Friday, November 20, 2009

The Mother



Untuk kali kesekian, aku disini.


Menghirup perlahan kopi tanpa gula.

Aku suka tempat ini. kedai kopi dengan paduan aroma kopi, lantai kayu coklat hangat dan keteduhan yang ditawarkan tempat ini benar-benar membuatku senang.

Hemmm senang bukan kata yang tepat .... tempat ini membuatku tenang.

Anak muda di depanku ini memainkan pianonya dengan nada-nada sendu.

Umurnya sebaya dengan anakku, kutebak.

Aduh, aku jadi rindu dengan mereka, anak-anakku.

Kurasa, aku sudah berhasil membuat mereka jadi manusia yang tangguh.

Doaku dari dulu memang itu.

Bukan pengen anak yang cerdas.

Tapi anak yang nantinya jadi manusia ulet. manusia tangguh.

Apa pun pencapaian mereka dalam hidup, aku seperti jadi bagiannya.

Aku Ibu mereka.

Kembali, pandanganku tertuju pada pemain piano.

Wahai anakku, apa yang membuatmu sendu?

Wajahmu pilu nak...

Aku mengamati rasa hatimu meski kau tak tahu.

Isi hatimu tergambar dari denting yang kau buat.

Rasa yang tertahan malu...

Rasa senang yang menggebu...

Rasa rindu ...

Rasa marah ...

dan sedih.

Aku mengikuti perjalanan rasa hatimu.

Aku tahu bagaimana kau selalu melihat ujung jalan dan berharap Ia datang.

kau pasti merindunya seperti orang gila.

Aku tahu bagaimana kau senang saat kali pertama Ia tersenyum padamu.

Kau pasti merasa lantai jebol dan sedang berjalan di awan. percayalah anak muda, aku tau seperti apa rasanya.

kemudian, kalian berdua dilanda rindu

digulung badai cinta.

aku saksi, saat kau merajuk Ia terlambat menjemput.

saksi saat kau senang karena ia memberimu kado kejutan ulang tahun dan menyanyi di tengah kedai ini dengan suara baritonnya yang pas-pasan ....

sekarang, jiwamu seperti menghilang. denting yang kau buat, tak bernyawa.

Denting pianomu ... simfoni hidupmu...

dan aku lah salah satu penontonnya meski kau tak tahu.

Anakku pasti suka dengan tempat ini.

Sama seperti Ibunya, Ia suka dengan aroma kopi yang selalu sukses membuat tenang.

Ia juga suka denting piano. Dulu, jaman masih kecil, kalau Ia rewel... putarkan saja kaset Richard Clayderman. langsung anteng.

Wahai anak muda pemain piano. kamu tampan. bahkan saat air mukamu sedang sendu.

Kopiku sudah habis.

"Mbak, minta bill!"

"Baik Bu..."

"Pemain piano itu namanya siapa tho?"

"Ooooh Mas Raka, namanya Bu.... kasihan Bu, Mas Bayu, pacarnya meninggal dunia belum lama ini... sakit!"

"Ooooo......"

Raka .... aku rasa ... sudah waktunya Aji, anakku kuajak ke kedai kopi ini.

(bersambung)


No comments: