Wednesday, February 08, 2006

Bio Data Part III (Silsilah Keluarga)

6 - 10 Tahun

periode ini aku menikmati masa kecil sebenar ... penuh dengan keriaan ... penuh dengan teman-teman yang menyenangkan ... menghamburkan waktu seharian dengan bermain-main ...

tapi juga ada kesedihan mendalam di periode ini ...

tapi sebelum aku menuliskan kesedihannya ...

mungkin aku akan runut ke belakang saja ...

ada yang bilang kalau kita bisa merunut masa lalu dan sejarah keluarganya,

kamu akan tahu dan memahami ...

mari kita runut ke belakang saja sejarah keluarga Ayahku.


Eyang Soemoredjo

Ini adalah eyang kakung (laki-laki) , ayah dari ayahku , Bapak. Sandiyo ...
eyang yang tidak pernah saya kenal sebetulnya , karena beliau sudah meninggal jauh sebelum aku dilahirkan ... cuma, dari dongeng yang saya dengar dari kiri kanan ... Eyang Soemoredjo ini dulu adalah "The Most Eligible Bachelor" sekampung daerah Kulon Progo Wetan Yogyakarta sana ....

di rumah , ada satu foto hasil repro eyang kakung saya ini .... tinggi gagah , berpakaian sorjan sederhana , sendal kulit, muka khas "jawa" coklat sawo matang eksotis, bibir agak tebal tapi menurutku sih masih masuk kategori seksi untuk ukuran laki-laki, berwibawa ....

Dulu, di kampung ... eyangku punya usaha pabrik batu bata yang produksi batu batanya terkenal dimana mana... sebelumnya, beliau punya sawah yang lumayan luas ... eyangku ini memiliki warisan rumah jawa yang sangat luas untuk ukuran satu kampung jaman dulu, dan katanya sih ... EYANGKU SANGAT MATA KERANJANG !

"ow ow ow Soemoredjo .. gadis mana yang tak kenal akan dikau ... ow ow ow Soemoredjo ... gadis mana yang takkan rindu akan dikau"
(teman, nyanyikan dengan irama verse pertama lagu kondang "Kopral Jono")


Entah pakai ajian jaran goyang tingkat wahid , atau susuk jeng asih dari Pati , atau memang sudah anugrah dari sananya .... kataaanyaaaa sih , "korban-korban" gadis patah hati hasil kerja eyang kakungku ini "pating telecek" alias bertebaran dimana-mana ... dan hebatnya, menurut sumber yang bisa di percaya (aku akan ceritakan narasumber kedigdayaan eyangku ini nanti) .... saking termehek-meheknya gadis-gadis manis lugu itu , banyak diantara mereka yang rela diduakan asal jangan ditinggalkan .. ck ck ck ...

eyang kakung ternyata mungkin penganut prinsip :
"Boleh bermain acak ... asal jangan mengacak-acak ... nanti bisa acak-acakan"
(ini adalah jargon yang penah saya dengan dari rumpian Tina dan Miund di ruang hampa udara tangga darurat lantai 3 gedung twink)

aku bisa juga bayangkan , bahwa kalau ada gadis muda remaja incarannya yang ragu-ragu akan pinangannya , eyang kakung akan mengeluarkan ultimatum :
"Mau mau ... enggak enggak ... jangan mau yang enggak-enggak .............................NTAR GUE IYA-IN LHO !"
(ini juga adalah jargon yang pernah selenting saya dengan dari rumpian Tina dan Miund di ruang hampa udara tangga darurat lantai 3 gedung twink)

nah, teman-teman ...
ketika jiwa avonturirnya sudah menemukan titik jenuh ... eyang kakung kemudian menemukan tambatan hatinya .... tambatan hati denyutan jantung yang bernama :


Sarijah a.k.a Eyang Putri I

Eyang Sarijah ini adalah eyang putri yang juga tidak pernah saya kenal karena beliau sudah meninggal dunia ketika saya berumur satu bulan ... dari foto yang ada di rumah , dan cerita-cerita dari sumber-sumber dapat dipercaya di lingkungan keluargaku ... Eyang Sarijah ini adalah pemenang "Miss Kulon Progo" di jamannya ... cantik , dengan raut wajah priyayi ... anak buruh tani bernama Kariyo Mangun Penceng ... tiga bersaudara , satu perempuan , dua lelaki di keluarganya ...

terik matahari ... lumpur sawah ... dan keringat ... ternyata tidak melunturkan kecantikan alami eyang putriku ini ... boleh percaya boleh tidak (karena aku pun tadinya tidak percaya) ... menurut sumber yang bisa di percaya (aku akan ceritakan narasumber yang kredibel ini nanti) ... Eyang Soemoredjo jatuh hati sekonyong-konyong koder ... awalnya hanya karena melihat betis berwarna putih susu mulus yang tersingkap dari kain jarik yang dipakai Eyang Sarijah a.k.a "Miss Kulon progo"

dengan segala jurus gombaliti ... disuntingnya idaman pria Kulon Progo ini oleh Eyang Kakung ... dari pernikahannya dengan Eyang Sarijah lahirlah :
"Dua Belas Bersaudara .... Sembilan Laki-Laki .... Tiga Perempuan"

tapi ternyata itu tidak cukup , ketika melahirkan putra yang kelima ... Eyang Soemoredjo "Ketaman Asmoro" dengan seorang gadis belia bernama :


Parjumi a.k.a Eyang Putri II

Eyang Parjumi ini adalah eyang putri yang juga tidak pernah saya kenal karena beliau sudah meninggal dunia ketika saya berumur 3,5 tahun ... Eyang Parjumi ini berasal dari keluarga Kiai yang memiliki pesantren kecil di Kulon Progo Wetan ... ia adalah anak paling bungsu dari lima bersaudara , semuanya perempuan ...

ck ck ck entah apa jurus diplomasinya , sukseslah eyang kakung menikahi seorang gadis berusia enam belas tahun ini ... dan entah apalagi jurus diplomasinya , Eyang Parjumi dan Eyang Sarijah tinggal satu rumah beda kamar tidur dan keduanya berbagi tugas domestik dalam rumah tersebut .... ketika cerita narasumber ku sampai disini ... aku menatap narasumberku dengan mulut ternganga ... dan tatapan mata takjub tak percaya .... tapi percayalah kawan , ini suatu kenyataan yang harus di akui keniscayaannya.

dari Eyang Parjumi Lahirlah :
"Delapan Bersaudara ... Lima Perempuan ... Tiga Laki-Laki"

sudah cukup ? .. ho ho ho ho ... belum rupanya .... petualangan ternyata masih berlanjut , ketika melahirkan putri ketiga ... Eyang Soemoredjo "terkintil-kintil" dengan seorang gadis belia bernama :


Juariah a.k.a Eyang Putri III

perkenalkan ... ini adalah narasumber otentik dari sepenggal kisah yang aku tulis sebelumnya ... kalau yang lain menceritakan dongeng timun mas ... betara kala ... lakon Panji Semirang , dll ... maka Eyang Juariah akan dengan senang hati bercerita mengenai masa lalunya ... masa-masa getir .. masa-masa manis ... dari kisah hidup , perjuangan , dan kisah cintanya kepada cucu-cucunya ...

Eyang Juariah adalah tetangga beda lima rumah dari "Komplek Rumah Keluarga Besar Soemoredjo" ... kenapa aku bilang komplek ... karena sampai sekarang , bangunan rumah di desa itu berbentuk U ... dengan bagian terbesar di tengah dan bagian kiri kanan komplek tersebut mengapit bagian utama terbesar ... singkat cerita , ndilalah .. kok ya Eyang Kakung berhasil merebut hati gadis belia lugu sangat bernama Juariah ini ... JATUH CINTA ...

ya , jatuh cinta ... Eyang Putri sepertinya menekankan kata itu setiap bercerita padaku bagian ini ... ia juga bilang bahwa Eyang Parjumi , Eyang Sarijah , semua menerima segala hal yang ada , dan ikhlas menjalani , KARENA CINTA .... ketiga eyang putriku ini SANGAT MENCINTAI Eyang kakung ...

dan tinggallah Eyang Sarijah , Eyang Parjumi, dan Eyang Juariah dalam satu komplek rumah ... Eyang Sarijah di bangsal tengah ... Eyang Parjumi di bangsal sayap kiri .. Eyang Juariah di bangsal sayap kanan ...

"Kami semua hidup rukun dan damai ... "
(nyanyikan dengan irama lagu "Gang Kelinci" yang kondang itu )

dari pernikahan dengan Eyang Juariah , lahirlah :
"Tujuh Bersaudara ... Dua Laki-Laki ... Lima Perempuan"

dan ayahku adalah anak tertua dari tujuh bersaudara dari istri ketiga seorang lelaki bernama Soemoredjo .....

jadi, ketika lebaran tiba dimana biasanya kami berkumpul , kalau aku tidak salah hitung ... selain ayahku tentunya ... aku punya DUA PULUH ENAM ORANG yang harus aku panggil .... Pakde (Bapak Gede) karena beliau adalah kakak laki-laki ayahku ... atau Bude (Ibu Gede) karena beliau adalah kakak perempuan ayahku ... atau Paklik (Bapak Cilik) karena beliau adalah adik laki-laki dari ayahku ... atau Bulik (Ibu Cilik) karena beliau adalah adik perempuan ayahku...

jadi , kalau aku tidak salah hitung ... aku punya puluhan sepupu ... dan puluhan keponakan .... ketika lebaran tiba ... komplek rumah keluarga besar trah Soemoredjo di desa sana ... berubah menjadi pasar malam ... kamar tidur yang dibangun hasil gotong - royong semua anak cucu yang berjumlah kurang lebih 10 kamar , penuh sesak ... bangsal seluas lapangan bulutangkis di tengah komplek rumah berubah fungsi menjadi kamar tidur darurat dengan kasur lipat berjumlah lebih dari sepuluh kasur lipat .... dapur yang luas dibelakang penuh dengan riuh rendah bulik dan bude ku yang memasak setiap harinya lima hari menjelang hari raya ... aku bahkan sering merasa terkaget-kaget karena terkadang aku lupa nama sepupu yang berasal dari eyang putri I .. eyang putri II ... atau dari eyang Juariah ... tapi entah kenapa semua keramaian itu selalu membuat saya rindu untuk mengalami kembali setiap lebaran tiba ... setiap lebaran tiba, hampir setengah dari trah keluarga besar Soemoredjo berkumpul ... dan kami cucu-cucu eyang kakung selalu senang melihat raut wajah kerut merut Eyang Juariah yang termakan usia , memandang kami dengan tatapan mata bahagia karena masih melihat cucu cicitnya mengelilingi dengan penuh rasa kasih ....

sigh ....

DAN NAMPAKNYA BAPAKKU JUGA TIDAK PUAS DENGAN HANYA SATU ISTRI !!


2 comments:

Kardi said...

Takjub!!!
Ga kebayang tuh gimana waktu ngumpulnya?
Belum lagi pertanyaan: "Kapan kawin?"-nya nanti... Ibarat diberondong peluru dari senapan otomatis!

mer said...

waduh, seru.. cerita2 biodatamu menarik2 banget sih... unik, jarang orang punya.