Sunday, December 06, 2009

Cinta dan Nasi Uduk


Tiap orang punya buku hidupnya.

Setiap bab menyajikan rasa yang berbeda.

Setiap bab memberikan pelajaran hidupnya sendiri-sendiri.

Aku baru saja menuntaskan satu bab dalam buku hidup yang memberikan pemaknaan lebih mendalam tentang bagaimana aku memahami tentang cinta.

Klasik.

Bagian dalam rangkaian perjalanan hidup saya tentang Boo Boo sudah berakhir.

Irisan cerita dalam buku hidupku dan miliknya sudah selesai.

Aku memaknai ini di ujungnya bukan satu hal yang menyedihkan.

Pembelajaran datang dalam paket-paket yang berbeda bukan untuk tiap orang? ;)

anyway,

tanpa diketahui Boo Boo ... aku memiliki sebuah amplop coklat tempat menyimpan sampah penanda rasa.

potongan tiket nonton

nota rumah makan seafood kesukaan kami berdua

sampah-sampah penanda rasa lainnya.

ada satu hal yang bukan sampah di dalamnya.

satu buah voucher menginap di sebuah tempat dingin romantis yang aku beli jauh hari di travel agent langganan.

saat memandanginya, ia sudah tak bermakna.

Sesedih yang terbilang, aku robek.

terpikir untuk pulang kampung.

akhirnya, aku mengiyakan ajakan kawan-kawan untuk berkumpul -lagi- di Bandung.

Mereka ini adalah kawan-kawan dengan kualitas pertemanan yang mengagumkan meskipun aku sempat 'terlempar' dari peredaran.

Tapi aku selalu merasa diterima dengan baik disana.

Di ujungnya kami selalu berakhir dengan diskusi panjang.

tentang hidup.

tentang cinta.

pencerahan-pencerahan kecil datang dari mereka.

sampai aku berkesimpulan:

Cinta tidak pernah datang dalam bungkusan dan isi yang sederhana.

Ia akan selalu superlatif.

Bahagia bukan kepalang

Senang bukan kepalang

Sedih bukan kepalang

tidak ada yang serba tanggung.

Ini menjungkirbalikan teori ku sendiri tentang cinta.

Aku selalu percaya bahwa cinta itu harusnya datang dengan sederhana.

Cinta yang indah menurutku justru tidak pernah membawa ke langit yang paling tinggi dan tak akan pernah membawa kita ke palung paling dasar.

Salah.

Sekarang aku tahu,

Kenapa si buruk rupa dalam lakon "The Phantom of The Opera" dikalahkan oleh Raoul untuk mendapatkan Mbak Christine Daea

Kenapa si Remi dalam lakon "Perahu Kertas" dikalahkan oleh cinta ala sinetronnya Keenan untuk mendapatkan Kugy

Mereka datang dengan keluhuran cinta yang sederhana.

Saking sederhananya, mereka kemudian harus rela dikalahkan nasib.

apa yang salah?

aku punya teori bodohku sendiri.

Mari tempatkan saya, si buruk rupa "The Phantom of The Opera" dan Remi sebagai penjual nasi uduk

Kami belajar sungguh-sungguh memilih beras terbaik, membuat santan terbaik dan menanak nasi uduk dengan kualitas paling wahid.

kami fokus untuk menghasilkan nasi uduk kelas dunia ... yang super gurih, wangi dan legit.

tapi,

kami lupa belajar bagaimana cara membuat irisan telur dadar sempurna

kami lupa belajar bagaimana cara membuat daging empal empuk gurih ginuk ginuk

kami lupa belajar bagaimana cara membuat perkedel

kami lupa belajar menyandingkan uba rampe dengan nasi uduk kami.

dan di bab hidup berikutnya, semoga aku diajarkan oleh Sang Hidup bagaimana menghias cinta kami yang sederhana.

Bab baru dimulai ... layar perahu di kembang ... sauh ditarik ... mari menikmati perjalanan hidup kembali.

1 comment:

shyguy said...

duh kok langsung kayak dikasih cermin buat ngaca deh... nasib kita sama mas, yang bisa saya tawarkan cuma cinta sederhana. dan serta merta kalah dengan hiasan kerlip lampu ibukota. nggak heran dia pilih ninggalin aku, kayak laron tertarik pada benderang lampu2...