadi, ketika nanti para lelaki itu membaca tulisan ini ... penyangkalan dari mereka adalah satu keniscayaan

terkadang, kami ... para lelaki, tak pernah punya hati untuk mengakui bahwa sesungguhnya kami ini makhluk yang sangat lemah .... kami memang punya tugas menyuntikkan sang hidup ke dalam tubuh kalian.. tapi, ketika kalian memutuskan untuk menghentikan laju sang hidup... selesai lah semuanya ...

seringkali, kami ... para lelaki, juga sungguh tak memahami bagaimana cara kerja hati, rasa dan logika kami ini sungguh bisa dijajah habis-habisan oleh lonjakan alat kelamin macam tongkat pukulan kentongan itu ... sungguh, ajaib sekali si pukulan kentongan itu... naik turunnya bisa menggiring hati, rasa dan logika mengikuti kemauannya ....

ada satu nukilan lagu:

"Wanitaaa diiii jajaaaah priiiiaaaa sejak duluuuuuu ... dijadikaaaan perhiasan sangkaaar maduuuu ... namun ada kala priaaaaaa tak berdayaaaaa .. tekuk lutut di sudut kerling wanitaaaa"

kuberitahu satu hal, menurutku ... lagu itu bukti penyangkalan untuk mengakui kenyataan bahwa kalian, para perempuan adalah makhluk yang kuat ...

ambang rasa sakit kalian jauuuh lebih besar dari kami...

cobalah suruh kami-kami ini untuk meregang kulit dan menariknya kuat-kuat sampai meretas sempurna ... kemudian sang kulit berpisah dari sang daging ... seperti kalian dengan rela mengabaikan bius ketika vaginamu tergunting saat mengeluarkan sang hidup .... niscaya, kami sudah pingsan-pingsan jauh sebelum sang kulit tercabik.

Jadi, Adikku yang cantik ... mari sini, mas peluk ya ... cup cup Adikku.... tak perlu menangis untuk insan lemah yang sudah membuatmu hancur hati ...

2 comments:

Chrys. Siddha Malilang said...

“Menderita dua kali? Saya rasa, saya akan sanggup menjalaninya. Sebagai seorang wanita, saya rasa saya sudah cukup kuat untuk menanggung berbagai macam penderitaan. Bahkan sejak kecil pun, kami, kaum wanita sudah terbiasa untuk menderita karena diremehkan dan direndahkan, dianggap sebagai kaum yang lemah. Kami sudah terbiasa untuk menderita. Hanya saja, sebenarnya dalam penderitaan itu, muncullah suatu kekuatan tersembunyi dalam diri wanita yang sangat sulit dipahami, kekuatan yang muncul justru karena ketabahan dan kesabaran dalam menjalani semua penderitaan, kekuatan hati yang luar biasa yang muncul karena semua tekanan-tekanan yang diterimanya. Seperti sebuah pegas, semakin besar dan semakin dalam tekanan yang diberikan kepadanya, semakin besar pula kekuatan yang tersimpan! Dan semakin besar juga daya tahan dan daya lontarnya”

(Srikandi, by Siddha Malilang. PT. Gramedia Pustaka Utama, 2006)

Hehehe!!

Gogo Caroselle said...

ya ampun... sedih.... pengen dipeluk juga jadinya... uhuhuhuuh T_T