Saturday, October 03, 2009

Surat Cinta


Anakku, saat kau membaca surat ini aku ingin engkau tahu bahwa dirimu sudah berhasil membuat dadaku terasa penuh sesak karena bangga.

Tidak ada yang lebih membuat bahagia melihat kalian menjadi manusia kuat dan mampu membuat keputusan-keputusan penting untuk hidupmu.

Saat kutulis surat ini, aku masih ingat betapa dulu ... setiap pagi... saat tubuhmu wangi bedak dengan muka cemong-cemong bedak sehabis mandi ... memegang erat tanganku seperjalanan aku mengantarmu masuk kelas taman kanak-kanak dulu...

setiap pagi setiap hari selama 15 menit waktu perjalanan.

Aku ingin engkau tahu ... bahwa itu adalah 15 menit paling bahagia dalam hidup.

Ah tentu saja ... aku ralat ... tidak hanya 15 menit setiap pagi setiap hari ...

setiap detiknya sampai kini, kamu membuatku bahagia ....

bahkan pada saat-saat tersedihku.

bahkan pada saat-saat dimana aku seperti induk burung yang kelelahan merentang sayap supaya anak-anaknya tidak kedinginan terpapar air hujan.

bahkan pada saat-saat aku merasa habis daya dan bersiap menyerah kalah pada hidup.

engkau, anakku... tidak pernah gagal membuatku menjadi perempuan paling bahagia.

Saat kutulis surat ini, aku masih ingat betapa badungnya kalian dulu ...

betapa kuatirnya aku menunggu kalian pulang ke rumah karena terlalu lena dengan layangan, lumpur sawah dan belut!

betapa kututupi rasa kuatirku dengan air muka galak dan gagang sapu di pintu rumah menunggu kalian.

Tapi, asal kau tahu wahai anakku .... wangi amis paduan matahari dan keringat di tubuh dan baju kalian ... adalah aroma yang paling membuat rindu .. aroma paling wangi.

asal kau tahu wahai anakku ... air muka ketakutan kalian saat pulang ... badan bau .. baju kotor lumpur ... adalah jaminan bahwa meskipun dulu, hidup kita penuh badai dan diguncang ... tapi kalian mengalami masa kecil yang penuh ...

untuk itu, aku tidak pernah berhenti bersyukur.

Terima kasih, untuk tidak pernah mengeluh dengan masakanku yang terkadang terlalu asin...

terima kasih, untuk selalu menunjukkan air muka senang bahkan ketika kalian tahu uang di dompetku tinggal seribu.

Saat kutulis surat ini, aku masih ingat betapa aku menangis karena adukan rasa terharu, bangga sekaligus sedih menatap punggungmu saat engkau melaju pergi mengarungi kehidupan yang sudah disediakan jalannya oleh Gusti Sing Paring Urip.

Aku akui ... aku merasa ditinggal sendirian oleh kalian pada saat itu.

Aku akui... aku merasa tidak siap membayangkan kalian tidak ingat jalan pulang untuk menemui aku .. perempuan yang lambat laun dibunuh umur.

Saat kutulis surat ini ... rumah terasa sepi tanpa kalian.

Semoga kalian tidak pernah berat hati saat sedemikian sering aku menelpon kalian ...

Mengajakmu bicara apa saja ... bahkan pada hal-hal kecil seperti betapa nyinyirnya tetangga bertanya kenapa engkau ndak kawin-kawin.

Aku mulai bawel sekali ya?

menunggu telpon kalian demikian menyiksa

kalian sedang apa?

kalian baik-baik saja?

kalian ingat aku?

kenapa tak memberi kabar?

kalian lupa padaku?

lima menit mendengar suara kalian di ujung telpon sungguh memberiku kedamaian.

sabar lah padaku ya ... sesabar aku dulu menyuapimu makan saat sakit

sabarlah padaku ya ... sesabar aku dulu mengajarkan i-ni i-bu bu-di ...

sabarlah padaku ya .. sesabar aku dulu mengajarimu naik sepeda roda dua

terima kasih saat ini ... saat aku melakukan kesalahan ... saat aku menunjukkan bahwa aku bukan manusia super ... kalian masih ada disampingku

kalian masih ada menggenggam tanganku dan mengangkatku untuk kuat berdiri

kalian masih menjadi tameng hidupku ... dan menuntunku memperbaiki kesalahan-kesalahan.

sekarang dan nanti .. aku merasa yakin ... bahwa memang, kalian ingat jalan pulang ... jalan untuk menemuiku .. perempuan yang lambat laun dibunuh umur.

aku cinta kalian

aku akan mengirim cinta pada kalian .. setiap detik setiap waktu

karena aku yakin ... cintaku membuat kalian teguh menjalani hidup ...

aku cinta kalian

cinta sekali

baiklah, tanganku sudah pegal menulis sedemikian banyak.

tidur lah anakku...

bayangkan aku mencium keningmu ya ... sama seperti setiap malam dulu aku menidurkan kalian dengan bekal cium sayang di kening.

salam sayang,

Ibumu,
Suharry

..........................................

Disarikan dari pembicaraan dini hari anak dan Ibu .... ditemani udara dingin, nyamuk centil dan aroma Dji Sam Soe.

6 comments:

S! said...

S! likes this very much.

Grey_S said...

Huaaaaaa.... Arya, gw jadi pengen nangis neh T_T Hikssss....

Arya said...

S! : suka ya :)

grey: ih mbak, kamu kok cengeng juga sih kayak aku hehehe

lucky said...

Hikssss................

Gogo Caroselle said...

si mas selalu romantis yah postingannya.... :)

grace said...

membuatku tercekat hebat..
(sekaligus dicerahkan)