Saturday, March 24, 2012

Lia Waria ...

Lia namanya.

Tertulis di KTP, Budi Istyawardhana.

34 tahun usianya. Seusia denganku.

Karibku dari jaman aku masih bekerja di Semarang.

"Lia, aku pindah ke Jakarta. Semoga kamu bisa nyusul kerja di sana juga ya!"

"Bo' akikah tinta mawar ah cyin (terjemahan: nggak mau ah). Sutra endang sukamti di sindang (terjemahan: aku sudah enak di sini). Salon lagi laris bo... buat tabungan hari tua mak. Semoga sukses ya Gus di Jakarta. Kita harus tetap saling bertukar kabar"

Kami tetap berkarib sampai sekarang.

Lia sekarang pindah ke Medan.

Hidupnya senang.

Salonnya laris manis.

Tangannya memang dingin. Setiap wajah yang disentuh, jadi lebih cantik. Setiap rambut yang disentuh, jadi lebih indah.

Setiap bertukar kabar, kami saling mendoakan.

Kami tak mendoakan agar hidup jadi lebih ramah. Tapi kami mendoakan agar kami jadi pribadi yang lebih tangguh dan lebih ulet.

Tadi pagi Lia menelpon dan kami bicara.

Sepanjang pembicaraan, aku jadi ingat nukilan-nukilan pembicaraan saat kami dulu mulai berteman.

Begini nukilannya:

"Gus,Bayangkan, tubuhmu seperti negara asing & kau terjebak di dalamnya tanpa paspor. What are you gonna do?"

"Gus, gue siap menghadapi dunia. Tapi tidak sebaliknya. Setiap saat gue bisa ditikam oleh hidup"

"Gus, katanya gue produk yg salah. Tapi, gue harus nyalahin siapa? Dibilang sakit jiwa? Lah, emang gue milih?"

"Gus, katanya orang kayak gue pasti masuk neraka. Well, apa intinya menghukum gue eternally besok? Udah, sekarang aja!"

"Jadi banci mengajarkan gue satu hal yang bikin gue kuat. Menertawakan kesedihan!"

"Gus, orang menertawakan, mencaci, boleh! Tapi masa gue juga harus dihilangkan haknya menjalani hidup? Boleh sekalian bunuh gue?"

"Jangan-jangan Tuhan itu sebenarnya ilusi. Jangan-jangan orang yang benci sama gue itulah sebenarnya yang jadi Tuhan! Kenapa gue dihakimi setiap hari? Enak aja menghakimi hidup yang mereka nggak ciptakan! Gue mau lawan! Terus aja mencaci gue, gue buktiin kalo gue lebih kuat dari mereka dan hidupku gue akan baik-baik saja"

"Gus, katanya bilang 'nggak ada pilihan' sesungguhnya adalah pilihan. Lah, kalo opsinya cuma satu? Gimana?"

"Gus, teman terbaik gue sekarang cuma toket palsu. Dan elu hehehe. Thank you"

........................

Tadi pagi, aku dan Lia bertukar kabar dengan hati senang.

Dan kamu, masih punya niat ngganggu banci?

10 comments:

Farrel Fortunatus said...

percakapan sederhana tapi sarat makna... keinginan yang sederhana tapi butuh perjuangan seumur hidup untuk mewujudkannya. semoga kita menjadi orang" yang tangguh...

Enno said...

aku jg pny temen waria, mas agus...
dan bbrp nukilan percakapan itu persis nukilan percakapan kami..

mereka juga manusia. dan hakekat mjd manusia adalah perjuangan kan? ;)
salam utk Lia!

:)

arancha shinta said...

inspiring!

Arya said...

Hi Mas Farel, apa kabar mas? :)

Hi Enno salam buat kawanmu ya

Hi shinta, salam kenal

luke! said...

wow....sekali lagi: si mas bener2 pinter menulis cerita sederhana dengan indah :)

mengenai tulisannya sendiri, saya selalu berpikir kalo para banci, waria ato apapun namanya adalah orang2 pemberani. mereka berani menunjukkan apa yang sebenarnya mereka rasakan. mereka berani memperlihatkan siapa mereka sebenarnya.

Aryan pramudito said...

Kamu tuh nulis tentang oh-so-called-banci aja inspiring, salam buat sahabatmu ya, percakapan kalian menguatkan saya hari ini :)

Arya said...

Luke: hi Luke, how are you? hopw life treats you well ya -peluk

Aryan: ih tumben meninggalkan jejak heheheheh

roi said...

nggak, dari dulu gue udah nurut Project Pop kok....'Jangan Ganggu Banci'

afrifin saailendr said...

kalau dalam agama hal itu dosa, tpi dlm kenyataanya gw gay. Trus gmn? Gw tak pernah memilih jadi gay.

Rosasiva said...

kehidupan waria emang unik (: