Thursday, March 12, 2009

Sepatu Oh Sepatu


Ditengah pekerjaan yang sungguh membuat lelah dan tenggat waktu untuk setiap detilnya

Saya harus menulis

tentang apa pun ...

sebelum otak saya malah mogok dan mau disuruh bekerja ...

Baiklah ... ehmmm aku mau nulis apa ya ... sembari mengetik, sebenarnya ndak tau sih mau menulis apa ...

O iya,

tadi pagi, saya menemukan benda yang sarat kenangan ...

sepasang sepatu olahraga ... terbungkus rapih dalam koper yang saya ingin pindahkan isinya ke dalam lemari. Isi koper itu tak pernah tersentuh sebelumnya karena memang hanya "sampah" yang ada di dalamnya...

"sampah" yang membawa rasa ... dan salah satunya si sepasang sepatu olahraga lusuh itu.

penyakit memang, saya sulit sekali berpisah dengan barang-barang yang menautkan saya dengan rasa...

Sepasang sepatu olahraga itu saya keluarkan dari bungkusnya ...

Ingat sekali, sepatu olahraga merk BATA ini dibelikan Opium, si mantan pacar pertama ....

selayaknya menamakannya Opium karena Ia sudah berhasil membuat saya --dulu-- ketagihan dengan kehadirannya di setiap saat menjalani hidup... sepatu ini pun berhasil membuat saya seperti balerina di dongeng anak-anak yang tak bisa melepaskan sepatu balerinanya dan terus menari bersama sampai Ia kehabisan napas dan kemudian mati ...

Ingat sekali, Opium membelikannya saat saya bersiap-siap untuk mendaftar seleksi masuk AKABRI dulu ....

"Opium, aku mau buktikan sama Bapak kalo aku bisa lebih sukses dari dia! ... aku mau masuk AKABRI .. ini niat aku dan Aan! .. kalo aku gagal, Aan mesti berusaha mewujudkan niat ini!"

dan hadiah ulang tahun saya, dibelikanlah olehnya sepatu olahraga

setiap pagi, Opium membangunkan saya

setiap pagi, berlari lah saya selama satu jam dengan sepatu itu

setiap kali saya kecil hati, sepatu itu dulu berlaku layaknya dopping untukku ...

dia bilang, "Ayo lari lagi Agus ... ayo lari!"

Sang sepatu membawa saya lolos tes masuk AKABRI tingkat Jawa Tengah

Sang sepatu menjadi saksi saya melewati seleksi AKABRI nasional di Magelang dan gagal ...

Sang sepatu menjadi teman saat saya sedih bukan kepalang sampai saya termangu berjam-jam di sebuah lapangan setelah pengumuman kegagalan ...

Sang sepatu menjadi teman saat saya seperti orang idiot berdiri berjam-jam di terminal bus Magelang dan serasa tak tau jalan untuk pulang ke Semarang ...

Sang sepatu menjadi saksi saat saya di jemput di Terminal Terboyo Semarang oleh Opium dan saya tanpa malu memeluknya erat kemudian menangis lama sekali di pelukannya

Opium bilang waktu itu, "Kamu sudah membuktikan bahwa kamu itu pejuang ... kamu ndak menyerah sampai ujung akhirnya .... ayo kuat!"

Setelah kejadian itu, salah satu benda yang selalu saya lihat... saya keluarkan dari bungkusnya .. ya si sepatu itu ...

bahkan ketika merantau ke Jakarta... ada satu koper khusus dimana saya membawa semua benda yang membawa rasa ... pengingat bahwa saya harus selalu kuat menghadapi apa pun masalah, karena saya dulu pernah menghadapi tantangan hidup yang lebih berat dari sekarang ...

Gusti Allah sungguh ajaib...

Pagi tadi, saat saya sedang butuh dikuatkan ...

IA menuntun saya untuk membuka koper itu ...

dan menemukan sang sepatu.

Gusti Allah ternyata bilang, "Agus ... yang kuat ya nak!" tadi pagi

3 comments:

Laa - Aysra said...

Jadi kangen....
Masalahnya bukan benda pengingat kenangan, tapi karena IA...
Sama kaya temen al yang "tercayank"...
Dah jarang banget ketemu ma dia siy...
Namanya AI....
Namana kebalik...

Tha said...

yo oloohh.. terharu banget mbaca post yang satu ini.
Gw suka banget ama blog ini
keep posting :)

Anonymous said...

sumpah, baca blog ini mata gue berkaca-kaca...