Sunday, August 14, 2011

Petarung!!


Ini yang kupahami berdasarkan pengalaman hidup:

Dunia tidak menyisakan ruang buat pecundang. Menyerah haram hukumnya. Mundur sejenak boleh, untuk ancang-ancang maju lebih kencang. Menyerah? big NO NO!

Waktu kecil, aku belajar itu dengan cara spartan.

Begini ceritanya:

Kanak-kanak, tanpa mereka sadari bisa sangat kejam

Dulu, badanku kurus kering. Lebih suka di dalam kelas atau perpustakaan kecil di sekolah, bermain memuaskan imajinasiku dengan cerita yang ada di buku.

Lebih menyenangkan buatku membayangkan Aku ikutan piknik dengan Lima Sekawan sambil menyicip enaknya limun jahe dan roti tumpuk isi lidah asap buatan bibi Anne, ketimbang menghabiskan waktuku main bermain gobak sodor yang -buatku- lebih menyenangkan menjadi penonton saja saat teman-teman memainkannya.

Lucu deh, dulu, supaya lebih mendukung imajinasi saat membaca buku Lima Sekawan, Aku sengaja membacanya di saung tengah sawah dan membayangkan hamparan padi berubah menjadi sabana musim panas dengan pohon oak besar dan dibawahnya kami -saya dan Lima Sekawan tentunya heheheh- kami membuka bekal piknik dan berusaha supaya Timmy anjing lucu pemberani itu tidak mengambil bekal yang kami bawa :)

Atau, sengaja membuat tenda dari selimut lebar di bawah meja makan kecil kami dan membaca buku Trio Detektif dengan senter sambil membayangkan aku ada di sarang rahasia tiga anak cerdas pembongkar misteri itu beraksi.

Buku-buku itu adalah mediaku lepas dari cangkang kecil.

Anyway, kok kebablasan :) heheheh sampai dimana kita tadi?

O iya, kelakuanku ini dulu makin diperparah karena aku dulu sering dipanggil:

Agus banciii... Agus banciii...

-bayangkan manggilnya dengan nada "naah lhoo naaaah lhooo .. naaah lhooo naaah lhooooo" ... itu tuh kayak kalo kita ketauan bikin nangis temen kita heheheh-

Ih siksaan mental yang sungguh tak terperi rasanya.

Sakit.

Padahal kalo dipikir-pikir, Aku dulu salah apa sih sama mereka? mengajak mengobrol pun tidak.

Ini pula yang menyebabkan dulu jaman Aku masih kecil. Teman yang kupunya ndak banyak. Well, the good things is, yang sedikit itu anggaplah sudah terseleksi secara alami hehehehe ... mereka berteman ya karena tulus berteman dan nyaman denganku.

Ini pula yang menyebabkan Aku seringkali pulang ke rumah dengan menangis.

Dan kalau sudah begini, adikku adalah pahlawan berkuda dengan baju zirah yang dikirim hanya untukku.

"Mana yang nakal sama Mas Agus? Mana? biar Aan lempar batu!"

"Ayo mas kita pentung pake kayu!"

Hahahahahaha ....

Begitu polanya. Aku menangis. Adikku adalah penjuru perlindunganku.

Sampai akhirnya pada satu titik, si Mamah mikir,"Wah, nggak bener nih!"

Dan pada satu waktu, saat Aku kembali pulang ke rumah selepas sekolah dengan menangis...

"Kenapa nangis?"

"Aku digangguin Anjari sama temen-temennya Mah!"

"Diantara mereka siapa yang paling menakutkan buatmu?"

"Anjari Mah ... gede badannya... jago berantem!"

"Ok, Anter Mamah ketemu sama Anjari!"

-Asik, waktunya pembalasan untuk Anjari! ha ha! Eat that Anjari-

dari kejauhan:

"Itu yang namanya Anjari?"

"Iya Mah"

"Ok. Sekarang ini yang harus kamu lakukan! Kamu dekati Anjari, pukul dia! berantem! bikin dia kapok mengolok-olok kamu! sekarang! Mamah liat dari kejauhan. Mamah nggak akan bantu. Kamu harus berantem sama mereka! atau.. KAMU NGGAK BOLEH PULANG KE RUMAH!"

-melongo-

Aku berantem dengan Anjari dan kawan-kawannya. Bajuku sobek. bibirku sobek. mataku lebam. rambutku abis terjambak. gigi depanku goyang. Aku sudah tak kuat menangis karena terlalu konsen menahan sakit di badan.

Tapi aku PUAS!

Aku berjuang untuk diriku sendiri.

Aku dipaksa untuk belajar bahwa tidak akan ada yang bisa menolong selain diriku sendiri.

Tentu saja Aku kalah.

Dan mereka waktu itu tetap mengolok-olok Aku.

Tapi setelah kejadian pertempuran tak imbang itu. Aku berani kepala tegak. sambil cari kayu, batu, atau apapun senjata yang bisa dipegang, untuk mengejar mereka yang mengolok-olok hahahaha

Sambil berjalan pulang ke rumah, si Mamah berkata,"Aku ndak membesarkan anak pecundang yang tak berani berjuang untuk dirinya sendiri. Besok, kalau kamu ada masalah, berani hadapi! kalaupun harus kalah setidaknya kamu nggak menyesal! inget itu ya!"

and untill now. I am still and will always be... a FIGHTER!



3 comments:

Geese said...

jadi ingat waktu kecil gw juga sering dipanggil banci. bahkan pernah suatu hari waktu gw masih kecil di tengah jalan gw dtelanjangi orang orang deket rumah gw.untuk meyakinkan mereka tentang jenis kelamin gw.Hiks sedih deh kalo inget pengalaman itu. Satu hal sampai sakarang saya masih saja penakut dan takut untuk melawan.Mau juga punya keberanian untuk melawan seperti mas arya.

Mayo said...

Aaaaaaaah, Lima Sekawan, Trio Detektif.

Dulu aku juga baca Mallory Towers, Si Kembar di St. Claire, Si Badung, dan laen2nya. #EnidBlytonforpresident #eh

Ternyata kita dibesarkan oleh materi2 yang sama. #angguk2

roy pardomuan lumban raja said...

this post, priceless. thank you. :')