Thursday, October 09, 2008

Surat Terbuka Untuk Gusti Sing Paring Urip

Gusti Sing Paring Urip...

Beberapa hari ini saya seperti hidup dalam mimpi ...

Gusti Sing Paring Urip sepertinya sedang mengajak bercanda ... tapi nyuwun sewu lho Gusti, menurut saya kok bercandanya kali ini kok yoo rada keterlaluan ...

Sangking keterlaluannya menurut saya ... kok yoo saya merasa diabaikan ..eh, bukan diabaikan .. tapi ditinggalkan sendiri tak berketentuan... duh, apa ya kata yang mewakili rasa yang ada di dalam sini (menunjuk dalam dada)... saya bingung.

Dari dulu sampai sekarang,

Saya sering merasa bahwa Gusti selalu berbicara dalam banyak isyarat dan menantang saya untuk peka terhadap setiap pertanda. Saya boleh kan bangga terhadap diri sendiri? iya, saya bangga sekali bahwa sepertinya pertanda dari Gusti Sing Paring Urip menurutku selalu bisa terjemahkan dengan baik dan benar ...

dan hidup saya sepertinya berlanjut dengan kesesuian apa yang dimaui Gusti Allah ...

pahit getir itu kan terjemahan manusia terhadap egonya sendiri ...

dan saya yakin rasa getir itu datang dari manusia ... bukan dari Sampeyan ... astaga! saya menyebut Gusti Sing Paring Urip dengan sebutan "sampeyan" selaku cara saya sedang berbicara dengan karib saya di kantor ... maafkan ... tapi sepertinya memberikan medium Gusti Allah selaku cara sosok yang ada tepat di depan muka saya membuat saya lebih lancar menulis surat terbuka ini

Tumbukan kejadian beberapa hari belakangan ini menimbulkan percakapan bernas antara saya dan adik saya Aan...

Mari saya beri nukilannya:

Saya
"Kita itu sebenarnya salah apa tho? ... saya selalu percaya efek domino ... satu hal menjadi sebab kejadian berikutnya ... kalau memang demikian .. yang terjadi sekarang pasti karena kita melakukan hal lain sebelumnya.... di kondisi sekarang, saya merasa sudah melakukan kesalahan yang sungguh teramat fatal!"

Aan
"Waktunya bukan sekarang untuk merenung mas ... waktunya sekarang untuk melakukan hal yang harus dilakukan .. mungkin ada baiknya ndak perlu berpikir ... tapi terabas saja, lakukan saja... berjalan saja dengan iman"

Saya
"Iman .. apakah iman itu? apakah iman itu seperti tongkat buat si buta? .... konsep iman di titik sekarang ini sungguh membuat saya meragu... banyak!"

Aan
"Sudah, lakukan saja ... waktu untuk merenung adalah waktu yang kita belum mampu untuk dibeli pada saat ini"

Saya
"Saya boleh menangis sekarang?"

Aan
"Boleh... kamu mau saya peluk?"

Saya
"Mau sekali ... saya kedinginan!"


Begitu Gusti Allah .. Aan bilang sekarang waktunya untuk melakukan hal-hal yang perlu dilakukan meskipun sedang dalam kondisi penuh kegamangan!

Ya ya ya ... baiklah ... saya akan melakukan apa yang harus dilakukan apa pun itu ...

cuma satu hal yang saya minta ...

Gusti Sing Paring Urip ..... PELUK SAYA DONG!



2 comments:

Anonymous said...

Gusti Allah itu ndak pernah ninggalin hambaNYA.. cuman hambaNYA yang sering keblinger cari sandaran lain, yang jelas2 cuman ilusi penuh tipu daya.
Sebelum telat kabeh, sebelum nafas tinggal sejengkal...

pashatama said...

maybe He's lifting you now, hugs you later :)