Wednesday, September 14, 2011

"Biar aja Tuhan yang bales!" ... Menurut LO?!


Kemarin, dari linimasa twitter kawan muncullah celetukan:

"Ya udahlah, biar Tuhan yang balas!"

Ada yang aneh nggak dari pernyataan itu?

Untuk melatih isi otakku yang isinya ya, cuma segitunya saja :) Aku mau sok nulis dalem ah ... bwihihihih...

Pertanyaanku sehubungan dengan pernyataan diatas tadi sederhana sih:

Kalo memang saat ini kita diperlakukan tidak menyenangkan, tidak adil sama orang lain. Jangan-jangan ini adalah reaksi dari aksi kita yang juga tidak menyenangkan kepada orang lain sebelumnya. Lha, kalo kayak begitu, siapa yang menjahati siapa ya? :) Lha, terus, kok ya minta dan berandai-andai Gusti Allah membalas. Lha, membalas kepada siapa? pada kita? pada dia?

walhasil, sebenarnya pernyataan di atas itu mbingungi. Mbikin blunder :)

Simbahku pernah mengajarkan analogi ini:

Hidup itu seperti pertunjukkan wayang.

Gusti Allah menyediakan layar besar, gebyok untuk menempatkan wayang-wayang, sejumlah wayang dalam kotak yang mewakili beragam karakter.

Lha dalangnya siapa? ya, dalangnya kita lah! mau siapa lagi emangnya :)

Gusti Allah memberikan plot besar cerita hidup untuk setiap kita. Tapi 'kembangan' ceritanya, diserahkan sama kita.

Mau jadi cerita yang mblangsak morat-marit meskipun awal plot sebenarnya penuh dengan kemuliaan. Ya terserah kita.

Mau jadi cerita gilang gemilang meskipun awal plotnya penuh onak derita. ya terserah kita juga.

We create our own story.

Kembali lagi soal balas membalas di atas.

Menurutku, itu cuma cerminan bahwa betapa pada satu titik, kita manusia sungguh merasa kecil dan tidak punya kuasa.

Padahal ya, hidup itu belok kiri kanan lurusnya tidak lebih dari rangkaian aksi dan reaksi.

Rangkaian cerita hidup yang kita kembangkan tidak akan pernah mendadak nggak sinkron. Lha wong kita adalah pihak yang secara aktif berperan dalam pengembangannya kok.

Jadi, sebelum nyeletuk:

"Biar ajalah, biar Tuhan yang ngebales!"

Sebaiknya tanya dulu sama diri sendiri:

"Aku melakukan apa aja ya sebelum ini?"

Anyiiiiiing ... kampretos! :) sok dalem gini gue! hahahahaha





5 comments:

Ryou said...

Salut sama simbah sampeyan nih... salah satu analogi hidup manusia paling sempurna yang pernah saya dengar. Mungkin kapan2 saya pinjem yah buat blog :D

erikmarangga said...

Mas agus,blognya disetting bwt phone display gitu dong biar enak bacax dr hp
:)

Arya said...

Hi Erik, maafkan atas ke-gaptek-an ku ya hehehe... gimana caranya setting supaya phone display friendly? ajarin!

PindraPindra said...

woww, suka sangat dengan ceritanya.. terharu dengan cerita simbah tentang analogi wayang tersebut. salut

sabai95 said...

Sungkem kagen simbah :)